NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 : Jeritan Terakhir dari Reruntuhan

Pagi itu, udara di kantor pusat Solera Luxury Homes terasa sangat berat. Alicia Valero berdiri di depan jendela kaca besarnya, namun pemandangan Madrid yang indah tidak mampu menenangkan hatinya. Sebuah laporan di atas mejanya menunjukkan bahwa aliran kas untuk proyek pembangunan perumahan di pinggiran Madrid terhenti total.

Masalahnya bukan pada bank, melainkan pada tanda tangan di dokumen lingkungan hidup yang seharusnya menjadi formalitas. Dan nama yang tertera sebagai penanggung jawab administratif sementara di dinas terkait adalah seseorang yang sangat ia kenal.

Isabel

Ternyata, sebelum izin yayasannya dibekukan, Isabel sempat menggunakan pengaruh kecilnya dan sisa-sisa koneksi ayahnya di pemerintahan daerah untuk menempati posisi birokrasi kecil namun krusial. Ia adalah kerikil dalam sepatu yang kini menghentikan laju roda bisnis Alicia.

"Dia sengaja melakukannya," desis Alicia, matanya menyipit tajam.

Pintu kantor terbuka dengan bantingan keras. Rafael Montenegro masuk dengan wajah yang menunjukkan amarah tertahan. "Alicia, apakah kau sudah dengar? Proyek kita di pinggiran kota ditahan! Alat berat kita menganggur, dan setiap jam yang terbuang berarti kerugian jutaan Euro!"

"Isabel," jawab Alicia singkat. "Dia menggunakan celah di pemerintahan daerah untuk menahan dokumen kita. Dia tidak butuh memenangkan perang, dia hanya ingin membuat kita berdarah."

Rafael memukul meja dengan kepalan tangannya. "Wanita itu benar-benar memintaku menghancurkan hingga ke tulang-tulangnya! Aku akan menelepon menteri sekarang!"

"Jangan, Rafael," Alicia mengangkat tangannya. "Ini masalah pribadi yang menggunakan topeng birokrasi. Jika kau menekannya secara politik sekarang, dia akan berteriak kepada media bahwa kita menindas wanita yang sedang berduka. Kita harus menghadapinya secara langsung."

...****************...

Alicia memutuskan untuk mendatangi kantor administrasi daerah yang tampak kusam di pinggiran kota. Ia melangkah melewati lorong yang berbau kertas tua dan pembersih lantai murahan—tempat yang sangat tidak pantas untuk wanita sekaliber Alicia Valero.

Di ujung lorong, di balik meja kayu yang penuh dengan tumpukan map, Isabel duduk dengan senyum yang terlihat sangat mengerikan. Wajahnya pucat, riasannya berlebihan seolah ia mencoba menutupi kehancurannya.

"Selamat datang di kerajaanku yang baru, Alicia," sapa Isabel, suaranya terdengar serak dan penuh kebencian.

Alicia berdiri di depan meja itu, tidak sudi untuk duduk. "Hentikan drama ini, Isabel. Tanda tangani dokumen perizinan lingkungan itu sekarang juga. Kau tahu kau tidak punya dasar hukum untuk menahannya."

Isabel tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat tidak stabil. "Dasar hukum? Di kantor ini, aku adalah hukumnya, Alicia. Aku bisa meminta peninjauan ulang selama enam bulan. Bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya melihat aliran kasmu yang megah itu tersendat oleh tanganku yang kecil ini?"

"Kau merugikan ribuan pekerja, Isabel. Kau bukan sedang membalas dendam padaku, kau sedang menghancurkan mata pencaharian orang-orang kecil yang kau klaim ingin kau bantu melalui yayasanmu!" bentak Alicia, suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu.

Isabel berdiri, mencondongkan tubuhnya ke arah Alicia. "Jangan bicara soal orang kecil padaku! Kau menghancurkan suamiku! Kau mempermalukannya di depan seluruh Madrid! Kau mencuri setiap ons harga diri yang dia miliki!"

"Santiago menghancurkan dirinya sendiri!" balas Alicia dengan nada yang sangat tajam. "Dia pergi ke lokalisasi karena dia pengecut. Dia membiarkan dirinya jatuh karena dia tidak pernah punya kekuatan untuk berdiri tanpa aku. Dan kau... kau hanyalah parasit yang ikut tenggelam bersamanya."

"Paling tidak aku tidak tidur dengan iblis seperti Rafael Montenegro!" teriak Isabel, air mata mulai mengalir di pipinya. "Kau pikir kau menang? Kau hanya sedang menunggu waktu sampai Rafael bosan padamu dan mencari 'proyek' baru yang lebih segar!"

Alicia mendekat, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Isabel. "Rafael tidak akan pernah bosan padaku karena aku adalah pasangannya, bukan pelariannya. Sekarang, tanda tangani dokumen itu, atau aku akan memastikan sisa hidupmu dihabiskan di balik jeruji besi atas tuduhan penyalahgunaan wewenang."

"Lakukan saja!" jerit Isabel sambil melempar tumpukan map ke arah Alicia. "Aku tidak takut lagi! Aku sudah kehilangan segalanya! Jika aku harus masuk penjara, aku akan memastikan proyekmu bangkrut bersamaku!"

...****************...

Alicia keluar dari kantor itu dengan tangan kosong dan kemarahan yang meluap-luap. Di luar, Rafael sudah menunggu di dalam mobil hitamnya yang mewah. Begitu melihat wajah Alicia, Rafael tahu apa yang terjadi.

"Dia menolak?" tanya Rafael.

"Dia sudah gila, Rafael. Dia ingin hancur bersama-sama kita," jawab Alicia, menyandarkan kepalanya di jok mobil yang empuk. "Aliran kas kita akan benar-benar terganggu jika ini terus berlanjut lebih dari seminggu."

