NovelToon NovelToon
Ketika Janji Tidak Berakhir

Ketika Janji Tidak Berakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Mamak3Putri

Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.

Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.

Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.

Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.

Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan Salah Waktu

Aruna berdiri depan cermin kecil di toilet perempuan Fakultas Hukum, merapikan rambutnya untuk ketiga kalinya. Wajahnya tampak pucat, tapi sorot matanya menunjukkan tekad yang tidak biasa. Tangannya gemetar setiap kali menyentuh ujung rambut, ia bukan tipe perempuan yang memperhatikan penampilan, tapi hari ini ia ingin tampil sedikit lebih baik.

“Aruna, kamu bisa. Kamu sudah memutuskan,” gumamnya lirih pada dirinya sendiri.

Setelah dua tahun memendam perasaan. Dua tahun diam-diam mengagumi seorang senior dari kejauhan, dua tahun hanya mampu memperhatikan punggung seseorang yang berjalan tanpa pernah sadar ada hati yang diam-diam mengikutinya. Aruna tahu, ia harus menyelesaikan ini.

Dan kini, setelah dua tahun memendam, ia tahu ia harus melakukan ini. Jika tidak sekarang, kapan lagi?

Aruna memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam. Ia meraih ponsel dan membuka pesan yang baru saja dikirimnya beberapa menit lalu. “Kak Revan, bisa ketemu sebentar? Ada yang ingin aku sampaikan.”

Revan membalas singkat, seperti biasanya. “Oke. 15 menit lagi, di depan perpustakaan.”

Pesan itu sudah terkirim, tidak ada jalan untuk menarik semua kembali. Aruna meletakkan ponsel di dalam tas, lalu keluar dari toilet dengan langkah pelan.

Matahari sore menembus celah pepohonan kampus, menciptakan cahaya keemasan yang bergerak lembut di atas paving koridor. Aruna berjalan menyusuri jalur itu, kedua tangannya menggenggam tali tas erat-erat. Setiap langkah terasa berat, tetapi bukan rasa takut yang terbesar melainkan rasa malu yang sudah mulai ia bayangkan akan ia rasakan nantinya.

“Aku pasti bisa, hari ini akan aku ungkapkan semua.” Ujar Aruna, berusaha menguatkan dirinya.

Gedung perpustakaan mulai terlihat di ujung koridor. Di bawah bayangan pohon besar, berdiri seorang pria dengan kemeja putih sederhana, tangan kanan memegang ponsel, dan raut wajah yang tampak santai. Revan.

Langkah Aruna otomatis melambat. Jantungnya mulai berdegup lebih keras. Ia sempat berpaling, mempertimbangkan untuk putar balik. Tapi sudah terlambat, Revan sudah terlanjur melihatnya.

“Aruna?” panggilnya, suaranya rendah, tenang, khas Revan.

Aruna memaksakan senyum kecil. “Hi, Kak. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu.”

Revan mengangguk sopan. “Gak masalah. Ada apa?”

Tidak ada basa-basi. Tidak ada pertanyaan tambahan. Tidak ada usaha mencairkan suasana.

Inilah Revan, apa adanya. Sederhana, jujur, dan langsung ke inti.

Aruna mengumpulkan sisa keberaniannya. Ia meremas ujung kemejanya, lalu mendongak perlahan. “Kak, sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini.”

Revan menunggu. Tatapannya netral, tidak menghakimi, tidak terlalu penasaran, hanya tenang.

Hati Aruna seperti dihimpit sesuatu. “Aku suka sama Kak Revan. Perasaan ini sudah aku simpan selama dua tahun.”

Kalimat itu akhirnya keluar, pelan, tapi jelas. Begitu terucap, Aruna merasa tubuhnya menghangat sekaligus menggigil. Ia menunduk cepat sebelum melihat reaksi Revan.

Revan terdiam beberapa detik. Waktu terasa melambat mencekik. Lalu ia menarik napas, suaranya terdengar hati-hati.

“Aruna, aku hargai kejujuran kamu.”

Aruna menutup mata. Itu bukan kalimat seseorang yang akan membalas rasa. Itu nada seseorang yang sedang memilih kata penolakan paling halus.

“Tapi.” lanjut Revan. Waktu berhenti. “Maaf, aku gak bisa balas perasaan kamu.”

Aruna menggigit bibir bawahnya. “Iya kak, aku mengerti.”

“Bukan karena kamu gak baik,” ujar Revan cepat, seolah ingin menghibur. “Kamu perempuan yang sopan, pintar, dan aku hargai keberanian kamu. Tapi aku udah punya seseorang yang aku cintai. Aku gak mau kasih harapan palsu.”

Aruna menunduk lebih dalam. “Gak apa-apa, kak. Aku ngerti, aku yang salah udah ngomong seperti ini.”

“Kamu gak salah,” jawab Revan lembut. “Gak ada yang salah dengan bicara jujur.”

