membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.
bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.
mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.
dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 13
... 13: HADIAH UNTUK KENZIE...
...****************...
Langit mulai memperlihatkan tanda-tanda yang hampir menjelang larut malam. Di waktu malam yang bertabur bintang itu, Kenzie tampak bermalas-malasan di atas batu besar. Perutnya benar-benar kenyang, bahkan cenderung membuncit akibat terlalu banyak menerima asupan energi dari dua hewan spiritual hasil buruannya siang tadi.
Efek samping dari menyantap *Celestara Frost-Boar* dan *Fiery Phoenix-Pheasant* sekaligus membuat metabolisme tubuhnya melambat; raganya membutuhkan waktu ekstra untuk menetralkan dan menyelaraskan benturan energi es dan api yang masuk ke dalam tubuhnya melalui daging santapan lezat tersebut.
Dalam kondisi seperti itu, rasa kantuk yang teramat berat mulai menyerang kesadaran Kenzie. Rasa hangat yang menjalar di dalam pembuluh darahnya membuat kelopak matanya terasa seberat timah.
Tubuhnya yang bersandar rileks di batu cadas tidak kuasa lagi menahan gelombang kantuk. Akhirnya, Kenzie tertidur pulas tepat saat malam mulai menjemput, menutup senja hari itu dengan sisa-sisa kepuasan pesta daging panggang rahasianya.
...----------------...
Berselang beberapa jam kemudian, malam hampir mencapai puncaknya. Angin gunung yang dingin berembus menusuk tulang, dan Arvendel akhirnya kembali dari urusannya sebelum larut malam.
Begitu menginjakkan kaki di pelataran, sang Master langsung berjalan menuju gubuk untuk memastikan apakah Kenzie berada di sana atau sedang melakukan latihan?. Namun, netra elangnya hanya menemukan ruangan kosong yang sunyi. Kenzie tidak ada di dalam gubuk.
Sembari mengernyitkan dahi, Arvendel mengerahkan tenaganya melangkah, mencari keberadaan sang murid di seluruh sudut area latihan. Langkah kakinya akhirnya terhenti di dekat kliring air terjun. Di sana, ia menemukan Kenzie yang sedang meringkuk tertidur pulas dengan dengkuran halus, benar-benar tidak menyadari bahaya yang sedang mengintainya.
Pandangan Arvendel beralih pada sisa-sisa abu yang masih menyisakan bara merah di kayu bakar, lalu ia menatap tumpukan tulang belulang monster hewan spiritual berukuran masif di samping batu. Sisa-sisa makanan yang sangat jelas.
Melihat pemandangan tidak disiplin tersebut, Arvendel seketika naik pitam. Urat di pelipisnya berdenyut jengkel. Tangan kanannya bergerak lambat, langsung memanggil tongkat andalannya yang terbuat dari tulang Naga Gajah berkekuatan esensi Kura-Kura Raksasa, senjata penempa yang telah ia perkuat berkali-kali seiring berjalannya waktu, khusus dirancang untuk bisa menembus kulit tebal Kenzie yang kini sudah kebal terhadap rasa sakit biasa.
"Bocah nakal ini..." desis Arvendel kesal, suaranya sedingin es. "Mulai berani bermalas-malasan dan berpesta pora tepat saat aku tidak ada di tempat."
Tanpa belas kasihan, Arvendel langsung melepaskan gelombang energi tekanan (*spiritual pressure*) berskala mikro. Aura intimidasi yang pekat itu seketika meluncur, mengalir menusuk persepsi tubuh dan batin Kenzie.
*Deg!*
Insting di dalam diri Kenzie bergetar hebat. Ia terbangun secara paksa dengan raut wajah kaget dan mata membelalak, langsung terduduk tegak saat merasakan hawa mencekam yang teramat akrab sedang berdiri di hadapannya.
"Ehh?! M-Master... Anda sudah pulang rupanya, hehehe! Selamat datang kembali, Master..." Kenzie tersenyum kaku dengan ekspresi wajah yang gelagapan setengah mati, mencoba mencairkan atmosfer yang membeku.
