"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Saksi Bisu yang Terhina
Setelah pembicaraan itu, langkah kaki Alana terasa begitu berat. Rasanya seperti menyeret brankas bank di masing-masing kakinya.
Ia berjalan meninggalkan mobil SUV mewah milik Raden yang baru saja mendingin di parkiran khusus Sky Azure Residence. Aroma basement yang steril dan sepi seolah mencekik lehernya.
Raden berjalan di depan dengan langkah tegap berwibawa. Sementara Ayah mengikuti di belakang dengan kepala tertunduk, masih mendekap erat kotak kayu tuanya.
Setiap langkah mereka bergema di keheningan parkiran eksklusif itu. Perbedaannya terasa begitu nyata.
Raden tampak gagah dan berkuasa, bersanding dengan Ayah yang hanya memakai daster bunga-bunga pudar, serta Alana dengan pakaian pesta yang belum sempat diganti.
Begitu sampai di lobi apartemen, suasana mendadak sunyi senyap. Raden memimpin jalan tanpa ragu.
Staf di sana terbelalak kaget melihat pria berdaster di belakang Raden. Namun, satu tatapan tajam dari Raden cukup untuk membungkam mereka seketika.
Mereka masuk ke dalam lift menuju lantai paling atas. Di dalam lift yang berdinding cermin, suasana semakin menyesakkan.
Ayah menatap bayangannya sendiri—seorang pria kusam, kucel, dan hancur yang berdiri di samping Raden sang pemilik jas mahal.
Ayah mencium kotak kayu itu sambil membisikkan doa agar ia siap menerima kenyataan. Sementara Alana menggenggam erat lengan daster ayahnya, menyalurkan kekuatan.
Ting!
Pintu lift terbuka. Mereka sampai di depan apartemen Raden. Begitu masuk, kemewahan tempat itu justru terasa dingin bagi Alana.
Alana dan ayahnya duduk di ruang tamu yang luas, sementara Raden mengambilkan segelas air untuk Ayah. "Yah, minum dulu agar lebih tenang."
Ayah meminumnya hingga tandas, lalu meletakkan kotak kayu penuh debu itu di atas meja marmer dengan sangat hati-hati.
Keheningan melanda cukup lama, sampai akhirnya Ayah bersuara sambil mengelus permukaan kotak kayu itu.
"Alana... malam itu... ibumu memakai daster yang Ayah kenakan sekarang. Waktu itu dia izin keluar sebentar untuk mencari makan."
Suara Ayah pecah disertai tangisan. "Tapi di dekat parkiran dia... dia melihat sebuah mobil mewah ditabrak dengan sengaja hingga terguling beberapa kali."
Tangan kasar Ayah mulai membuka kotak kayu itu. Di dalamnya terdapat gelang pasien merah muda, buku harian, dan sebuah flashdisk kecil berwarna hitam.
Raden langsung menghubungkan flashdisk itu ke laptop. Layar menyala, menampilkan rekaman video yang diambil secara sembunyi-sembunyi.
Dalam rekaman itu, terlihat Ibu Alana berlari ketakutan menuju mobil yang terbalik—mobil mewah paman Raden.
Terlihat jelas seorang wanita turun dari mobil penabrak. Wanita itu tidak menolong, ia justru hanya memastikan korbannya masih bergerak atau tidak.
Ibu Alana, dengan keberanian luar biasa, berlari mendekat dan sempat menarik tubuh paman Raden keluar dari mobil sebelum meledak.
Namun, saat itulah wanita penabrak menyadari keberadaan Ibu (Arina). Wanita itu tampak memberikan ancaman yang membungkam Ibu.
"Ibumu... ternyata tidak diculik, Alana. Dia berhasil lari setelah menolong pria itu, tapi wanita itu mengancam akan menghabisi kita jika ibumu bicara. Hiks... hiks..."
"Dia... dicap pezina karena wanita itu menyebarkan fitnah kalau ibumu selingkuh dengan pria yang ditolongnya. Supaya kesaksian ibumu tidak dipercaya!" ucap Ayah terisak hebat.
Raden tertegun. "Jadi ibumu yang menyelamatkan Paman Alex? Tapi mengapa keluargaku malah mengumumkan kematian Paman malam itu juga?"
"Meninggal? Pria itu belum meninggal saat ibumu menariknya keluar!" sahut Ayah Alana dengan suara geram.
Alana terpaku. Ia kini tahu satu hal: ini adalah konspirasi besar yang gila.
Ternyata ibunya hidup dalam pelarian selama dua belas tahun dan dihina sebagai pezina hanya karena menyelamatkan pria sekarat.
Emosi di dada Alana meledak. Ia melihat wanita dalam video itu tertawa puas, sementara ibunya entah ada di mana.
Ayah, yang selama ini Alana kira kuat, ternyata hancur dan menjadi "gila daster" akibat tekanan fitnah biadab ini.
Dengan wajah dingin, Alana berdiri di depan Raden. "Dokter, lihat... lihatlah ayahku sekarang. Dia kehilangan segalanya karena wanita gila itu!"
"Dan keluargamu malah menutupi fakta kalau pamanmu masih hidup. Kalian benar-benar keluarga biadab!"
"Ibuku adalah pahlawan yang kalian jadikan tumbal agar nama baik kalian tetap jaya. Pengecut!" Alana berteriak emosi.
"Wanita itu ingin kami mati dalam keadaan hina. Tapi mulai hari ini, saya akan menjadi mimpi buruk bagi wanita itu... dan bagi siapa saja yang mengkhianati ibuku!"
Tangan Alana mengepal hingga buku jarinya memutih. Matanya yang tadi sembab kini berkilat tajam menatap bayangan dirinya di cermin.
Alana bersumpah pada langit malam; jika uang dan kemewahan bisa membungkam kebenaran, maka ia akan membungkam kemewahan itu dengan tangannya sendiri.
Ia melirik Raden dengan tatapan dingin yang belum pernah pria itu lihat. Tidak ada lagi Alana yang penurut.
Yang ada hanya seorang putri yang bangkit dari abu fitnah dan siap membakar siapa saja yang menghalangi jalannya.
Kali ini, Alana tidak akan berhenti sampai mereka merasakan derita yang lebih dalam dari daster kusam yang selalu ayahnya kenakan.
****
Catatan Penulis:
AKHIRNYA TERBONGKAR! Dua belas tahun Ibu Alana difitnah sebagai pezina, padahal aslinya dia pahlawan yang dikorbankan. 😭
Ternyata Paman Alex belum meninggal saat diselamatkan Ibu Alana?! Lalu kenapa keluarga Adicandra memalsukan kematiannya? Skandal apa ini? 🤔
Menurut kalian, hukuman apa yang paling pantas buat wanita jahat itu? Tulis teori kalian di kolom komentar ya! ✨🔥