Keyvandi Orion Eduardo atau didunia entertainment lebih dikenal dengan nama Orion Key merupakan seorang musisi terkenal dengan berbagai macam prestasi yang ia miliki. Kehidupan yang jauh dari berbagai macam isu tidak mengenakkan serta keramahannya membuat lelaki berumur 25 tahun itu banyak disukai oleh berbagai kalangan.
Namun, bagaimana jika semua citra yang telah ia bangun itu mendadak sirna. Ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis SMA yang bahkan belum berumur 18 tahun. Perlahan berbagai macam fitnah dan isu buruk tentangnya mulai tersebar. Sehingga membuat ia dicap sebagai musisi dengan scandal terburuk sepanjang masa.
Disisi lain, seorang gadis SMA dengan nama Despina Elara Faye yang juga merupakan adik tiri dari salah satu musisi yang iri akan karir Keyvandi terpaksa menuruti perintah kakaknya untuk mendekati Keyvandi dan menghancurkan karirnya perlahan. Jika tidak, maka siksaan akan terus ia dapatkan.
Lalu, bagaimana kisah selanjutnya? Baca yuk!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nevera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Seorang lelaki dengan kaos hitam yang dilapisi oleh kemeja kotak-kotak serta celana jeans sobek andalannya menuruni satu persatu anak tangga rumah milih orang tuanya. Hari ini ia memutuskan untuk menginap di sana karena setelah acara keluarga semalam ia sangat kelelahan. Sehingga tidak mungkin untuknya kembali ke apartemennya walaupun bersama supir sekalipun.
Lelaki itu langsung menuju meja makan, di sana sudah ada kedua orang tua dan juga kakak serta adik perempuannya, sedangkan untuk adik lelakinya sendiri entahlah, ia tidak tampak di meja makan itu. Jangan lupa keponakan perempuannya yang dengan tenang duduk sambil disuapi oleh sang adik perempuan, ibu dari anak itu.
"Selamat pagi semuanya," ujar lelaki itu, tidak lupa ia memberi ciuman di pipi ibu,adik perempuan dan juga keponakan perempuannya.
"Pagi juga," balas adik perempuan lelaki itu beserta sang Ibu. Sedangkan sang Ayah dan juga saudara laki-laki pertamanya hanya berdehem.
"Kak Vandi hari ini ada syuting lagi?" tanya adik perempuannya sambil mengambil tisu, lalu membersihkan mulut anaknya.
Keyvandi, lelaki itu menganggukkan kepalanya sembari meminum secangkir americano panas favoritnya. "Kenapa memangnya? Apa Vara mau ikut dengan kakak? Atau Vara tertarik menjadi tim kakak?" Keyvandi memang sangat suka mengganggu adik perempuannya itu.
Wajah adiknya yang imut dan menggemaskan meskipun sudah menjadi seorang ibu itu adalah hiburan tersendiri untuknya. Itulah mengapa ia sangat suka berada di rumah milik orangtuanya itu.
Wanita yang tak lain adiknya itu memberengut kesal, ia menggelengkan kepalanya. "Untuk apa aku ikut Kakak. Seperti tidak ada kerjaan saja." Wanita itu mendelikkan matanya.
Keyvandi terkekeh pelan, lalu mengacak rambut adik kecilnya itu. Ya, adik kecilnya, adik perempuan satu-satunya yang sangat ia sayangi. Adik dan merupakan salah satu kembarannya, satu-satu adik perempuan yang ia punya. Walaupun sang adik sudah menikah dan memiliki putri cantik, Namun sampai kapanpun tidak akan ada yang berubah. Ia sangat menyayangi adiknya itu.
Keyvara lagi-lagi memberengut kesal, "Ahh, Bang Vando tolongin. Liat rambutku rusak akibat ulah Kak Vandi," adu wanita itu kepada kakak sulungnya sambil menggerakkan tangan kakak sulungnya itu.
