Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Broken Home
Dave terlihat panik melihat keadaan korban tabrakan nya. Laura memintanya menghubungi rumah sakit untuk segera mengirim ambulance.
"Kalau bisa kau harus bertanggung jawab membayar biaya perawatan rumah sakit. Jika tidak, dia akan menuntut hukum dan kau akan di penjara bertahun-tahun," ucap Laura yang membuat Dave semakin bingung.
"Aku akan melakukannya, asal kau terus ada di sampingku. Laura, jangan karena kejadian ini kau urung untuk menikah denganku."
Dave terlihat khawatir dengan kejadian pagi ini, dia yang masih oleng tentu saja takut jika harus di periksa dan terbukti meminum minuman keras.
"Aku akan selalu mendampingimu, asal kau tak mengulanginya lagi. Setelah ini, kita harus menghubungi keluarganya," ucap Laura yang di balas anggukan oleh Dave.
Sampai di rumah sakit, Andreas segera di tindak ke ruang operasi. Dave dan Laura pun menunggu sambil mencoba menghubungi keluarga Andreas.
"Aku tak bisa membuka kode ponselnya. Bagaimana bisa aku memberitahu keluarganya?" Keluh Laura yang akhirnya tak mendapatkan kontak keluarga Andreas.
"Lebih baik kau masuk kelas dulu, mata kuliah hari ini bukankah sangat penting katamu," saran Dave yang merasa tak enak melihat Laura yang lebih kerepotan
"Ya, kau benar. Kelasku akan segera mulai, aku akan naik taksi saja... "
Dave menggenggam tangan Laura dan meminta agar dirinya yang mengantarnya.
"Setelah mengantarmu, aku berjanji akan kesini lagi. Tahun ini kau harus membuat skripsi dan kita bisa wisuda bersama. Setelah itu kita menikah, karena aku sudah tak sabar," ucap Dave panjang lebar yang membuat Laura menganggukan kepalanya.
Sesuai janjinya, Dave pun kembali ke rumah sakit. Operasi pun selesai di lakukan dan dia segera pergi ke tempat administrasi.
"Kalau bukan karena Laura, aku pasti akan meninggalkannya di jalanan," gumam Dave yang melihat Andreas terbaring lemah di ranjang pasien dengan beberapa perban yang menempel di sebagian tubuhnya.
Dia pun kembali menjemput Laura yang sudah selesai kelas. Dan kembali lagi ke rumah sakit bersama Laura yang membawa beberapa makanan untuk Dave dan juga dirinya.
"Apa kita harus benar-benar di sini? Kita bisa meminta dokter untuk merawatnya. Dia sudah besar dan tak perlu kita tunggu," keluh Dave yang merasa jika Laura berlebihan.
"Dave, ini bentuk tanggung jawab. Kita harus memastikan sampai dia sadar. Setidaknya dia tahu kita menolongnya."
Dave kesal karena perkataan Laura yang cukup masuk akal. Namun dia cemburu mengetahui jika calon istrinya tahu tentang identitas si korban.
"Bagaimana kau bisa mengenali pria ini?" Tanya Dave dengan nada kesal.
"Aku sempat bertemu dengannya di shelter depan. Saat itu hujan dan aku berteduh di sana menunggu jemputan. Sementara dia menggigil kedinginan karena pakaiannya pendek. Lalu aku menawarkan sandwich, karena aku merasa kasihan," jelas Laura yang membuat Dave semakin cemburu.
"Kau terlalu baik pada orang lain. Aku takut jika dia memanfaatkanmu."
"Tidak, justru aku senang bisa mengenalnya. Karena selama ini dia selalu membantu dan mengajariku beberapa tugas yang cukup sulit. Dia sangat pintar," ucap Laura dengan nada kagum.
"Kau sudah mengenalnya? Seberapa dekat?" Tanya Dave menahan marah.
"Tidak terlalu, tapi karena kami satu jurusan jadi kami sering berpapasan."
Tiba-tiba suara erangan terdengar keduanya. Laura segera menghampiri Andreas yang ternyata sudah sadar.
"Kak Laura!"
***
Laura mendapat kabar dari Dave jika dia sedang bersama dosen pembimbing nya. Dave mulai mengerjakan skripsi dan ingin mengejar wisuda secepat mungkin.
Sementara Laura selama ini justru selalu datang menjenguk Andreas, bahkan setiap hari dia melihat perkembangan kondisinya.
