Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Galang tersenyum tipis sambil menyodorkan helm bogo berwarna krem yang senada dengan warna jilbab Lilis.
Ia membantu Lilis mengaitkan pengunci helmnya karena tangan gadis itu tampak sedikit gemetar.
"Ayo naik," ajak Galang sambil menghidupkan mesin motornya yang bersuara halus.
Lilis duduk menyamping dengan ragu, menjaga jarak agar tetap sopan.
Saat motor mulai membelah jalanan malam yang sejuk, Lilis akhirnya memberanikan diri bertanya melalui pantulan kaca spion.
"Kenapa Mas Galang tiba-tiba mengajakku makan malam? Bukannya Mas Galang ke sini mau menjenguk Mbak Rani?" tanya Lilis, suaranya sedikit teredam angin malam.
Galang terdiam sejenak, fokus menatap jalan di depannya.
"Menjenguk Rani itu niat awal, Lis. Tapi saat saya melihat kamu keluar dari lobi tadi, niat saya langsung berubah."
Lilis mengerutkan kening. "Berubah bagaimana?"
"Tadi di lobi, wajahmu kelihatan sangat lelah dan cemas. Saya tahu hari ini berat sekali buat keluargamu, terutama buat kamu yang harus jadi penengah antara Umi dan Mas Yudiz," jawab Galang jujur.
"Saya mengajakmu makan bukan cuma karena ingin ditemani, tapi saya ingin kamu punya waktu sebentar saja untuk lepas dari beban pondok dan masalah Laila. Saya ingin melihat kamu tersenyum lagi."
Wajah Lilis seketika memanas di balik helmnya.
Ia tidak menyangka Galang yang biasanya cuek dan praktis bisa bersikap sedalam ini dalam memperhatikan perasaannya.
"Lagipula," tambah Galang sambil melirik spion, "ada hal yang ingin saya bicarakan serius sama kamu. Tapi nanti saja, setelah perutmu kenyang."
Lilis mengernyitkan keningnya, mencoba mencerna maksud dari perkataan Galang yang menggantung tadi.
Angin malam yang menerpa wajahnya membuat pikirannya sedikit melayang, namun ia memilih diam hingga motor berhenti tepat di depan sebuah kafe yang cukup tenang dengan konsep taman yang estetik.
"Ayo turun, Lis," ajak Galang sambil membantu Lilis melepas helmnya.
Mereka melangkah masuk dan memilih meja di sudut yang lebih privat. Galang menyodorkan buku menu dengan ramah.
"Pesanlah apa yang kamu mau. Jangan sungkan, aku yang traktir."
Lilis menganggukkan kepalanya pelan, matanya menelusuri daftar menu sejenak.
"Aku pesan steak dan kentang goreng saja, Mas. Sama minumnya jus jeruk."
Setelah pelayan mencatat pesanan dan meninggalkan meja mereka, suasana mendadak menjadi sangat sunyi.
Hanya terdengar suara musik akustik sayup-sayup di latar belakang.
Galang tidak mengalihkan pandangannya, ia menumpukan kedua tangannya di atas meja dan menatap wajah Lilis dengan sangat dalam.
Lilis yang merasa diperhatikan menjadi salah tingkah.
"Mas, kenapa menatapku begitu? Ada yang aneh di wajahku?"
Galang menarik napas panjang, mengumpulkan segenap keberanian yang tersisa.
"Lis, aku nggak pintar merangkai kata-kata puitis seperti Mas Yudiz kalau bicara sama Mbak Rani."
Jeda sejenak. Galang berdeham, suaranya sedikit merendah namun terdengar sangat tegas.
"Lis, aku suka sama kamu. Dan aku nggak mau main-main. Kalau nanti kondisi di pondok sudah tenang dan Mbak Rani sudah sehat, aku mau minta izin sama Abi Abdullah untuk melamar kamu."
DEG!
Lilis terpaku. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat.