Bukannya membantu, Keyvando justru ikut menggoda adiknya itu. "Hei, kamu ini sudah dewasa dek. Masa tidak malu dengan Seara, lihat anakmu itu menertawakan Ibunya," ujar Keyvando sambil melihat kearah Keponakannya yang tertawa sambil bertepuk tangan. Bayi berumur satu tahun lebih itu memang sedang tertawa, jangan lupakan 4 giginya yang membuatnya terlihat lucu.
Keyvara menghembuskan napasnya pelan. "Huft, Baby, apa kau menertawakan Mommy-mu ini Nak? Sebagai anak seharusnya kamu berada dipihak ibumu ini." Ujar Keyvara dan dibalas dengan ocehan tidak jelas sang anak.
Orang tua mereka yang melihat tingkah anak-anaknya itu menggelengkan kepala mereka heran. Padahal mereka sudah dewasa, tetapi selalu bertingkah kekanak-kanakan. Tentu hal itu tidak menjadi masalah, Kelvin dan Keana senang melihat kedekatan anak-anaknya itu, mereka terlihat saling menyayangi meskipun dengan cara yang unik, yaitu saling menjahili.
"Kalian ini sudah dewasa. Astaga, Mami tidak habis pikir." Ujar Keana kepada anak-anaknya.
"Sudahlah Honey, kau seperti tidak tau anak-anakmu saja. Mereka memang tidak akan pernah berubah." Kelvin Ayah mereka itu memang selalu tenang.
"Tapi, ngomong-ngomong tentang anak-anak, dimana Kael Mi? Oh ya, Om Sean juga kenapa tidak ikut kemari?" Keyvando heran, kemana orang-orang yang biasanya selalu lebih dulu berada dimeja makan itu jika mereka menginap dirumah kedua orang tuanya.
"Kael pagi sekali berangkat ke sekolahnya, karena ia termasuk murid baru di senior high school, jadi ia harus mengikuti acara Camping wajib yang diadakan oleh sekolah. Mungkin adik bungsumu itu akan menginap tiga hari dihutan." Jelas Keana yang memang telah menyelesaikan sarapannya.
Keyvandi menganggukkan kepalanya mengerti, lelaki itu memakan roti dengan selai coklat favoritnya. "Aish, bocah kesayanganku itu ternyata sudah beranjak dewasa, aku sangat tidak rela. Lalu Om Sean? Dimana suamimu itu dek?" Tanya Keyvandi kepada adik perempuannya.
"Om Sean sedang ada meeting dengan klien penting hari ini. Jadi ia pagi sekali harus langsung keluar kota Kak." Jelas Keyvara sambil mengangkat sang putri untuk duduk di pangkuannya.
"Mami heran dengan kalian, terutama Vara." Celetuk Keana membuat ketiga anak beserta sang suami menoleh padanya.
"Heran kenapa Mi?"
"Sean itu adik ipar kalian, dan Vara, Sean itu suamimu. Tapi, kenapa kalian masih saja memanggilnya dengan sebutan Om." Keana menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan putra dan putrinya itu.
"Biarkan saja Honey, lagipun Sean kan memang sudah tua. Kau ingatkan jika ia semumuran denganku. Huh, pedofil itu. Wajar jika mereka memanggilnya dengan sebutan Om, dan juga, seharusnya Sean cocok menjadi Ayah kalian, bukan suami Vara." Ucap Kelvin dengan santai, lelaki itu kini sedang bermain dengan Cucu kecilnya.
Keyvandi menganggukkan kepalanya setuju, "Benar kata Papi Mi. Om Sean saja sekarang sudah berumur hampir 50 tahun, bagaimana kami akan memanggilnya kakak Ipar. Sangat tidak masuk akal." Ejek Keyvando jahil sambil melirik adiknya, namun adik perempuannya itu cuek saja, tuh juga Sean tetap awet muda, selain itu mereka memang saking mencintai, apa yang perlu dirisaukan.
