NovelToon NovelToon
TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

TRAPPED: Menjadi Istri Sang Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Berbaikan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.

Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.

Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.

"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.

Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Mabuk

Bukannya pulang dan menyelesaikan masalahnya dengan Alissa. Sean malah membawa mobilnya menyinggahi sebuah tempat hiburan malam.

Laki-laki yang sudah melepaskan jas-nya dan menyisakan kemeja putih yang lengannya di gulung sampai siku itu memasuki bar dengan wajah andalannnya. Dingin, kaku, dan datar.

"Oh, wow! Seorang Sean Balrick menyinggahi bar kecilku ini. Sungguh, aku merasa terhormat." seru lelaki yang memiliki tatto ular di lehernya dan satu telinganya memiliki tindik.

Sean menanggapinya dengan dengusan sinis. Bar kecil konon. Bahkan bar yang katanya kecil itu adalah yang paling besar dan mewah di kota ini.

"Kenapa Sean? Kau mau mencari pela-cur ya? Tidak diberi jatah oleh istrimu?" ujar Liam dengan nada menggoda.

"Berisik!" tukas Sean. Ia duduk pada sofa di ruangan privat yang telah disewanya.

Laki-laki itu mengambil sebatang rokok sebelum akhirnya ia sulut dengan korek berbentuk pistol miliknya. Kepulan asap berbau khas menyebar, ketika Sean menghembuskannya ke udara.

Liam terdiam. Sean sedang tidak bisa diajak bercanda. Oh, haruskah ia menjadi teman yang baik sekarang? Menghibur sang penguasa yang sedang dalam hati yang tidak baik.

"Oh, ayolah! Ada apa denganmu? Pela-cur pribadimu membuat ulah lagi?" sebab tak jarang, Sean pergi ke bar miliknya karena muak dengan dia.

Sean tatap Liam dengan mata setajam elangnya. Air mukanya mengeras. Tidak suka dengan apa yang Liam ucapkan.

"Jaga bicaramu." ujar laki-laki itu dengan intonasi rendah namun penuh ancaman.

Liam tidak takut. Ralat, sedikit takut. Sebab Sean tak segan-segan menghabisi orang yang mengusiknya. Meskipun begitu, Liam berpura-pura tidak terpengaruh, dengan bendecakkan lidah tak terima.

"Oh, ayolah! Kau sendiri yang mengatakan jika Alissa adalah pela-cur pribadimu. Kau lupa ya?" ujar Liam membela diri.

Sean diam. Dulu memang dia pernah mengatakan itu. Namun entah kenapa, sekarang dirinya mendadak tidak suka, jika Alissa...direndahkan.

"Pergilah. Aku ingin sendiri." Sean hanya butuh menjernihkan otaknya. Tapi si pengacau Liam malah membuatnya bertambah stres.

"Hei, ini bar milikku. Terserah padaku, aku ingin di mana!"

Sean tidak menanggapi. Laki-laki itu lebih memilih menuang wine pada gelas dan menenggaknya hingga tandas.

Liam yang memiliki toleransi yang rendah pada alkohol meringis melihatnya. Jika dirinya pasti sudah mabuk.

Pemilik bar itu memilih duduk bergabung bersama Sean. Ikut meminum cairan kuning pucat itu dengan perlahan.

"Sebenarnya ada apa denganmu? Tidak biasanya kau seperti ini." Liam mencoba mengintrogasi.

Biasanya, Sean akan minun dengan gayanya yang bak bangsawan. Pelan dan elegant. Teratur dan terukur. Sean mungkin memang bajingan tapi dia bukan berandal tanpa aturan.

Daripada mendengarkan pertanyaan Liam, Sean malah terbayang pada perempuan yang akhir-akhir ini memang mengganggu pikiranya. Mengingat kalimat Alissa, lagi-lagi darah Sean seperti mendidih.

"Aku tidak ingin hamil anakmu! Aku tidak sudi hamil anakmu Sean!"

Sia-lan! Kenapa bayang-bayang Alissa tidak mau keluar dari otaknya. Sean biasanya tidak sepayah ini. Bahkan dia masih mampu mengendalikan perasaannya pada Stella. Namun Alissa, entah apa yang perempuan itu lakukan hingga akhir-akhir ini pikiran Sean dipenuhi olehnya.

Menggeram tertahan, Sean ambil botol yang berisi minuman kuning pucat itu. Menengguknya langsung tanpa menggunakan gelas. Minuman yang tadinya berisi setengah kini tandas tak bersisa.

"Sean! Kau gila! Minumlah pelan-pelan!" seru Liam yang ngeri sendiri melihat cara Sean minum. Entah kemana hilangnya kata teratur dan terukur yang selalu Sean terapkan.

Sean--dia hanya mendengus sinis. Lalu kembali mengambil botol baru dan kembali menenggak isinya. Yang dia inginkan hanyalah Alissa enyah dari pikirannya.

"Oh...astaga, Sean! Kau memang tidak waras!" benar. Sean Balrick sudah kehilangan kendalinya. Dan itu karena perempuan yang dulu dianggap sebagai pela-cur oleh Sean itu sendiri.

