NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTARUNGAN PEKERJA VS PREMAN

BAB 33

RUMAH MBAH KLOWOR — MALAM

Malam turun pelan. Lampu minyak menyala temaram.

Sandi duduk bersila di pendapa, telanjang kaki menyentuh tanah. Napasnya teratur—lebih dalam dari biasanya.

Mbah Klowor mengitari Sandi perlahan, seperti membaca sesuatu yang tak terlihat.

“Tenagamu sudah menemukan jalannya,” ucapnya. “Sekarang yang perlu kau jaga bukan kekuatan… tapi arah.”

Sandi membuka mata. “Arah ke mana, Mbah?”

“Ke hulu,” jawab Mbah Klowor. “Sumber ketakutan.”

Amelia berdiri di ambang pintu, mendengar. Wajahnya tenang, tapi matanya waspada.

BALAI DESA GRENJENG — MALAM

Lampu balai desa menyala lebih terang dari biasanya.

Vendor-vendor kecil berkumpul—Pak Wiryo, Bu Rina, Pak Tirto—wajah mereka letih, tapi belum patah.

Bima berdiri di depan papan tulis. Eren di sampingnya, Mang Dedi bersandar dengan karung kosong di bahu.

“Kita tidak akan balas teror dengan teror,” kata Bima tegas.

“Kita balas dengan terang.”

Ia menggambar tiga lingkaran.

“Pertama: perlindungan produksi. Jadwal bergilir, penerangan tambahan, dan patroli warga.”

“Dua: rantai distribusi aman. Rute ganda. Konvoi kecil. Tidak ada truk sendirian.”

“Ketiga,” Bima menatap satu per satu, “bukti. Kita kumpulkan. Rekam. Simpan. Serahkan di waktu yang tepat.”

Pak Tirto mengangkat tangan. “Kalau mereka datang lagi?”

Mang Dedi tersenyum tipis. “Ular bisa ditangkap. Preman juga.”

Tawa kecil pecah—bukan karena lucu, tapi karena harapan.

RUMAH MEGAH NAKATA — MALAM

Nakata menutup telepon. Senyumnya menipis.

“Kenapa vendor kecil itu belum tumbang?” tanyanya dingin.

Seorang ajudan ragu. “Mereka… mulai rapi, Tuan. Ada patroli. Ada dokumentasi.”

Nakata berdiri. “Kalau ketakutan tak mempan,” katanya pelan, “kita ubah narasi.”

Ia menatap layar lain—grafik suplai.

“Kita bikin mereka tampak tidak kompeten.”

PABRIK KIM — PAGI

Mr. Kim memimpin briefing.

“Kualitas dan keselamatan nomor satu. Tidak ada kompromi.”

Park mendekat. “Ada rumor audit mendadak.”

Kim mengangguk. “Biarkan. Kita siap.”

RUMAH MBAH KLOWOR — PAGI

Sandi berdiri menghadap matahari.

Ia merasakan aliran di punggungnya—tenang, kuat.

Mbah Klowor menyerahkan seutas gelang akar kering.

“Bukan jimat,” katanya. “Pengingat.”

“Apa?” tanya Sandi.

“Bahwa kekuatan terbaik adalah ketika kau tahu kapan tidak menggunakannya.”

Sandi mengangguk.

Amelia mendekat. “Bima minta kamu datang malam ini. Bukan untuk bertarung.”

Sandi tersenyum. “Untuk menyusun.”

JALUR DISTRIBUSI — SIANG

Konvoi kecil bergerak. Dua truk, satu mobil depan, satu belakang. Kamera dashboard menyala.

Di kejauhan, dua pria memantau—ragu.

Rencana lama tak lagi aman.

Mereka mundur.

BALAI DESA — SORE

Bima menempelkan USB ke laptop.

Video tersusun rapi: jebakan lubang, pelepasan ular, wajah samar.

“Cukup,” kata Eren. “Sekarang tinggal timing.”

Sandi masuk. Ruangan hening sejenak.

Bima menatapnya. “Lu kelihatan… beda.”

Sandi menjawab pelan. “Beban lama sudah turun.”

Ia menunjuk layar. “Langkah berikutnya?”

Bima tersenyum tipis. “Kita naikkan permainan. Transparansi publik.”

Sandi mengangguk. “Kalau begitu, biar aku yang bicara.”

RUMAH MEGAH NAKATA — MALAM

Nakata menerima notifikasi.

Sebuah artikel lokal naik: “Vendor Kecil Bangkit dengan Sistem Aman: Warga Bersatu.”

Senyumnya hilang.