"Ya ya, terserah kalian saja. Mami sudah lelah menasehati Kalian. Ayah dan anak sama saja." Pasrah Keana.
"Hallo?" Keyvandi mengangkat panggilan telfon di handphonenya.
"Kau ada dimana? Kenapa tidak ada di apartemenmu?" Tanya orang diseberang sana.
"Ahh Lia, aku sedang dirumah orang tuaku. Kau pergilah terlebih dahulu. Aku nanti akan bersama Abangku saja. Lagipun perusahaan iklan itu tidak jauh dari perusahaan milik Abangku."
"Baiklah. Kalau begitu segera menyusul, meeting akan dilaksanakan setengah jam lagi dengan pemilik perusahaan." Ucap Lia disana.
"Ya." Balas lelaki itu singkat dan langsung mematikan panghilan telfonnya.
Lalu kemudian Keyvandi menatap kearah keluarganya, "Sepertinya Vandi harus berangkat sekarang. Ah ya, Bang Vando, Vandi bolehkan menumpang denganmu Bang?"
Keyvando hanya menganggukkan kepalanya saja. Sedangkan Keyvandi langsung berpamitan dengan semua anggota keluarganya. Lalu lelaki itu berjalan mendahului sang kakak.
***
Keyvandi keluar dari mobil kakaknya, tidak lupa ia mengucapkan terimakasih. Lelaki itu langsung berjalan memasuki gedung tempat ia akan melaksanakan Meeting dengan pemilik produk iklan yang meminta ia bintangi. Sepanjang lobby gedung itu, banyak sekali staff atau orang-orang yang menjadi penggemarnya terkejut melihat kehadirannya. Vandi tertawa dalam hatinya, lelaki itu membalas ramah sapaan beberapa dari mereka.
Lelaki itu sampai didepan sebuah ruangan yang disana sudah terdapat manajer yang merangkap menjadi asistennya, Lia yang menunggu lelaki itu. Juga, dua bodyguard-nya yang sudah berdiri bersama Lia.
"Astaga, dari mana saja kau ini? Kau mengatakan padaku untuk tidak terlambat, tapi kau sendiri terlambat 10 menit." Ujar Lia ketika melihat sang Boss sampai dihadapan mereka.
Keyvandi hanya mengedikkan bahunya saja. Lelaki itu kemudian masuk ke dalam ruangan tempat mereka akan melaksanakan Meeting dan penandatanganan kontrak.
"Permisi, Mr. Adiguna, maafkan atas keterlambatan saya. Tadi dijalan ada sedikit kendala." Ucap Keyvandi ketika sampai dihadapan pemilik perusahaan itu.
Seorang lelaki paruh baya yang duduk bersama sekretarisnya itu tersenyum. "Tuan Orion Key. Silahkan duduk dulu, kami juga belum menunggu lama. Jadi hal itu bukanlah masalah besar." Ujarnya sambil mempersilahkan Keyvandi untuk duduk.
"Ahh ya, Nona Lia silahkan duduk juga." Lanjutnya masih dengan senyuman.
Setelah mereka duduk Keyvandi Adiguna langsung menyampaikan semua tentang kontrak dan produk yang akan dibintangi oleh Keyvandi.
Keyvandi tampak serius mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Adiguna beserta sekretarisnya.
Beberapa saat kemudian berlalu, saatnya penandatanganan kontrak yang akan disepakati antara Adiguna juga Keyvandi tentang produk iklan itu. Keyvandi sudah setuju dengan apa yang dijanjikan dan semua yang akan ia dapat dari ia membintangi produk milik perusahaan Mr. Adiguna. Begitupun dengan Mr. Adiguna yang menyetujui semua persyaratan dari Keyvandi.
"Terimakasih Tuan Orion Key, senang bekerjasama dengan anda." ujar Mr. Adiguna dengan senyuman puasnya.