Ia tidak pernah menyangka bahwa Galang, laki-laki yang selama ini ia anggap sebagai kakak sekaligus sahabat kakaknya, akan mengutarakan perasaan sefrontal itu di tengah suasana yang masih belum sepenuhnya stabil.
"Mas, tapi aku..." Lilis terbata-bata, wajahnya kini merah padam, lebih merah dari saus sambal yang biasa ia makan.
"Aku nggak minta jawaban sekarang, Lis," potong Galang lembut.
"Aku cuma mau kamu tahu niatku, supaya kamu nggak bingung lagi kenapa aku tiba-tiba mengajakmu keluar."
Pelayan datang tepat waktu, memecah suasana tegang yang menyelimuti meja mereka.
Aroma gurih dari steak yang masih mengepul memenuhi indra penciuman, namun selera makan Lilis seolah tertahan oleh kegelisahan di hatinya.
Lilis memotong kentangnya perlahan, kepalanya masih tertunduk.
"Mas Galang, ada satu hal yang mengganjal di pikiran Lilis," ucapnya lirih tanpa berani menatap mata Galang.
Galang meletakkan garpunya, memberikan perhatian penuh.
"Katakan saja, Lis. Apa itu?"
"Mas bisa shalat? Mengaji?" tanya Lilis akhirnya, menatap Galang dengan tatapan yang sulit diartikan—antara harapan dan ketakutan.
Galang tersenyum tipis, sebuah senyum yang menenangkan.
"Insyaallah bisa, Lis. Sejak kecil aku dibesarkan di lingkungan yang sama dengan Mas Yudiz. Meski aku bukan anak kyai, tapi agamaku adalah peganganku."
Lilis menghela napas panjang, pundaknya yang tadi tegang perlahan melonggar.
Bayangan masa lalu mendadak melintas di benaknya.
Ia teringat betapa beratnya perjuangan Rani dulu saat mencintai Mario—mendiang kekasih Rani yang tak lain adalah saudara kembar Galang sendiri.
Mario adalah pria yang baik, namun perbedaan keyakinan yang tajam sempat menjadi badai besar bagi keluarga mereka.
"Lilis takut, Mas," bisik Lilis jujur.
"Lilis takut jika Mas seperti mendiang Mario. Lilis nggak mau terjebak dalam cinta yang berbeda arah. Lilis takut mengecewakan Abi dan Umi lagi, apalagi setelah semua kekacauan yang terjadi karena Laila."
Galang mengangguk paham. Ia tahu benar luka yang ditinggalkan kembarannya di hati keluarga pondok, meski Mario sudah tiada.
"Aku bukan Mario, Lis. Kami memang kembar identik, tapi jalan hidup kami berbeda. Aku muslim sejak lahir, sama seperti kamu," tegas Galang sambil menatap lurus ke mata Lilis.
"Aku tidak akan membawamu ke jalan yang membuatmu harus memilih antara cinta dan Tuhanmu. Justru, aku ingin kita berjalan ke arah yang sama."
Lilis terdiam, ada rasa lega yang luar biasa menjalar di dadanya. Namun, di tengah kenyamanan itu, ia teringat satu hal lagi.
"Tapi Mas Galang tahu kan, Umi Salmah sedang sangat selektif soal calon menantu? Setelah kasus Laila, Umi mungkin akan lebih sulit memberi restu..."
Galang menganggukkan kepalanya dengan mantap, memberikan senyum yang menenangkan agar kegelisahan Lilis mereda.
"Aku tahu, Lis. Umi sedang terluka dan trauma. Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja. Sekarang, nikmati dulu makanannya ya? Jangan sampai dingin, nanti tidak enak."
Lilis akhirnya mulai menyantap steak dan kentang gorengnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Meski masih ada sedikit rasa malu, perhatian Galang malam itu benar-benar menjadi obat setelah seharian ia lelah secara mental menghadapi drama di rumah sakit dan pondok.
Selesai makan, Galang menepati janjinya. Tepat pukul sembilan kurang lima belas menit, motor Galang sudah memasuki gerbang pondok pesantren.
