NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana

Wanita Mantan Narapidana

Status: tamat
Genre:Single Mom / Janda / Selingkuh / Bad Boy / Chicklit / Tamat
Popularitas:30.7k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.

Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.

Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.

Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.

Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kami Akan Mengasuhnya

#13

Anggap saja cerita saat ini masih di setting era awal tahun 2005-an alias era millenium, era awal kemunculan dan maraknya benda bernama telepon genggam. 

Saat ini masih rame download ringtone, ada juga yang bikin ringtone sendiri, not nya cari contekan di majalah atau koran. Ada yang masih mengalami masa-masa itu? Atau disini hanya othor yang hidup sebagai ABG pada masa itu? 🥴

•••

Hamparan sawah mulai terlihat hijau, bibit padi yang disemai, mulai menampakkan daun-daunnya yang berwarna hijau segar. Ismail mengawasi para buruh tani yang sedang menanam kembali (tandur) padi-padi yang telah tumbuh tinggi setelah 2 minggu lalu di semai. 

Saat ini aktivitasnya selain berdagang di pasar, pria itu akhirnya dipercaya Bu Halimah untuk mengurus semua sawahnya setelah Restu tiada. Jangan dikira setelah diberi kepercayaan Ismail akan dilepas begitu saja, saat ini justru Bu Halimah mengawasi dengan ketat semua uang yang keluar dan masuk untuk keperluan sawah, membeli bibit, pupuk, biaya para buruh, dan lain-lain. 

Pokoknya Ismail hanya kebagian lelahnya saja, karena pembagian upah yang ia terima dari sang mertua jauh dari kata manusiawi. Alasan Bu Halimah sangat klise, dia akan memutar uang tersebut untuk membeli lahan sawah baru. 

Tit titit titititit! 

Dering Ponsel poliponik di saku celananya terdengar, ponsel berlayar hitam putih itu hanya menampilkan nomor panggilan lokal tanpa nama. Ismail mengerutkan alis tipisnya. 

“Halo—”

“Ha— halo—” Sebuah suara menyahuti Ismail, pria itu langsung mengenali suara lirih kakak iparnya. 

“Kak Ayu?” 

“Iya, ini aku. Ada yang ingin kubicarakan denganmu dan istrimu,” kata Ayu. 

“Soal apa, Kak? Nanti aku sampaikan juga pada Karmila.” 

“Tak enak kalau kita bicara lewat telepon, bisakah kita bicara secara langsung? aku ingin kalian berdua datang ke lapas,” pinta Ayu dengan ragu-ragu. 

“Iya, Kak. Akan ku sampaikan ke Karmila, kami usahakan dalam satu atau dua hari ini, karena aku juga sibuk mengurus sawah milik Mamak.” 

“Aku mengerti, terima kasih, ya, sudah mau aku repotkan.”

“Tidak repot, kak. Malah kami senang, karena setiap malam Karmila selalu gelisah memikirkan keadaan kakak di sana,” imbuh Ismail. 

Tak ingin tangisnya semakin keras, Ayu pun buru-buru mengakhiri panggilan. “Maaf, aku tak bisa lama-lama menggunakan telepon. Jadi, sudah dulu, ya?” 

“Kak, bagaimana deng—”

Tut! 

Tut! 

Tut! 

Panggilang sudah terputus, padahal ismail ingin menanyakan soal persalinan kakak iparnya. 

•••

Dan dua hari kemudian, barulah Ismail bisa datang, karena urusan sawah telah selesai. 

Dua orang yang belum tahu tentang kabar persalinan Ayu itu, nampak tak sabar menanti di ruang tunggu. Karmila membawa sedikit masakan untuk kakak iparnya, lauk pauk yang sedikit mahal, agar Ayu punya asupan nutrisi yang cukup untuknya dan janin dalam kandungannya. 

Namun, dua orang itu dibuat terkejut ketika Ayu datang dengan menggendong bayinya. 

“Assalamualaikum, Kak,” ucap Karmila dengan kedua mata berkaca-kaca menahan perasaan haru. 

“Waalaikumsalam, Mila, Ismail. Maaf, aku sudah merepotkan kalian,” jawab Ayu ramah. Ismail melihat ada bahagia dalam sorot mata Ayu, meski dirinya terkurung di penjara tanpa berbuat dosa. 

Karmila segera memeluk Ayu erat-erat, “Kenapa baru mengabari kami, Kak? Pasti berat sekali melewati semua ini sendirian,” bisik Karmila dengan tangis kecilnya. 

Bukan tangis palsu, melainkan perasaan haru yang sungguh-sungguh keluar dari hati nuraninya, karena terlalu sedih memikirkan kakak iparnya yang harus menanggung ujian kehidupan yang demikian berat. 

Karmila melepaskan pelukannya, kemudian menggendong bayi dalam pelukan Ayu, “Bang, tengoklah, wajahnya mirip sekali dengan Bang Restu, dan ini dahinya, sama persis kerutannya dengan dahi Bapak.” 

“Laki-laki, kak?” tanya Ismail. 

Ayu mengangguk, “Namanya Biru, Albiru Singgih,” cetus Ayu. “Dan ada yang ingin aku sampaikan pada kalian tentang anak ini.” 

Kedua mata Ayu masih berkaca-kaca walau susah payah menahan tangis, ketika ingat bahwa ia harus berpisah dari putranya. “Nanti saja bicaranya, ayo, sebaiknya kakak ipar makan dulu, aku bawa nasi dan lauk pauk yang kaya gizi, supaya kakak segera pulih setelah melahirkan. 

