Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 15_Berlian yang Mulai Bersinar
Sementara Arumi kembali menggambar dengan semangat baru di bawah pengawasan Adrian, di rumah utama Siska sedang berteriak-teriak ketakutan.
Seorang pria berpakaian setelan hitam (pengacara suruhan Adrian) baru saja menyerahkan surat somasi.
"Jika Anda tidak membayar denda dua ratus juta rupiah dalam waktu dua puluh empat jam, kami akan menyita aset rumah ini dan melaporkan Anda ke polisi atas tuduhan penipuan kontrak."
Bu Ratna hampir pingsan di kursi ruang tamu. "Dua ratus juta?! Siska, apa yang kau lakukan?!"
Siska gemetar hebat, ia menatap ke arah gudang belakang yang lampunya masih menyala terang.
Ia pikir ia telah menghancurkan Arumi namun ia tidak sadar bahwa di dalam gudang itu, ada seorang pria yang sedang mengatur kejatuhannya dengan satu gerakan jari di ponselnya.
Malam itu alur hidup mereka mulai terbelah secara ekstrem, di gudang ada cinta dan perjuangan, sedangkan di rumah utama ada ketakutan dan penyesalan yang terlambat.
Dan Adrian Arkadia, sang CEO yang menyamar memastikan bahwa setiap tetes air mata Arumi sore tadi akan dibayar dengan kehancuran yang tak terlupakan bagi mereka yang menzalimi-nya.
Malam itu, gudang belakang menjadi saksi bisu dari sebuah perjuangan yang luar biasa.
Di bawah cahaya lampu bohlam yang sesekali berkedip, Arumi bekerja dengan kecepatan dan presisi yang menakjubkan.
Seolah-olah jemarinya digerakkan oleh kekuatan gaib, ia melukis kembali setiap detail desainnya di atas kertas baru yang dikirimkan secara "misterius" tadi sore.
Adrian duduk di sampingnya tidak sedetik pun beranjak, ia bukan sekadar menemani tapi ia membantu memotong pola, merapikan alat-alat, dan memastikan Arumi tetap terhidrasi dengan memberikan segelas air putih secara berkala.
Bagi siapa pun yang melihat, Adrian tampak seperti suami yang suportif namun miskin.
Namun di balik ketenangannya Adrian sedang memantau laporan dari Hendra melalui earpiece nirkabel yang tersembunyi di balik rambutnya.
"Siska sedang mencoba menghubungi beberapa kenalan lamanya untuk meminjam uang, Tuan Muda," lapor Hendra melalui suara digital yang halus.
"Tapi tidak ada yang mengangkat teleponnya, kami sudah memastikan reputasinya di kalangan sosialita sudah hancur total."
Adrian tidak memberikan perintah suara, ia hanya mengetuk meja dua kali dengan pola tertentu yaitu sebuah kode bagi Hendra untuk terus melanjutkan tekanan tersebut.
"Mas Ian." panggil Arumi lembut.
Matanya tampak merah karena kantuk, namun binar semangatnya tidak padam.
"Sudah selesai. Lihat... menurutku ini jauh lebih baik daripada yang pertama." ucap Arumi.
Adrian melihat karya itu, Arumi benar karena emosi yang meluap setelah kejadian sabotase tadi, garis-garis dalam desainnya kali ini terasa lebih tegas, lebih berani, dan memiliki karakter yang sangat kuat.
Ia tidak hanya mendesain sebuah pojok baca tapi ia mendesain sebuah "pelarian" yang damai.
"Ini luar biasa, Arumi," bisik Adrian tulus.
"Profesor Wijaya akan terkesima." lanjutnya.
Pagi menyapa dengan suasana yang sangat kontras di rumah tersebut.
Di gudang belakang Arumi bersiap dengan pakaian terbaiknya yang masih sangat sederhana yaitu sebuah rok panjang berwarna cokelat tua dan kemeja putih yang sudah disetrika sangat rapi.
Ia membawa tabung gambar dengan penuh kehati-hatian, seolah sedang membawa harta karun paling berharga di dunia.
Sementara itu, di rumah utama suasana mencekam menyelimuti ruang tamu.
Bu Ratna duduk di lantai dengan rambut acak-acakan, sementara Siska menangis sesenggukan memegang surat somasi yang diterimanya kemarin sore.
Mereka tidak tidur semalaman, dikejar bayang-bayang penjara karena denda dua ratus juta rupiah.
Begitu Arumi keluar dari gudang melewati pintu samping, Siska langsung berlari mengejarnya.
Wajahnya yang biasa penuh angkuh kini tampak sembab dan memelas.