"Kau sudah menghubungi keluargamu?" Tanya Laura yang sedang mengganti bunga dalam vas. Andreas terus memperhatikannya, dan tak mendengar pertanyaannya.
"Andreas?" Ucap Laura yang akhirnya membuat Andreas tersadar.
"Belum, aku tak mungkin mengabari ibuku jika keadaanku seperti ini. Sebagai anak perantauan, akan sangat merepotkan jika orang tuaku datang. Apalagi mereka sudah bercerai," jawab Andreas yang membuat Laura semakin iba padanya.
"Kau sangat kuat dan juga tegar. Kau juga punya otak yang cerdas. Aku yyakin kau akan menjadi pria yang sukses."
Andreas menatap Laura lama, semakin kagum dengan kepribadian wanita yang kini di hadapannya.
"Terima kasih, kau selalu datang dan memastikan keadaanku," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku melakukan ini karena trauma. Saat ibuku meninggal di rumah sakit, aku tak sempat menemaninya karena sibuk mengerjakan ujian. Padahal aku setiap hari menjenguknya, mengganti bunga kesukaannya. Aku juga membawakan dan menyuapi makanan favoritnya, tapi tetap saja... "
Laura terdiam mengenang kepergian sang ibu tanpa kehadirannya. Andreas menatap wanita di hadapannya yang sedang termenung.
"Jadi kau melakukan ini karena takut aku mati? Itu sama saja dengan kau ingin aku mati kan?" Ucap Andreas tiba-tiba yang membuat Laura memukul tangannya.
"Kau benar-benar menyangka aku berpikiran seperti itu? Aku seperti ini karena ingin memastikan keadaanmu. Dan aku juga sangat suka dengan bunga, mereka bisa membuat keadaan seseorang jauh lebih baik hanya dengan melihat keindahannya."
Laura melihat ke arah bunga yang berhadapan dengan jendela.
"Ya, hal indah bisa membuat perasaan seseorang lebih baik," ucap Andreas yang menatap Laura sambil tersenyum.
"Aku senang kau setuju dengan pendapatku, aku yakin kau akan segera sembuh. Apa kau bisa menelan makanan rumah sakit? Bagaimana kalau aku memberikanmu makanan kesukaanmu?"
"Tak perlu, aku sudah terlalu banyak merepotkanmu. Setiap hari kau datang dan memeriksa keadaanku. Seharusnya orang yang membuatku masuk rumah sakit lah yang melakukan semua ini," ucap Andreas yang tak tahu jika Dave lah yang membuatnya masuk rumah sakit.
Laura meremas ujung bajunya cukup kencang. Dia tak mungkin jujur jika calon suaminya yang telah membuat Andreas masuk rumah sakit.
Keadaan Andreas berangsur membaik, begitupun Laura yang semakin mengenal Andreas. Ada rasa kagum yang tumbuh dalam hati Laura tentang perjalan hidup Andreas. Anak broken home yang masih memikirkan pendidikan dan hidup sesuai dengan aturan.
"Apa kau yang membawa pakaianku di kamar kost? Bagaimana kau bisa tahu di mana tempatnya? Lalu kuncinya?" Tanya Andreas bertubi setelah beberapa hari di rumah sakit.
"Aku menemukan kunci disaku celanamu dan meminta bantuan temanmu untuk mencari tempat kostmu," jawab Laura yang membuat Andreas semakin merasa berhutang budi pada Laura.
"Besok aku pulang dari sini, dan aku janji akan membalas semua kebaikanmu."
Laura tersenyum, baginya berbuat baik seperti ini tak perlu berharap untuk mendapat balasan apapun.
"Kau harus selalu ada untukku di saat aku membutuhkanmu. Itu saja balasan yang ingin ku terima darimu," jawab Laura sambil tersenyum. Namun dia berusaha untuk tak memandang Andreas.
Semakin dekat dengannya, perasaan Laura semakin aneh. Rasa kagum seolah berubah menjadi ketertarikan, yang membuat Laura semakin penasaran dengan sosok Andreas. Apalagi paras pemuda itu yang Laura akui lebih tampan dan menarik di bandingkan Dave.
Begitu pun Andreas yang memang sejak awal tertarik pada Laura, perasaannya sudah tak bisa dia bendung lagi dan berniat untuk menyatakan perasaannya setelah keluar dari rumah sakit.
terlalu lucu klo laura harus bersaing dgn gundiknya.... yg g ada levelnya
🤣🤣