Aruna mengangguk pelan, mencoba tersenyum meski tidak terlihat. “Kalau begitu, aku pamit.”

Revan tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi mengurungkan niatnya. “Ok. Hati-hati pulangnya.”

Aruna berbalik sebelum air matanya jatuh. Ia berjalan cepat melewati halaman perpustakaan, menahan dada yang terasa perih. Begitu ia cukup jauh, setetes air jatuh. Lalu tetes lain dan lainnya.

Namun tangis Aruna bukan tangis pecah. Tangisnya adalah tangis diam, sesuatu yang sejak kecil ia pelajari karena tidak ingin terlihat lemah.

“Tidak apa-apa jika aku ditolak. Aku kuat. Aku tidak boleh cengeng. Setidaknya aku tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya,” gumamnya tanpa sadar.

Ia tiba di halte kampus yang mulai sepi dan duduk di bangku panjang. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, tidak peduli senja mulai memudar. Suara tangisannya nyaris tidak terdengar.

“Aruna, kamu bodoh. Bodoh karena berharap. Bodoh karena percaya ia cukup untuk seseorang seperti Revan. Bodoh karena mengira 2 tahun perasaan bisa mengubah apa pun.” Ucapnya sambil menghapus air mata dengan tisu

Hari itu Aruna membuat keputusan sederhana. Ia tidak akan muncul lagi di hadapan Revan. Tidak akan berjalan di koridor yang sama. Tidak akan duduk di taman yang sama. Tidak akan memberi dirinya kesempatan untuk terluka lagi.

Aruna naik ke dalam bus yang hampir kosong. Ia memilih kursi di dekat jendela, menatap pemandangan luar yang bergerak perlahan. Kampus yang biasanya terasa hangat dan nyaman kini tampak asing. Setiap sudut tiba-tiba terasa penuh kenangan yang tidak pernah terjadi, hanya angan-angan yang ia ciptakan sendiri selama dua tahun terakhir. Hanya kenyataan. Pahit, tapi jujur.

Ponsel Aruna bergetar, sebuah pesan masuk dari ibunya. “Runa, kamu dimana?”

Aruna membaca lalu jari-jarinya mengetik, “aku udah dijalan bu. Mau pulang, sebentar lagi sampe.” Balas Aruna.

“Ya udah nak,  hati-hati di jalan ya.” Jawab ibunya.

“Iya bu.” Aruna membalas singkat.

Malam itu, di kamar tidurnya yang sunyi, Aruna menatap langit-langit gelap sambil menahan gemuruh hati yang belum sepenuhnya tenang. Ia menghapus pesan Revan dari ponselnya, tidak mengikuti akun sosial medianya, dan menghapus foto-foto kegiatan kampus yang tanpa sengaja memuat Revan di latar belakang. Ia ingin memulai ulang hidupnya, tidak tahu apakah ia akan berhasil melupakan semuanya, tapi ia akan mencoba.

Tok, tok, tok. “Runa, kamu udah tidur?” terdengar suara ibunya dari luar kamar sambil mengetuk pintu.

“Belum bu. Masuk aja.” Jawab Aruna.

Ibunya masuk ke dalam kamar dan duduk di pinggir tempat tidur, ia melihat putrinya yang sedang berbaring. “Kamu gak makan dulu? Ibu masak makanan kesukaan kamu.”

Aruna menggeleng, “aku gak laper bu.”

“Kamu lagi ada masalah?” tanya ibunya.

Aruna terdiam, “aku gak apa-apa bu.” Aruna berbohong.

Ibunya menatap Aruna, ia tahu putrinya sedang menutupi sesuatu. Tapi tidak ingin memaksanya untuk bercerita, “ya udah kalau gitu, kamu istirahat ya.”

Ibunya membelai rambut Aruna dengan penuh kelembutan, sebelum akhirnya meninggalkan kamar dan menutup pintu perlahan.

Aruna mencoba memejamkan mata, membiarkan lelah menguasai dirinya. Namun, tepat sebelum tertidur, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal muncul di layar.

“Aruna, kita perlu bicara. Ini tentang Revan.”

Seketika Aruna membeku. Tangannya gemetar, jantungnya kembali berdetak kencang.

1
Herman Lim
bentar lagi hancur kehidupan Revan dan pasti viona ga akan puas sama Revan skrg dia pasti akan cari yg lebih kaya lagi
kalea rizuky
jangan di buat balik. Thor g rela enak aja abis di buang di pungut dih
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Aidil Kenzie Zie
semoga Aruna setelah ini bisa dapatkan kebahagiaan mungkin dari pak Daniel
Aidil Kenzie Zie
pernikahan karena ego ortu
Abizar Abizar
mending Aruna sama Daniel aja😍
Aidil Kenzie Zie
satu kata untuk Aruna bodoh
Aidil Kenzie Zie
mampir
Herman Lim
kamu Revan yg nikah karna warisan
Imas Yuniahartini
jalan ceritanya bagus tapi endinknya kurang mengena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!