Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian dari Langit Himalaya
Suara hantaman logam pada pintu baja laboratorium terdengar seperti dentuman lonceng kematian. Setiap pukulan dari luar membuat dinding-dinding beton 'Sky-Wall' bergetar. Di dalam, kabut ungu dari gas saraf mulai mengendap, namun sistem penyaring udara pada masker taktis Elara dan Zian bekerja keras untuk mempertahankan kesadaran mereka.
"Zian, pegang kepalanya! Jangan biarkan dia bergerak sedikit pun!" perintah Elara. Suaranya terdengar mekanis melalui respirator, namun ada nada urgensi yang tajam.
Zian berlutut di belakang ibunya, mendekap kepala Dr. Arisya dengan tangan yang gemetar. Air mata pria itu jatuh, membeku seketika di atas sarung tangan taktisnya. "Ibu, bertahanlah. Aku mohon, bertahanlah."
Elara mengarahkan nozel tabung nitrogen cair ke pangkal tengkorak Arisya, tempat benjolan kecil neural-link itu berada. "Kael, sinkronisasi sekarang! Aku butuh frekuensi pengacak tepat saat suhu mencapai titik beku!"
"Tiga detik lagi!" sahut Kael. Suaranya pecah karena gangguan badai elektromagnetik di luar. "Dua... satu... SEKARANG!"
Pshhhhhhh!
Uap putih dingin menyembur keluar. Dr. Arisya memekik tertahan, tubuhnya menegang hebat saat rasa dingin yang luar biasa menyerang sistem saraf pusatnya. Kulit di sekitar tengkuknya memutih seketika, tertutup lapisan es tipis. Indikator lampu pada mikrobom di otaknya berkedip liar, berubah dari merah menjadi kuning redup saat sirkuitnya membeku dan gagal mengirimkan sinyal pemicu.
"Berhasil! Sinyalnya terputus!" teriak Kael. "Tapi hanya untuk 90 detik sebelum panas tubuhnya mencairkan sirkuit itu kembali! Kalian harus keluar dari sana SEKARANG!"
Tepat saat itu, pintu baja laboratorium meledak ke dalam. Tiga prajurit Chimera menyeruak masuk dari balik asap, mata merah mereka bersinar penuh amarah. Zian langsung bereaksi, menyambar senapan serbunya dan melepaskan rentetan tembakan penahan.
"Elara, bawa Ibu ke hangar! Aku akan menahan mereka!"
Elara tidak membantah. Dia merangkul tubuh Arisya yang lemas dan membawanya lari menuju pintu keluar darurat yang menuju ke jalur luncur eksternal. Di belakangnya, suara tembakan dan hantaman fisik bergema. Zian bertarung seperti singa, menggunakan popor senjatanya untuk memecahkan visor helm salah satu Chimera dan menembakkan peluru nitrogen langsung ke dalamnya.
"Zian! Ayo!" teriak Elara dari ambang pintu.
Zian melemparkan granat termit terakhirnya ke arah deretan tabung inkubasi Chimera, menciptakan ledakan api yang masif untuk menghalangi jalan musuh. Dia berlari menyusul Elara tepat saat hitung mundur kehancuran fasilitas menyentuh angka sepuluh detik.
Mereka mencapai teras berbatu tempat mereka mendarat tadi. Badai salju di luar masih mengamuk, namun kini ada elemen baru: api yang menyembur dari ventilasi gedung.
"Kael, mana jemputannya?!" Zian berteriak ke langit yang gelap.
"Lihat ke bawah!"
Dari balik kabut salju, sebuah pesawat sayap putar V-22 Osprey muncul, terbang miring untuk menghindari tebing karang. Pintu belakangnya terbuka, memperlihatkan Kael yang melambai dengan panik.
"Lompat!" perintah Elara.
Zian memeluk ibunya erat-erat, sementara Elara memegang punggung Zian. Mereka melompat dari teras tebing setinggi ribuan meter itu, meluncur jatuh ke arah pintu Osprey yang terbuka. Tangan-tangan kuat anggota Unit Phoenix menangkap mereka tepat saat fasilitas 'Sky-Wall' di atas meledak dengan kekuatan nuklir taktis.
BOOOOOMMMM!
Puncak Gunung Annapurna seolah-olah terbelah. Gelombang kejut ledakan itu menghantam Osprey hingga terombang-ambing seperti daun di tengah badai. Namun, pilot mereka berhasil menstabilkan pesawat dan melesat menjauh dari awan jamur api yang membara di tengah kegelapan Himalaya.