“Menarik,” gumamnya. “Mereka mulai berani.”

Ia tak tahu—

keberanian itu bukan datang dari amarah,

melainkan dari ketenangan yang akhirnya menemukan arah.

Dan saat arah sudah jelas,

alur baru pun dimulai—

bukan tentang bertahan,

melainkan mengembalikan kendali.

Pagi terasa lebih terang, tapi bukan karena matahari.

Orang-orang mulai berani berdiri lebih lama di depan rumah produksi.

Mesin kembali berdengung—pelan, hati-hati, namun hidup.

Sandi melangkah menyusuri lorong sempit desa bersama Bima dan Eren.

Ia tidak membawa apa-apa selain jaket tipis dan ketenangan yang terasa asing—bahkan bagi dirinya sendiri.

“Lu yakin mau turun langsung?” tanya Eren.

Sandi mengangguk. “Bukan turun ke medan. Turun ke cerita.”

Bima tersenyum tipis. “Gue paham.”

RUMAH PAK WIRYO — PAGI

Pak Wiryo menyuguhkan kopi hitam. Tangannya masih gemetar saat menuang.

“Mereka datang malam,” katanya lirih. “Nggak ancam. Cuma berdiri… lama.”

Sandi mendengarkan. Tidak menyela.

“Preman itu nggak mau ribut,” lanjut Pak Wiryo. “Mereka mau saya berhenti takut.”

Sandi menatapnya. “Dan Bapak?”

Pak Wiryo menarik napas. “Saya takut… tapi saya capek.”

Sandi mengangguk. “Itu cukup.”

BALAI DESA — SIANG

Sebuah spanduk kecil terpasang:

FORUM VENDOR & WARGA — TERBUKA

Tidak mewah. Tidak resmi.

Namun penuh.

Sandi berdiri di depan—bukan sebagai pemimpin, tapi saksi.

“Kita tidak akan melawan dengan otot,” katanya tenang.

“Kita lawan dengan jejak.”

Ia mengangkat ponsel.

“Setiap intimidasi—rekam. Setiap sabotase—catat. Setiap ancaman—laporkan.”

Seorang warga bertanya ragu, “Kalau mereka balas?”

Bima maju selangkah. “Kami ada.”

Dan kali ini, kata itu terdengar nyata.

RUMAH MEGAH NAKATA — SORE

Ajudan menyerahkan laporan.

“Media lokal mulai meliput. Tanpa menuduh… tapi menyusun pola.”

Nakata membaca cepat. Urat di pelipisnya menegang.

“Pola itu berbahaya,” katanya dingin.

“Karena orang mulai menghubungkan.”

Ia berdiri. “Hubungi orang hukum. Dan siapkan rencana B.”

“Rencana B, Tuan?”

Nakata menatap jendela.

“Alihkan. Pecah belah. Buat mereka saling curiga.”

DESA GRENJENG — MALAM

Lampu jalan menyala lebih lama dari biasanya.

Patroli warga berkeliling—dua motor, satu senter, satu kamera.

Di kejauhan, dua sosok mengamati dari balik kebun.

Namun mereka tidak mendekat.

“Bukan waktunya,” bisik salah satu.

“Sekarang mata terlalu banyak.”

Mereka mundur.

RUMAH MBAH KLOWOR — MALAM

Sandi duduk bersila. Nafasnya stabil.

Mbah Klowor membuka mata perlahan.

“Bayangan mulai kehilangan tempat,” katanya.

“Artinya?” tanya Sandi.

“Artinya, mereka akan membuat kesalahan,” jawab Mbah Klowor.

“Karena orang yang biasa bermain gelap… panik saat lampu dinyalakan.”

Amelia mendekat. “Dan kamu?”

Sandi tersenyum tipis. “Aku belajar menunggu.”

PABRIK KIM — PAGI HARI BERIKUTNYA

Audit keselamatan berlangsung.

Vendor kecil hadir sebagai satu suara.

Dokumen rapi.

Rute aman.

Catatan insiden—lengkap dengan waktu dan lokasi.

Auditor mengangguk. “Kalian siap.”

Park menoleh ke Kim, lega.

RUMAH MEGAH NAKATA — SIANG

Nakata menerima pesan singkat:

Audit lolos.

Vendor kecil tetap aktif.

Ponsel itu ia letakkan pelan. Terlalu pelan.

“Baik,” gumamnya.

“Kalau terang tak bisa dimatikan… kita padamkan dari pusatnya.”

Ia mengangkat telepon lain.

“Siapkan pertemuan. Aku mau bicara langsung.”

DESA GRENJENG — SENJA

Sandi berdiri di tepi kebun, menatap langit yang berubah warna.