Tatapan Ayu tertuju pada rantang susun berisi makanan hasil masakan Karmila, terharu sekali karena adik iparnya tetap bersikap baik, padahal Bu Halimah saja masih belum percaya pada setiap ucapannya. 

Karena ini kunjungan untuk keperluan khusus, maka Ayu diberi waktu sedikit lebih lama. Wanita itu mulai menyantap hidangan yang Karmila bawakan untuknya. “Enak sekali, terima kasih, Mila, Ismail.” 

“Jangan berterima kasih, Kak. Kami hanya bisa membawakan ini, tapi tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Kak Ayu dari segala tuduhan,” sesal Karmila dengan wajah sedih. 

“Padahal hari itu, aku, Bang Ismail, dan Kak Mutia sudah memberikan kesaksian pada pengacara. Tapi entah kenapa, kami tak diberi kesempatan bicara di depan hakim, justru Mamak dan wanita sialan itu yang dijadikan saksi utama,” imbuh Karmila. 

“Apa jangan-jangan—”

“Jangan mulai berprasangka, tak baik.” 

“Padahal aku tak bicara apa-apa,” gerutu Karmila, kembali menatap wajah tenang Biru yang masih terlelap. 

Walau Karmila tal melanjutkan ucapannya, tapi Ayu terkejut, dengan penuturan Karmila. Disamping itu Ayu juga tak lagi bertemu dengan Pak Gunawan sejak sidang putusan berakhir. 

Semula Ayu tak curiga, tapi setelah Karmila berucap, ia jadi bertanya-tanya, apakah benar ada konspirasi jahat antara Anjani dan Pak Gunawan? Atau Anjani dengan Pak Rudi? Semuanya sangat mungkin terjadi. 

Beberapa saat kemudian, Ayu telah menyelesaikan makannya, nikmat sekali bisa merasakan masakan rumahan. Di lapas ia tak punya pilihan selain menikmati apa yang ada, syukur-syukur bisa makan tanpa perlu memikirkan uang belanja dan mengolahnya. 

“Apa, Kak?” tanya Karmila usai Ayu menghabiskan makanannya, ia sudah kembali duduk dengan tetap memeluk Biru yang terlelap di balik selimut hangatnya. 

“Aku punya permintaan, tapi mungkin akan sangat merepotkan kalian,” ucap Ayu mengawali maksudnya. 

Tangan Karmila menggenggam tangan Ayu dengan lembut. “Kakak mau minta apa? Pasti akan kami usahakan yang terbaik.” 

Belum apa-apa, Ayu sudah kembali berlinang air mata, membayangkan berpisah dari anak yang dikandungnya selama hampir 9 bulan, karena Biru lahir lebih awal dari perkiraan bidan. “Biru, tak boleh dibesarkan di lapas,” kata Ayu dengan wajah menunduk. 

“Astaghfirullah, lalu gimana, Kak?” 

“A-pa k-ka-lian—” Ayu kembali ragu, mungkin Karmila bersedia, tapi Ismail dan orang tuanya? Apa mau menerima Biru seperti cucu mereka sendiri?

"Jika kalian tak bersedia, tak apa-apa, mungkin sudah nasibnya harus tinggal di panti—"

“Kami akan merawatnya, menjaga, dan menyayanginya seperti anak sendiri, Kak,” ucap Ismail bersamaan dengan kalimat Ayu yang belum selesai diucapkannya.

Ayu seketika mendongak, tak sanggup berkata karena mulutnya bergetar menahan tangis. 

“Bang?” tanya Karmila tak percaya, sekaligus terharu. 

“Dia keponakan Kau, anak dari saudara tertua, dia sama seperti anak kandung kita. Mana mungkin Abang tega melepaskan anak kandung kita ke panti asuhan, sementara dia masih memiliki kita sebagai orang tua? Dia akan jadi abang untuk Firza.” 

Tak ada lagi yang bisa Ayu katakan, tak salah rupanya sang bapak mertua memilih Ismail menjadi menantu, karena pria itu memiliki hati yang sangat mulia. 

Ada perasaan tenang, meski nanti di luar sana, Biru juga bertemu dengan Bu Halimah, apakah wanita itu bersedia mengakui Biru sebagai cucu kandungnya? Entahlah. 

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang baru terasa ya😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
memudar
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pantes aja desainnya hasil curian semua karena emang otaknya ga mampu😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Didikan yg salah 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
Eva Karmita
ayu kamu harus kuat 😭😭😭😭
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagusss
Rahmawati
oke, lanjutttt
Endang Sulistia
Alhamdulillah ya yu...
Bun cie
karya yg bagus👍 cerita ttg ketidakadilan perselingkuhan fitnah dan kasih sayang ibu anak yg dikemas dengan baik.
trims kak thor
Er Ri
tetap lanjut dooonkk😄
Aditya hp/ bunda Lia
disini kekuasaan dan uang mengalahkan segalanya
R⁵
astaghfirullah othor bikin jantungan.. tau2 end wae😓
Patrick Khan
q kira tamat beneran..😁😁ternyata ada lanjutan nyok pindah tempat
DozkyCrazy
kaggettt 😁😁
Esther Lestari
dilanjut di judul yang lain....mampir ah
Siti Siti Saadah
baru di balas anak nya aja udah makjleb. gimana kalau ayu dah beraksi😄
Reni
huaaaaaa meluncur kak
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah
Sh
ayoooo.. loyo makan apa ? atau dikasih koyo cabe biar the end sekalian😅😅
Nar Sih
ayu pasti jdi wanita hebat dgn bantuan juga arahan dri madam giana ,org yg sama,,terluka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!