.

.

Kriettt.

Dengan mengendap-endap, Alissa memasuki zona yang sebenarnya sangat terlarang. Wilayah yang bisa membuatnya berada di dalam neraka.

Tapi harus bagaimana lagi, Alissa harus melakukan ini karena perlu. Jadi, mumpung orangnya tidak ada, diam-diam Alissa memasuki kamar Sean.

Iya, kamar Sean.

Dengan jantung berdegub kencang, Alissa langkahkan kakinya masuk lebih dalam ke ruangan gelap segelap sifat pemiliknya itu.

"Harus ku cari ke mana ya?" Alissa bergumam pada dirinya sendiri.

Mendekati nakas, perempuan itu buka lacinya untuk mencari sesuatu yang amat penting untuk keperluan bercerai.

"Aduh...tidak ada lagi!"kesal Alissa dengan suara tertahan.

Mata Alissa berpendar, sampai tatapannya tertuju pada sebuah brangkas kecil yang terletak di sudut ruangan.

"Kenapa ada brangkas di situ?" Sean bukanlah orang kaya ecek-ecekan sehingga akan menyimpan brangkas sembarangan seperti ini.

Alissa terdiam dengan otaknya yang berpikir. "Mungkinkah..." dia tidak akan tahu sebelum memeriksanya bukan.

Buru-buru Alissa dekati brangkas itu. Namun dia harus dibuat berdecak kesal ketika baru sadar jika dirinya tidak mengetahui kata sandinya.

"Apa ya...berpikir Alissa! Berpikir!"

Perempuan itu mulai mencoba kata sandinya secara acak. Percobaan pertama gagal. Begitupun dengan percobaan kedua. Kini hanya tersisa satu kali lagi kesempatan.

"Bagaimana ini?!" Alissa mulai frustasi.

"Jika memang akta nikah tersimpan di sini, itu berarti brangkas ini berisi tentang pernikahan Alissa dan Sean. Mungkinkah...kata sandinya tanggal pernikahan kami?"

Alissa berdoa dalam hati, semoga saja tebakannya benar. Jika tidak, habislah.

"Tuhan, tolong bantu aku." Alissa mulai menekan angka. Untung saja, pernikahan Sean dan Alissa sedikit di jelaskan di dalam novel. Sedangkan dirinya tahu kapan tanggal itu berlangsung.

Ting.

Berhasil! Brangkasnya terbuka. Dengan perasaan senangnya, Alissa cari berkas itu. Dan ternyata...benar. akta nikah Alissa dan Sean tersimpan di sana.

Akhirnya aku akan segera bebas dari dia...! Adakah yang lebih membahagiakan dari ini?!

Buru-buru Alissa ambil surat itu. Merapikan kembali brangkas dan keluar dari kamar Sean. Namun---

Brakk.

Jantung Alissa nyaris keluar dari tempatnya. Sangking kagetnya perempuan itu sampai tidak sengaja menjatuhkan akta nikah yang susah payah ia dapatkan.

Bagai gerakan slow motion, Alissa membalikkan tubuhnya. Di sana. Di depan pintu, Sean tengah berdiri dengan keadaannya yang...kacau.

"Alissa?"

Bahkan suara laki-laki itu terdengar sangat menyeramkan bagi Alissa untuk saat ini.

"See--Sean..." suara Alissa mencicit.

"Itu kau Alissa? Kau...apa yang kau lakukan di sini?"

Sean mulai mendekat. Jalannya sedikit sempoyongan. Melihat jarak Sean dan dirinya yang semakin dekat, membuat Alissa menelan salivanya susah payah.

"Alissa..."

"Sean aku...aku...ak--

Perempuan itu terdiam ketika Sean menjatuhkan kepalanya pada bahunya. Nafas hangat milik Sean dapat Alissa rasakan. Pun dengan tubuh laki-laki itu yang baunya sangat menyengat.

"Kau merindukanku Alissa?" gumam suaminya itu masih dengan posisi yang sama.

Alissa mati kutu. Tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah dirinya mendorong tubuh kekar Sean dan segera pergi dari tempat ini.

"Alissa, aku merindukanmu."

Sean? Laki-laki itu merindukannya? Hahaha, lelucon macam apa ini. Siapa yang akan percaya dengan bualan antagonis ini. Mungkin semut di dinding pun tidak akan percaya.

"Alissa---

"Awas!!" ia harus segera pergi dari sini.

Alissa memilih opsi pertama. Mendorong tubuh kekar Sean yang kini sedang lemah karena mabuk. Tidak sampai jatuh, namun berhasil membuat Sean menjauh darinya. Entahlah, hanya berdua dengan Sean, membuatnya lupa caranya bernafas.

"Dasar tidak waras!"

1
Ahrarara17
Nanti dikabulin panik sendiri kamu, Alissa
Ahrarara17
Dih, gombal banget Sean
Ahrarara17
Wajar aja denial. Takut Sean bohong
Ahrarara17
Semangat nulisnya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!