NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

29. TGD.29

Perjalanan pulang dari Jakarta dimulai saat langit ibu kota masih berwarna abu-abu keunguan. Arkan memacu mobilnya membelah aspal tol Cipali yang panjang, sementara di kursi belakang, "Tiga Tunas"—Bumi, Aksara, dan Padi—terlelap dengan posisi kepala yang saling bersandar. Suasana di dalam mobil sunyi, hanya deru mesin dan musik instrumental lembut yang menemani.

Shelly menyandarkan kepalanya ke jendela, menatap deretan pohon jati di pinggir tol yang melesat cepat. Namun, raut wajahnya tampak sedikit pucat. Ia berulang kali membetulkan posisi duduknya, merasa ada sensasi yang sangat akrab di perut bawahnya—sesuatu yang pernah ia rasakan tepat tiga tahun yang lalu.

---

"Shel, kamu oke? Dari tadi kok diam saja?" tanya Arkan sambil melirik istrinya saat mereka menepi di sebuah *rest area* di daerah Cirebon.

Shelly turun dari mobil dengan langkah yang agak gontai. "Hanya sedikit pusing, Mas. Mungkin karena udara Jakarta kemarin terlalu kontras dengan udara desa kita."

Arkan mengerutkan kening, ia segera turun dan merangkul bahu Shelly. "Wajahmu pucat sekali. Kita istirahat lebih lama di sini ya? Aku pesankan teh hangat."

Saat Arkan sibuk memesan minuman dan mengawasi si kembar yang mulai terbangun dan ingin lari-larian, Shelly masuk ke toilet. Di dalam tas kecilnya, ia ternyata sudah menyimpan sesuatu. Sebuah firasat yang ia bawa sejak dari rumah mertuanya di Jakarta, namun belum berani ia pastikan.

Lima menit kemudian, Shelly keluar dari toilet dengan mata yang berkaca-kaca, namun ada senyum yang sulit disembunyikan. Ia menghampiri Arkan yang sedang duduk di kursi kayu sembari memangku Padi yang masih mengantuk.

"Mas..." bisik Shelly pelan.

Arkan mendongak. "Iya? Sudah enakan?"

Shelly tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih tangan Arkan yang bebas, lalu meletakkan sebuah benda kecil pipih di telapak tangan suaminya.

Arkan tertegun. Ia menatap benda itu—dua garis merah yang sangat jelas. Matanya membelalak, ia menatap Shelly, lalu menatap alat uji itu lagi, lalu menatap ketiga anaknya yang sedang asyik berebut kerupuk.

"Shel... Ini... lagi?" tanya Arkan dengan suara yang nyaris hilang.

Shelly mengangguk pelan sembari tertawa kecil. "Sepertinya 'Omah Tandur' bakal makin ramai, Mas. Benih baru ini memilih tumbuh tepat setelah kita mengunjungi kota."

Arkan tertawa lebar, tawa yang lepas dan penuh syukur. Ia berdiri dan memeluk Shelly erat-erat, mengabaikan tatapan beberapa orang di *rest area*. "Luar biasa! Bumi, Aksara, Padi! Sini, Nak! Sini semua!"

Si kembar tiga berlari mendekat. "Ada apa, Ayah? Ayah menang main robot?" tanya Aksara polos.

Arkan berlutut di depan ketiga jagoannya. "Bukan robot. Tapi kalian bakal punya adik. Ada satu lagi 'Tunas' yang mau tumbuh di perut Ibu."

Bumi, si sulung yang paling observan, mendekat dan mengelus perut Shelly. "Berarti Bumi harus jaga Ibu lebih kuat ya, Yah? Biar adiknya nggak jatuh?"

"Benar, Bumi. Kalian bertiga sekarang jadi kakak pelindung," sahut Shelly sembari mencium kening mereka satu per satu.

---

Perjalanan sisa lima jam itu terasa lebih cepat karena kegembiraan yang meluap. Begitu mobil memasuki gerbang desa, aroma tanah basah dan hamparan hijau padi menyambut mereka seolah-olah desa tahu ada anggota baru yang akan segera hadir.

Di depan rumah, Pak Kardi sudah berdiri dengan sapu lidi di tangan, menyambut kepulangan mereka.

"Mbak Shelly! Mas Arkan! Selamat datang di 'koperasi' lagi! Gimana Jakarta? Menang nggak kita lawan orang kota?" teriak Pak Kardi riang.

Arkan turun dari mobil dengan semangat yang berbeda. "Menang telak, Pak Kardi! Malah kita bawa 'oleh-oleh' istimewa dari sana!"

"Oleh-oleh apa, Mas? Roti buaya? Atau mesin baru?"

"Bukan, Pak. Shelly hamil lagi!" jawab Arkan lantang.

Pak Kardi menjatuhkan sapu lidinya, matanya membelalak. "Walah! Gusti! Mbak Shelly hamil lagi?! Ini beneran?!" Ia langsung berteriak ke arah tetangga. "Heh! Dengar semua! Dewi Padi kita mau kasih tunas lagi! Siapkan tumpeng!"

Seketika, suasana rumah Shelly yang tadinya sepi karena ditinggal ke Jakarta, mendadak ramai oleh tetangga yang datang mengucapkan selamat. Shelly hanya bisa tersenyum pasrah melihat kehebohan warga desanya.

---

Setelah keriuhan mereda dan si kembar tiga sudah tertidur karena kelelahan perjalanan, Shelly dan Arkan duduk di teras, menghadap ke arah sawah yang disinari lampu-lampu sensor digital mereka.

"Mas," panggil Shelly pelan.

"Ya, Ibu dari empat Tunas?" goda Arkan.

"Apa kita sanggup? Tiga saja sudah bikin rumah kayak kapal pecah. Apalagi nanti tambah satu lagi."

Arkan meraih tangan Shelly, menciumnya dengan penuh takzim. "Shel, waktu kita baru menikah, kita cuma punya mimpi. Sekarang kita punya kenyataan yang jauh lebih indah dari mimpi itu. Kalau kita sanggup mengurus ribuan hektar sawah dan ratusan petani, mengurus satu lagi nyawa yang dititipkan Tuhan adalah berkah yang nggak boleh kita ragukan."

"Tapi Mas harus janji," Shelly menatap mata Arkan dengan serius. "Kali ini, Mas yang harus lebih banyak bangun malam. Aku mau fokus ngurus ekspor beras ke Eropa."

Arkan tertawa renyah, merangkul bahu istrinya. "Siap, Komandan! Aku akan jadi arsitek di siang hari dan jadi 'asisten bayi' di malam hari. Kita bagi tugas. Kamu jaga kedaulatan pangan, aku jaga kedaulatan popok."

Shelly tertawa, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya. Ia merasa begitu lengkap. Dari perjalanan ke Jakarta yang penuh dengan gedung tinggi dan ambisi, ia kembali ke sini—ke tempat di mana cinta sejati diukur dari seberapa banyak kita bisa memberi, dan seberapa tulus kita merawat apa yang sudah ditanam.

Di luar sana, angin malam berembus lembut, menggoyang helai-helai padi yang tengah hamil tua, senada dengan kehidupan yang tengah tumbuh di rahim Shelly. Desa mereka tetap sama, tempat di mana teknologi dan cinta berpadu, melahirkan generasi baru yang akan mencintai tanah airnya lebih dari siapapun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!