Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.
Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Misi Pertama Sang Pemula
Jarak dari gerbang kota menuju pinggiran hutan barat hanya memakan waktu sekitar satu jam perjalanan kaki. Semakin jauh melangkah, bangunan-bangunan batu perlahan menghilang, digantikan oleh padang rumput yang luas dan pepohonan yang mulai tumbuh rapat. Suasana menjadi lebih sepi, hanya terdengar suara kicau burung dan gemerisik daun yang ditiup angin.
Rey berjalan dengan tenang, sesekali mengamati sekelilingnya dengan pandangan tajam yang sudah terlatih. Ia membawa tas punggung berisi bekal sisa perjalanan, serta menyandang pedang warisan di pinggangnya, meskipun untuk saat ini ia berjalan santai seolah tidak ada kekhawatiran sedikit pun.
Sesampainya di tepi hutan, ia berhenti sejenak dan menoleh ke kanan kiri. “Rumput penyembuh biasanya tumbuh di tempat yang agak lembab, dekat aliran air, dan di bawah naungan pohon yang tidak terlalu rimbun. Ingat dengan baik, Rey… jangan sampai mengambil tanaman yang salah,” gumamnya pelan mengingat-ingat pengetahuan yang pernah ia baca di buku-buku desa serta ingatan dari dunia lamanya.
Ia melangkah masuk perlahan, mengikuti arah aliran air sungai kecil yang terdengar suaranya dari kejauhan. Tidak butuh waktu lama, matanya menangkap gumpalan tanaman berdaun kecil berwarna hijau keperakan yang tumbuh bergerombol di tepi sungai.
“Ini dia,” ucap Rey sambil tersenyum puas.
Ia berjongkok, lalu mulai memetik satu per satu dengan hati-hati agar akarnya tidak rusak. Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, ia sudah mengumpulkan lebih dari tiga puluh rumpun—lebih banyak dari jumlah yang diminta dalam misi. Ia memasukkannya ke dalam kantong kain kering yang sudah ia siapkan, lalu melanjutkan perjalanan masuk sedikit lebih dalam.
Tugas berikutnya adalah membasmi kawanan lendir yang konon berkumpul di dekat mata air tua, sekitar setengah kilometer dari tempat itu.
Semakin ke dalam, udara terasa lebih lembab dan tanah di bawah kaki menjadi agak licin. Rey memperlambat langkahnya, meningkatkan kewaspadaan. Ia tahu meskipun lendir tergolong makhluk paling lemah di dunia ini, jika bertemu dalam jumlah banyak dan di tempat yang sempit, tetap bisa menyusahkan pemula yang kurang berhati-hati.
Belum lama berjalan, terdengar suara gemericik air bercampur bunyi blup-blup yang khas. Rey bersembunyi di balik batang pohon besar, lalu mengintip ke depan.
Di hadapannya terbuka sebuah ruang kecil yang diterangi cahaya matahari yang menembus celah dedaunan. Di tengahnya ada mata air yang airnya jernih, namun di sekitarnya terlihat sekitar dua puluh hingga dua puluh lima ekor lendir berwarna hijau pucat dan biru muda bergerak lambat meluncur di atas tanah basah. Tubuh mereka lunak, berbentuk bulat seperti bola agar-agar, dan sesekali mengeluarkan cairan lengket dari tubuhnya.
“Jumlahnya lebih banyak dari perkiraan… tapi masih sangat mudah untuk diatasi,” gumam Rey sambil meraba gagang pedangnya.
Namun ia mengurungkan niat untuk mengeluarkan senjata itu. Menggunakan pedang untuk membunuh lendir justru akan membuat pisau menjadi lengket dan sulit dibersihkan. Ada cara yang lebih cepat dan bersih.
Rey melangkah keluar dari persembunyiannya, berdiri tegak sekitar sepuluh meter dari kawanan itu. Begitu merasakan kehadiran makhluk hidup lain, lendir-lendir itu berhenti bergerak sejenak, lalu meluncur perlahan mendekat seolah ingin memeriksa apa yang datang.
“Maafkan kalian… tapi ini tugasku hari ini,” ucap Rey pelan.
Ia tidak mengerahkan kekuatan besar, hanya menggunakan energi elemen api dalam jumlah sangat kecil dan terkontrol. Kedua tangannya terangkat perlahan, dan di telapak tangannya muncul nyala api kecil yang tidak menyebar luas, hanya cukup panas dan terfokus.