"Sepertinya kamu benar-benar bersenang-senang dan menikmati kebebasanmu ketika aku tidak ada, Kenzie," ujar Arvendel dengan senyum ramah yang dipaksakan sembari mati-matian menahan rasa kesalnya. "Apakah porsi latihan neraka yang kuberikan selama delapan tahun ini masih kurang? Sehingga kamu masih memiliki waktu luang untuk bersantai dan mendengkur di sini?"
Kenzie meneguk ludah, mencoba mencari alasan aman untuk menutupi pelanggarannya. "Maaf, Master... Tadi siang perutku benar-benar kelaparan, jadi aku tidak sengaja pergi ke hutan untuk berburu dua hewan spiritual hanya untuk sekadar mengganjal perut."
"Oh, begitu ya? Sangat masuk akal," Arvendel mengangguk-angguk kecil, matanya melirik tumpukan tulang yang tingginya hampir menyamai tubuh Kenzie. "Apakah masih ada sisa daging yang bisa dimakan? Jika ada, tolong bagi sedikit untuk gurumu yang lelah setelah perjalanan jauh ini."
"Hehehe... Maaf seribu maaf, Master. Dagingnya benar-benar lezat, jadi tidak sengaja sudah habis aku babat semua," jawab Kenzie sambil cengengesan dan mengarahkan tangan untuk menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau begitu, karena dagingnya sudah habis... sebagai gantinya, aku akan memberikan sebuah hadiah istimewa untukmu malam ini! Seratus pukulan ya sayang tanpa jeda!" Senyum Arvendel tampak semakin manis, namun aura kebiruan di sekitar tongkatnya bergetar mengerikan.
"Terima kasih banyak, Master... Eh, apa?! Tunggu dulu, Master! Seratus pukulan?! Apakah Anda berniat membunuhku secara legal?! Itu hukuman, bukan hadiah!" Kenzie yang awalnya sempat merasa lega langsung berubah panik histeris, nyawanya serasa melompat keluar dari raga.
Aku paham betul hadiah itu, itu adalah gocekan atau jebakan andalan si pria tua ini, seru kenzie di benaknya.
"Segera ikut aku ke bawah air terjun sekarang juga! Di sana aku akan mendisiplinkan raga manjamu itu agar ingatanmu kembali tajam dan tidak bermalas-malasan lagi!" tegas Arvendel mutlak, tidak menerima bantahan apa pun.
"Tapi, Master! Setidaknya beri aku kelonggaran untuk mencerna daging ini dulu!."
"Jangan pernah berani menawar denganku, Bocah nakal! Atau hukuman ini akan langsung kulipat gandakan menjadi dua ratus pukulan! Cepat jalan!" titah Arvendel dengan raut wajah garang yang mengerikan.
*Hah... Memiliki satu murid saja sudah sangat merepotkan setengah mati, apalagi jika aku membimbing beberapa murid yang sifatnya sama bebalnya seperti bocah ini,* gumam Arvendel frustrasi di dalam batinnya sembari berjalan di belakang Kenzie.
Ia melirik ke arah Kenzie yang berjalan di depannya. Arvendel semakin jengkel karena meski Kenzie tahu dirinya akan dihukum berat, pemuda itu berjalan dengan santai seolah tanpa beban batin, bahkan dengan santainya mengangkat satu tangan untuk mengorek hidungnya dengan wajah polos.
*Bocah nakal, tunggu saja. Rasakan bagaimana sensasi hantaman tongkat tulang naga yang baru saja kutingkatkan energinya ini,* batin Arvendel bertekad untuk tidak menahan kekuatannya agar Kenzie kapok dan kembali serius.
"Cepat lepas pakaian atasmu, dan segera naik ke atas batu meditasi di bawah air terjun itu!" tegas Arvendel tanpa ada rasa kasihan sedikit pun.
Bulu kuduk Kenzie seketika berdiri merinding mendengar ketukan tongkat Arvendel yang berbenturan dengan batu. Tanpa berani membuang waktu untuk memprotes lagi, ia langsung melepas pakaian atasnya, memamerkan tubuh tegapnya yang penuh pahatan otot besi, lalu melompat ke atas batu pijakan di bawah guyuran air terjun sedingin es.
