NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontraksi palsu

Malam di rumah sakit selalu memiliki suasana yang berbeda—lebih mencekam, lebih sunyi, dan lebih dingin. Jarum jam di dinding koridor menunjukkan pukul dua pagi. Alana masih terduduk kaku di kursi tunggu di samping ranjang ayahnya, matanya yang sembab menolak untuk terpejam meski tubuhnya sudah berteriak minta istirahat. Di sampingnya, Brixton terus berjaga, sesekali menyelimuti bahu istrinya atau menawarkan air hangat yang selalu ditolak dengan gelengan lemah.

Tiba-tiba, keheningan itu pecah oleh suara alarm dari mesin monitor jantung Tuan Hendrawan. Bunyi bip yang tadinya teratur berubah menjadi pekikan panjang yang memekakkan telinga.

"Ayah!" Alana tersentak berdiri, namun rasa pening mendadak menyerang kepalanya.

Dalam hitungan detik, sepasukan perawat dan dokter jaga merangsek masuk ke dalam ruangan. Mereka bergerak dengan kecepatan yang mengerikan, melakukan tindakan darurat sementara ibu Alana mulai terisak histeris di sudut ruangan.

"Tekanan darahnya anjlok! Ada pendarahan internal di rongga perut!" teriak salah satu dokter. "Siapkan ruang operasi sekarang! Kita tidak bisa menunggu hasil laboratorium lagi, ini adalah situasi darurat atau kita akan kehilangannya!"

Alana mencoba melangkah mendekat, namun ia merasakan sesuatu yang aneh di bagian bawah perutnya. Sebuah rasa kencang yang luar biasa tajam, seolah rahimnya sedang diremas oleh tangan raksasa. Ia mengerang, mencengkeram lengan Brixton dengan kuku-kukunya yang memutih.

"Brixton... sakit..." rintih Alana. Wajahnya yang semula pucat kini berubah menjadi seputih kertas. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai membanjiri pelipisnya.

Kekacauan pecah di dua titik sekaligus. Di satu sisi, ranjang ayahnya didorong keluar dengan terburu-buru menuju lift ruang operasi. Di sisi lain, Alana hampir terjatuh jika Brixton tidak segera menangkap tubuhnya.

"Alana! Alana, bicaralah padaku!" panik Brixton. Ia merasakan tubuh istrinya menegang hebat.

"Perutku... rasanya sangat kencang... bayinya..." Alana terengah-engah, napasnya pendek-pendek. Kontraksi itu datang lagi, lebih kuat dari sebelumnya, membuat Alana harus membungkuk menahan rasa sakit yang menjalar hingga ke pinggang belakangnya.

Brixton berada di persimpangan yang mematikan. Matanya menatap ke arah koridor di mana ayah mertuanya menghilang di balik pintu ganda ruang operasi, lalu menatap ke arah istrinya yang sedang merintih kesakitan. Sebagai kepala keluarga, ia harus mengurus administrasi dan persetujuan tindakan operasi darurat yang berisiko tinggi bagi Tuan Hendrawan—prosedur yang membutuhkan tanda tangannya sebagai penjamin utama—namun ia tidak bisa membiarkan Alana dalam kondisi seperti ini.

"Dokter! Istri saya! Tolong!" teriak Brixton, suaranya menggelegar di sepanjang koridor.

Seorang perawat senior segera datang membawa kursi roda. "Nyonya Alana mengalami stres traumatis. Ini bisa jadi kontraksi dini atau kontraksi palsu, tapi dengan riwayat pendarahannya sebelumnya, kita harus membawanya ke bangsal kebidanan segera untuk observasi!"

Ibu mertua Brixton, yang tadinya sedang menangis, tiba-tiba menghapus air matanya dengan paksa. Ia melihat menantunya yang tampak hancur dan bingung. Sebagai seorang ibu, ia tahu di mana Brixton harus berada.

"Brixton!" panggil Ibu Alana dengan suara tegas meski gemetar. "Bawa Alana pergi. Temani dia. Biarkan aku yang mengurus Ayah di sini. Aku yang akan menandatangani semua berkasnya."

