NovelToon NovelToon
Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika langit kehilangan

Malam itu berjalan tenang di ndalem. Angin berembus pelan, menyusup lewat jendela kamar Langit dan Senja. Setelah hari yang melelahkan, keduanya terlelap dalam keheningan, keheningan yang hangat dan menenangkan.

Beberapa jam kemudian, Senja terbangun dengan dahi berkerut. Kandungannya yang memasuki bulan ketujuh membuatnya lebih sering ke kamar mandi.

Ia melirik Langit yang tertidur pulas di sampingnya. Napas suaminya teratur, wajahnya terlihat lelah namun damai.

"Jangan dibangunin," gumam Senja pelan.

Dengan hati-hati, Senja menurunkan kakinya dari ranjang. Ia berdiri perlahan, berpegangan pada sisi tempat tidur. Namun rasa kebelet membuat langkahnya sedikit tergesa.

Di kamar mandi, Senja bernapas lega. Sayangnya, lantai yang licin tidak memberinya waktu untuk berhati-hati. Saat keluar, kakinya terpeleset.

"Aduh!" rintihnya tertahan.

Tubuh Senja terjatuh ke lantai. Tangannya refleks melindungi perutnya. Rasa nyeri menjalar dari pergelangan kaki hingga pinggang.

Suara itu cukup untuk membuat Langit terbangun.

"Senja!" serunya panik.

Dalam satu gerakan, Langit sudah turun dari ranjang. Ia berlutut di samping Senja yang meringis.

"Sakit di mana? Perut kamu gimana?" tanyanya cepat, suaranya bergetar.

"Kaki... Mas. Perutnya aman, kayaknya," jawab Senja pelan, menahan tangis.

Tanpa banyak bicara, Langit menggendong Senja. Tangannya gemetar, tapi langkahnya mantap.

Pintu kamar dibuka lebar.

"Abah! Ummi!" panggil Langit.

Kyai Danardi yang baru keluar dari kamar langsung tertegun melihat kondisi Senja.

"Astaghfirullah. Kenapa, Nduk?" tanyanya cemas.

"Senja terpeleset, Bah," jawab Langit singkat.

Kyai Danardi segera memberi instruksi. "Pak Slamet! Siapkan mobil sekarang. Kita ke rumah sakit."

Pak Slamet berlari kecil menuju garasi. Ummi Siti menyelimuti Senja dengan jaket hangat.

Tak sampai lima menit, mobil melaju menembus malam. Di kursi belakang, Langit memeluk Senja erat, tangannya tak lepas dari perut istrinya.

"Tenang ya, Sayang. Kita sudah jalan. Saya di sini," bisiknya berulang kali.

Senja mengangguk pelan, air mata menetes tanpa suara.

Di balik jendela mobil, lampu-lampu jalan berkelebat cepat. Malam yang semula tenang berubah menjadi ujian.

Dan untuk pertama kalinya, Langit benar-benar takut, takut kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya.

Di dalam mobil yang melaju kencang, Senja meringis menahan nyeri yang datang bergelombang. Tangannya gemetar saat meraih lengan Langit.

"Mas… sakit sekali," bisiknya lirih.

Langit menunduk cepat. Di paha Senja terlihat darah merembes. Jantungnya serasa berhenti berdetak, tapi ia memaksa dirinya tetap tenang.

"Lihat saya, Ja. Tarik napas pelan-pelan. Saya di sini," ucapnya tegas namun lembut, berusaha jadi sandaran.

Di kursi depan, Kyai Danardi terus berdzikir tanpa putus. "Hasbiyallahu la ilaha illa Huwa…" Suaranya bergetar, tapi penuh keyakinan.

Ummi Siti menggenggam tangan Senja dari sisi lain. "Insyaallah kamu kuat, Nduk. Fokus sama napasnya."

Begitu mobil berhenti di depan rumah sakit, perawat sudah sigap menunggu. Senja langsung dibawa masuk dengan brankar. Langit berlari mengikutinya, tak melepaskan genggaman tangan istrinya.

"Pendarahan hebat," kata salah satu perawat cepat.

