"Di tengah kesibukan kehidupan SMA di Jakarta, Yuki dan kelompok teman terbaiknya menjalani petualangan yang mengubah hidup mereka dari merawat kakaknya yang sakit, menemukan cinta pertama, hingga membentuk tim untuk lomba bahasa asing nasional.
Dengan persahabatan sebagai dasar kuatnya, mereka menghadapi segala rintangan: perbedaan cara pandang, tantangan kompetisi, dan bahkan menemukan makna baru dalam persahabatan antar budaya. Awalnya hanya sekelompok teman biasa, kini mereka membuktikan bahwa kerja sama dan cinta bisa membawa mereka meraih kemenangan yang tak terduga termasuk kesempatan untuk menjelajahi dunia luar!"
"Siapakah mereka? Dan apa yang akan terjadi saat mereka melangkah keluar dari zona nyaman Jakarta untuk menjelajahi dunia yang lebih luas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Kolim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 11
Beberapa hari setelah ke pantai, Hana mengajak lagi Yuki dan Kinta: "Yuk, kemah di hutan dekat kota minggu depan! Cuma kita berdua... eh, tiga! Tanpa orang tua, cuma kita sendiri! Seru kan?" Yuki dan Kinta langsung menyetujui kemah adalah pengalaman baru buat mereka berdua.
Hari H, mereka berkumpul di depan sekolah jam 6 pagi. Setiap orang membawa perlengkapan sendiri: tenda, selimut, makanan yang bisa dimasak di api unggun, dan lampu senter. Hana bahkan membawa alat buat bikin kerajinan dari daun dan ranting.
"Wah, Hana, kamu bawa alat banyak banget ya? Seperti orang yang sering kemah," ucap Kinta. Hana tersenyum bangga. "Ya dong! Ayahku sering bawa kemah, jadi aku udah tahu apa yang perlu dibawa. Kalau ada yang kurang, aku yang tanggung jawab!"
Mereka berjalan ke hutan yang jaraknya sekitar 30 menit dari sekolah. Hutan itu sepi dan segar, banyak pohon besar dan bunga yang cantik. Hana memimpin jalan, dia tahu jalan yang paling aman. "Perhatikan langkahmu ya! Jalan sini agak licin," peringatan Hana. Yuki malah tersandung akar pohon dan hampir terjatuh, tapi Kinta menolong dia tepat waktu. "Hati-hati ya, Yuki," ucap Kinta. Yuki mengangguk dengan malu.
Setelah sampai di tempat kemah yang cocok datar dan dekat sumber air mereka langsung mulai membangun tenda. Tapi ternyata, membangun tenda tidak semudah yang dibayangkan. Kinta salah memasang tiang tenda, bikin tenda hampir roboh. "Aduh, ini gimana ya? Aku lupa cara pasangnya," gumam Kinta dengan bingung. Hana ketawa dan mendekati. "Gimana sih, Kinta? Ini gini aja caranya!" dia langsung memasang tiang tenda dengan cepat dan rapi. Yuki dan Kinta hanya bisa melihat dengan kagum.
Setelah tenda siap, mereka mulai membuat api unggun untuk memasak. Hana mengajak mereka cari kayu bakar. Yuki menemukan kayu yang besar, tapi dia nggak bisa angkat. "Kinta, tolong dong angkat kayu ini!" teriak Yuki. Kinta datang dan coba angkat, tapi juga nggak bisa. Hana melihatnya dan ketawa terbahak-bahak. "Kalian berdua kayak anak kecil ya! Ini gini aja!" dia mengambil kayu yang lebih kecil dan mudah dibakar. "Kayu yang terlalu besar susah terbakar. Pake yang kecil aja!"
Setelah kayu bakar cukup, Hana mulai membuat api unggun. Dia sangat pandai cuma butuh beberapa daun kering dan api dari korek api, langsung menyala. Mereka memasak mie instan dan bakso yang dibawa. Makanan itu terasa lebih enak karena dimakan di depan api unggun. "Wah, ini paling enak mie instan yang pernah aku makan!" puji Yuki. Hana tersenyum. "Kan ya! Makanan yang dimasak di api unggun selalu lebih enak!"
Sore hari, mereka berjalan-jalan di hutan. Hana menunjukkan berbagai jenis pohon dan bunga. "Ini pohon mangga, ini pohon jambu, dan ini bunga melati yang wangi banget!" ucap Hana sambil memetik sebatang bunga melati dan memberinya ke Yuki. Mereka juga menemukan sarang burung di pohon besar. "Jangan sentuh ya! Burungnya pasti marah," peringatan Hana. Yuki hanya melihat dari jauh dengan kagum.
Saat mereka kembali ke tempat kemah, mereka melihat seekor kelinci kecil yang sedang makan rumput. "Wah, lucu banget!" teriak Yuki dengan senang. Mereka coba mendekat perlahan, tapi kelinci langsung lari. Hana ketawa. "Kalian terlalu cepat! Kelinci itu takut sama orang."
Malam hari, mereka duduk di depan api unggun, minum teh hangat yang dibawa Hana. Hana menceritakan cerita seram tentang hutan. "Dulu, ada orang yang kemah di hutan ini dan melihat makhluk aneh yang berkeliaran di malam hari..." dia bikin suaranya pelan dan menakutkan. Yuki langsung menyembunyikan wajahnya di balik selimut. "Hana, jangan dong cerita seram! Aku takut!" teriak Yuki. Hana tertawa dan menggoda. "Ya udah, ya udah. Bikin cerita lucu aja deh!" dia mulai menceritakan cerita kelucu yang bikin Yuki dan Kinta ketawa terbahak-bahak.
Setelah cerita selesai, mereka masuk ke tenda untuk tidur. Tenda itu sempit, tapi penuh kehangatan. Yuki tidur di tengah, Kinta di kiri, Hana di kanan. "Hari ini senang banget ya kemah bareng kalian," gumam Yuki dengan suara pelan. Kinta dan Hana serentak mengangguk. "Ya! Besok kita kemah lagi ya!"
Pagi esok, mereka membersihkan tempat kemah mematikan api unggun dengan baik dan membawa semua sampah pulang. Sebelum pulang, mereka foto bareng di depan tenda. "Ini kenangan yang bagus banget," ucap Hana sambil melihat foto. Mereka berjalan pulang dengan senang, meskipun badan mereka capek.
Di depan rumah Yuki, mereka pamit satu sama lain. "Terima kasih ya udah mau kemah bareng aku," ucap Hana. Yuki mengangguk. "Aku juga senang banget! Besok kita lakukan lagi ya!" Kinta juga menambahkan. "Ya, pasti! Lain kali aku akan belajar memasang tenda sendiri!"
Malam hari, Yuki menceritakan semua yang terjadi ke Ayase. "Kamu kelihatan senang banget ya? Kayak anak kecil yang pertama kali ke taman bermain," katanya dengan senyum. Yuki tersenyum. "Ya, kakak. Ini pengalaman baru yang menyenangkan. Aku senang punya teman seperti Hana dan Kinta."