"Tapi, Bu... operasi ini sangat berisiko. Ayah butuh keputusan cepat jika terjadi sesuatu di dalam sana," Brixton bimbang. Ia tahu bahwa ia memiliki akses ke dokter-dokter spesialis terbaik melalui koneksinya, namun ia juga tahu Alana bisa kehilangan bayinya jika ia tidak mendampinginya untuk tetap tenang.

"Dengarkan aku!" Ibu Alana memegang tangan Brixton. "Alana dan anak kalian adalah masa depan keluarga ini. Ayahmu pasti akan sangat marah jika dia tahu kau membiarkan istrimu sendirian di saat seperti ini hanya demi menunggunya di depan pintu operasi. Pergilah! Jaga putriku dan cucuku. Itu perintah ibu mertuamu!"

Brixton menatap mata ibu mertuanya, melihat kekuatan seorang wanita yang sedang mempertaruhkan nyawa suaminya demi anaknya. Ia mengangguk berat, lalu segera membantu Alana duduk di kursi roda.

Di bangsal kebidanan, suasana jauh lebih tenang namun tetap tegang bagi Brixton. Alana segera dibaringkan dan dipasangi alat kardiotokografi (CTG) untuk memantau denyut jantung bayi dan intensitas kontraksinya.

Alana terus menangis, bukan karena rasa sakit fisik di perutnya, melainkan karena rasa takut yang luar biasa akan kehilangan ayahnya. "Brixton... Ayah... bagaimana dengan Ayah? Kenapa kita di sini? Aku ingin menemani Ayah..."

"Sstt... tenanglah, Alana. Ibumu ada di sana. Ayah sedang ditangani oleh tim terbaik," Brixton duduk di samping ranjang, menggenggam tangan Alana dan menciuminya berkali-kali. "Kau harus tenang demi anak kita. Lihat mesin ini, Alana. Denyut jantung bayinya meningkat karena kau terlalu panik. Kau harus bernapas untuknya."

"Tapi jika Ayah tidak bangun... aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri karena tidak ada di sana," isak Alana.

"Ayah akan bangun. Dia adalah pria yang kuat. Dia telah bertahan menutupi rahasia selama bertahun-tahun demi kita, dia tidak akan menyerah sekarang," Brixton mencoba memberikan kekuatan, meski hatinya sendiri terus bertanya-tanya tentang apa yang terjadi di ruang operasi beberapa lantai di bawah mereka.

Bidan yang memeriksa Alana kemudian mendekat. "Ini adalah Braxton Hicks atau kontraksi palsu yang dipicu oleh stres akut, Nyonya. Tapi karena rahim Anda sangat sensitif dan Anda memiliki riwayat lemah kandungan, kontraksi ini bisa memicu persalinan prematur jika tidak segera dihentikan. Kami akan memberikan obat relaksan melalui infus. Anda harus benar-benar tenang."

Alana mencoba memejamkan matanya, mengikuti instruksi pernapasan yang diberikan Brixton. Pria itu terus membisikkan kata-kata penenang, menceritakan tentang masa depan mereka, tentang taman bunga yang akan mereka bangun kembali, dan tentang bagaimana ia akan menjadi ayah yang lebih baik.

Satu jam berlalu. Kontraksi Alana mulai mereda, namun kecemasannya tidak berkurang sedikit pun. Setiap kali ada langkah kaki di koridor, ia akan tersentak, berharap itu adalah kabar tentang ayahnya.

Brixton tidak beranjak satu inci pun. Ia membiarkan lengannya dijadikan bantal oleh Alana. Ia mengabaikan rasa pegal di punggungnya atau rasa lapar yang melilit. Fokusnya hanya satu: memastikan Alana tidak kembali dalam kondisi kritis.

Sekitar pukul empat pagi, pintu kamar Alana terbuka perlahan. Ibu Alana masuk dengan wajah yang sangat lelah, pakaiannya masih berantakan.

Alana langsung mencoba bangun. "Ibu! Bagaimana Ayah?"

Ibunya berjalan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang Alana. Ia tersenyum kecil, sebuah senyuman yang membawa kelegaan luar biasa bagi siapa pun yang melihatnya. "Operasinya berjalan lancar. Ternyata ada penyumbatan pembuluh darah langka di area perut yang menyebabkan jaringan di sana mulai kekurangan oksigen. Beruntung dokter segera mengambil tindakan sebelum terjadi kebocoran yang lebih parah. Ayahmu sudah di ruang pemulihan. Dia sudah melewati masa kritisnya."