Dokter kandungan datang dengan langkah tergesa. Setelah pemeriksaan singkat, ia menatap Langit.

"Kita harus lakukan operasi sesar sekarang. Demi keselamatan ibu dan bayi," ujarnya tegas.

Langit mengangguk tanpa ragu. "Lakukan yang terbaik, Dok. Saya ikut mendampingi."

Di depan ruang operasi, Langit mengenakan baju steril. Wajahnya pucat, tapi matanya mantap. Kyai Danardi menepuk bahunya.

"Tenang, Nak. Allah bersama orang-orang yang bersabar," katanya pelan.

Pintu ruang operasi tertutup. Di dalam, Senja terbaring dengan napas berat. Langit berdiri di sisi kepalanya, menggenggam tangan istrinya erat.

"Saya di sini, Ja. Dengar suara saya," bisiknya.

Air mata Senja menetes. "Mas… jaga jagoan kita."

"Insyaallah," jawab Langit, suaranya bergetar namun penuh tekad.

Lampu operasi menyala terang. Waktu terasa berjalan lambat. Setiap detik adalah doa. Dan di balik pintu itu, dua nyawa sedang diperjuangkan dengan segenap harap dan iman.

Lampu ruang operasi menyala terang. Dokter kandungan bergerak cepat, dibantu tim perawat yang sigap. Langit berdiri di sisi kepala Senja, menggenggam tangan istrinya sambil melantunkan doa lirih.

"Bismillah…"

Beberapa menit kemudian, dokter mengangkat bayi mereka.

Wajah mungil itu terlihat. Tubuhnya kecil, terbungkus kain steril. Namun ruangan tetap sunyi.

Tidak ada tangisan.

Langit menahan napas. Matanya terpaku. "Dok?" suaranya nyaris tak terdengar.

Dokter segera memberi rangsangan. Perawat bergerak cepat. Detik-detik berlalu, panjang dan menyakitkan. Tetap tidak ada suara.

Dokter menoleh pada Langit dengan ekspresi berat. "Kami sudah berusaha semaksimal mungkin."

Langit melangkah mendekat. Tangannya gemetar saat menerima tubuh kecil itu. Dingin.

Ia mendekap bayi mereka ke dadanya, menahan tangis yang terasa mencekik. "Bangun, Nak… Ayah di sini. Bangun ya…" bisiknya berulang, seolah berharap keajaiban datang karena panggilan itu.

Keheningan menjawab.

Dokter menunduk. "Maafkan kami, Pak. Bayinya tidak bisa diselamatkan."

Kata-kata itu jatuh seperti palu. Langit memejamkan mata. Rahangnya mengeras. Air mata akhirnya luruh, tanpa suara.

Operasi dilanjutkan dengan sunyi. Setelah semuanya selesai, Senja dipindahkan ke ruang VVIP. Wajahnya pucat, napasnya teratur, belum sadar sepenuhnya.

Langit berdiri di samping ranjang, menatap istrinya lama. Tangan Senja ia genggam, hangat, berbeda dengan dingin yang masih terasa di dadanya.

Di balik kaca ruang perawatan, Kyai Danardi berdzikir dengan mata sembab. Ummi Siti menutup wajahnya, berusaha tegar.

Langit mengusap wajah, berusaha berdiri lurus. Kesedihan jelas terpatri di matanya. Namun di hadapan Senja, ia berjanji pada dirinya sendiri, ia akan tetap kuat.

Untuk istrinya. Untuk cinta yang mereka miliki.

Perlahan, Senja membuka mata.

Pandangan pertamanya buram. Bau antiseptik menusuk hidung. Kepalanya terasa berat, tubuhnya lemah, dan ada rasa perih yang asing di perutnya. Ia mengerjap beberapa kali, berusaha mengenali sekeliling.

Lampu redup. Tirai putih. Mesin yang berbunyi pelan. Dan di samping ranjang, Langit.

Wajah suaminya pucat. Mata Langit sembap, merah, seolah semalaman tidak tidur. Tangannya menggenggam tangan Senja erat, seakan takut ia menghilang.

“Mas…” suara Senja serak dan lemah.