Dengan gerakan pergelangan tangan yang cepat, Rey melemparkan bola-bola api seukuran kepalan tangan satu per satu ke arah lendir-lendir itu. Begitu terkena api, tubuh lendir itu langsung mendesis, mengeluarkan asap tipis, dan dalam hitungan detik meleleh menjadi cairan tak berbahaya yang meresap ke tanah.
“Satu… dua… tiga…” Rey menghitung dalam hati sambil terus melepaskan serangan ringan.
Hanya dalam waktu kurang dari tiga menit, seluruh lendir yang ada di tempat itu sudah lenyap tanpa menyisakan sisa yang berantakan. Bahkan tanah di sekitarnya tetap bersih dan tidak terbakar berkat kendali yang sangat baik.
Rey menarik napas panjang, lalu memadamkan sisa energi apinya. “Selesai lebih cepat dari perkiraan. Kalau aku menggunakan kekuatan penuh, mungkin cukup satu hembusan angin saja semuanya langsung habis,” katanya sambil tertawa kecil.
Ia tidak lupa mengumpulkan beberapa inti lendir yang masih utuh—benda kecil sebesar kacang yang menjadi sumber tenaga makhluk itu. Meskipun tidak berharga mahal, inti ini tetap bisa dijual atau ditukar dengan sedikit uang tambahan di balai persekutuan.
Setelah memastikan tidak ada bahaya tersisa dan semua tugas selesai, Rey berjalan kembali ke arah kota dengan langkah santai. Hari masih siang, sehingga ia punya banyak waktu untuk beristirahat sebentar sebelum menyerahkan laporan tugasnya.
Sesampainya di Balai Persekutuan, suasana masih sama ramai seperti pagi tadi. Ia langsung menuju meja pendaftaran yang sama, tempat wanita petugas tadi masih sibuk melayani pengunjung lain. Saat melihat Rey mendekat, wanita itu mengangkat wajah dan tersenyum ramah.
“Sudah selesai tugasnya, Nak?” tanyanya.
“Sudah, ini dia hasilnya,” jawab Rey sambil meletakkan kantong berisi rumput penyembuh dan tumpukan inti lendir di atas meja.
Wanita itu membuka kantong itu, memeriksa isinya sebentar, lalu mengangguk puas. “Wah, jumlahnya lebih banyak dari yang diminta. Bahkan inti lendirnya juga kamu kumpulkan. Bagus sekali, biasanya pemula baru selesai tugas ini menjelang senja, tapi kamu sudah kembali sebelum tengah hari.”
Ia menghitung, lalu mencatat di buku besar dan kartu identitas Rey. “Baik, tugas mengumpulkan tanaman obat dan membasmi lendir dinyatakan selesai. Upahnya total 35 keping perak, ditambah 5 keping lagi dari hasil penjualan inti lendir. Ini juga poin kenaikan peringkatmu sudah ditambahkan.”
Ia menyerahkan uang logam yang sudah dihitung rapi serta kartu Rey kembali.
“Terima kasih banyak,” jawab Rey sambil menerima barang-barangnya dengan senyum.
Saat ia hendak pergi, tiba-tiba dua orang pemuda lain yang terlihat seumuran dengan Rey datang menghampiri meja itu dengan wajah lesu dan penuh keringat. Salah satunya terlihat sedikit lecet di lengan dan bajunya kotor lengket.
“Kami sudah selesai tugasnya… tapi… hanya berhasil membasmi tujuh ekor lendir saja. Sisanya terlalu banyak dan licin,” kata pemuda itu dengan suara lelah.
Wanita petugas itu hanya mengangguk biasa saja dan mencatat hasilnya. “Baik, upah dikurangi sesuai jumlah yang diselesaikan.”
Rey mendengar percakapan itu dari dekat, lalu tersenyum dalam hati. “Memang begitulah aturannya. Bagi orang biasa, tugas ini memang cukup menguras tenaga dan waktu. Tapi bagiku, ini hanya pemanasan untuk membiasakan diri. Semakin mereka melihatku bekerja dengan kecepatan wajar, semakin aman rahasia ini tetap terjaga.”
Ia keluar dari gedung dengan langkah ringan. Di tangannya ada uang hasil kerja pertama, dan di dadanya tumbuh rasa percaya diri yang semakin kuat. Misi pertama selesai dengan sempurna, dan ini baru permulaan.
“Besok kita ambil tugas yang sedikit lebih berat. Pelan-pelan saja naiknya, jangan terburu-buru. Waktu masih panjang,” tekad Rey sambil melangkah mencari tempat penginapan sederhana untuk beristirahat malam itu.
📌 jangan lupa follow,like,dan komen setiap novel di akun ini ya.. 🥰