Di dalam kabin Osprey, suasana sangat tegang. Dr. Arisya terbaring di atas tandu medis, dikelilingi oleh peralatan pemanas. Zian berlutut di sampingnya, memegang tangannya yang mulai menghangat. Elara berdiri di dekat jendela, memperhatikan sisa-sisa api di kejauhan, sementara tangannya masih memegang pisau taktis yang berlumuran darah hijau.
"Detak jantungnya stabil," lapor tim medis Phoenix. "Prosedur pembekuan Elara berhasil mematikan mikrobom secara permanen karena kerusakan sirkuit akibat kejut suhu. Dia akan selamat."
Zian menghembuskan napas panjang yang seolah-olah telah ia tahan selama dua belas tahun. Dia menatap Elara dengan pandangan yang penuh dengan rasa terima kasih yang tak terhingga. Elara mendekat, menyentuh pipi Zian dengan lembut.
"Dia selamat, Zian. Kau mendapatkan ibumu kembali," bisik Elara.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan sesaat. Kael mendekati mereka dengan wajah yang sangat pucat, memegang tablet digital yang menampilkan transmisi darurat dari seluruh dunia.
"Teman-teman... kita terlambat mencegah satu hal," suara Kael gemetar. "Dr. Vektor... dia tidak ada di 'Sky-Wall' saat kita menyerang. Dia sudah berada di kapal induk 'Leviathan' di Samudra Pasifik. Dan dia baru saja menekan tombol aktivasi."
Layar tablet menunjukkan rekaman CCTV dari kota-kota besar: New York, London, Jakarta, Tokyo. Orang-orang di jalanan tiba-tiba jatuh tersungkur, bukan karena gas VX, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih halus. Kulit mereka berubah menjadi keabu-abuan, dan mata mereka mulai bersinar dengan warna merah yang sama dengan prajurit Chimera.
"Virus Chimera V-2," gumam Dr. Arisya yang baru saja siuman. Suaranya lemah namun penuh kengerian. "Vektor telah mengubah virus itu menjadi agen pengubah genetik instan. Dia tidak membunuh orang... dia mengubah mereka menjadi budak tanpa pikiran yang hanya menuruti perintahnya."
Elara mengepalkan tangannya. "Berapa lama waktu yang kita punya sebelum seluruh populasi berubah?"
"Dalam 48 jam, perubahan itu akan menjadi permanen," jawab Arisya. "Satu-satunya cara adalah menyebarkan antibodi yang ada di dalam disk data yang kau bawa, Zian. Tapi antibodi itu harus dilepaskan melalui satelit penyebar aerosol milik Iron Sight yang ada di kapal induk 'Leviathan'."
Zian berdiri, wajahnya kembali mengeras seperti baja. "Jadi, kita menuju Pasifik."
"Leviathan adalah kapal induk terbesar yang pernah dibangun, dilindungi oleh armada kapal selam dan jet tempur siluman," kata Kael. "Menyerangnya adalah misi bunuh diri murni."
"Kami sudah mati sejak lama, Kael," sahut Elara sambil mengisi ulang magasin senjatanya. "Sekarang, kami hanya sedang menunda pemakaman kami sampai dunia ini bersih kembali."
Zian menatap ibunya untuk terakhir kali sebelum menuju ruang kokpit. "Ibu, istirahatlah. Kami akan menyelesaikan apa yang mereka mulai."
Arisya memegang tangan anaknya. "Bawa antibodi itu, Zian. Dan ingat... Vektor bukan hanya seorang ilmuwan. Dia adalah hasil sempurna dari eksperimen ini. Dia memiliki kemampuan fisik yang jauh melampaui Chimera mana pun."
Pesawat Osprey itu berbelok tajam, meninggalkan pegunungan Himalaya yang kini menjadi kuburan bagi rahasia Iron Sight, menuju samudra luas tempat pertarungan terakhir bagi umat manusia akan ditentukan.
Elara berdiri di samping Zian saat mereka melihat matahari terbit di atas awan. Mereka tahu, ini mungkin fajar terakhir yang akan mereka lihat sebagai manusia biasa. Di depan mereka, 'Leviathan' menunggu, dan bersamanya, takdir dunia yang sedang berada di ambang mutasi massal.
"Kau siap untuk ini?" tanya Zian.
Elara mengokang senjatanya, sebuah senyuman tipis namun mematikan muncul di wajahnya yang cantik. "Aku lahir untuk ini, Zian. Mari kita tunjukkan pada Vektor bahwa kemanusiaan memiliki taring yang jauh lebih tajam daripada eksperimennya."