Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: PERTEMPURAN DI GARIS PANTAI
Fajar yang seharusnya membawa ketenangan di The Sanctuary kini berubah menjadi panggung peperangan yang mencekam. Suara sirine darurat melengking rendah, beradu dengan suara deburan ombak yang menghantam karang tajam. Sinyal dari tiga kapal cepat yang terdeteksi Lukas bukan lagi sekadar titik di layar; mereka adalah ujung tombak dari kekuatan penghancur yang dikirim oleh The Ouroboros.
Arlan Syailendra berdiri di atas menara pengawas utama yang tersamar di balik formasi batuan alami. Meskipun bahunya masih terbalut perban, ia menggenggam senapan runduk taktis dengan kemantapan seorang jenderal. Di telinganya, perangkat komunikasi nirkabel terus memberikan laporan dari unit pertahanan pantai.
"Mereka menggunakan perahu motor siluman dengan lapisan penyerap radar, Tuan," suara Harry terdengar di sela-sela suara desis statis. "Mereka tidak mendarat di dermaga utama. Mereka mencoba memanjat tebing di sektor utara, tepat di celah yang ditemukan oleh Tuan Muda Lukas."
Arlan mengertakkan gigi.
"Aktifkan perimeter ranjau elektromagnetik di dasar tebing. Jangan biarkan satu pun dari mereka mencapai dataran atas. Harry, pimpin Tim Alpha untuk mencegat mereka di titik pendaratan. Aku akan memberikan perlindungan dari sini."
Arlan membidikkan senjatanya. Melalui lensa bidik termal, ia melihat bayangan-bayangan gelap yang bergerak dengan lincah di dinding tebing yang curam. Mereka menggunakan pelontar kait otomatis.
DOOM!
Tembakan pertama Arlan meledakkan kepala salah satu penyusup, membuatnya jatuh bebas ke laut yang bergejolak. Namun, untuk setiap satu yang jatuh, tiga lainnya muncul dari kegelapan air. Ini bukan sekadar penyerangan; ini adalah invasi bunuh diri yang terorganisir.
Sementara itu, di dalam perut fasilitas yang lebih dalam, Alana bergerak dengan kecepatan predator menuju ruang kendali pusat. Pikirannya terus terngiang akan peringatan Arlan: Waspadalah pada Bayangan yang paling dekat denganmu.
Langkah kaki Alana terhenti saat ia mencapai persimpangan koridor menuju ruang anak-anak. Di sana, ia melihat Leo berdiri di depan pintu baja ruang kendali, memegang senjata dengan posisi siaga. Namun, ada sesuatu yang salah.
Leo tidak sedang menghadap ke arah koridor untuk menjaga pintu; ia sedang memasukkan kode enkripsi ke panel kontrol pintu yang seharusnya hanya bisa diakses oleh Alana atau Arlan.
"Leo?" suara Alana terdengar tenang, namun mengandung getaran yang mematikan.
Leo tersentak. Ia berbalik perlahan, tangannya masih berada di dekat panel. Wajah pria yang selama lima tahun ini menjadi tangan kanan Alana, yang menyelamatkannya dari jurang, dan yang melatihnya menjadi petarung, kini tampak sangat asing. Ada rasa bersalah yang mendalam di matanya, namun tertutup oleh tekad yang kaku.
"Dr. Alana... Anda seharusnya berada di laboratorium," kata Leo, suaranya parau.
"Apa yang kau lakukan dengan panel itu, Leo? Dan kenapa kau mencoba membuka pintu yang di dalamnya ada anak-anakku?" Alana melangkah maju, tangannya perlahan mendekati pistol di pinggangnya.
Leo menghela napas panjang, sebuah desahan yang terdengar seperti beban berton-ton. "Ouroboros memegang putriku, Alana. Sofia. Mereka menemukannya di panti asuhan rahasia di Swiss. Mereka mengirimkan foto Sofia dengan laras senapan di pelipisnya. Mereka tidak menginginkan nyawamu... mereka hanya menginginkan formula itu dan Lukas."
