NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Pintu yang rapat.

Lift eksekutif berdenting pelan saat tiba di lantai teratas gedung Tanubrata Group. Lantai ini terasa sangat sepi dan steril, mencerminkan privasi mutlak bagi sang CEO. Lorong panjang berlantai marmer berkilat itu membentang lurus menuju satu-satunya pintu kayu ek tebal di ujung sana—ruangan kerja Saka.

Sebelum Prisha melangkah lebih jauh, Bora menghentikan langkahnya sejenak dan menunjuk ke arah sebuah ruangan di sisi kiri lorong. “Nona, Saya akan menunggu di sebelah sana,” ucap Bora dengan nada tenang.

Prisha menoleh ke arah yang ditunjuk. Tempat itu adalah ruang tunggu khusus di lantai eksekutif, sebuah ruangan luas berdinding kaca transparan yang dilengkapi dengan sofa kulit yang empuk, meja kopi minimalis, bahkan sebuah TV layar datar berukuran besar. Prisha mengangguk setuju. “Baiklah, tunggu saja di sana, Bora.”

Dengan langkah kaki yang mantap, langkah Prisha mengetuk lantai marmer hingga menimbulkan gema tipis di sepanjang lorong. Begitu sampai di depan pintu ruangan Saka, Prisha langsung meraih kenop pintu dan mencoba mendorongnya. 'Sial, pintunya terkunci rapat dari dalam.'

Prisha mengembuskan napas jengkel. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu mengetuk pintu kayu ek tebal itu dengan ketukan yang cukup keras. "Kak Saka? Ini aku," panggilnya. Tidak ada jawaban dari dalam.

Keheningan total justru menyelimuti ruangan tersebut. Kesal karena diabaikan, Prisha mulai menggedor-gedor permukaan pintu dengan kepalan tangannya dan menjerit memanggil nama Saka, namun tetap tidak ada respons sama sekali.

Di ujung lorong, dari balik dinding kaca ruang tunggu, Bora cuman melihat kelakuan nona mudanya itu dengan ekspresi wajah datar tanpa minat untuk mendatangi. Bora sudah terlalu terbiasa dengan drama keras kepala antara Prisha dan Saka.

Prisha menempelkan telinganya ke pintu, mencoba menangkap suara sekecil apa pun dari dalam. Sambil memukul pintu sekali lagi, ia berteriak lantang, “Aku tahu Kakak di dalam! Jangan berpura-pura tuli! Buka pintunya sekarang juga!”

Tepat pada saat itu, pintu lift eksekutif kembali terbuka dengan denting yang nyaring. Adrian melangkah keluar dengan napas yang masih sedikit memburu akibat berlari dari lobi. Namun, langkah kaki sang asisten pribadi seketika membeku di tempat ketika melihat pemandangan di ujung lorong.

Prisha sedang berdiri berkacak pinggang di depan pintu, dan menyadari bahwa gadis itu sama sekali tidak dibukakan pintu oleh Saka. Adrian langsung memutar tubuhnya secepat kilat, berniat untuk segera kembali lagi ke lantai bawah demi menyelamatkan nyawanya sendiri daripada terjebak di antara dua orang keras kepala itu.

Sayangnya, mata jeli Prisha bergerak jauh lebih cepat. Sebelum Adrian sempat melangkah masuk kembali ke dalam lift, suara lengkingan Prisha sudah memotong udara. “Adrian! Mau ke mana kau!”

Adrian tersenyum kaku, berbalik perlahan dengan wajah yang tampak sangat bersalah. “A-ah, Nona Prisha. Saya hanya ... ada dokumen yang tertinggal di bawah.”

Prisha berjalan beberapa langkah mendekati Adrian, sepasang matanya memicing penuh selidik. Sebuah senyuman penuh kemenangan terbit di bibir ranumnya. “Jangan bohong. Kau adalah asisten pribadinya, jadi aku tahu kau pasti memiliki kunci cadangan untuk pintu ini, kan?”

Wajah Adrian seketika memucat. Ia mundur satu langkah, mencoba menyembunyikan saku celananya. “Nona, saya tidak—”

“Bora, geledah dia!” perintah Prisha memotong kalimat Adrian tanpa ampun.

Mendengar perintah mutlak dari sang majikan, Bora langsung berdiri dari sofa ruang tunggu. Tanpa ekspresi, gadis pelayan bertubuh tegap itu melangkah keluar dari ruangan kaca dan langsung mengejar Adrian yang sudah mengambil langkah seribu untuk melarikan diri.

