Ashela Safira, seorang gadis yang membanting tulang demi melunasi utang ayahnya, terpaksa merelakan kesucian yang ia jaga selama ini direnggut oleh pria asing.
Merasa harga dirinya telah hancur, ia memilih melarikan diri dan menghilang setelah malam panjang itu. Namun, di tengah pelariannya, Ashela justru mendapati dirinya hamil.
Sementara itu, Elvano Gavian Narendra, seorang dokter berhati dingin, terbangun dan mendapati gadis yang bersamanya telah pergi.
Rasa sesal seketika menghantamnya saat melihat bercak merah di atas ranjang, yaitu sebuah tanda bahwa ia telah menodai seorang gadis asing yang bahkan tidak ia ketahui identitasnya.
Bagaimana kelanjutannya???
YUKKKK GAS BACAAAA!!!
IG @LALA_SYALALA13
YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mirip Sekali
Lampu neon di langit-langit koridor Narendra Hospital terasa terlalu terang, seolah-olah sedang menguliti penyamaran Ashela inci demi inci. Ia duduk di bangku tunggu kayu di depan ruang stabilisasi anak, meremas tas ranselnya yang kumal dengan tangan yang dingin.
"Ibu Leonardo?" suara seorang perawat memecah keheningan yang menyesakkan itu.
Ashela tersentak, hampir melompat dari kursinya.
"I-iya, saya."
"Dokter penanggung jawab ingin bicara mengenai kondisi putra Ibu sebelum kita pindahkan ke ruang observasi intensif. Silakan ikut saya ke ruang konsultasi di dalam." ucap sang perawat.
Ashela ragu sejenak. Setiap langkah yang ia ambil lebih dalam ke rumah sakit ini terasa seperti berjalan menuju jebakan. Namun, memikirkan kondisi Leo yang berada di balik pintu kaca itu membuatnya tak punya pilihan. Ia bangkit, melangkah dengan bahu yang merosot, mengikuti punggung perawat itu masuk ke dalam area steril.
"Tunggu di sini ya, Bu. Dokternya sedang melakukan pemeriksaan terakhir pada Leo di dalam," ujar perawat itu sambil membukakan pintu sebuah ruangan yang dindingnya dipenuhi sertifikat medis dan monitor pemantau jantung.
Ashela masuk dan berdiri di sudut ruangan, jauh dari kursi utama. Ia menunduk, menatap ujung sandalnya yang berdebu. Pikirannya berkecamuk.
'Tolong, siapa pun dokternya, asalkan bukan dia. Tolong.' batinnya berdoa.
Pintu ruangan terbuka. Langkah kaki yang tegas dan ritmis terdengar di atas lantai granit. Suara gesekan jas dokter yang kaku mengikuti gerakan tubuh sang pendatang. Aroma antiseptik bercampur dengan wangi maskulin yang samar namun sangat familier seketika memenuhi indra penciuman Ashela.
Aroma itu... Ashela membeku. Tubuhnya seolah terkunci, darahnya terasa berhenti mengalir. Ia mengenali aroma ini.
Sebuah memori yang terkunci rapat selama hampir empat tahun mendobrak masuk ke benaknya yaitu aroma yang sama yang ia hirup di sela-sela napasnya saat ia terhimpit di bawah tubuh seorang pria di kamar 1802.
"Selamat malam. Maaf membuat Anda menunggu," suara rendah dan berwibawa itu terdengar.
Ashela perlahan, dengan gerakan yang sangat kaku, mengangkat wajahnya sedikit. Dan di sana, hanya berjarak tiga meter darinya, berdiri sosok yang menjadi pusat dari semua ketakutannya.
Elvano Gavian Narendra.
Pria itu tampak lebih matang, lebih dominan, dan jauh lebih dingin daripada terakhir kali Ashela melihatnya di majalah. Ia sedang memegang map medis berwarna biru yaitu map milik Leo.
Elvano tidak langsung menatap Ashela tapi ia masih fokus membaca lembar demi lembar catatan medis dari rumah sakit daerah.
Ashela merasa dunianya runtuh. Seluruh persendiannya lemas hingga ia harus berpegangan pada pinggiran meja agar tidak jatuh tersungkur. Ia ingin lari, ia ingin berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Ketakutan yang amat sangat membuatnya tidak bisa bernapas. Ia hanya bisa mematung, menatap pria yang telah memberinya seorang anak, namun tidak pernah tahu akan keberadaannya.
Elvano akhirnya mendongak. Ia menatap sosok wanita di depannya yaitu seorang wanita dengan jaket kusam, berantakan. namun di sisi lain ada sesuatu yang salah saat dia melihat wajah teduh namun begitu kuat itu.
