"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas di balik layar kaca
Sinar matahari pagi menerobos paksa melalui celah gorden jendela kaca besar, menyinari kamar nomor 309 yang berantakan. Rayyan mengerang pelan saat rasa pening yang luar biasa menghantam kepalanya. Efek obat bius semalam telah hilang, meninggalkan tubuhnya yang terasa kaku dan letih.
Namun, begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, ingatan tentang kejadian semalam langsung berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Rayyan menoleh dengan cepat ke sisi ranjang di sebelahnya. Kosong.
Kasur itu sudah mendingin, hanya menyisakan kerutan pada sprei dan selimut yang menandakan bahwa semalam ada seseorang di sana. Wanita asing itu sudah pergi mendahuluinya, menghilang sebelum fajar menyingsing sepenuhnya. Aroma manis vanila yang semalam begitu memabukkan kini hanya tertinggal samar-samar di bantal.
Rahang Rayyan mengeras. Sebagai CEO Wijaya Group, dia tidak pernah membiarkan ada hal yang berjalan di luar kendalinya. Terlebih lagi, wanita semalam adalah sebuah misteri besar—seorang gadis polos yang meracau tentang orang tuanya di tengah kepungan gairah akibat jebakan musuh bisnisnya.
Dengan gerakan cepat, Rayyan duduk di tepi ranjang dan meraih ponsel pintarnya yang tergeletak di atas nakas. Tanpa membuang waktu, dia langsung menghubungi kepala tim keamanannya.
"Cari tahu siapa wanita yang masuk ke kamar 309 semalam," perintah Rayyan tanpa basa-basi, suaranya terdengar dingin dan mutlak, khas seorang penguasa bisnis. "Gadis itu berusia sekitar 20 tahun. Periksa seluruh CCTV kelab malam ini sekarang juga, terutama kamera yang mengarah langsung ke lorong depan kamar ini. Saya ingin tahu ke mana dia pergi dan siapa dia secepatnya."
"Baik, Pak Rayyan. Kami akan segera memeriksa rekaman CCTV dan mengirimkan datanya kepada Anda," jawab suara di seberang telepon dengan nada penuh hormat.
Rayyan menutup teleponnya, lalu menatap lurus ke depan dengan pandangan mata yang tajam. Sambil menunggu laporan dari anak buahnya, dia bangkit untuk memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Di tengah kekacauan itu, matanya menangkap sesuatu di atas karpet. Sebuah gantungan kunci kecil berbentuk beruang yang tampak kontras dengan kemewahan kamar kelab malam ini.
Rayyan memungutnya. Gantungan kunci itu tampak sederhana, khas barang milik seorang mahasiswi.
"Siapa sebenarnya kamu... dan bagaimana bisa kamu masuk ke kamar yang salah?" gumam Rayyan lirih, mencengkeram gantungan kunci itu erat-erat. Di dalam hatinya, ada dorongan kuat yang tidak biasa untuk segera menemukan gadis polos yang telah mencuri malamnya tersebut.
Rayyan segera melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelan jas rapi yang baru saja diantarkan oleh asisten pribadinya kini sudah melekat sempurna di tubuh tegapnya. Sang CEO Wijaya Group telah kembali ke wujud aslinya: dingin, berwibawa, dan tak tersentuh.
Meninggalkan kamar nomor 309, Rayyan berjalan dengan langkah tegap menuju lobi kelab yang sudah sepi di pagi hari, di mana mobil Rolls-Royce hitam miliknya sudah menunggu di lobi depan.
Begitu mobil mewah itu membelah jalanan kota yang padat menuju gedung pencakar langit Wijaya Group, ponsel di saku jas Rayyan bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari kepala tim keamanannya.
Rayyan membuka dokumen enkripsi yang dikirimkan anak buahnya. File pertama berisi potongan rekaman CCTV lorong lantai tiga kelab semalam. Di layar ponselnya, Rayyan melihat dengan jelas bagaimana gadis itu—dengan langkah terhuyung-huyung dan pandangan kabur—berdiri bimbang di depan pintu kamarnya. Gadis itu sempat menatap angka kamar dengan bingung sebelum akhirnya mendorong pintu nomor 309 yang tidak terkunci rapat.
Di bawah rekaman video tersebut, terlampir sebuah profil data pribadi yang sangat lengkap. Matanya langsung tertuju pada sebaris nama.
Nama: Aira Kirana
Usia: 20 Tahun
Status: Mahasiswi Semester 3, Jurusan Akuntansi
Rayyan menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mobil, membaca baris demi baris informasi keluarga Aira dengan tatapan yang kian menajam. Sesuatu di dalam dadanya bergemuruh saat mengetahui latar belakang gadis itu.
Aira ternyata adalah putri dari salah satu manajer tingkat atas di sebuah perusahaan cabang yang berada langsung di bawah naungan Wijaya Group. Namun, kehidupan gadis itu jauh dari kata bahagia. Setelah orang tuanya bercerai saat ia masih berusia 5 tahun, ayahnya menikah lagi.
Di dalam rumah tangga barunya itu, Aira tumbuh sebagai anak yang terasingkan. Dia adalah anak broken home yang selalu disisihkan. Dalam segala hal—mulai dari kasih sayang keluarga, fasilitas, hingga perhatian di rumah—Aira selalu dikalahkan dan mengalah oleh saudara tirinya. Saudara tirinya selalu mendapatkan yang terbaik, sementara Aira hanya menerima sisa-sisa, hingga akhirnya tumbuh menjadi gadis polos yang cenderung menutup diri dan tidak suka mencari masalah.
Fakta bahwa teman-teman kampusnya tega menjebaknya semalam, ditambah dengan kenyataan pahit bahwa dia selalu ditindas di rumahnya sendiri, menyalut secercah emosi asing di hati Rayyan. Wanita yang semalam menangis di pelukannya ternyata memikul beban hidup yang begitu berat.
"Aira..." Rayyan mengeja nama itu dengan suara rendah.
Ibu jari Rayyan bergerak mengusap foto profil Aira yang terpajang di layar ponselnya. Wajah polos tanpa riasan berlebih itu tampak begitu kontras dengan kejamnya dunia yang harus dia hadapi setiap hari.
Sebagai penguasa tertinggi di Wijaya Group, sangat mudah bagi Rayyan untuk membalikkan telapak tangan dan mengubah nasib seseorang. Dan entah mengapa, setelah malam yang mereka lewati bersama, Rayyan tahu dia tidak akan membiarkan gadis bernama Aira ini kalah lagi oleh siapa pun di dunia ini—termasuk oleh keluarga tirinya.
"Hubungi pihak kampus tempat Aira kuliah," perintah Rayyan dingin kepada asistennya yang duduk di kursi depan, tanpa mengalihkan pandangan dari foto Aira. "Dan cari tahu jadwal kuliahnya hari ini."