Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasihati Kekasihmu
Hening menerpa.
Bobby memandang Jayden tanpa emosi. Namun, seketika sebuah tawa rendah terdengar di sekitar. Bobby mengeluarkan tawa cukup keras sambil memegang perutnya sekarang.
Dahi Jayden langsung mengerut sangat kuat. "Apa ada yang lucu?"
Bobby masih sibuk tertawa hingga sorot mata Jayden terlihat makin tajam. Tak lama kemudian, Bobby mulai menghentikan tawanya. Dia menatap seksama rekan kerjanya itu dengan seksama.
"Tentu saja menurutku lucu, kau mengatakan Casey sudah menikah denganmu dan menjadi istrimu, padahal kemarin Casey jelas-jelas bilang sendiri kalau dia masih single," kata Bobby kemudian.
Jayden mengeram kesal dan tanpa sadar mengepalkan tangan.
"Aku dan Casey memang sudah menikah-"
"Cukup Jayden, sudah jangan diperpanjang lagi, aku nggak peduli gosip yang beredar tentang kalian tapi percayalah aku tetap akan melamar dan menikah Casey nanti, mohon doanya, aku harap sebagai seorang sepupu Casey, kau mengizinkan aku melamar Casey," kata Bobby, dengan wajah berseri-seri.
Mungkin ini terdengar sedikit gila. Bobby tengah meminta izin pada suami wanita yang dia sukai. Dan hal itu membuat wajah Jayden tampak makin merah sekarang.
"Sudah aku bilang simpan rencanamu itu, Casey bukan sepupuku, dia memang istriku!" balas Jayden, tanpa sadar menaikkan intonasi nada bicara.
Bobby tidak percaya. Malah menganggap yang dikatakan Jayden hanyalah sebuah lelucon. Mungkin memang benar Jayden menyukai Casey, hingga gosip aneh tersebar di rumah sakit. Akan tetapi, menurut pandangan Bobby sendiri, Casey dan Jayden tak lebih dari sepupu, apalagi Jayden memiliki kekasih sekarang.
"Sudahlah, aku malas berdebat, aku pergi dulu, ada yang harus aku periksa, sampaikan salamku sama sepupumu jika dia siuman nanti." Bobby tiba-tiba menyentuh pundak Jayden sambil melayangkan tatapan intimidasi. "Dan aku mau kasi tahu sebaiknya kau nasihati pacarmu, aku memang nggak terlalu menyimak gosip tentang kalian, tapi aku mohon jangan sakiti Casey."
Tanpa mendengar balasan, secepat kilat Bobby melenggang pergi dari situ. Sementara Jayden berdiri mematung.
"Apa maksudnya?" Jayden bergumam-gumam, dengan mimik muka tampak kebingungan.
Jayden akhirnya memutuskan kembali ke ruang IGD. Sesampainya di sana, hanya tertinggal Hannah. Indra beralasan pulang karena mamanya menghubunginya tadi.
Casey belum sadarkan diri, alergi yang dialaminya cukup parah hingga membuat wanita itu mengalami sesak napas. Alhasil Casey dia dipindahkan ke ruang rawat inap VIP di bangsal anggrek.
Tiga hari kemudian, Casey berangsur-angsur mulai sembuh, selama itu pula Jayden diam-diam datang ke ruangan tanpa sepengetahuan Casey. Casey selalu tidur jika dia masuk ke dalam. Jika membuka mata Casey selalu bersikap dingin kepada Jayden.
Jayden keheranan, tapi berusaha berpikiran positif dan memilih diam.
"Mau makan?" tanya Jayden, melirik Casey sekilas, masih berbaring di bed dengan wajah sudah normal tak seperti kemarin.
"Nggak usah," balas Casey tanpa sedikit pun menoleh ke arah Jayden. Dia malah menatap nanar keluar jendela.
Jayden hanya menghela napas setelahnya dan perlahan-lahan duduk kembali di sofa sambil memandang Casey dari kejauhan. "Sebentar lagi Nenek datang, sore ini kau sudah bisa keluar."
"Hmm."
Ruangan terasa dingin, seperti tak ada kehangatan di sekitar. Padahal yang berinteraksi saat ini adalah sepasang suami dan istri.
"Casey, setelah aku periksa ada seseorang yang sengaja membuat kau jadi seperti ini."
Masih teringat dengan jelas perkataan Bobby tadi pagi. Setelah berbincang dengan Jayden malam itu, Bobby langsung pergi ke cafe, menelusuri tempat di mana Casey pingsan. Menggunakan kekuatan uang, pramusaji yang dibayar Indra akhirnya buka mulut.
"Siapa?" tanya Casey penasaran.
"Dokter Indra."
Begitu nama Indra disebut, Casey tak terlalu terkejut. Dari awal dia sudah menduga permintaan maaf Indra tidak tulus. Namun, Casey tidak mengira Indra akan bertindak berlebihan.
"Sepertinya dia bukanlah pelaku utama, aku harap kau lebih berhati-hati Casey, jauhi Jayden walaupun dia sepupumu, maklum pacarnya memang berlebihan dari dulu."
Casey tersenyum getir. Merasa lucu jika harus menjauhi Jayden, tapi apa boleh buat demi keselamatannya sendiri tidak masalah.
"Casey, oh ya ampun kasihan sekali," ucap Mayang, membuat Casey yang sedang melamun lantas terkejut.
Tanpa mengetuk pintu dan tanpa permisi, Mayang masuk sendirian, memakai pakaian modis tentunya, rambut cetar membahana, dan wajah pakai riasan lengkap dengan bulu mata palsu.
Mayang baru saja sampai di Jakarta. Kemarin, liburan ke Lombok, dia sangat terkejut saat mendapat kabar Casey sakit.
Jayden tak kalah terkejutnya. "Nenek ...." ujarnya, melihat Mayang berdiri di samping Casey sekarang.
Kedatangan Mayang membuat Casey tersenyum kecil. Dan Jayden sedikit terkejut karena istrinya mau tersenyum dengan kehadiran Mayang.
Mayang menoleh cepat, ekspresi wajahnya berubah dalam sekejap, matanya langsung melotot tajam. Seolah-olah Jayden ini musuhnya.
"Diam kau cucu durhaka, istrimu ini lagi sakit kau malah nggak perhatian dengannya, setidaknya peganglah tangannya seperti ini," kata Mayang sambil mengenggam tangan Casey dengan erat.
Casey mengulas senyum, melihat tingkah laku Mayang. Sementara Jayden tersenyum meringis, bingung apa harus melakukan perintah Mayang. Sebab selama ini dia tak pandai memberi perhatian pada seseorang, kepada Dea sekali pun tidak pernah.
"Kenapa kau malah senyum!? Ayo cepat pegang tangan istrimu!" perintah Mayang, dengan muka menahan kesal. Sebab Jayden malah diam sambil tersenyum kaku.
"Astaga, apa aku nggak salah dengar barusan, istri?" Tanpa diketahui tiga manusia di ruangan, Indra yang baru saja mendorong pintu dan hendak masuk ingin menjenguk Casey, berdiri mematung di daun pintu dengan pupil mata melebar.