"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Diagnosa Penyakit Cintrong Stadium Akhir
Milik pribadinya mulai detik ini juga adalah kalimat yang membuat Adrian nyaris menjatuhkan alat pendengar medis dari genggamannya yang kokoh. Pria itu menatap layar ponsel pintarnya dengan dahi yang berkerut sangat dalam seolah sedang membedah sebuah teka-teki medis yang mustahil untuk dipecahkan. Amarahnya perlahan merayap naik saat melihat wajahnya sendiri terpampang dengan sangat jelas dalam unggahan video yang sangat memalukan itu.
"Apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan dengan menyebarkan fitnah digital seperti ini?" tanya Adrian dengan nada suara yang sangat rendah dan mengancam.
"Aku tidak sedang menyebar fitnah, aku hanya sedang meresmikan hubungan masa depan kita di depan seluruh dunia!" jawab Lala sambil berdiri tegak dengan penuh rasa percaya diri.
Gadis itu memberikan kerlingan mata yang sangat genit sambil merapikan saku seragam sekolahnya yang masih terlihat sedikit berantakan. Dia sama sekali tidak merasa gentar meski kini sedang berhadapan langsung dengan singa rumah sakit yang paling ditakuti oleh para tenaga medis lainnya. Baginya, tatapan tajam Adrian adalah bentuk perhatian yang jauh lebih manis daripada sekadar kata-kata rayuan dari lelaki seusianya.
"Hapus video itu sekarang juga sebelum saya memanggil petugas keamanan untuk menyeretmu keluar dari gedung ini!" perintah Adrian sambil melangkah maju hingga tubuhnya menjulang tinggi di depan Lala.
"Silakan panggil saja mereka, biar semua orang tahu kalau Dokter Adrian sangat perhatian pada pasien yang sedang sakit cinta!" balas Lala dengan tawa renyah yang terdengar sangat berisik di telinga.
Adrian merasa urat di pelipisnya berdenyut dengan sangat kencang karena menahan emosi yang sudah berada di ambang batas kesabaran. Dia mengambil secarik kertas rujukan berwarna kuning lalu menuliskan beberapa kata dengan gerakan tangan yang sangat kasar dan terburu-buru. Setelah selesai, dia melemparkan kertas tersebut ke arah Lala dengan sorot mata yang dipenuhi oleh rasa dingin yang sangat beku.
"Bawa ini ke meja pendaftaran dan pastikan kamu diperiksa oleh bagian kesehatan jiwa segera setelah ini," ucap Adrian dengan suara yang sangat datar dan tajam.
"Diagnosa macam apa ini, Dokter? Apakah ini cara rahasia Dokter untuk mengajakku berkencan di ruang pribadi?" tanya Lala sambil membaca tulisan tangan yang sangat berantakan itu.
"Itu adalah diagnosa bahwa kamu sudah benar-benar kehilangan logika sehat akibat obsesi yang sangat tidak masuk akal," jawab pria itu sambil membalikkan badan dengan sangat anguh.
Lala hanya bisa mematung sejenak sambil menggenggam kertas kuning tersebut dengan jari jemari yang sedikit gemetar karena rasa terkejut yang tidak terduga. Namun, bukannya merasa sedih atau terhina, dia justru tersenyum lebar hingga deretan giginya yang rapi terlihat dengan sangat jelas. Dia merasa bahwa diagnosa ini adalah bukti awal bahwa dirinya telah berhasil meninggalkan kesan yang sangat mendalam di dalam memori Adrian.
"Penyakit cintrong stadium akhir, itulah diagnosa yang sebenarnya cocok untuk kondisiku saat ini!" gumam Lala sambil memeluk kertas rujukan itu seolah benda tersebut adalah harta karun yang sangat berharga.
Dia segera berlari meninggalkan ruangan tersebut dengan langkah kaki yang sangat ringan dan penuh dengan kegembiraan yang meluap-luap. Lala tidak peduli jika orang-orang di sepanjang koridor menatapnya dengan pandangan yang penuh dengan rasa heran sekaligus rasa curiga. Pikirannya kini hanya fokus pada satu tujuan yaitu bagaimana cara membuat sang dokter kulkas benar-benar mencair di bawah panasnya bara api asmara.
Adrian yang kembali masuk ke ruang kerjanya segera menghempaskan tubuhnya ke kursi empuk dengan perasaan yang sangat tidak nyaman. Dia menatap ke arah luar jendela sambil memikirkan bagaimana caranya agar gadis pengganggu itu tidak pernah muncul lagi di depan matanya yang lelah. Tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada sebuah benda kecil yang tertinggal di atas meja kerjanya yang seharusnya sangat bersih dan steril itu.
"Benda apa lagi ini yang sengaja dia tinggalkan untuk mengganggu konsentrasi kerjaku?" bisik Adrian sambil mengambil sebuah stiker berbentuk hati yang bertuliskan nomor telepon yang sangat panjang.
Jantung sang dokter tiba-tiba berdegup dengan irama yang sangat aneh saat menyadari bahwa nomor itu diakhiri dengan simbol pelukan yang sangat kecil dan menggemaskan. Dia merasa bahwa tembok pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun kini sedang diguncang oleh serangan ugal-ugalan dari seorang siswi sekolah yang sangat konyol. Tanpa sadar, Adrian meletakkan stiker itu ke dalam laci mejanya yang paling dalam seolah sedang menyembunyikan sebuah rahasia besar yang sangat terlarang bagi dunianya.
Sangat terlarang bagi dunianya jika sampai ada orang lain yang tahu bahwa dia mulai merasa terusik oleh kehadiran gadis yang seharusnya ia abaikan.