Di matanya, Ashela hanyalah seorang ibu dari daerah yang sedang terguncang karena kondisi anaknya. Ia sama sekali tidak mengenali wanita yang pernah menghabiskan malam bersamanya itu.
Baginya, pertemuan singkat di bawah pengaruh obat empat tahun lalu telah menyisakan bayangan yang kabur, sementara wanita di hadapannya sekarang terlihat begitu... biasa. karena semua terjutu hanya pada wanita empat tahun lalu.
"Silakan duduk, Bu. Tidak perlu takut," ucap Elvano datar, menyangka kegemetaran Ashela adalah bentuk kepanikan seorang ibu.
Ashela tidak bergerak. Ia tetap berdiri di pojok, menunduk sedalam mungkin hingga tudung jaketnya menutupi matanya. Ia takut jika ia menatap mata Elvano, pria itu akan melihat rahasia yang ia simpan.
"Saya Dokter Elvano, spesialis bedah jantung yang akan menangani Leonardo." lanjut Elvano sambil duduk di kursinya.
"Saya sudah mempelajari kasus putra Anda. Kelainannya cukup serius, tapi Yayasan sudah menjamin semuanya. Anda tidak perlu khawatir soal biaya." lanjutnya begitu profesional sebagai dokter dan menepis semua pikiran pribadinya.
Ashela hanya mengangguk pelan, sangat pelan hingga hampir tak terlihat. Ia berusaha menjaga agar suaranya tidak keluar. Ia takut suaranya akan membongkar identitasnya.
"Bisa Anda ceritakan sejak kapan Leo mulai sering membiru?" tanya Elvano lagi, pulpennya siap mencatat.
Ashela berdehem kecil, mencoba mengubah nada suaranya agar terdengar lebih serak dan berat.
"Se-sejak usia dua tahun, Dok." bisiknya lirih, hampir tidak terdengar.
Elvano mengerutkan dahi sejenak, merasa suara itu memiliki getaran yang aneh, namun ia segera mengabaikannya.
"Dua tahun? Itu waktu yang cukup lama untuk kelainan seberat ini. Seharusnya segera dibawa ke kota lebih awal. Untungnya, jantungnya masih menunjukkan daya tahan yang luar biasa." ucap Elvano dengan mode serius.
Ashela tidak berani melihat ke arah Elvano karena ketakutannya yang begitu besar.
Elvano bangkit berdiri. "Mari, ikut saya melihat Leo. Dia sudah sadar sebentar dan sedang dipindahkan ke boks observasi." ajak Elvano.
Ashela terpaksa mengikuti langkah Elvano keluar ruangan menuju area observasi anak. Setiap langkah di belakang pria itu terasa seperti berjalan di atas bara api.
Punggung lebar Elvano yang terbalut jas dokter putih tampak begitu kokoh, memberikan kontras yang menyakitkan dengan tubuh Ashela yang ringkih.
Mereka sampai di depan sebuah boks kaca besar. Di dalamnya, Leo berbaring dengan berbagai kabel sensor di dadanya. Namun, matanya terbuka sedikit, menatap langit-langit dengan sayu.
Elvano mendekati boks itu. Sebagai dokter, ia sudah melihat ribuan anak sakit, namun saat matanya menatap wajah Leo, sebuah perasaan asing mendadak menghujam jantungnya. Ia tertegun.
Ia menatap garis rahang Leo yang tegas, hidung yang mancung, dan bentuk alis yang melengkung sempurna. Ada sesuatu yang sangat... akrab pada wajah bocah tiga tahun ini. Elvano merasa seperti sedang melihat cermin masa lalunya.
'Mirip sekali,' batin Elvano.
Ia teringat foto masa kecilnya yang sering dipajang Mama Zoya di ruang keluarga. Struktur tulang pipi Leo, cara matanya sedikit menyipit saat menahan sakit dan itu adalah dirinya dalam versi mini.
Untuk beberapa detik, Elvano terpaku, tangannya tertahan di atas kaca boks. Hatinya berdesir hebat, sebuah denyutan yang tidak bisa ia jelaskan secara medis.
Ashela yang berdiri agak jauh, melihat perubahan ekspresi Elvano. Ia merasa jantungnya seolah akan melompat keluar. Ia tahu apa yang Elvano lihat. Ia tahu kemiripan itu sangat mencolok.
"Anak ini..." Elvano bergumam pelan, suaranya mengandung nada keheranan.
Ashela menahan napas. Ia siap jika Elvano tiba-tiba berbalik dan menuduhnya. Ia siap jika rahasianya terbongkar sekarang juga.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
semoga mereka bisa berkumpul bersama...
next...
semangat othor💪💪💪💪
di double up