Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 12
Setelah Nadira ningtyas menyerahkan bayi masih merah, yang sangat membutuhkan ibu biologisnya, keluarga Guntara sama sekali tidak mau mempedulikannya.
Kala itu yang menggendong bayi belum dikasih nama, tidak memiliki akte kelahiran, adalah bu Inggit.
Hatinya iba, dia mendengar semuanya, fakta menyakitkan, caci makian ke bayi sama sekali tidak tahu apa-apa.
Dengan berani dan berurai airmata – bu Inggit, pak Basri, berlutut di hadapan Sarda Guntara dan Serlina. Mereka memohon diizinkan merawat, dan membesarkan.
Pasangan suami istri itu belum dikaruniai anak, dan pak Basri dinyatakan mandul. Mereka sudah lima tahun bekerja di hunian Guntara – memutuskan hal besar demi bisa merasakan jadi orang tua, sekaligus melindungi bayi tak berdosa.
Awalnya Ayunda hendak dibuang ke panti asuhan, tapi urung. Tiba-tiba Serlina memiliki niat jahat, demi melampiaskan sakit hati akibat perselingkuhan sang suami – dia berambisi membalas lewat putri haram Nadira ningtyas. Sebab mantan model majalah dewasa itu terlanjur melakukan antisipasi dengan melarikan diri ke luar negeri, sulit tersentuh.
Izin pun diberi. Serlina menggunakan kekuasaan dan nama besar Guntara, dalam waktu singkat bayi cantik memiliki mata mempesona, tatapan polos, diberi nama Ayunda oleh orang tua angkatnya, telah memiliki akte kelahiran yang mana nama Basri sebagai ayah biologis.
Ayunda juga masuk ke dalam kartu keluarga pak Basri dan bu Inggit, diakui anak mereka.
Pasangan suami istri itu begitu menyayangi Ayunda, para asisten rumah tangga lainnya juga baik. Mereka mencoba melindungi sebisa mungkin karena terhalang status yang hanya seorang pekerja biasa.
Namun, ambisi Serlina tidak pernah padam, malah semakin membara. Dengan berjalannya waktu, Ayunda tumbuh menjadi sosok anak perempuan ceria, cantik, gen ayah dan ibu biologisnya melekat pada dirinya.
Ada kemiripan wajah Sarda serta Nadira ningtyas pada muka Ayunda, membuat kebencian Serlina bertambah besar.
Serlina menghasut kedua anak kandungnya untuk ikutan membenci Ayunda, menanamkan kejahatan dalam hati mereka.
Hari-hari pun berubah berat, Ayunda yang masih berumur enam tahun, dan mulai memasuki masa duduk di bangku sekolah dasar, dihancurkan hatinya dengan fakta menyakitkan.
Rekaman cctv kala dia diserahkan, setiap perkataan terdengar jelas di telinga gadis kecil pemilik senyum menenangkan. Dunianya hancur, sedikit banyaknya dia paham arti dijual, dibuang.
Semenjak itu, Ayunda sering mendapatkan perlakuan semena-mena. Haknya sebagai seorang anak dirampas, padahal dia tidak pernah mencoba dekat dengan keluarga Guntara, sebab selama ini tinggal di paviliun belakang bersama para asisten rumah tangga.
Tahun pun berganti, Ayunda masih sama – menerima setiap caci makian dengan diam membisu, tidak jarang kekerasan seperti didorong Efendi atau Vinira, barang-barang pemberian para asisten rumah tangga dirusak.
Bu Inggit dan pak Basri tidak lagi sanggup melihat penderitaan anak angkat mereka, tepat setelah kelulusan sekolah menengah pertama, sepasang suami istri itu membawa lari Ayunda ke pelosok pulau Jawa, sewaktu keluarga Guntara berlibur ke luar negeri.
Tidak butuh waktu lama, seminggu kemudian mereka ditangkap, diseret pulang kehunian megah penuh kenangan menyakitkan.
Tubuh Ayunda babak belur dipukul menggunakan tongkat baseball, bukan cuma kekerasan fisik. Dia juga diancam lewat kedua orang terkasihnya.
Jika Ayunda berani macam-macam, maka nyawa bu Inggit dan pak Basri akan melayang.
Tubuhnya lemah, lemas, tapi dia paksa mengesot, bersimpuh meminta pengampunan kepada manusia yang salah satunya ayah kandungnya sendiri.
Ayunda berjanji akan menuruti setiap keinginan, asal ayah dan ibunya jangan dicelakai.
