Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Langkah Kirana terburu-buru menyusuri trotoar depan kantor kecamatan. Napasnya sedikit tersengal, bukan semata karena langkah yang dipercepat, melainkan karena pikirannya yang tak kunjung tenang. Sejak pertemuannya dengan Dina dan Meli, kepalanya terasa penuh potongan-potongan kebenaran yang tak lagi bisa ia abaikan.
Jam di ponselnya menunjukkan waktu pulang sekolah hampir tiba. Dia takut Gita dan Ara nekad pulang sendiri jika terlambat menjemput.
“Aku tidak boleh telat menjemput Gita dan Ara,” batinnya, memeluk tas kain yang diselempangkan di bahu.
Saat hendak menyeberang jalan, Kirana melangkah terlalu cepat. Pandangannya tidak fokus ke kanan dan kiri, pikirannya melayang pada wajah Gita yang akhir-akhir ini lebih sering diam. Baru setengah langkah kakinya menapak aspal, suara deru mesin motor yang melaju kencang membuatnya membeku.
“Awasss!”
Semuanya terjadi begitu cepat.
Sebuah motor melintas hanya beberapa senti dari tubuhnya. Angin yang tercipta dari laju kendaraan itu membuat ujung rok Kirana berkibar. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, kakinya terpeleset di pembatas jalan.
“Aaaaa!”
Kirana merasa tubuhnya melayang, jantungnya seperti copot dari tempatnya. Dalam sepersekian detik, bayangan terburuk melintas di kepalanya, Gita, Ara, darah, jalanan. Namun, sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, sebuah tangan kuat menarik lengannya ke belakang. Kirana terhuyung dan langsung ditarik ke dada seseorang.
“Awas, Ki!” Terdengar suara teriakan yang sarat akan cemas, napasnya berat.
Kirana terdiam, tubuhnya gemetar hebat. Telapak tangannya mencengkeram baju orang yang menolongnya tanpa sadar. Dunia terasa berputar, suara bising jalanan berubah seperti dengungan jauh.
“Kamu tidak apa-apa?” Orang itu memegang kedua lengan Kirana, memastikan tubuhnya berdiri stabil. “Ada yang sakit? Kakimu apa keseleo?”
Kirana mengangkat wajahnya perlahan. Matanya yang masih berkaca-kaca bertemu dengan sepasang mata yang asing tapi juga tidak sepenuhnya asing.
“Alga?” gumamnya lirih.
Algara menatapnya dengan ekspresi campur aduk, ada rasa lega, khawatir, sekaligus heran. “Kamu hampir tertabrak, Ki. Kenapa nyebrang enggak lihat-lihat?”
Kirana mengatur napas, lalu melepaskan genggaman tangannya dari baju Algara. Ia mundur satu langkah, menjaga jarak. “A-ku baik-baik saja.”
Algara masih menelisik tubuhnya dengan cemas. “Bener? Enggak pusing? Enggak nyeri di mana pun?”
“Ya. Aku baik-baik saja,” ulang Kirana, kali ini lebih tegas. Ia menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis yang dipaksakan. “Terima kasih sudah menolong aku.”
Algara menghela napas pelan. “Lain kali hati-hati. Pikiranmu kelihatan sedang ke mana-mana.”
Kirana mengangguk singkat. “Aku harus jemput anak-anak.”
Wanita itu melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Namun, Algara tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung Kirana yang menjauh dengan sorot mata yang sulit dijelaskan, campuran kekhawatiran dan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tidak berani ia beri nama.
Selesai jam sekolah, Gita langsung berlari kecil menghampiri Kirana. Senyumnya mengembang, namun terlihat kelelahan di balik gestur tubuh anak itu.
“Ma!” seru Gita, memeluk kaki Kirana.
Ara menyusul di belakang, wajahnya ceria seperti biasa.
“Mama, hari ini semua nilai ku dapat bintang lima," ucap Gita dengan penuh bangga.
“Putri Mama memang hebat!” puji Kirana.
“Katanya kalau nilai aku bagus semua Mama akan beli es krim, kan?” ucap Gita riang menagih janji.
“Boleh. Tapi, satu, ya?”
“Asyik!" Gita melompat ceria.
Ara ikut menimpali, “Aku juga mau, Tante.”
Kirana mengangguk. “Iya, tapi satu-satu, ya.”
Mereka berhenti di gerobak es krim pinggir jalan. Kirana membeli dua es krim ukuran kecil. Ara langsung cemberut saat menerimanya.