Darah Alana terasa membeku. "Lukas? Kenapa Lukas?"
"Karena Lukas adalah satu-satunya yang bisa memecahkan kode akhir Proyek Teratai tanpa memicu sistem penghancuran diri biologis yang dipasang kakekmu. DNA-mu adalah kunci, tapi otak Lukas adalah jalannya. Maafkan aku, Alana. Aku tidak punya pilihan."
"Pilihan selalu ada, Leo! Kita bisa menyelamatkan Sofia!" teriak Alana.
"Tidak ada waktu!" Leo tiba-tiba menarik senjatanya.
Dalam gerakan yang hampir tidak tertangkap mata manusia, Alana menghindar ke samping, membiarkan peluru Leo menghantam dinding logam di belakangnya. Alana tidak membalas tembakan; ia menerjang maju, menggunakan teknik pertempuran jarak dekat yang justru diajarkan oleh Leo sendiri.
Pertarungan itu terjadi dengan brutal dan sunyi di koridor sempit. Leo jauh lebih kuat secara fisik, namun Alana memiliki kelincahan yang diperkuat oleh sisa-sisa energi regeneratif dalam darahnya. Alana menangkap pergelangan tangan Leo, memutarnya dengan paksa hingga senjata pria itu terjatuh, lalu menghantamkan sikunya ke rahang Leo.
"Kau mengajariku untuk tidak pernah ragu, Leo!" Alana mendesis saat ia mengunci leher Leo dengan lengannya.
"Kalau begitu... jangan ragu... bunuh aku sekarang," bisik Leo sambil terengah-engah. "Karena jika tidak, tim kedua mereka sudah masuk lewat jalur ventilasi ruang kendali. Aku hanya pengalih perhatian, Alana!"
Mata Alana membelalak. Ia melepaskan Leo dan segera berbalik ke arah pintu. "Lukas! Luna!"
Di garis pantai, pertempuran telah berubah menjadi pertumpahan darah. Arlan telah menghabiskan dua magasin peluru, namun musuh terus berdatangan. Tim Black Hawk kewalahan karena musuh menggunakan teknologi optical camouflage yang membuat mereka hampir tidak terlihat di bawah cahaya remang-remang fajar.
"Tuan! Mereka menembus garis pertahanan sektor utara!" teriak Harry melalui radio. "Mereka menggunakan peledak termit untuk menjebol pintu hangar!"
Arlan melompat dari menara pengawas, mengabaikan rasa sakit di bahunya yang kini kembali berdarah.
Ia berlari menuju hangar, melewati koridor-koridor yang kini dipenuhi suara desing peluru. Di sana, ia bertemu dengan sekelompok prajurit Ouroboros yang mengenakan baju zirah taktis lengkap.
Arlan tidak ragu. Ia mencabut dua pistol semi-otomatis dan mulai menari di tengah hujan peluru.
Setiap tembakannya adalah eksekusi. Gerakannya sangat presisi, menunjukkan mengapa ia dijuluki Kaisar Bayangan. Namun, di tengah baku tembak, ia melihat Kael—pria bermata perak dari malam sebelumnya—berdiri di atas balkon hangar dengan tenang.
"Syailendra! Berhenti membuang-buang nyawa anak buahmu!" teriak Kael. "Kami sudah memiliki apa yang kami inginkan. Tim cadangan kami sudah berada di dalam ruang kendali bersama Dr. Alana dan anak-anaknya. Kau sudah kalah."
Arlan membeku. Konsentrasinya pecah sesaat, dan sebuah peluru menyerempet paha kanannya. Ia terjatuh bertumpu pada satu lutut, namun matanya tetap menatap Kael dengan kebencian yang membara. "Jika kau menyentuh mereka seujung kuku saja, aku akan membakar seluruh organisasi kalian sampai ke akarnya."
Kael tertawa dingin. "Kau tidak akan punya kesempatan. Karena pulau ini akan menjadi makam kalian."