Dampak atas tindakan berani melarikan diri itu – pak Basri dan istrinya dipecat tanpa pesangon. Bukan cuma sampai di sana, penjaga dan asisten rumah tangga pun diberhentikan, diganti dengan yang baru.
Setelahnya hidup Ayunda kian sulit, tidak ada satupun orang berdiri disisinya. Semua berpihak ke keluarga Guntara.
***
“Sampai nyawa gak lagi bersemayam di raga ini, bapak tetep mendoakan semoga kelak kamu hidup bahagia, Nduk.” Ia usap air mata dipipi putrinya.
“Pak, terima kasih sudah mau ngasih nama bagus untukku. Aku yakin, kalau bukan karena kegigihan kalian, mungkin namaku bakalan Benalu, bukan Ayunda,” air matanya berderai, tetapi senyum manisnya kian lebar.
Bu Inggit memeluk Ayunda dari samping. “Kamu itu anugerah buat kami, Nduk. Kalau dikasih kesempatan kembali ke masa lalu, ibu dan bapak tetap milih jadi orang tuamu.”
Ayunda merangkul pundak ayah dan ibunya, ia kecup kening mereka. “Aku sayang banget sama ibu dan bapak.”
“Maaf ya, Nduk. Karena kami langkahmu terjegal, terasa berat,” ucap suara serak pak Basri.
“Mungkin kalau gak ada kalian, aku milih menyerah, Pak. Di dunia ini yang tak sayangi, dan paling berharga cuma ibu dan bapak,” akunya jujur.
Ayunda memang berada di posisi terjepit. Kedua orang tua angkatnya dijadikan senjata untuk membuat dia tunduk, tapi kalau tidak ada mereka, rasanya tidak ada artinya dia hidup di dunia teramat kejam ini.
Isi perjanjian juga membawa nama pak Basri dan bu Inggit. Ayunda menginginkan kedua orang tuanya tidak lagi diganggu, coba dicelakai.
Dalam keterbatasan dan ketidakberdayaan, Ayunda tetap berusaha melakukan terbaik sebisanya.
Suasana haru terganggu oleh dering ponsel Ayunda, dia menghela napas panjang, rautnya langsung kesal kala hafal nada khusus itu.
Diangkatnya panggilan dari salah satu dalang pemberi penderitaan tak berkesudahan. Dia diam, tidak mau menyapa duluan.
“Lu dimana benalu? Buruan dateng ke lokasi syuting! Ada adegan tamparan yang mesti lu gantiin!”
“Maaf nona Vinira, kali ini saya tak bisa _”
“Benalu! Jangan gila lu! Kalau gak mau gua buat malu lebih dari kemarin, bergegas kemari! Sekarang!” Vinira menggenggam kuat ponselnya, wajahnya merah padam.
“Saya sedang tidak ada di kota Nona. Lagi menemani bapak di rumah sakit _”
“Mampus saja mantan pembokat sialan itu! Kapan lu kembali?!” urat-urat lehernya sampai menonjol.
“Tiga hari lagi _” belum selesai dia berucap, sambungan ponsel sudah diputus. Dapat dibayangkan oleh Ayunda, bagaimana marahnya seorang Vinira yang dikenal publik sosok anggun, ramah, rapuh.
Ayunda menonaktifkan ponselnya, tidak mau diganggu disaat tengah melepas rindu dengan kedua orang tuanya. Lagipula tidak ada sesuatu lebih penting dari bapak dan ibu.
Pak Basri, Bu Inggit memilih tidak menanyai, tentu mereka dapat menebak tepat isi obrolan barusan.
Meskipun Ayunda jarang pulang, setengah tahun sekali baru bertemu orang tersayang, hubungan mereka tetap harmonis terjalin lewat udara. Hanya kepada ibu dan bapak dirinya mau terbuka, bercerita apa saja.
***
Keesokan paginya, Ayunda dan bu Inggit menunggu di depan ruang tindakan. Tangan mereka saling menggenggam seraya berharap-harap cemas.
Pak Basri sudah setengah jam lamanya ditangani tim medis, belum ada tanda-tanda pintu akan dibuka.
Beberapa saat kemudian, seorang perawat dan dokter keluar, siap memberi kabar kepada keluarga pasien.
.
.
Bersambung.
jangan sampai kepulangan orang tua daksa untuk memaksa pernikahan sapi sama daksa. awas aja kalau kontrak belum selesai dah nikah lagi aku potong itu burung mu😤