Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 32_Kiriman Anonim
Sebuah mobil SUV hitam anti peluru yang telah menunggu di ujung gang segera merapat sesaat setelah helikopter itu mendarat di lapangan tanah kosong tak jauh dari sana.
Dari dalam mobil turunlah Haris Arkadia. Ia mengenakan setelan jas abu-abu tua dengan tongkat kayu cendana berkepala perak.
Meskipun langkahnya perlahan tapi aura kekuasaan yang ia pancarkan membuat warga yang tadinya berteriak seketika terdiam dan memberi jalan.
Haris berhenti tepat di depan pintu kontrakan yang reyot itu, ia menatap dinding yang berjamur, lalu beralih menatap cucunya yang masih berlepotan debu dan istrinya yang tampak kebingungan.
"Tempat ini benar-benar tidak layak untuk seorang Arkadia." suara Haris terdengar berat, namun tidak mengandung nada hinaan melainkan sebuah keprihatinan yang dalam.
"Kek apa yang Kakek lakukan di sini?" tanya Adrian mencoba berdiri menghalangi pintu agar kakeknya tidak melihat kemiskinan di dalamnya.
Haris tidak menjawab Adrian, tapi ia justru menatap Arumi.
"Dan kau cucu menantuku, kau terlihat lebih kurus daripada saat di Singapura. Apakah cucuku benar-benar memberimu makan dengan upah kulinya yang tidak seberapa itu?" tanya kakek Haris dengan tatapan tidak yakin dan lebih menyindir.
Arumi menunduk hormat meski hatinya bergetar.
"Tuan Haris... maaf kami hanya bisa menyambut Anda di tempat seperti ini." ucapnya dengan sopan.
Haris masuk ke dalam kontrakan tanpa menunggu izin, ia duduk di atas satu-satunya kursi plastik yang ada, sementara Adrian dan Arumi berdiri di depannya.
Haris mengeluarkan sebuah gawai tablet dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja kayu yang goyang.
"Pagi ini aku menerima sebuah kiriman anonim." ucap Haris dingin, ia pun menekan tombol play.
Suara rekaman itu memenuhi ruangan sempit tersebut dengan cukup keras.
"...Aku hanya butuh hartanya, aku tidak peduli dengan Adrian. Setelah aku mendapatkan nama Arkadia maka aku akan langsung menceraikannya..."
Arumi membelalakkan matanya, jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Itu... itu bukan saya! Saya tidak pernah mengatakan hal seperti itu!" bantahnya karena dia tidak pernah mengatakan hal seperti itu.
Adrian mengepalkan tangannya, ia tahu ini adalah ulah Siska atau Romi.
"Kek, ini jelas rekayasa. Kakek tahu teknologi sekarang bisa memalsukan suara siapa pun." ucap Adrian.
Haris Arkadia diam sejenak, menatap Arumi yang kini mulai meneteskan air mata karena merasa terhina.
Suasana menjadi sangat tegang, Adrian bersiap untuk membela istrinya habis-habisan jika kakeknya menunjukkan tanda-tanda kemarahan.
Namun yang terjadi selanjutnya justru di luar dugaan Haris tertawa kecil yaitu sebuah tawa yang kering namun hangat.
"Aku tahu ini palsu." ucap Haris tenang.
Adrian dan Arumi tertegun.
"Kakek percaya padanya?" tanya Adrian memastikan.
Haris memandang Arumi dengan tatapan seorang kakek yang bijak.
"Adrian, kau pikir aku sudah pikun? Aku telah memimpin Arkadia selama lima puluh tahun. Aku telah bertemu ribuan pembohong, penipu, dan bermuka dua dan aku tahu bagaimana suara orang yang sedang serakah, dan aku tahu bagaimana mata orang yang tulus." seru kakek Haris.
Haris bangkit dari kursinya dan mendekati Arumi, dan meletakkan tangannya yang keriput di bahu Arumi.
"Cucu menantuku jika kau memang hanya mengincar harta maka kau sudah akan meneleponku sejak hari pertama Adrian membawamu ke gang ini, kau akan merayuku agar kau bisa kembali ke apartemen mewah. Tapi apa yang kau lakukan? Kau justru bekerja keras di toko material, kau membalut luka cucuku dengan tanganmu sendiri, dan kau tetap bertahan di tempat pengap ini demi sebuah janji." tutur kakek Haris.
