NovelToon NovelToon
ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Dokter / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:658
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.

Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.

Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI BAWAH POHON BERINGIN

Udara pagi di Kampung Cibuntu masih terasa segar menyegarkan paru-paru, bercampur aroma tanah basah yang baru saja disiram embun pagi, wangi kembang melati dari kebun belakang rumah Pak Soleh tetangga, dan sedikit aroma lembab dari sawah yang mengelilingi kampung. Sinar matahari baru mulai menyebar perlahan melalui dedaunan pohon beringin rindang yang berdiri gagah di tengah lapangan kosong kampung – pohon yang sudah ada sejak dulu kala, saksi bisu perjalanan hidup banyak generasi yang datang dan pergi, yang tumbuh dan berkembang di tanah yang sama ini. Batangnya yang tebal seperti rumah kecil memiliki kulit kayu yang bergelombang-gelombang, menyimpan jejak waktu dalam setiap lekukan dan bekas luka yang sudah mengeras menjadi bagian dari dirinya. Cabangnya yang menjulang tinggi menyebar ke segala arah seperti payung raksasa, memberikan teduh yang sejuk bagi siapa saja yang berada di bawahnya.

Evan, yang baru saja menginjak usia lima belas tahun, duduk di atas batu besar yang sudah menjadi bagian dari pemandangan kampung semenjak ia bisa ingat. Batu itu permukaan nya sudah licin akibat sering ditempati oleh orang-orang kampung yang ingin beristirahat atau sekadar mengobrol sambil menikmati teduh pohon beringin. Bajunya warna biru tua yang sudah sedikit pudar akibat sering dicuci dan dipakai bermain di sawah kemarin sore masih memiliki noda tanah yang belum hilang sempurna. Rambut hitamnya yang tebal dan kusut tertutup sebagian oleh topi bambu buatan tangan Kakek Darmo – leluhurnya yang sudah menginjak usia tujuh puluhan tahun. Jari-jarinya yang kurus namun kuat sedang bermain-main dengan ranting kecil yang dia petik dari tanah, sementara matanya yang cerah berwarna coklat tua terus mengikuti setiap gerakan leluhurnya yang sedang berlatih di tengah lapangan.

Kakek Darmo berdiri dengan sikap yang tegap namun rileks, mengenakan sarung batik warna coklat tua dengan motif bukit dan sungai yang sudah pudar akibat usia. Badannya yang tidak terlalu tinggi namun berdiri kokoh seperti pohon pisang yang tidak mudah roboh terkena angin kencang. Ia bergerak dengan keanggunan yang sungguh tak sesuai dengan usianya – setiap langkah, setiap gerakan tangan dan kaki seolah sudah tertanam dalam dirinya sejak puluhan tahun yang lalu. Tangan kanannya mengangkat perlahan ke atas kepala, kemudian meluncur ke bawah dengan kecepatan yang terkontrol, mengikuti aliran udara seolah ia sedang menyapu awan tipis yang ada di depannya. Satu pukulan keluar dengan tepat sasaran ke arah tiang kayu yang berdiri di sudut lapangan, tidak menyentuh namun menghasilkan suara seperti genturan yang jelas terdengar di tengah kesunyian pagi. Satu lompatan ke samping yang ringan seperti burung merpati yang sedang mendarat, kemudian mengubah posisi dengan kecepatan yang membuat Evan terpana, seolah tubuh leluhurnya bisa menyatu dengan ruang dan waktu di sekelilingnya.

Setiap gerakan diiringi oleh napas yang terkontrol dengan sempurna – nafas panjang saat mengumpulkan kekuatan, napas pendek saat melakukan gerakan cepat, seolah ia sedang bernyanyi bersama alam sekitar. Evan memperhatikan bagaimana ketika Kakek Darmo melakukan gerakan yang keras dan cepat, daun-daun pohon beringin di atasnya hanya sedikit bergerak, namun ketika ia berhenti dan melakukan gerakan lembut, angin seolah merespons dengan menyapu lembut dedaunan pohon itu. Di sudut lapangan, ada beberapa batu kecil yang disusun rapi, dan Evan melihat bagaimana Kakek Darmo bisa menyentuh salah satu batu dengan ujung jarinya, membuat batu itu bergeser beberapa sentimeter tanpa suara dan tanpa mengganggu batu-batu lain di sekelilingnya.