Terjadi aksi kejar-kejaran yang sangat sengit di koridor lantai eksekutif antara Adrian dan Bora. Adrian berlari sekencang mungkin, memutari pilar-pilar gedung dengan harapan bisa mengecoh Bora. Harus diakui, lari Adrian sangat kencang karena ketakutan yang mendalam. Namun, Bora jauh lebih cerdik dan terlatih.

Melihat targetnya terus menjauh, Bora menghentikan langkahnya di dekat sofa ruang tunggu. Dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi, Bora menggunakan bantal sofa yang cukup berat di dekatnya, lalu melempar bantal tersebut dengan kekuatan penuh, membidik tepat di antara kedua kaki Adrian yang sedang melesat.

Bugh!

Lemparan berbobot itu mendarat akurat, membuat keseimbangan kaki Adrian goyah seketika. Tubuh pria berusia 28 tahun itu langsung tersungkur ke depan, jatuh terjerembap di atas lantai marmer yang licin dengan suara deburan yang cukup keras.

Adrian yang kesakitan buru-buru membalikkan tubuhnya. Dengan napas terengah-engah, ia mengesot mundur di atas lantai untuk menjauh, sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk pertahanan diri yang sia-sia. “Bora, jangan lakukan itu! Tolong jangan mendekat!” mohon Adrian dengan wajah panik.

Bora tidak memedulikan permohonan itu. Ia berjalan mendekat dan kini berdiri menjulang di atas tubuh Adrian yang tak berdaya, menatap pria itu dengan pandangan dingin yang teramat mengintimidasi.

“Tidak, Bora! Tidak, Bora! Tidak, aaaaaa...!” teriak Adrian histeris, suaranya melengking memenuhi koridor sepi itu ketika Bora tanpa membuang waktu langsung berlutut dan menggeledah saku jas serta celananya secara paksa. Adrian meronta-ronta layaknya anak kecil, namun kekuatan fisik Bora yang bersertifikat profesional jelas bukan tandingannya.

Sementara drama heboh itu berlangsung di ujung lorong, Prisha hanya menunggu dengan santai sambil bersandar di depan pintu ruangan Saka. Ia memperhatikan kuku-kukunya yang rapi dengan ekspresi acuh tak acuh, sama sekali tidak merasa bersalah atas penganiayaan ringan yang menimpa Adrian.

Setelah beberapa saat, suara teriakan Adrian akhirnya mereda. Akhirnya, Bora berjalan kembali menghampiri Prisha dengan langkah yang tetap tenang, seolah-olah baru saja menyelesaikan tugas menyiram tanaman. Di tangan kanannya, sebuah gantungan kunci berbahan logam berkilau di bawah lampu koridor.

“Bora mendapatkan kuncinya, Nona,” ucap Bora datar, menyodorkan kunci perak itu kepada Prisha.

Prisha mengambil kunci tersebut dengan senyuman lebar yang sangat puas. “Kerja bagus, Bora. Silakan kembali menunggu di sana.”

Bora mengangguk patuh. “Baik, Nona,” jawabnya sebelum berbalik dan berjalan kembali menuju ruang tunggu kaca, meninggalkan Adrian yang masih terkapar lemas di lantai seberang sambil meratapi nasib sialnya hari ini.

Prisha memutar tubuhnya menghadap pintu kayu ek tebal itu lagi. Dengan gerakan perlahan namun penuh penekanan, ia memasukkan anak kunci ke dalam lubang pintu, lalu memutarnya hingga terdengar suara klik yang menandakan pengunci mekanisnya telah terbuka. Prisha menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk melontarkan kalimat ejekan terbaiknya kepada Saka.

Cklek.

Prisha mendorong pintu itu terbuka lebar dengan satu sentakan anggun. "Kak Saka, kau tidak bisa bersembunyi lagi—" Kalimat Prisha mendadak terputus di udara.

Ketika Prisha berhasil membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan kerja yang luas itu, Saka yang sedang berada di dalam seketika kaget setengah mati melihat pintu itu berhasil dibuka. Namun, yang tidak terduga, Prisha justru jauh lebih kaget daripada pria itu.

Langkah kaki Prisha terpaku di ambang pintu, sepasang matanya membelalak sempurna menatap lurus ke arah meja kerja kebesaran Saka. Mereka berdua seketika saling tatapan dalam raut kaget yang teramat pekat, mengunci pandangan satu sama lain dalam keheningan yang mendadak mencekam.

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!