Eren mendekat. “Mereka minta ketemu.”

Sandi mengangguk.

“Bagus. Itu artinya bayangan keluar dari persembunyian.”

Bima menepuk bahunya. “Kali ini, kita yang pegang cahaya.”

Senja turun.

Dan alur baru pun bergerak—

bukan lagi tentang serangan tersembunyi,

melainkan tentang siapa yang berani berdiri

saat kegelapan dipaksa berbicara di ruang terbuka.

Konvoi kecil bergerak pelan.

Satu mobil di depan.

Dua truk di tengah—muatan bahan bola terikat rapat.

Satu mobil di belakang.

Tidak ada sirene.

Tidak ada pengawalan bersenjata.

Hanya warga desa—vendor kecil—yang hari itu memilih tidak lagi sendiri.

Di mobil depan, Pak Wiryo menggenggam setir. Tangannya tidak lagi gemetar, tapi keringat masih membasahi pelipis.

“Kecepatan enam puluh. Jangan terpisah,” suaranya terdengar di HT kecil.

“Siap,” jawab suara Pak Tirto dari truk pertama.

“Jarak aman dijaga.”

Di mobil belakang, Bu Rina memantau kaca spion. Di dashboard, kamera menyala—merekam tanpa henti.

“Jalan sepi,” gumamnya. “Terlalu sepi.”

TIKUNGAN KEBUN KARET — SORE

Di tikungan panjang, sebuah mobil pick-up hitam melintang tiba-tiba.

CIIIIT!

Pak Wiryo mengerem mendadak.

“Berhenti! Berhenti!” teriak suara di HT.

Dari balik pick-up, enam pria muncul. Wajah mereka setengah tertutup. Dua membawa besi, satu memegang pentungan kayu.

Salah satu melangkah maju, santai.

“Turun,” katanya keras. “Kita ngobrol bentar.”

Pak Tirto menelan ludah. “Ini dia…”

Bu Rina berbisik, “Rekam… jangan berhenti merekam.”

MOBIL DEPAN — SORE

Pak Wiryo membuka jendela setengah.

“Kami cuma lewat. Barang resmi,” katanya berusaha tenang.

Pria itu tersenyum miring.

“Resmi itu urusan kami.”

Ia mengetuk kap mobil dengan besi.

Tok. Tok.

“Turun. Sekarang.”

Di HT, suara Bima terdengar pelan tapi tegas—mereka sengaja menjaga jarak.

“Jangan turun. Tetap di kendaraan. Aktifkan kamera.”

TENGAH KONVOI — SORE

Pak Tirto melihat ke depan—ke belakang.

Napaknya pendek.

Lalu ia membuka pintu truk dan turun.

“Pak Tirto!” teriak Bu Rina. “Jangan!”

Pak Tirto mengangkat tangan.

“Cukup.”

Ia melangkah ke depan, menatap pria-pria itu.

“Kalian mau apa?” tanyanya.

Salah satu preman tertawa.

“Mau kalian berhenti sok berani.”

Pak Tirto menghela napas.

“Kami cuma mau kerja.”

Preman itu mendekat.

“Kerja di tempat yang salah.”

DETIK MENEGANG — SORE

Salah satu preman memukul bodi truk dengan pentungan.

DUM!

Suara itu memicu sesuatu.

Dari belakang, dua vendor lain turun—bukan menyerang, tapi berdiri sejajar.

Bu Rina keluar, ponsel terangkat tinggi.

“Kalian direkam,” katanya lantang. “Wajah kalian jelas.”

Preman terdekat mendengus.

“Rekaman bisa hilang.”

“Tidak yang ini,” sahut Bu Rina. “Live.”

Pria itu terdiam sesaat.

KETEGANGAN MENINGKAT

Salah satu preman maju terlalu dekat ke Bu Rina.

“Matikan,” katanya dingin.

Pak Wiryo membuka pintu, berdiri di samping Bu Rina.

“Sentuh dia,” katanya pelan tapi tegas,

“dan semua orang akan tahu.”

Di seberang, Pak Tirto mengepalkan tangan.

“Kami bukan anak-anak,” lanjut Pak Wiryo.

“Kalian mau bikin rusuh di jalan umum?”

Preman tertawa kecil. “Berani ngomong sekarang?”

“Karena kami tidak sendiri,” jawab Pak Tirto.

SUARA MESIN — MENDADAK

Dari belakang terdengar deru mesin lain.

Satu mobil mendekat cepat.

Para preman menoleh.

Bukan polisi.

Namun cukup untuk mengganggu rencana.