Langit langsung menunduk. “Ja… kamu sudah sadar?” suaranya bergetar, berusaha terdengar tenang.

Senja mengangguk pelan. Ia menarik napas, lalu refleks mengusap perutnya yang kini terasa berbeda, lebih ringan, lebih kosong.

“Anak kita…” Senja menelan ludah. “Jagoan kita di mana, Mas?”

Pertanyaan itu seperti pisau yang menekan dada Langit. Ia memejamkan mata sesaat, mengatur napas. Tangannya mengencang di jemari Senja.

“Ja…” Langit berlutut di samping ranjang, sejajar dengan wajah istrinya. “Dengerin saya baik-baik, ya.”

Nada itu membuat jantung Senja berdegup tak karuan. “Ada apa, Mas?” bisiknya cemas.

Langit membuka mata. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh. “Jagoan kita… sudah dijemput Allah.”

Hening.

Senja menatap Langit tanpa berkedip. Otaknya seolah berhenti bekerja.

“Apa?” suaranya nyaris tak terdengar. “Mas… maksudnya apa?”

Langit menggenggam wajah Senja dengan kedua tangannya, ibu jarinya gemetar.

“Anak kita… nggak bisa diselamatkan, Ja. Maafin saya…”

Kata-kata itu akhirnya sampai. Dan dunia Senja runtuh.

“Tidak…” Senja menggeleng lemah. “Nggak… Mas bohong, kan? Tadi kamu bilang dia kuat. Kamu bilang jantungnya bagus…”

Air mata Senja mengalir deras. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan.

“Mas… jangan bercanda. Aku mau anakku…” suaranya pecah.

Langit tak sanggup menahan lagi. Ia menarik Senja ke dalam pelukannya, meski tubuh istrinya masih lemah. Senja menangis tersedu-sedu di dada Langit, tangannya mencengkeram baju suaminya seolah takut jatuh.

“Aku mau anakku, Mas… aku mau jagoan kita…” isaknya pilu.

Langit memeluk Senja erat, satu tangannya menopang kepala istrinya, satu lagi mengusap punggungnya perlahan.

“Saya tahu… saya tahu…” suara Langit bergetar hebat. “Saya juga hancur, Ja. Maafin saya… maafin Ayah nggak bisa jagain dia…”

Tangis Senja semakin keras. Tubuhnya bergetar, hatinya remuk. “Kenapa harus anak kita, Mas…?” lirihnya di sela isak.

Langit memejamkan mata, menempelkan dagunya di kepala Senja. “Karena Allah lebih sayang sama dia,” bisiknya dengan suara patah. “Dan mungkin… dia terlalu suci buat dunia ini.”

Senja terus menangis dalam dekapan suaminya. Tangis kehilangan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

1
kalea rizuky
senja np di buat bloon bgt sih heran
kalea rizuky
senja aja goblok
Siti Amyati
lanjut kak
Siti Amyati
kasihan ujian nya kok senja di lecehin gitu smoga langit ngga lansung ambil keputusan yg bikin berpisah tpi bisa buktiin siapa dalang semuanya
Kurman
👍👍👍
Julidarwati
BHSnya baku x dan g eris sebut nm thor
yuningsih titin: makasih koreksinya dan komentar nya
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
yuningsih titin: siap👍
total 1 replies
yuningsih titin
makasih masukannya kak
ndah_rmdhani0510
Senja yng di gombalin, kok aku yang meleleh🤭
Bulan Benderang
bahasanya masih sedikit kaku kak,🙏🙏
Ai Nurlaela Jm
Karyamu luar biasa kereen Thor, lanjutkan💪
rinn
semangat thor
yuningsih titin: makasih kak
total 1 replies
Dri Andri
lanjut kan berkarya tetap semangat
Dri Andri
lanjutkan thour
Dri Andri
awwsshh ceritanya bikin.... 😁😁😁😁
yuningsih titin
ngga kuat deh langit sama senja romantis banget
ndah_rmdhani0510
Benci apa benci Langit? Ntar kamu bucin lho ama Senja🤭
yuningsih titin
cie.. malam pertama senja dan langit😍
yuningsih titin
duh bahagianya yang mau bulan madu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!