“Kenapa kecil?” protes Ara. “Om Rafka biasanya beliin aku yang besar.”
Kalimat itu jatuh seperti batu ke dada Kirana.
“Kapan Papa beliin kamu es krim?” Gita menoleh cepat ke arah Ara, alisnya mengernyit.
“Kemarin. Terus kemarinnya lagi,” jawab Ara polos. “Kalau Om Rafka datang ke rumah, aku selalu dibawain es krim besar sama banyak snack.”
Gita terdiam. Tangannya yang memegang es krim mengepal pelan. Kirana merasakan tenggorokannya tercekat.
“Om Rafka sering datang ke rumah Ara?” tanya Kirana, berusaha menjaga suaranya tetap netral.
Ara mengangguk antusias. “Sering! Kadang main sama aku juga.”
Kirana menunduk, menelan ludah. Di sampingnya, Gita tidak lagi menyentuh es krimnya. Anak itu menunduk, bahunya turun, wajahnya kehilangan keceriaan.
Hati Kirana terasa teriris. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan. Apakah pengkhianatan suaminya atau luka kecil yang mulai tumbuh di hati anaknya.
Sore itu, Rafka pulang lebih cepat dari biasanya. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya langsung mencari Gita begitu masuk rumah.
“Papa!” Gita berdiri dari duduknya.
Rafka tersenyum, lalu berjongkok. “Ah, putri papa.”
Rafka merentangkan kedua tangannya. Dia merasa heran ketika Gita tidak langsung memeluknya.
Anak itu menatap ayahnya ragu, lalu bertanya dengan suara pelan, “Papa, apa benar Papa sering beliin es krim besar buat Ara?”
Rafka tertegun. Senyumnya memudar seketika. Ia melirik Kirana yang sedang melipat pakaian di sudut ruangan. Wajah istrinya datar, tetapi matanya tajam.
“Siapa yang bilang begitu?” tanya Rafka, suaranya sedikit terguncang.
“Ara,” jawab Gita jujur. “Katanya Papa sering datang ke rumahnya.”
Rafka menarik napas dalam-dalam. Ia meraih Gita dan memeluknya erat. “Maafin Papa, ya, Sayang. Kemarin Ara nangis, jadi papa belikan es krim agar berhenti menangis.”
Gita terdiam di pelukan itu. “Papa sayang enggak sama aku?” tanyanya lirih, nyaris berbisik.
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada tuduhan apa pun. Baik Rafka atau Kirana, sama-sama merasakan kesedihan Gita.
“Tentu Papa sayang,” jawab Rafka cepat. Ia menangkup wajah Gita. “Papa paling sayang sama kamu.”
Kirana menghentikan aktivitasnya. “Jangan terlalu royal sama anak orang lain,” ucapnya datar tanpa menoleh. “Masa Ara dapat lebih dari Gita yang merupakan anak kamu sendiri, Mas?”
Kalimat itu melayang di udara, berat dan penuh sindiran.
Rafka terdiam. “Aku enggak bermaksud begitu.”
“Kalau enggak bermaksud, ya jangan dibiasakan,” balas Kirana pelan.
Rafka kembali fokus ke Gita. “Sebagai permintaan maaf, gimana kalau hari Minggu nanti kita jalan-jalan?”
Mata Gita langsung berbinar. “Beneran, Pa?”
“Beneran,” sahut Rafka. “Kamu mau ke mana?”
“Timezone!” seru Gita riang.
“Baik. Kita ke Timezone,” kata Rafka sambil memeluk putrinya.
Tawa Gita memenuhi ruangan. Rafka ikut tertawa. Pemandangan itu tampak hangat, terasa sempurna jika saja Kirana tidak tahu kenyataan di baliknya.
Kirana berdiri mematung, dadanya terasa sesak. Ia menatap suami dan anaknya dengan perasaan campur aduk. Bahagia karena melihat Gita tersenyum, sekaligus hancur karena tahu kebahagiaan itu berdiri di atas kebohongan.
“Bagaimana perasaan Gita nanti, kalau semua ini hancur?” batin Kirana, sesak.
Kirana memalingkan wajah, menyeka air mata yang nyaris jatuh. Di dalam hatinya, dia tahu dirinya tidak hanya sedang berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk hati kecil seorang anak yang belum mengerti arti pengkhianatan. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada luka mana pun yang pernah ia rasakan.
bab sebelumnya kirana mendapatkan struk belanja dr saku celana..
bab lanjutan dia melihat struk teselip di bawah meja rias..
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