Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.
"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix
bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3: Membakar Lemak, Menempa Otot
BAB 3: Membakar Lemak, Menempa Otot
Pukul 16.30 WIB, lapangan kompleks perumahan di daerah Jakarta Timur itu tampak sepi. Hanya ada beberapa anak kecil yang bermain layangan di pojok lapangan dan kepulan asap pembakaran sampah yang membubung rendah di udara sore.
Velix berdiri di tepi lapangan, mengenakan kaus oblong putih polos yang sudah agak menguning dan celana pendek olahraga usang. Di bawah kakinya, ada sebuah bola sepak berbahan karet murah seharga dua puluh ribu rupiah yang dia pinjam dari tetangga sebelah rumah.
Mentalitas pria 26 tahunnya kembali bekerja dengan logis. Velix tahu, kejutan kecil di sekolah tadi pagi belum ada apa-apanya. Untuk bisa bersaing di dunia sepak bola modern—bahkan untuk sekadar masuk radar pemandu bakat lokal—fisik anak usia 14 tahun miliknya saat ini adalah sebuah lelucon. Dia kurus, pernapasannya pendek, dan otot-ototnya belum terbentuk.
[Misi Harian: Lari 5 KM dan Juggling Bola 100 Kali.]
[Waktu Tersisa: 3 Jam 15 Menit.]
Layar hologram biru Sistem berkedip di sudut matanya, seolah menantang.
"Lima kilometer dengan tubuh ini, ya?" Velix tersenyum tipis. Tatapan matanya berubah, mode serius dan fokusnya langsung terkunci. "Mari kita lihat sejauh mana batas tubuh ini."
Semprit! Suara peluit imajiner berbunyi di kepalanya, dan Velix mulai menggerakkan kakinya untuk berlari mengitari lapangan kompleks yang panjang satu putarannya sekitar 200 meter. Artinya, dia harus melakukan 25 putaran.
Pada lima putaran pertama, Velix masih merasa aman. Ketenangan mentalnya membantu mengatur ritme napas—tarik dari hidung, embuskan dari mulut.
Namun, memasuki putaran kesepuluh, realitas fisik remaja tanpa bakat mulai menghantamnya. Dadanya terasa panas seperti terbakar. Udara Jakarta sore itu terasa begitu berat menyumbat paru-parunya. Keringat deras mengucur hingga membasahi matanya, menimbulkan rasa perih. Kakinya yang kurus mulai terasa seperti dipasangi timbal, berat untuk diangkat.
"Sial... baru segini tubuhku sudah mau tumbang?" bisik Velix di tengah deru napasnya yang memburu.
Di masa depannya tahun 2026, dia sering melihat video latihan gila para pemain Premier League. Mereka berlari belasan kilometer setiap pertandingan dengan intensitas tinggi. Jika dia menyerah di lapangan kompleks ini, mimpi memakai jersei langit biru Manchester City hanya akan menjadi lelucon fiksi ilmiah.
"Belum... aku belum selesai!" Velix menggertakkan giginya. Gairah mudanya bergolak, menolak untuk berhenti. Dia terus memaksakan kakinya melangkah, mengabaikan rasa perih di otot pahanya.
Ketika putaran ke-25 akhirnya selesai, Velix langsung jatuh bertumpu pada kedua lututnya di atas rumput liar. Napasnya terdengar putus-putus, jantungnya berdegup sangat kencang hingga telinganya berdengung.
[Bagian 1 Misi Harian Selesai: Lari 5 KM.]
[Peringatan: Toleransi Fisik Tuan Rumah berada di batas 85%. Disarankan istirahat 5 menit sebelum melanjutkan Bagian 2.]
Velix membaringkan tubuhnya di rumput, menatap langit sore Jakarta yang mulai memerah. Meskipun sekujur tubuhnya protes karena kelelahan, ada kepuasan batin yang luar biasa yang belum pernah dia rasakan selama bekerja di kantor dulu. Di sini, setiap tetes keringatnya terasa memiliki tujuan yang jelas.
Setelah lima menit, Velix bangkit berdiri. Tubuhnya masih lemas, tapi matanya berbinar penuh antusias. Sisi gila bolanya keluar. Sekarang adalah waktunya bagian kedua: juggling 100 kali.