"Kak! Kak Arumi, tunggu!" teriak Siska sambil memegang lengan Arumi.
Arumi berhenti, menatap adiknya dengan tatapan bingung namun waspada.
"Ada apa, Siska? Aku sedang terburu-buru." ucap Arumi.
"Kak... tolong aku. Agensi menuntutku dua ratus juta, kalau aku tidak bayar hari ini aku akan dilaporkan ke polisi," Siska memohon, suaranya parau.
"Kakak kan sekarang kerja sama Profesor Wijaya yang kaya itu... tolong mintakan pinjaman untukku. Tolong, Kak..." lanjutnya tanpa merasa malu.
Arumi tertegun, ia teringat bagaimana kemarin Siska (meski ia belum punya bukti fisik, hatinya tahu) kemungkinan besar adalah pelaku yang menghancurkan gambarnya. Namun, sifat pemaaf Arumi masih mendominasi.
"Siska, aku baru mulai bekerja sebagai pemagang, aku bahkan belum menerima gaji serupiah pun, bagaimana mungkin aku meminjam uang sebanyak itu?" tanya Arumi dengan nada sedih.
"Kau kan bisa merayu pria tua itu! Katanya dia sangat menyukai karyamu!" celetuk Bu Ratna yang ikut keluar.
"Jangan jadi anak egois, Arumi! Bantu adikmu!" teriak bu Ratna.
Adrian yang berdiri di belakang Arumi melangkah maju, ia melepaskan tangan Siska dari lengan istrinya.
"Jangan ganggu Arumi, dia punya masa depannya sendiri untuk diurus. Urusan hutangmu adalah tanggung jawabmu sendiri Siska. Bukankah kau bilang kau calon bintang?" sindir Adrian.
Siska menatap Adrian dengan kebencian yang mendalam. "Ini semua gara-gara kau, Ian! Sejak kau datang ke rumah ini, sial terus yang kami dapat!"
"Ayo pergi, Arumi," ajak Adrian dingin, tanpa memedulikan makian Siska.
Adrian mengantar Arumi sampai ke depan gedung galeri dengan sepeda motor pinjamannya (yang sebenarnya telah disiapkan Hendra di pangkalan motor).
Arumi masuk ke dalam gedung megah itu dengan jantung yang berdegup kencang.
Di dalam, Profesor Wijaya sudah menunggu bersama dua orang koleganya yang ternyata adalah kurator seni internasional.
"Nah, ini dia desainer muda kita," sapa Profesor Wijaya dengan ramah.
"Silakan Arumi, tunjukkan apa yang kau bawa untuk ujian pertamamu."
Dengan tangan sedikit gemetar, Arumi membuka tabung gambarnya dan membentangkan sketsanya di atas meja presentasi yang luas.
Begitu sketsa itu terbuka, ruangan mendadak menjadi hening.
Profesor Wijaya menyesuaikan kacamatanya. Ia menatap detail pencahayaan, pemilihan material, hingga filosofi di balik tata letak yang diajukan Arumi.
"Luar biasa..." bisik salah satu kurator asing.
"This is not just a design. This is a story."
(Ini bukan sekadar desain. Ini adalah sebuah cerita.")
Profesor Wijaya menatap Arumi dengan pandangan bangga.
"Arumi jujur saja aku memberikan anggaran kecil ini sebagai tes untuk melihat apakah kau akan menyerah pada keterbatasan. Tapi kau... kau justru menggunakan keterbatasan itu untuk menciptakan sesuatu yang sangat puitis. Hasilnya jauh melampaui ekspektasi-ku."
Arumi merasa bebannya terangkat seketika.
"Terima kasih Prof, tapi sebenarnya... kemarin ada sedikit kecelakaan dengan sketsa awal saya, jadi saya harus mengerjakannya ulang tadi malam."
"Kecelakaan?" tanya Profesor Wijaya heran.
"Hanya tumpahan tinta Prof, tapi itu justru membuat saya berpikir lebih dalam tentang kontras warna."
Profesor Wijaya mengangguk-angguk. "Itulah ciri desainer besar, mengubah bencana menjadi karya seni. Arumi mulai hari ini kau bukan lagi pemagang karena aku ingin kau menjadi asisten desainer utamaku untuk proyek renovasi perpustakaan daerah dan ini... ada sedikit uang muka untuk biaya operasional-mu."
Profesor Wijaya menyerahkan sebuah amplop, saat Arumi membukanya ia terkejut.
Jumlahnya sepuluh juta rupiah adalah angka yang sangat besar baginya.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