Di HT, suara Eren masuk.

“Sekarang.”

PERLAWANAN TANPA PUKULAN

Pak Wiryo melangkah maju setengah langkah.

“Jalan ini milik umum,” katanya keras.

“Kami punya hak lewat.”

Bu Rina mengangkat ponsel lebih tinggi.

“Dan kalian sedang melakukan penghadangan.”

Pak Tirto menunjuk kamera dashboard.

“Dua sudut. Satu live. Satu cloud.”

Preman yang tadi paling vokal menegang.

“Bos kalian tahu ini?” lanjut Pak Tirto.

Hening sesaat.

Itu pertanyaan yang tepat.

RETREAT

Pria itu meludah ke tanah.

“Jalan sekarang,” katanya pada anak buahnya.

“Ini bukan hari kita.”

Pick-up hitam dinyalakan. Mundur perlahan.

Salah satu preman menoleh terakhir kali.

“Ini belum selesai.”

Pak Wiryo menjawab tegas,

“Baru mulai.”

SETELAHNYA — SORE

Konvoi kembali bergerak.

Di HT, suara Bima terdengar.

“Kalian bagus.”

Bu Rina menghela napas panjang.

“Kaki saya masih gemetar.”

Pak Tirto tersenyum kecil.

“Tapi kita tidak lari.”

Di kejauhan, matahari tenggelam.

Dan untuk pertama kalinya sejak teror dimulai,

ketakutan memilih mundur—

karena yang kecil

akhirnya memilih melawan bersama.

Lampu-lampu neon menyala terang.

Sepuluh pekerja berdiri berjajar.

Bukan bersembunyi.

Bukan berteriak.

Di sudut ruangan, karung-karung bahan bola tersusun rapi. Di lantai—kotak kayu berpenutup kawat. Di dalamnya, ular sawah bergerak pelan.

Pak Tirto menatap anak buahnya satu per satu.

“Dengar,” katanya tenang. “Malam ini mereka mungkin datang lagi.”

Seorang karyawan muda, Agus, mengangguk.

“Kali ini kami siap, Pak.”

Di luar, angin malam membawa suara jangkrik.

Terlalu tenang.

PEKARANGAN BELAKANG — MALAM

Empat bayangan melompat pagar.

Preman yang sama.

Salah satunya tertawa kecil sambil menurunkan karung goni.

“Siap nonton orang dewasa lari lagi?” ejeknya.

Karung dibuka.

Ssssss…

Beberapa ular sawah merayap keluar, menyebar di tanah.

Preman mengangkat tangan.

“Sekarang!”

DI DALAM — DETIK MENEGANG

Pintu didorong kasar.

“ULAR! ULAR!”

Teriakan itu disengaja.

Namun tidak ada jeritan balasan.

Yang terdengar justru suara kursi ditarik.

Krek.

Lampu dinyalakan lebih terang.

Para pekerja berdiri—memakai sepatu boot, sarung tangan tebal, dan tongkat kayu pendek.

Agus melangkah maju.

“Ular sawah,” katanya santai.

“Tidak berbisa.”

Preman terdiam sesaat.

“Ambil,” perintah Pak Tirto singkat.

TERBALIKNYA TEROR

Dua pekerja menjepit kepala ular dengan tongkat, satu lagi memasukkannya ke kotak.

Gerak cepat. Tenang.

Preman mundur selangkah.

“Apa-apaan ini?” desis salah satu.

Pak Tirto menatap mereka.

“Kalian pikir kami akan panik selamanya?”

PERKELAHIAN PECAH

Salah satu preman marah.

“Kurang ajar!”

Ia menerjang Agus.

DUG!

Tongkat kayu beradu dengan besi.

Agus terhuyung, tapi tidak jatuh.

Dua pekerja lain langsung maju.

Preman lain ikut menyerang.

Kacau.

Kursi jatuh. Meja tergeser.

Namun kali ini—

tidak ada yang lari.

MASUKNYA BIMA DAN EREN

Pintu depan DITENDANG TERBUKA.

BRAAAK!

“SERSAN BIMA!” suara itu menggelegar.

Dua preman refleks menoleh.

Kesalahan.

Bima sudah di depan mereka.

PLAK!

Siku menghantam rahang.

Satu preman tumbang.

Eren menyusul—gerak cepat, rendah.

Ia menyapu kaki lawan.

BRUK!

“Jangan ke kepala!” teriak Eren ke pekerja.

“Lumpuhkan saja!”

FIGHT TANPA AMPUN

Preman mencoba kabur lewat belakang.

Bima mengejar.

“BERHENTI!”

Preman mengayun besi.