Suasana pondok sudah sangat sepi, hanya terdengar suara serangga malam dan sayup-sayup santri yang sedang mengaji di kejauhan.
"Terima kasih untuk makan malamnya, Mas Galang," ucap Lilis sambil menyerahkan kembali helmnya.
"Sama-sama, Lis. Langsung istirahat ya. Titip salam untuk Abi dan Umi," jawab Galang sebelum akhirnya memutar motornya dan berlalu pergi.
Lilis melangkah masuk ke dalam rumah dengan hati-hati.
Ia berjalan melewati ruang tengah menuju kamarnya, namun langkahnya terhenti sejenak di depan kamar orang tuanya yang pintunya sedikit terbuka.
Dari celah pintu, Lilis melihat Abi Abdullah dan Umi Salmah sudah berada di dalam kamar.
Abi sedang duduk di tepi ranjang sambil membaca kitab suci dengan kacamata kudanya, sementara Umi Salmah tampak sedang berbaring, namun matanya masih terbuka menatap langit-langit.
Wajah Umi tidak lagi sekeras tadi siang. Ada gurat kelelahan dan kesedihan yang masih tersisa di sana.
Lilis merasa bersyukur, setidaknya malam ini orang tuanya tidak lagi bertengkar hebat. Namun, ia juga merasa terbebani; bagaimana jika ia memberitahu soal niat Galang nanti? Apakah Umi akan menerimanya atau justru menganggap Galang sama seperti mendiang saudara kembarnya?
Lilis pun masuk ke kamarnya sendiri, merebahkan tubuhnya sembari menatap ponsel. Ia melihat sebuah pesan baru di grup keluarga yang dikirim oleh Yudiz.
Suasana kamar yang gelap hanya diterangi oleh cahaya remang dari layar ponsel.
Nyai Salmah, yang tadinya terlihat tertidur pulas di samping Kyai Abdullah, perlahan membuka matanya.
Tidak ada lagi sisa tangis atau sorot mata penuh penyesalan seperti di rumah sakit tadi.
Matanya justru tampak dingin dan penuh rencana.
Ia melirik suaminya yang sudah terlelap, lalu dengan gerakan sangat pelan, ia meraih ponselnya di atas nakas.
Jarinya bergerak lincah mengetik pesan singkat ke sebuah nomor yang tidak tersimpan namanya.
"Mereka akan ke Bali besok. Yudiz sedang mengurus kepulangan Rani besok pagi. Bersiaplah, Laila," tulis Nyai Salmah.
Hanya dalam hitungan detik, sebuah balasan masuk.
"Terima kasih, Nyai. Saya tidak akan membiarkan mereka tenang di sana."
Nyai Salmah menarik napas panjang dan meletakkan kembali ponselnya.
Ternyata, tangis sedu-sedan dan pelukan hangat di rumah sakit tadi hanyalah sebuah sandiwara yang sangat rapi.
Ia merasa harga dirinya terlalu tinggi untuk benar-benar tunduk pada Rani, si "gadis balap" yang menurutnya telah menghancurkan hubungan ibu dan anak antara dirinya dengan Yudiz.
Ia lebih memilih Laila—meski Laila telah berbuat nekat—karena Laila adalah sosok yang ia anggap pantas menjadi menantu seorang Nyai.
Baginya, racun yang diberikan Laila hanyalah bentuk kekhilafan karena cinta, sedangkan keberadaan Rani adalah kesalahan permanen.
"Maafkan Umi, Yudiz. Umi melakukan ini demi kebaikanmu. Kamu harus sadar siapa yang lebih layak mendampingimu," batin Nyai Salmah sambil memejamkan mata kembali, berpura-pura tidur saat Kyai Abdullah bergerak sedikit dalam mimpinya.
Tanpa diketahui siapa pun, badai yang lebih besar sedang dipersiapkan oleh ibu kandungnya sendiri untuk menghantam perjalanan bulan madu Yudiz dan Rani di Bali.