Keyvandi menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Saya juga merasa terhormat bisa membintangi produk milik perusahaan Anda Mr, semoga nantinya anda puas dengan hasilnya." Balas Keyvandi dengan menjabat tangan Mr. Adiguna, dan tersenyum meyakinkan lelaki paruh baya itu.
Setalahnya Keyvandi dan juga Lia, manajer sekaligus asistennya itu pamit untuk melakukan jadwal lainnya.
Keyvandi berjalan keluar gedung beriringan bersama Lia, manajer sekaligus asistennya itu tentu saja akan selalu mengikuti lelaki itu kemanapun ia pergi.
"Setelah ini jadwalku kemana lagi?" Tanya Keyvandi, lelaki itu sekarang mengenakan kacamata hitam yang menempel sempurna di wajahnya.
Lia tampak membuka ponselnya, "Setelah ini kita akan menghadiri pemotretan majalah popular, dan aku sudah menyiapkan semua pakaianmu di mobil."
Keyvandi hanya menurut saja, ia kemudian masuk ke dalam mobil Alphard yang sudah menunggunya di depan gedung diikuti oleh Lia.
"Berapa jam untuk sampai ke tempat pemotretan?"
Lia melihat jam yang melingkar di tangannya. "Mungkin sekitar 40 menit."
"Baiklah, sepertinya aku harus memejamkan mataku sejenak, aku benar-benar sangat lelah."
Tanpa menunggu jawaban Lia, lelaki itu langsung memejamkan matanya. Sang manajer sekaligus asistennya itu yang melihat Keyvandi memejamkan matanya hanya bisa membiarkannya, lagipula kesehatan Keyvandi sangat penting, jika sampai lelaki itu sakit karena kurang istirahat tengh saja akan membuat semua jadwal berantakan dan akan merugikan banyak pihak, parahnya lagi, tentu saja ia yang akan diprotes oleh para klien maupun penggemar Keyvandi.
Menjadi seorang selebriti bukanlah hal yang mudah, tapi karena itu merupakan pilihan yang sudah dipilih seorang Keyvandi Orion Eduardo, maka hal yang harus dilakukan adalah menjalaninya dengan senang hati.
40 menit berlalu, mobil Alphard yang dikendarai Keyvandi dan juga Liabtelah sampai di sebuah agensi model yang cukup populer di kota ini, sebuah agensi model yang juga merangkap sebagai sebuah perusahan majalah populer yang ada di negara Indonesia. Banyak sekali artis maupun model yang merupakan bagian dari agensi ini serta karir mereka dimulai dari sini, termasuk Keyvandi, lelaki itu memang memulai karirnya dari sini, sebelum ia menjadi seorang selebriti dan musisi terkenal seperti sekarang. Maka dari itu, seperti kata pepatah, ia tidak akan menjadi kacang yang lupa akan kulitnya, karena tempat ia berasal, disitulah ia harus menghormatinya.
Lia menggoncang tubuh Keyvandi pelan, "Rion, bangun, kita sudah sampai," Ujar gadis itu sambil membangunkan Keyvandi yang tadi masih terlelap.
Keyvandi membuka matanya, lelaki itu mengambil ponsel di sakunya dan melihat jam.
"Kita sudah sampai?"
"Iya, sebentar, aku akan merapikan penampilanmu."
Lia sang manajer sekaligus asistennya itu langsung bergegas merapikan rambut Keyvandi yang sedikit acak-acakan. Keyvandi hanya diam saja, lelaki itu pasrah dengan apanyang dilakukan Lia, lagipula itu hal wajar karena Lia adalah manajer sekaligus asistennya.
"Sudah."
Setelahnya, Keyvandi dan juga Lia menuruni mobil, keduanya berjalan beriringan, tidak lupa kedua bodyguard yang menjaga Keyvandi juga selalu ada di sisinya. Entah bagaimana, tapi setiap kegiatan yang dijalani oleh Keyvandi pasti penggemar-penggemar fanatiknya itu tai di mana letak lokasinya berada, ia juga bingung, padahal Lia juga tidak membocorkannya, kecuali acara meet and greet tau biasa disebut jumpa fans, tentu saja hal itu akan disebar luaskan.
