Astrid mengorbankan segalanya untuk keluarga. Namun, pengorbanannya justru dibalas dengan hinaan.
Setelah melahirkan, tubuh Astrid berat badannya naik drastis hingga membuat Lucas, suaminya yang seorang dokter, merasa malu memiliki istri sepertinya. Tak hanya itu, Marta, sang mertua, juga menganggap Astrid sebagai wanita tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan maupun prestasi yang bisa dibanggakan.
Puncaknya terjadi saat Lucas dan Marta mempermalukannya di depan banyak tamu undangan. Harga dirinya diinjak-injak tanpa belas kasihan, seolah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah berarti. Hari itu, Astrid memutuskan untuk berhenti menangis.
Dengan bantuan Mateo, Astrid bangkit dan mengubah hidupnya. Saat satu per satu kesuksesan berhasil diraihnya, orang-orang yang dulu merendahkan mulai menyadari kesalahan mereka.
Kini giliran mereka yang memohon, sementara Astrid tak lagi peduli. Karena ada penghinaan yang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah bisa dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pertanyaan Astrid masih menggantung di udara. Ia menatap lurus ke mata mertuanya yang sejak tadi dipenuhi kemarahan.
Keheningan langsung memenuhi ruang tamu. Tidak ada jawaban atau kemarahan yang biasanya selalu keluar dari mulut Marta. Wanita itu kehilangan kata-kata.
Bibir Marta bergerak pelan seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, tidak ada suara yang keluar. Tatapannya yang semula tajam perlahan goyah. Ia bahkan tidak mampu menatap Astrid terlalu lama.
Pandangan itu akhirnya beralih ke arah lain. Seolah menghindar.
Astrid merasakan dadanya seperti diremas. Bukan karena ia memenangkan perdebatan. Melainkan karena akhirnya ia mendapatkan jawaban yang selama ini tidak pernah ingin ia ketahui.
Marta tahu semua perbuatan Lucas. Mungkin tidak semuanya. Tetapi wanita itu tahu bahwa putranya telah melakukan sesuatu yang salah. Dia pun memilih diam. Tetap memilih membela Lucas dan memilih menyalahkan sang menantu.
Napas Astrid terasa berat. Ada luka lama yang kembali terbuka. Luka yang selama ini ia tutup rapat-rapat demi menjaga hubungan keluarga mereka.
"Apa Mama tahu rasanya?" tanyanya pelan.
Mata Astrid mulai berkaca-kaca. Namun kali ini ia tidak berusaha menyembunyikannya. "Apa Mama tahu rasanya saat mengetahui suami sendiri tidur dengan wanita lain?"
Marta langsung menegang. Rahangnya mengeras.
"Astrid ...." Suara wanita itu terdengar jauh lebih lemah dibandingkan beberapa menit lalu.
Namun, Astrid tidak berhenti. Ia sudah terlalu lama diam. Terlalu lama memendam semuanya sendirian.
"Apa Mama tahu rasanya saat menemukan satu kebohongan demi satu kebohongan?"
Suara Astrid mulai bergetar. Bukan karena lemah, melainkan karena terlalu banyak luka yang selama ini dipaksa tinggal di dalam dadanya.
"Apa Mama tahu rasanya saat sadar bahwa laki-laki yang di percaya sepenuh hati ternyata hanya memanfaatkan saja?"
Marta menggigit bibirnya. Tangannya mengepal di samping tubuh. Namun, ia tidak bisa membantah. Karena semua yang dikatakan Astrid adalah kenyataan.
Dan kenyataan memang sering kali jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
"Aku tidak membenarkan perselingkuhan Lucas," ucap Marta akhirnya sambil menundukkan pandangan.
Nada suaranya mulai melemah. "Tapi perceraian bukan solusi."
Astrid tertawa kecil. Suara tawanya membuat Marta kembali mengangkat kepala. Tawa itu sama sekali tidak terdengar bahagia. Yang terdengar hanya kepahitan dan kelelahan.
"Lucu sekali, ya," gumam Astrid.
Ia menggeleng pelan. Lalu mengusap sudut matanya yang mulai basah. Tatapannya kembali menajam.
"Sejak tadi Mama terus bicara soal mempertahankan rumah tangga. Tapi apakah Lucas pernah mempertahankan hubungannya ini?"
Marta terdiam.
Astrid melangkah mendekat. Tidak ada lagi rasa takut seperti dulu..Tidak ada lagi keinginan untuk menyenangkan semua orang.
"Apa Lucas memikirkan keluarga kami saat dia selingkuh?" Ia menggeleng sendiri. "Tidak."
"Apa Lucas memikirkan Ariana?" Mata Astrid mulai memerah saat menyebut nama putrinya. "Tidak."
"Apa Lucas memikirkanku?" Astrid tersenyum getir. Senyum yang lebih mirip luka daripada kebahagiaan. "Juga tidak pernah."
Ruangan kembali sunyi. Kali ini bahkan Marta tidak sanggup menyela.