"Kakek, apa itu yang Kakak lakukan?" tanya Evan dengan suara yang penuh rasa ingin tahu, tubuhnya sudah bergerak perlahan mendekat ke arah leluhurnya tanpa dia sadari. Kakinya secara naluriah mengikuti irama gerakan Kakek Darmo, meskipun ia belum mengerti apa artinya setiap langkah yang diambil.

Kakek Darmo berhenti sejenak, tubuhnya langsung kembali ke posisi berdiri tegap dengan sikap yang tenang. Ia mengeluarkan sapu tangan kecil dari saku dalam sarungnya, menyeka keringat yang mulai menetes di dahinya yang berkerut namun masih tampak kuat. Matanya yang penuh kedalaman – warna coklat tua seperti mata Evan namun dengan kedalaman yang seolah menyimpan seluruh pengetahuan dunia – menatap cucunya dengan senyum hangat yang membuat Evan merasa hangat di dalam hatinya.

"Ini bukan sekadar 'sesuatu', cucu," ujar Kakek Darmo dengan suara yang dalam namun lembut, seperti ombak yang menyapu pantai. "Ini adalah ilmu yang telah diwariskan dari leluhur kita selama beratus-ratus tahun – sejak zaman nenek moyang kita masih hidup di hutan belantara, sebelum kampung ini ada. Ini adalah cara untuk melindungi diri sendiri, melindungi orang-orang yang kita cintai, melindungi tanah air kita, dan yang paling penting – untuk menghormati kehidupan dalam segala bentuknya."

Evan duduk di tepi lapangan, di atas rerumputan yang masih basah oleh embun pagi. Matanya tidak pernah lepas dari sosok leluhurnya yang kini mulai berjalan perlahan mengelilingi lapangan, menjelaskan setiap gerakan yang baru saja ia lakukan. Ia melihat bagaimana tangan leluhurnya bisa menghantam udara dengan kekuatan yang luar biasa, menghasilkan suara seperti guntur yang jauh, namun ketika ia menyentuh ranting pohon beringin yang jatuh ke tanah, gerakannya menjadi lembut seperti menyentuh bayi baru lahir yang sedang tidur nyenyak.

"Kenapa Kakek tidak pernah mengajarkan itu sama saya?" tanya Evan dengan nada sedikit kecewa, menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Sejak kecil ia sering melihat Kakek Darmo berlatih sendirian di bawah pohon beringin, namun setiap kali ia meminta untuk diajarkan, leluhurnya selalu hanya tersenyum dan mengatakan bahwa waktunya belum tiba.

Kakek Darmo berhenti lagi, berbalik menghadap Evan dengan tatapan yang penuh kasih sayang dan pemahaman. Ia mendekati cucunya dengan langkah yang stabil, kemudian duduk bersebelahan dengannya di atas rerumputan yang lembut. Tangan kanannya yang berkerut namun kuat menepuk tanah yang subur di antara mereka berdua, seolah merasakan getaran kehidupan yang ada di dalamnya.

"Ilmu ini tidak bisa diberikan sembarangan, Evan," ujar Kakek Darmo perlahan, melihat jauh ke arah sawah yang membentang luas hingga ke kaki bukit di kejauhan. "Ia bukan seperti mainan yang bisa diberikan kapan saja dan kepada siapa saja. Ilmu ini membutuhkan hati yang bersih dari keserakahan dan hasrat untuk menyakiti orang lain, tekad yang kuat untuk tidak menyerah meskipun menghadapi kesulitan yang besar, dan pemahaman yang mendalam bahwa kekuatan bukanlah untuk menyakiti atau menunjukkan keunggulan diri, melainkan untuk melindungi yang lemah dan menjaga kedamaian."

Ia menjentikkan jempolnya ke arah pohon beringin yang besar di atas mereka. "Seperti pohon ini, cucu. Ia tumbuh besar dan kuat bukan untuk menindas tanaman lain di sekelilingnya, melainkan untuk memberikan teduh, tempat berlindung bagi burung dan makhluk kecil lainnya, dan menjaga kesuburan tanah di bawahnya. Begitu pula dengan ilmu yang ku pelajari ini – ia harus tumbuh di dalam diri seseorang dengan cara yang sama, memberikan manfaat bagi orang lain."

Evan menatap mata leluhurnya dengan seksama, merasa ada sesuatu yang dalam dan misterius tersimpan di dalamnya. Di balik kedamaian yang terpancar dari wajah Kakek Darmo, ia merasakan kekuatan yang luar biasa – kekuatan yang tidak terlihat oleh mata telanjang namun bisa dirasakan oleh hati, seperti getaran yang menyebar melalui tanah ketika badai akan datang atau kehangatan matahari yang menyinari bumi setelah musim hujan panjang.