*Bakk! Bakk! BLAM!..*
Suara hantaman mengerikan kembali bergema membelah malam di Gunung Celestara. Seratus pukulan mendarat telak di punggung dan dada Kenzie. Namun, Arvendel sebenarnya tahu apa yang ia lakukan; setiap pukulan dari tongkat naga gajah itu justru membantu meremukkan dan memaksa Lautan Dantian Kenzie untuk menyerap seratus persen sisa esensi spiritual dari daging monster babi hutan es dan ayam pegar api secara instan. Di tengah rasa sakit yang menderu, tubuh Kenzie justru memancarkan pendaran cahaya keperakan yang semakin padat dan kokoh.
...----------------...
Setelah ritual hukuman yang melelahkan itu selesai, Kenzie terduduk terengah-engah di atas batu dengan punggung memerah, sementara Arvendel tampak menyandarkan tongkatnya dengan napas yang teratur. Kejengkelan di wajah sang Master perlahan mereda, berganti dengan raut wajah yang mendadak berubah menjadi sangat serius.
Arvendel merogoh jubahnya, mengeluarkan gulungan pesan yang diberikan oleh Vargan untuk kenzie.
"Hukumanmu selesai, Kenzie. Sekarang, pasang telingamu baik-baik karena rencana kita berubah total," ucap Arvendel, suaranya memberat.
Kenzie menyeka keringat di dahinya, menatap gurunya dengan serius. "Berubah? Apa yang terjadi, Master?"
"Vargan telah menitipkan pesan padamu. Yaitu adikmu Reinzie, beserta Chelsea, telah resmi dilepas untuk mengembara mengelilingi dunia luar. Vargan ingin mereka mendapatkan pengalaman bertarung secara nyata di tengah kerasnya konflik benua," jelas Arvendel datar. "Melihat kelakuanmu yang masih sempat bermain-main saat aku pergi, aku menyadari satu hal. Latihan di atas gunung ini sudah mencapai batasnya. Kamu butuh bahaya nyata, pertarungan nyata yang mempertaruhkan hidup dan mati tanpa ada aku yang mengawasimu."
Arvendel menunjuk ke arah jalur turun gunung. "Mulai besok pagi, kamu akan pergi mengembara sendirian. Tujuan pertamamu adalah Kerajaan Elyndor. Masuklah dan bergabunglah ke dalam Akademi Bela Diri yang ada di sana. Sembunyikan nama belakang Laurent-mu, asah Jurus Langkah Pembunuh Langit dan Jurus Bulan Berkabutmu di antara para jenius luar, dan bersiaplah hingga waktu perburuan roh Zatrah tiba."
Kenzie tertegun, namun detik berikutnya, seulas senyuman penuh tekad dan antusiasme yang membara terukir di wajahnya. "Petualangan nyata... Menarik sekali."
...----------------...
Keesokan paginya, sebelum Kenzie berpamitan dengan arvendel. Terlihat arvendel memegang sesuatu yang terbungkus rapi oleh kain hitam yang membungkus sebuah benda yang terlihat misterius.
"Sekarang adalah saatnya memberikan hadiah terakhir kepadamu kenzie." arvendel begitu terlihat serius berkata pada Kenzie
Sontak Kenzie melangkah mundur, bersiap menghindar dari arvendel seolah ia terbiasa dengan "hadiah" yang di mana seringkali kata hadiah diucapkan oleh arvendel adalah sesuatu yang berkaitan dengan hukuman atau latihan yang sangat berat sehingga kenzie secara tidak langsung akan menanggapinya dengan waspada.
"Haiss... Tidak perlu begitu tegang, ini benar-benar hadiah yang akan kuberikan padamu" ujar arvendel dengan santai
"Apakah benar master?... Biasanya anda memberi hadiah yang menyiksaku!.." utas kenzie secara jujur
"Bocah kamu mulai meragukan gurumu ya karena sering di hukum!.. Ini ambil barang milikmu." kata arvendel dengan senyum
Kenzie terlihat ragu menerima hadiah dari arvendel, setelah mengambil barang itu ia mulai penasaran hadiah apa yang di berikan padanya.
"Aku akan melihat hadiah apa yang master berikan"
"Silahkan lihatlah hadiahmu itu."
"Kalau begitu aku akan membukanya.." Kenzie mulai membuka kain penutup tersebut dan terlihat sebuah kotak panjang seperti kotak penyimpanan harta berharga
Kenzie menaikan sebelah alisnya karena sedikit heran sebab arvendel memberi hadiah yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
...****************...
setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..