Di sudut ruang keluarga, Ariana yang sejak tadi memperhatikan mereka mulai terlihat gelisah. Gadis kecil itu memeluk bonekanya erat-erat. Matanya berpindah dari Astrid ke Marta dengan bingung.
"Mama ...," panggil Ariana pelan.
Suara kecil itu membuat hati Astrid langsung mencelos. Secepat apa pun ia ingin melawan, Ariana tetap tidak boleh menjadi korban.
Astrid segera berjalan mendekati putrinya. Ia berjongkok lalu mengusap rambut Ariana dengan lembut. "Ada apa, Sayang?"
Ariana menatap wajah ibunya. "Mama nangis?"
Pertanyaan polos itu hampir membuat Astrid kembali kehilangan kekuatannya. Namun, ia memaksakan senyum. Senyum yang rapuh.
Senyum yang hanya ingin membuat putrinya tenang. "Nggak, Sayang."
Astrid mengusap pipi Ariana perlahan. "Mama baik-baik aja."
Ariana masih terlihat ragu. Namun, akhirnya mengangguk. "Ayo, masuk ke kamar dulu. Main gambar, ya."
Ariana menurut. Sebelum pergi, gadis kecil itu sempat memeluk Astrid sebentar. Pelukan kecil yang justru membuat hati Astrid semakin kuat.
Setelah pintu kamar tertutup, Astrid berdiri kembali. Lalu, menghadap Marta. Kali ini tidak ada lagi yang ingin ia sembunyikan. Tidak ada lagi kepura-puraan.
"Selama ini aku diam karena menghormati Ibu."
Suara Astrid kembali tenang. Namun, jauh lebih tegas. "Aku menahan diri karena aku masih menganggap Ibu keluarga."
Marta perlahan mengangkat wajah.
"Tapi jangan pernah mengira diam aku berarti saya bodoh."
Kalimat itu membuat Marta langsung membeku.
Astrid menatapnya tanpa berkedip. "Aku tahu Lucas seperti apa. Atahu apa yang dia lakukan. Aku juga tahu kebohongan yang dia sembunyikan."
Mata Marta perlahan membesar. Jantungnya mulai berdetak tidak nyaman. Dia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya dalam diri menantunya, keberanian.
"Astrid ...."
"Aku juga tahu apa yang sedang Lucas incar."
Suara Astrid terdengar semakin mantap. Setiap kata yang keluar seolah memutus rantai yang selama bertahun-tahun mengikatnya.
"Aku tahu selama ini dia hanya memanfaatkan cintaku saja."
Napas Astrid bergetar. Namun, sorot matanya tidak lagi goyah. "Dulu aku sangat mencintainya. Karena itu aku selalu percaya kepada Lucas."
Air mata kembali jatuh di pipi Astrid, tetapi kali ini tidak menghapusnya. Karena ia tidak malu lagi dengan luka yang pernah ia rasakan.
"Dan justru karena cinta itu, aku menjadi orang yang paling mudah dia bohongi."
Marta tidak mampu berkata apa-apa.
Sementara Astrid berdiri tegak di hadapannya. Bukan lagi sebagai seorang istri yang memohon untuk dicintai. Melainkan sebagai seorang wanita yang akhirnya membuka mata. Wanita yang akhirnya berhenti memberi kesempatan kepada orang-orang yang terus menyakitinya.
Marta menyadari bahwa Astrid yang sekarang bukan lagi menantu yang bisa ditekan dengan kata-kata atau rasa bersalah. Sang menantu sudah berubah. Dan perubahan itu membuat Marta mulai merasa takut.
Di saat yang sama, ratusan kilometer dari rumah mereka, Lucas berdiri sendirian di balkon hotel tempat seminar berlangsung. Angin berembus cukup kencang, mengibaskan ujung kemejanya.
Dari lantai tinggi itu, Lucas melihat kesibukan di Kota Diamond. Jalanan dipenuhi kendaraan yang bergerak tanpa henti. Gedung-gedung pencakar langit berdiri megah di bawah langit yang luas.
Namun Lucas sama sekali tidak menikmati pemandangan itu. Tatapannya memang mengarah ke luar, tetapi pikirannya berada di tempat lain. Tangannya masih menggenggam ponsel dengan erat. Terlalu erat sampai urat-urat di punggung tangannya terlihat menonjol dan rahangnya mengeras.
Sejak semalam, kepalanya dipenuhi satu kalimat yang terus berputar tanpa henti.
"Astrid sudah mengajukan gugatan." Kalimat itu datang dari seorang teman lamanya yang bekerja sebagai hakim di pengadilan.
Awalnya Lucas mengira temannya hanya sedang bercanda. Bahkan ia sempat tertawa saat mendengarnya.
"Jangan ngaco," katanya waktu itu sambil tersenyum. "Astrid nggak mungkin melakukan itu."
Bagaimana mungkin Astrid menggugatnya? Menurut Lucas, beberapa minggu terakhir semuanya berjalan sesuai rencana. Ia mulai bersikap lebih perhatian. Ia mengajak Astrid makan malam. Ia membelikannya hadiah. Ia menunjukkan perhatian yang selama ini sengaja ia abaikan.