Arumi terisak, kali ini karena rasa lega yang luar biasa.
"Terima kasih... terima kasih karena telah percaya pada saya, Tuan Haris."
"Panggil aku Kakek," koreksi Haris.
"Hanya orang asing yang memanggilku Tuan." lanjutnya.
"Kakek." balas Arumi.
"Nah itu baru betul." ucap kakek Haris dengan bangga.
Haris berbalik menatap Adrian.
"Adrian, aku datang ke sini bukan untuk membawamu pulang atau memisahkanmu dengan Arumi, tapi aku datang karena aku ingin memastikan bahwa cucuku tidak sedang bermain terlalu jauh hingga membahayakan keselamatan istrinya." ucap kakek Haris.
Haris mengetukkan tongkatnya ke lantai.
"Aku sudah mendengar tentang sabotase di toko material tadi siang, aku juga tahu siapa yang mengirim rekaman suara ini, Siska dan teman-temannya sudah sangat keterlaluan." terusnya.
"Aku akan membereskan mereka semua Kek," ucap Adrian dengan nada mengancam.
"Tidak." potong Haris.
"Jika kau membereskan mereka sekarang dengan kekuatan Arkadia, maka ujian yang Arumi berikan padamu akan gagal. Kau berjanji padanya untuk hidup tanpa fasilitas selama tiga bulan, kan? Maka jalani itu." tuturnya.
Haris menoleh kembali ke Arumi.
"Arumi, aku punya tawaran untukmu. Aku tidak akan memaksa Adrian pulang, tapi aku tidak bisa membiarkan cucu menantuku tinggal dalam bahaya. Aku akan mengirimkan beberapa tetangga baru di sekitar sini. Mereka adalah orang-orangku yang menyamar sebagai warga biasa. Mereka tidak akan memberimu uang, tapi mereka akan memastikan tidak ada lagi orang seperti Siska yang bisa menyentuh pintu rumahmu."
Arumi ragu sejenak, namun ia melihat ketulusan di mata Haris.
"Jika itu untuk keamanan, saya menerima, Kek."
Kejutan belum berakhir, Haris Arkadia pria yang biasanya hanya makan di restoran berbintang Michelin, tiba-tiba melirik sebungkus nasi rames yang ada di atas meja.
"Apakah ada porsi lebih untuk kakekmu yang tua ini?" tanya Haris sambil tersenyum.
Adrian dan Arumi saling berpandangan, tak percaya.
Akhirnya sore itu sebuah pemandangan yang tak masuk akal terjadi di gang sempit Jakarta Timur.
Sang Raja Properti Asia Tenggara duduk bersila di atas tikar pandan yang agak sobek, makan nasi rames dengan tangan kosong bersama cucunya yang berdebu dan cucu menantunya yang sederhana.
"Rasanya lebih enak daripada steak di Singapura," gumam Haris sambil mengunyah tempe goreng.
"Sudah lama sekali aku tidak merasakan suasana seperti ini. Sejak nenekmu meninggal, rumah besar itu terasa seperti museum yang dingin."
Haris bercerita banyak hal kepada Arumi, ia bercerita tentang masa mudanya saat membangun Arkadia dari sebuah toko bangunan kecil di pinggir jalan.
Ia bercerita bagaimana ia dulu juga sering dihina orang sebelum menjadi sukses.
"Itulah sebabnya aku menyuruh Adrian menyamar." ucap Haris pada Arumi.
"Aku ingin dia memiliki pendamping yang tahu rasanya berjuang, karena saat badai ekonomi datang orang yang hanya tahu kemewahan akan lari, tapi orang yang tahu perjuangan akan tetap berdiri di sampingnya untuk membangun kembali."
Haris menatap Arumi dengan dalam.
"Dan aku melihat kekuatan itu padamu Arumi, jangan biarkan Siska atau siapa pun membuatmu merasa rendah diri. Kau adalah menantu keluarga Arkadia dan kau adalah elang yang sedang menumbuhkan sayapnya." ujar Adrian dengan begitu tulus.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