"Namun," lanjut Kakek Darmo sambil mengulurkan tangannya dengan hati-hati menyentuh kepala Evan, menjilati rambutnya yang masih sedikit basah oleh embun pagi, "karena kamu sudah cukup besar untuk melihat dengan mata dan memahami dengan hati makna kesabaran, kesetiaan, dan penghormatan terhadap kehidupan, mulai dari hari ini kamu bisa duduk di sini dan mengamati. Pelajari setiap gerakan dengan mata kamu dan rasakan dengan hati kamu. Perhatikan bagaimana setiap gerakan saling berkaitan dengan yang lain, seperti aliran sungai yang tidak pernah berhenti mengalir ke laut."

Ia menarik tangannya kembali, kemudian berdiri perlahan dengan bantuan tongkat kayu yang selalu ia gunakan ketika tidak sedang berlatih. "Kelak, ketika waktunya tiba dan kamu sudah siap menerima tanggung jawab yang melekat pada ilmu ini, kamu akan memahami mengapa ilmu ini harus kita jaga dengan segenap hati dan hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar layak menerimanya."

Evan mengangguk dengan penuh semangat, matanya bersinar dengan harapan yang baru saja muncul. Ia kembali duduk di atas batu besar yang sudah menjadi tempat favoritnya, menyelaraskan tubuhnya agar bisa melihat dengan lebih jelas setiap gerakan Kakek Darmo yang kembali melatih di bawah pohon beringin yang menjulang tinggi. Ia mulai memperhatikan dengan lebih cermat – bagaimana kaki leluhurnya menekan tanah dengan kekuatan yang tepat, bagaimana pinggulnya berputar dengan keanggunan, bagaimana tangan dan lengan bekerja sama seperti satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Ia merasa seolah ada sesuatu yang terbangun di dalam dirinya – sesuatu yang sudah ada sejak ia lahir namun baru saja mulai menyadari keberadaannya. Seolah darah yang mengalir di dalam tubuhnya merespons setiap gerakan Kakek Darmo, mengingatkan dia akan akar yang dalam yang menghubungkannya dengan leluhur leluhurnya yang dulu juga belajar ilmu yang sama di bawah naungan pohon beringin yang sama ini.

Di kejauhan, suara ibu Evan yang bernama Siti memanggilnya dari arah rumah mereka – suara yang jelas terdengar menyilang sawah dan kebun yang memisahkan rumah mereka dengan lapangan pohon beringin. "Evan! Sudah pagi banget lho! Sarapan dulu sebelum pergi ke sekolah!"

Namun Evan tidak segera berdiri dan pergi. Ia memilih untuk tetap duduk di sana, mata nya tetap terpaku pada gerakan Kakek Darmo yang beriringan dengan suara burung perkutut yang sedang berkicau dari cabang pohon beringin, suara jangkrik yang mulai terdengar dari semak-semak di sekeliling lapangan, dan angin yang menyapu lembut dedaunan pohon tua itu seolah sedang menyanyi lagu kuno yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang benar-benar mendengarkan dengan hati.

Ia tahu bahwa hari ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan – awal dari perjalanan panjang untuk menerima warisan yang tidak hanya tentang ilmu beladiri, namun tentang cara hidup yang penuh penghormatan, kebaikan hati, dan tekad untuk melindungi yang ada di sekitarnya. Dan di bawah naungan pohon beringin yang telah menyaksikan banyak generasi sebelum dirinya, Evan mulai menghadirkan diri sepenuhnya pada setiap detik yang ada, siap untuk mempelajari setiap pelajaran yang akan diberikan oleh leluhurnya dan oleh tanah yang telah melahirkan mereka semua.

Kakek Darmo melihat cucunya dengan senyum yang penuh makna, kemudian melanjutkan gerakan-gerakan yang telah dia lakukan ribuan kali selama hidupnya – setiap gerakan adalah doa, setiap langkah adalah penghormatan, setiap napas adalah pengingat akan kehidupan yang harus dijaga dan dilestarikan dengan segenap kekuatan yang ada. Di tengah kampung yang damai dan alam yang masih alami, siklus warisan yang sudah berjalan selama berabad-abad terus berlanjut, dari satu generasi ke generasi berikutnya, di bawah naungan pohon beringin yang selalu ada sebagai saksi dan pelindungnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!