Di depan ruang kendali, Alana berhasil membobol pintu secara manual. Saat pintu terbuka, pemandangan di dalamnya membuat jantungnya seolah berhenti detak.
Lukas sedang berdiri di depan komputer utama dengan tangan terangkat, sementara Luna meringkuk di bawah meja sambil menangis tanpa suara. Dua orang pembunuh Ouroboros berdiri di belakang Lukas, salah satunya menempelkan pisau ke leher mungil bocah itu.
"Mummy!" teriak Lukas, wajahnya pucat namun matanya memberikan kode rahasia yang hanya dimengerti oleh Alana—kode untuk 'Sistem Keamanan Tiga'.
"Lepaskan dia," suara Alana terdengar sangat rendah, hampir seperti geraman binatang buas.
"Formula itu, Dokter. Berikan pada kami, atau anak ini kehilangan kepalanya," kata si pembunuh.
Alana perlahan merogoh sakunya, mengeluarkan botol perak Formula Teratai. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Kalian ingin ini? Kalian tidak tahu apa yang kalian minta."
Alana tidak memberikan botol itu. Sebaliknya, ia menjatuhkan botol itu ke lantai. Saat botol itu meluncur, Alana berteriak, "Lukas, SEKARANG!"
Lukas yang sudah siap segera menekan tombol 'Enter' pada keyboard yang sudah ia persiapkan. Seketika, sistem pemadam api di ruang kendali melepaskan gas nitrogen cair bertekanan tinggi. Suhu di ruangan turun drastis dalam hitungan detik, menciptakan kabut putih yang sangat tebal dan membutakan.
Alana bergerak di dalam kabut itu seperti hantu. Dengan insting yang tajam, ia menerjang ke arah pembunuh yang memegang Lukas. Tanpa senjata api, ia menggunakan tangan kosong untuk mematahkan leher pria itu dalam satu gerakan cepat.
Pembunuh kedua mencoba menembak secara membabi buta, namun Alana sudah lebih dulu melumpuhkannya dengan tendangan yang menghancurkan tulang rusuknya.
Alana menyambar Lukas dan Luna, memeluk mereka erat di tengah kabut yang dingin. "Kalian tidak apa-apa? Katakan pada Mummy kalian tidak apa-apa!"
"Kami tidak apa-apa, Mummy," Lukas terengah-engah. "Tapi Mummy... Paman Leo... dia..."
Alana melihat ke arah pintu. Leo berdiri di sana, menghalangi tiga orang musuh lainnya yang mencoba masuk untuk membantu rekan mereka. Leo tertembak berkali-kali di dada, namun ia tetap berdiri, menggunakan tubuhnya sebagai perisai manusia untuk melindungi pintu masuk.
"Pergi... Alana... bawa mereka... ke dermaga rahasia..." suara Leo terputus oleh darah yang keluar dari mulutnya. Dengan sisa tenaganya, ia memicu granat yang tersampir di rompinya. "Maafkan... aku..."
BOOM!
Ledakan di ambang pintu meruntuhkan langit-langit koridor, menutup jalur akses sekaligus melenyapkan Leo dan musuh-musuh di depannya.
Alana berdiri terpaku, air mata mengalir di pipinya yang kotor oleh debu ledakan. Leo, pengkhianat yang terpaksa, akhirnya memilih untuk menebus dosanya dengan nyawanya sendiri. Namun, Alana tidak punya waktu untuk berduka. Arlan masih bertarung di luar, dan pulau ini sedang diserbu.
"Ayo," Alana menarik tangan kedua anaknya. "Kita harus menemukan Paman Arlan. Kita harus pergi dari sini sekarang."
Di luar, fajar kini telah menyala sepenuhnya, memperlihatkan kehancuran di garis pantai The Sanctuary. Perang ini baru saja dimulai, dan Alana menyadari bahwa untuk melindungi warisan kakeknya, ia harus menjadi lebih dari sekadar penyembuh. Ia harus menjadi pemusnah.