Alana menangis sejadi-jadinya, kali ini air mata kebahagiaan. Ia memeluk ibunya erat. Brixton pun mengembuskan napas panjang yang selama ini tertahan di tenggorokannya. Ia menyandarkan kepalanya di tiang infus, merasa seolah beban seberat gunung baru saja diangkat dari dadanya.

"Terima kasih, Brixton," ucap Ibu Alana sambil menatap menantunya. "Terima kasih karena telah memilih untuk menjaga putriku. Kau telah membuat keputusan yang benar sebagai seorang suami."

Brixton hanya mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Maafkan saya jika selama ini saya bukan menantu yang baik, Bu."

"Semuanya sudah berlalu. Yang penting sekarang adalah kesehatan kalian semua," jawab sang ibu bijak.

Menjelang pagi, setelah Alana benar-benar tenang dan tertidur karena pengaruh obat relaksan, Brixton keluar sebentar untuk mencari kopi. Di koridor yang kini mulai diterangi cahaya fajar, ia berhenti di depan jendela besar.

Ia merenungi kejadian beberapa jam terakhir. Persimpangan sulit yang ia hadapi tadi telah mengajarkannya satu hal: menjadi pria yang hebat bukan tentang seberapa besar kekuasaan yang ia miliki di kantor, tapi tentang kemampuan untuk meletakkan egonya demi keselamatan orang-orang yang ia cintai.

Dulu, ia mungkin akan marah dan menyalahkan semua orang. Dulu, ia mungkin akan melarikan diri ke bar untuk menghindari ketegangan ini. Namun kini, ia berdiri di sini, di rumah sakit, dengan pakaian yang kusut dan mata yang lelah, namun dengan hati yang merasa jauh lebih penuh daripada saat ia memiliki segalanya dalam kebencian.

Ia kembali ke kamar Alana. Ia melihat istrinya sedang tertidur pulas dengan tangan yang masih mengusap perut buncitnya dalam mimpi. Brixton mendekat, lalu dengan sangat pelan, ia mencium kening Alana.

"Kita berhasil melewati satu malam lagi, Alana," bisiknya.

Alana perlahan membuka matanya, merasakan kehadiran Brixton. Ia tersenyum lemah namun tulus. "Brixton... terima kasih sudah tidak meninggalkanku sendirian tadi."

"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, Alana. Tidak untuk pekerjaan, tidak untuk masa lalu, tidak untuk apa pun," Brixton menggenggam tangan Alana erat.

Pagi itu, saat matahari benar-benar terbit, kediaman Vance yang jauh di sana mungkin masih terasa sepi, namun di kamar rumah sakit ini, sebuah keluarga sedang lahir kembali. Ayah Alana yang selamat, Alana yang kuat melewati kontraksi, dan Brixton yang akhirnya menemukan jati dirinya sebagai seorang pelindung yang sejati.

Sumpah di atas luka itu kini bukan lagi sebuah kutukan. Luka-luka itu memang masih ada, berbekas di hati mereka masing-masing, namun kini luka itu tidak lagi berdarah. Luka itu telah menjadi jaringan parut yang menguatkan hubungan mereka. Persimpangan air mata di tengah malam tadi telah membawa mereka menuju satu jalan lurus yang penuh dengan harapan.

"Tidurlah lagi," ucap Brixton lembut. "Aku akan di sini sampai kau bangun. Dan saat kau bangun nanti, kita akan pergi melihat Ayah bersama-sama."

Alana mengangguk, menutup matanya dengan perasaan aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di bawah pengawasan Brixton, ia tahu bahwa tidak akan ada lagi badai yang bisa menghancurkannya, karena ia kini memiliki jangkar yang paling kuat dalam hidupnya.

1
kalea rizuky
males deh Thor mending cerai selingkuh lagi nanti dia wong cwok plin plan uda ciuman ma jalang remes2
kalea rizuky
mual. g sih liat suami ciuman ma cwek lain
kalea rizuky
pergi jauh Alana
kalea rizuky
cerai aja selingkuh pasti nanti. gt lagi
kalea rizuky
selingkuh g ada obat ceraikan saja
kalea rizuky
km akan kehilangan berlian demi sampah
kalea rizuky
cerai aja lah suami dajjal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!