Astrid juga tidak menunjukkan tanda-tanda perlawanan. Wanita itu tetap bersikap tenang. Tetap tersenyum manis setiap melihat kepadanya. Tetap menjalani hari-hari seperti biasa.
Tidak ada pertengkaran atau ancaman di antara mereka. Tidak ada tanda bahwa Astrid sedang menyiapkan sesuatu di belakangnya. Karena itulah Lucas langsung menolak mempercayai kabar tersebut.
Setelah telepon itu berakhir, rasa tidak nyaman mulai muncul. Lucas kemudian menghubungi beberapa orang untuk mencari informasi dari berbagai arah.
Dan semakin banyak yang ia cari, semakin sulit ia menyangkal kenyataan. Astrid memang sudah mengajukan gugatan cerai.
Bukan hanya sekadar ancaman dan rencana. Melainkan gugatan yang benar-benar sudah masuk ke pengadilan melalui pengacaranya, William.
Saat mendapatkan kepastian itu, wajah Lucas langsung berubah gelap. Ia masih ingat bagaimana ia berdiri di kamar hotel semalam dengan perasaan tidak percaya.
Lucas merasa kehilangan kendali atas situasi. Selama ini Astrid selalu bisa ditebak. Selalu bisa diarahkan. Selalu bisa dibujuk. Namun, kali ini wanita itu bergerak diam-diam, tanpa memberitahunya. Tanpa memberinya kesempatan untuk mencegah. Tanpa menunjukkan sedikit pun bahwa semua itu sedang dipersiapkan.
Lucas mengepalkan ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Berani sekali kamu, Astrid!" gumamnya dengan suara rendah.
Nada suara Lukas terdengar seperti geraman yang tertahan. Dadanya dipenuhi kemarahan. Ia merasa dipermainkan dan merasa dikhianati. Merasa ditikam dari belakang.
Ironisnya, tidak sedikit pun terlintas dalam pikiran Lucas bahwa selama ini justru dialah yang mengkhianati Astrid. Lucas tidak pernah melihat dirinya sebagai pihak yang bersalah.
Di dalam pikiran Lucas, semua yang ia lakukan selalu memiliki alasan. Semua yang ia lakukan selalu bisa dibenarkan. Dan karena itulah ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Astrid berani mengambil keputusan tanpa persetujuannya. Tatapannya berubah semakin dingin.
Pikirannya langsung melompat pada hal-hal yang selama ini berusaha ia pertahankan. Rumah warisan, aset-aset atas nama Astrid. Seluruh kekayaan yang selama ini perlahan ia rencanakan untuk kuasai.
Semuanya kini berada dalam ancaman. Jika perceraian terjadi lebih cepat dari yang ia perkirakan, maka seluruh rencananya bisa berantakan. Lebih buruk lagi, ia belum mendapatkan apa yang selama ini ia incar.
Rumah warisan yang nilainya terus meningkat. Belum memindahkan aset-aset tertentu ke dalam kendalinya.
Belum menyelesaikan seluruh langkah yang sudah bertahun-tahun ia susun. Karena itulah pagi-pagi sekali, sebelum seminar dimulai, Lucas langsung menghubungi Marta. Ia menceritakan semuanya dengan versinya sendiri.
Menggambarkan dirinya sebagai suami yang berusaha mempertahankan rumah tangga. Menggambarkan Astrid sebagai istri yang bertindak gegabah. Sebagai wanita yang tidak tahu berterima kasih. Sebagai pihak yang sedang menghancurkan keluarga mereka. Dan seperti yang sudah ia duga, Marta langsung mempercayainya. Tanpa banyak bertanya. Tanpa mencari penjelasan dari Astrid terlebih dahulu. Ibunya segera memihak dirinya.
Hal itu sempat membuat Lucas merasa tenang. Ia yakin Marta akan mampu menekan Astrid seperti biasanya. Membuat wanita itu mengalah dan membatalkan gugatan. Membuat semuanya kembali berada dalam kendalinya.
Namun, ada satu hal yang tidak diketahui Lucas. Satu hal yang sama sekali tidak masuk dalam perhitungannya. Saat ini, di rumah yang sedang didatangi Marta, Astrid bukan lagi wanita yang sama. Astrid yang dulu sudah tidak ada.
Wanita yang selalu menangis diam-diam di kamar. Wanita yang selalu memaafkan setiap ada masalah yang menimpanya. Wanita yang rela mengorbankan harga dirinya demi mempertahankan rumah tangga. Semua itu perlahan telah menghilang. Digantikan oleh wanita yang mulai melihat kenyataan apa adanya. Seseorang yang sudah lelah menjadi korban. Yang akhirnya memilih melindungi dirinya sendiri dan masa depan Ariana.
Lucas menatap langit, perasaan tidak nyaman kembali merayapi dadanya. Memang dia tidak pernah suka jika kehilangan kendali. Tanpa ia sadari, wanita yang selama ini ia anggap paling mudah dimanipulasi justru sedang menjadi ancaman terbesar bagi seluruh rencananya.