Rafael terdiam sejenak, matanya berkilat dengan rencana yang jauh lebih gelap. "Jika dia ingin bermain kotor, maka kita akan memberinya lumpur. Aku baru saja mendapat informasi dari orang dalam di bank yang dulu digunakan yayasannya. Isabel diam-diam memindahkan dana sisa yayasan ke akun pribadinya. Itu adalah penggelapan."

Alicia menoleh ke arah Rafael. "Kau yakin?"

"Seratus persen. Dia panik karena Santiago tidak punya uang lagi. Dia mencuri dari dana donasi untuk membiayai hidupnya yang mewah," ujar Rafael dengan senyum kemenangan. "Besok pagi, polisi akan datang ke kantor kecilnya yang kumuh itu. Tanda tangan yang kau butuhkan? Kita akan mendapatkannya dari penggantinya setelah dia dibawa pergi dengan borgol."

...****************...

Malam itu, Alicia dan Rafael kembali ke penthouse. Ketegangan hari itu membuat syaraf mereka terasa kaku. Alicia duduk di balkon, menatap lampu-lampu kota yang seolah menjadi saksi dari segala kejahatan dan ambisi yang mereka lakukan.

Rafael mendekat dari belakang, memeluk pinggang Alicia dan mencium lehernya dengan sangat dalam. "Berhenti memikirkan wanita itu, Alicia. Besok semuanya akan berakhir."

"Aku hanya tidak menyangka bahwa perlawanan terakhirnya akan begitu merepotkan," bisik Alicia, memutar tubuhnya untuk menghadap Rafael. "Dia membuatku merasa... lelah akan semua kebencian ini."

Rafael mengangkat dagu Alicia, menatap matanya dengan penuh gairah dan kekuatan. "Itulah bedanya kau dengan dia. Kau punya aku untuk berbagi beban. Dia hanya punya keputusasaan."

Rafael menarik Alicia ke dalam pelukannya, menciumnya dengan intensitas yang seolah ingin menghapus semua jejak pertemuan dengan Isabel tadi siang. Ciuman mereka penuh dengan rasa lapar akan kekuasaan dan kasih sayang yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua.

"Malam ini, jangan biarkan ada nama lain di pikiranmu selain namaku," gumam Rafael, suaranya serak.

Mereka bergerak menuju kamar tidur, di mana gairah kembali menjadi pelarian paling ampuh dari kejamnya dunia luar. Di balik pintu yang tertutup, Alicia menyerahkan seluruh keraguannya kepada Rafael. Setiap sentuhan pria itu seolah memberikan energi baru baginya untuk terus bertarung di medan perang bisnis esok hari.

Kejatuhan yang Menghinakan

Keesokan paginya, seperti yang sudah direncanakan Rafael, drama sesungguhnya terjadi. Saat Isabel baru saja duduk di mejanya, pintu kantornya didobrak oleh empat orang petugas kepolisian dari divisi tindak pidana ekonomi.

"Isabel Valero? Anda ditahan atas dugaan penggelapan dana yayasan dan penyalahgunaan wewenang administratif," ujar petugas tersebut.

"TIDAK! INI FITNAH! INI PASTI ULAH ALICIA!" teriak Isabel, meronta saat tangannya dipaksa masuk ke dalam borgol logam yang dingin.

Seluruh rekan kerjanya yang baru menonton dengan ngeri saat Isabel diseret keluar gedung. Di sana, sudah ada beberapa jurnalis yang entah bagaimana sudah mengetahui informasi tersebut—tentu saja ini adalah pekerjaan Rafael.

Kilatan lampu kamera menyinari wajah Isabel yang penuh ketakutan. Ia berteriak-teriak menyebut nama Santiago dan Alicia, namun tidak ada yang menolongnya. Ia kini benar-benar sendirian, terperangkap dalam jaring yang ia buat sendiri karena rasa iri dan dendam yang membabi buta.

Di saat yang sama, di kantor Solera, Alicia menerima telepon bahwa dokumen perizinannya telah ditandatangani oleh pejabat pengganti atas instruksi mendesak dari kementerian.

Aliran kas kembali normal. Proyek berlanjut. Perlawanan terakhir Isabel telah dipatahkan dengan cara yang paling menghinakan.

Alicia menutup teleponnya, menarik napas dalam-dalam, dan menoleh ke arah Rafael yang sedang berdiri di pintu kantornya dengan segelas sampanye.

"Untuk kemenangan kita, mi reina," ujar Rafael sambil mengangkat gelasnya.

Alicia tersenyum, kali ini sebuah senyum yang benar-benar sampai ke matanya. Perlawanan Isabel mungkin sempat mengganggu, namun itu hanya membuktikan satu hal: di Madrid ini, hanya mereka yang memiliki kekuatan dan kecerdasan yang akan tetap berdiri tegak di akhir cerita.

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Kk mampir yuk 😁
🦊 Ara Aurora 🦊
Alicia kasihnya 😢😢
(Panda%Sya)💸☘️
Semangat terus ya thor💪
nadinta
oh my god, Alicia. Perempuan mahallll
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
cerita bagus gini yg nge like kok cm sdkt ya. minim typo, aq suka. semangat thor 💪💪💪
chrisytells: Makasih, kakak🙏
Harapan aku, makin banyak lagi yg baca karya aku🤗
Kalau boleh aku minta bantu promosi juga, wkwk 🤭😄
Rajin² tinggalkan komentar ya, kak😍
total 1 replies
BiruLotus
lanjut thor
d_midah
Rafael, pilis jangan jadi pria jahat😭
d_midah
jangan gitu dong Rel🥲
Tulisan_nic
Pembalasan yang elegan sekali Alicia,aku suka tipe wanita sepertimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!