Keyvandi dan sang manajer sekaligus asistennya itu sampai di depan ruangan yang bertuliskan ruang pemotretan.
"Hai, Orion Key, akhirnya kau datang juga." Seorang fotografer datang menghampiri Orion dan juga Lia.
"Hai Mike, bagaimana kabarmu?"
Fotografer yang dipanggil Mike itu terseyum dan bertodms ria dengan Keyvandi, tidak lupa juga ia menyapa Lia.
"Baik Bro, bagaimana? Apa kau sudah siap untuk pemotretan?"
Keyvandi mengangguk, "Tentu saja, rasanya sudah lama tidak kemari, tapi aku mengganti busanaku terlabih dahulu."
"Of course bro, lakukanlah."
Setelah semuanya siap, pemotretanpun akhirnya dilakukan, fotografer bernama Mike itu tersenyum puas dengan hasilnya, Keyvandi memang sangat handal dan profesional, lelaki itu memang benar-benar memiliki bakat menjadi seorang selebritis, pantas saja banyak yang mengidolakannya.
***
Seorang gadis memeluk lututnya ketakutan. Gadis itu sudah dikunci semalaman oleh kakak tirinya didalam kamarnya. Ia memegangi perutnya yang melilit, dari kemari sebutir nasipun tidak ada yang masuk.
Ceklek
Suara pintu kamarnya terbuka, gadis itu segera mendudukkan dirinya diatas kasur. "Bi Ina?" Ujarnya ketika seorang wanita paruh baya masuk kedalam kamarnya dengan nampan yang berisi makanan dan juga minuman untuknya.
Wanita paruh baya itu meletakkan nampan itu diatas Najwa kamar gadis itu. "Non Despina belum makan kan dari kemarin? Ini Bibi bawakan makanan dan juga minum untuk Non." Ujar asisten rumah tangga itu.
Gadis yang bernama Despina itu menatap sendu sang asisten rumah tangga. Lalu ia perlahan mengambil piring berisi makanan yang dibawa oleh asistennya itu.
Dengan cepat ia memakan nasi beserta lauk pauknya. Despina tau jika kakak tirinya belum kembali, untuk itu ia tidak ingin membuang waktu, karena jika ketahuan oleh kakak tirinya pasti Bi Ina akan dimarahi atau bahkan dipecat. Selain itu, ia juga pasti akan mendapat masalah baru.
Bik Ina menatap Despina prihatin, semenjak Ayah gadis itu menikah lagi dengan ibu dari kakak tirinya, kehidupan Despina berubah drastis. Kesibukan sang Ayah serta Ibu tirinya yang selalu ikut membuat ia diperlakukan buruk oleh kakak tirinya. Entah apa pun yang Despina lakukan, kakak tirinya itu selalu menyalahkannya. Sehingga Despina sering kali berakhir dikunci dikamar dan tanpa mendapat makanan sedikitpun.
Despina meletakkan piring bekas makannya diatas nampan tadi, kemudian ia meminum air putihnya.
Gadis cantik itu tersenyum, "Terimakasih Bi, karena Bibi selalu ada untuk Despina." Ujar gadis itu, lalu ia memeluk sang Asisten.
Sang Asisten rumah tangga mengelus rambut Despina pelan, "Bibi menyayangi Non Despina. Untuk itu Bibi akan selalu ada untuk Non, Bibi berharap Non akan bahagia suatu saat nanti. Bersabarlah Non." Ucap wanita paruh baya itu, sambil melepaskan pelukan Despina dan memegang bahu gadis itu lalu menatap mata Despina.
Despina mengusap sudut matanya yang berair. Kemudian ia menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk Bi Ina.
.
.
.
TBC