Tanpa bantuan visual Sistem seperti tadi pagi, Velix harus mengandalkan insting dan koordinasi tubuhnya sendiri yang baru saja meningkat sedikit.
Dia mengangkat bola dengan ujung kakinya.
Satu... dua... tiga...
Pada hitungan ke-20, bola melenceng karena angin sore. Velix dengan panik menjulurkan kakinya, namun bola telanjur jatuh ke tanah.
[Juggling gagal. Hitungan diulang dari 0.]
Velix tidak frustrasi. Ketenangan pria dewasanya membuat dia paham bahwa kegagalan adalah bagian dari proses memori otot. Dia mengambil bola, menarik napas, dan memulai kembali.
Satu... dua... tiga... lima puluh... tujuh puluh...
Kaki kanan, kaki kiri, paha, sesekali sundulan kepala kecil untuk menyelamatkan bola yang melambung terlalu tinggi. Fokus Velix terkunci total pada objek bulat di depannya. Baginya, dunia sekitar seolah melambat.
Sembilan puluh delapan... sembilan puluh sembilan... SERATUS!
Plak! Velix menangkap bola tersebut dengan kedua tangannya saat hitungan mencapai angka seratus. Wajahnya langsung pecah dalam senyuman lebar yang sangat puas. Dia tertawa kecil sendirian di tengah lapangan.
Ting!
[Misi Harian Pertama Berhasil Diselesaikan!]
[Hadiah Telah Dikirimkan:]
[+0.1 Stamina (Kini: 40.1)]
[+0.1 Ball Control (Kini: 35.6)]
[+2 System Points (SP) (Total SP Anda: 7 SP)]
Velix langsung duduk di pinggir lapangan, buru-buru membuka menu Toko Sistem di pikirannya dengan rasa penasaran yang membuncah. Dia ingin tahu seberapa jauh jaraknya dari skill pemain bintang dunia.
'Sistem, buka Toko Skill Tier Perunggu,' perintahnya tidak sabar.
Layar hologram menampilkan deretan skill dengan ikon siluet pemain:
[TOKO SKILL - TIER PERUNGGU (Harga: 50 - 100 SP)]
- [Skill: Ketenangan Penalti Frank Lampard] - Harga: 60 SP
- [Skill: Operan Pendek Dasar Xavi Hernandez (Fase 1)] - Harga: 75 SP
- [Skill: Visi Posisi Dasar Thomas Müller] - Harga: 80 SP
...
Velix menghela napas melihat harga-harganya. Poinnya saat ini baru 7 SP. Berarti dia membutuhkan waktu sekitar satu bulan latihan harian konsisten tanpa bolos hanya untuk membeli satu skill dasar Tier Perunggu.
"Ternyata memang tidak instan," gumam Velix, namun matanya tidak menyiratkan kekecewaan. Justru sebaliknya, dia merasa tertantang. Sistem ini adil. Dia harus membayar setiap keahlian dengan kerja keras.
Saat Velix sedang asyik memandangi menu Sistem, sebuah bayangan tinggi tiba-tiba menghalangi cahaya matahari sore yang meredup di depannya.
Velix mendongak. Di hadapannya berdiri Danu, kapten tim sekolahnya tadi pagi, masih mengenakan jersi latihan SSB-nya lengkap dengan sepatu bola bermerek mahal. Di belakang Danu, ada tiga anak buahnya dari tim sekolah.
Danu menatap bola karet murah di tangan Velix dengan senyuman meremehkan.
"Hei, Velix. Tadi pagi di sekolah lu cuma beruntung, 'kan?" tanya Danu dengan nada menantang, melangkah maju ke tengah lapangan. "Gua nggak percaya anak ampas kayak lu tiba-tiba bisa juggling beneran. Gimana kalau kita buktiin di sini? Satu lawan satu."
Velix menatap Danu. Alih-alih takut atau emosi seperti anak remaja pada umumnya, Velix hanya menatapnya dengan pandangan tenang dan datar seorang pria dewasa yang sedang melihat anak kecil merajuk.
Tantangan dari kapten SMP? Di dalam kepala Velix, ini adalah kesempatan emas lainnya yang sengaja diantarkan takdir.