Bima menangkis, memutar pergelangan.

KREK!

Besi jatuh.

Bima mendorong tubuh itu ke dinding.

“Siapa yang nyuruh kalian?” tekanannya dingin.

Preman meringis.

“Kami cuma… disuruh…”

AKHIR TEROR MALAM ITU

Dua preman tergeletak. Dua lain berhasil kabur ke gelap.

Ular-ular sudah aman di kotak.

Napas para pekerja tersengal—tapi wajah mereka tegak.

Agus menatap Bima.

“Terima kasih, Pak.”

Bima mengangguk.

“Kalian yang hebat,” katanya.

“Kalian tidak lari.”

Pak Tirto memandang ruangan yang porak-poranda.

Namun di matanya, ada api baru.

“Besok,” katanya pelan,

“kami produksi lagi.”

Di luar, malam terasa berbeda.

Bukan lagi milik ketakutan.

Melainkan milik mereka yang

berani berdiri dan melawan.

Lampu gantung kristal berayun pelan.

Suara pecahan gelas memantul di dinding marmer.

PRANG!

Vas mahal hancur berkeping ketika menghantam lantai.

“BODOH!”

Suara Mr. Nakata menggema, berat dan dingin.

Empat anak buahnya berdiri kaku. Wajah yang tadi sore penuh tawa kini pucat.

“Mereka melawan?” Nakata mendesis.

“Bukan lari. Bukan menjerit. MELAWAN?”

Salah satu preman menunduk.

“Maaf, Tuan. Mereka dibantu Sersan Bima dan satu orang lagi.”

Nama itu membuat mata Nakata menyipit.

“Bima…”

Ia tersenyum tipis—senyum yang tidak menyentuh mata.

MEJA KACA — MALAM

Nakata berjalan memutari meja, menekan tablet.

Rekaman video muncul—preman tergeletak, ular-ular dalam kotak, warga berdiri tegak.

Tangannya mengepal.

“Rakyat kecil merasa kuat karena apa?” katanya pelan.

“Karena mereka masih punya harapan.”

Ia menoleh tajam.

“Maka… kita hancurkan harapan itu.”

PERINTAH BARU

Nakata menepuk tangan sekali.

“Ular sawah itu mainan,” lanjutnya.

“Tak cukup menakutkan.”

Ia menunjuk peta di layar—desa, jalur distribusi, rumah-rumah vendor kecil.

“Kita buat mereka saling curiga,” katanya.

“Kita buat satu jatuh… yang lain akan ragu.”

Salah satu anak buah berani bertanya,

“Bagaimana caranya, Tuan?”

Nakata tersenyum dingin.

“Kecelakaan.”

Ruangan hening.

“Api kecil di gudang,” lanjutnya.

“Bukan besar. Cukup untuk menghentikan produksi.”

“Dan satu pesan,” tambahnya.

“Bukan lewat ular.”

ANCAMAN YANG LEBIH GELAP

Ia membuka laci.

Di dalamnya—amplop cokelat tebal.

“Cari orang luar desa,” perintahnya.

“Bukan preman biasa.”

“Yang tidak dikenal,” katanya menekan tiap kata,

“dan tidak peduli siapa yang terluka.”

Anak buah itu menelan ludah.

“Kalau Bima ikut campur lagi?”

Nakata mendekat.

Jaraknya hanya sejengkal.

“Kalau dia ikut,” bisiknya,

“buat dia memilih.”

PILIHAN PAHIT

Nakata berdiri tegak.

“Usaha atau nyawa.”

Ia memutar badan, menghadap jendela besar.

Di luar—lampu desa terlihat kecil, rapuh.

“Besok malam,” katanya tanpa menoleh,

“mulai.”

POTONGAN ADEGAN — TEMPAT LAIN

RUMAH MBAH KLOWOR — MALAM

Sandi duduk bersila.

Napasnya teratur. Lebih kuat.

Mbah Klowor membuka mata perlahan.

“Ada angin buruk,” gumamnya.

“Bukan takut… tapi niat jahat.”

Sandi membuka mata.

“Arah mana, Mbah?”

Mbah Klowor menatap ke kejauhan.

“Ke mereka yang berani berdiri.”

KEMBALI KE RUMAH NAKATA — MALAM

Nakata mengangkat telepon.

“Hentikan permainan kecil,” katanya singkat.

“Kita naikkan level.”

Sambungan terputus.

Kamera menyorot senyum tipisnya.

Senyum seseorang

yang baru saja memutuskan

bahwa besok darah atau api

akan berbicara lebih dulu.

—BERSAMBUNG—

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!