NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Berbaikan
Popularitas:102.9k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.

Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.

Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.

Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Shaka menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Kalau begitu kita buat strategi baru."

"Apa?" Mata Anaya langsung membulat.

"Strategi cinta," bisik Shaka dengan senyum lebar.

Abinaya yang sejak tadi duduk santai langsung berdiri. "Kita mulai kapan?"

Shaka menyilangkan kedua tangannya di dada. Wajahnya berubah serius seperti seorang jenderal yang sedang menyusun rencana perang besar.

"Hari Minggu."

Anaya langsung mengerucutkan bibir. "Kenapa enggak sekarang?"

Shaka menggeleng pelan. "Karena setiap strategi hebat butuh perencanaan yang matang."

Anaya dan Abinaya saling berpandangan. Kalimat itu terdengar sangat masuk akal. Akhirnya keduanya mengangguk bersamaan.

"Iya juga."

Malam itu, ketika seluruh penghuni rumah mulai sibuk dengan urusannya masing-masing, tiga orang diam-diam berkumpul di sudut ruang keluarga. Anaya membawa buku gambar. Abinaya membawa pensil warna. Sedangkan Shaka membawa camilan dan segudang ide aneh di kepalanya.

Tanpa diketahui Arkana dan Kanaya, sebuah tim rahasia akhirnya resmi terbentuk. Dan target utama mereka hanya satu. Membuat Ayah dan Bunda kembali jatuh cinta.

Ketua tim, Anaya. Wakil ketua, Abinaya. Penasehat sekaligus otak strategi: Om Shaka.

Anaya dan Abinaya menyusun rencana baru.

Setelah beberapa kali mengalami kegagalan, keduanya mulai menyadari bahwa menyatukan Ayah dan Bunda ternyata jauh lebih sulit.

Malam itu mereka berkumpul diam-diam di kamar bersama Shaka. Anaya duduk bersila di atas kasur sambil memegang buku gambar. Wajahnya terlihat serius sekali. Sesekali ia menggigit ujung pensil ketika sedang berpikir.

Di sampingnya, Abinaya menopang dagu sambil mendengarkan. Sementara Shaka duduk di lantai dengan ekspresi seolah sedang menghadiri rapat penting perusahaan.

"Kita harus bikin rencana yang lebih hebat," ujar Anaya.

Abinaya mengangguk setuju. "Yang enggak gampang gagal."

"Nah itu."

Shaka menyilangkan tangan di dada. "Kalian tahu permainan kartu hukuman?"

Mata Anaya langsung berbinar. "Yang kalau kalah harus nurut?"

"Iya."

"Kita sering main itu!"

Abinaya ikut mengangguk. Biasanya setiap akhir pekan mereka memang sering bermain bersama Shaka. Siapa yang kalah harus mengambil kartu hukuman lalu menjalankan isi perintah yang tertulis di dalamnya. Kadang hukumannya lucu.

Bernyanyi, menari seperti ayam, atau berbicara seperti robot selama lima menit.

Anaya tiba-tiba berdiri di atas kasur. "Aku punya ide!"

Keesokan harinya, ruang keluarga yang biasanya dipenuhi suara televisi berubah menjadi arena permainan dadakan. Karpet sudah digelar di tengah ruangan. Sebuah meja kecil diletakkan di depan sofa, lengkap dengan setumpuk kartu warna-warni yang disusun rapi oleh Anaya dan Abinaya sejak sore tadi.

Anaya duduk bersila dengan wajah penuh semangat. Matanya berbinar-binar seolah sedang menyiapkan sebuah acara besar. Di sampingnya, Abinaya terlihat lebih tenang, tetapi sesekali senyum kecil muncul di wajahnya setiap kali saudara kembarnya memberi kode rahasia.

Arkana yang baru selesai mengikuti rapat daring dadakan, keluar dari ruang kerja sambil meregangkan bahunya. Begitu melihat semua orang berkumpul di ruang keluarga, ia mengernyit bingung.

"Ada acara apa ini?" tanya Arkana sambil mendekat.

Anaya langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi. "Kita mau main!"

"Main apa?" tanya Arkana jadi bersemangat.

"Permainan keluarga."

Arkana menoleh ke arah meja yang dipenuhi kartu-kartu kecil. "Permainan keluarga?"

"Iya." Abinaya mengangguk. "Semua harus ikut."

Kanaya yang sedang memeriksa laporan pesanan katering dari tablet di tangannya ikut menoleh. "Semua?"

"Iya." Anaya langsung menunjuk ibunya. "Bunda juga."

Kanaya menghela napas pelan. Dari cara putrinya tersenyum saja, ia sudah bisa menebak ada sesuatu yang sedang direncanakan. Namun melihat wajah kedua anaknya yang begitu antusias, ia tidak tega menolak.

"Baiklah," jawab Kanaya akhirnya.

"Horeee!" Anaya langsung melompat kegirangan.

Permainan cangkulan pun dimulai. Awalnya semua berjalan biasa saja. Mereka saling mengambil kartu, setiap orang akan melemparkan kartu yang sama, pemenangnya adalah yang habis duluan.

Suasana rumah terasa hangat. Tawa Anaya berkali-kali memenuhi ruangan, sementara Abinaya yang biasanya lebih tenang mulai ikut larut dalam keseruan permainan.

Arkana bahkan sempat berpikir permainan ini tidak jauh berbeda dengan permainan keluarga pada umumnya. Sampai akhirnya semuanya berubah.

"Ayah kalah!" Suara Anaya terdengar begitu keras hingga membuat Arkana tersentak.

"Hah?" Arkana menatap papan permainan dengan bingung. "Kok bisa?"

Abinaya yang biasanya jarang ikut campur bahkan ikut menambahkan, "Ayah kalah. Karena kartu semua orang sudah habis. Sedangkan punya Ayah masih sisa banyak," jelas Abinaya.

Anaya langsung mengangguk. "Betul."

Arkana menatap kedua anaknya bergantian. Mereka terlihat senyum-senyum. Entah kenapa ia merasa sedang dikerjai bersama-sama. Namun karena suasana sedang menyenangkan, ia akhirnya menyerah.

"Baiklah. Terus sekarang apa?"

Anaya langsung menyodorkan sebuah kotak kecil berisi kartu hukuman. "Pilih satu."

Arkana mengambil salah satu kartu secara acak. Awalnya ekspresinya biasa saja. Lalu perlahan kedua alisnya terangkat. Matanya membesar dan beberapa detik kemudian ia terlihat seperti baru membaca berita yang membuat jantungnya berhenti berdetak.

"Ayah kenapa?" tanya Anaya polos.

Arkana menelan ludah. Pelan-pelan ia membalik kartu itu agar semua orang bisa melihat isi tulisannya.

[Pegang tangan orang di samping kanan selama tiga menit.]

Ruangan mendadak sunyi. Arkana perlahan menoleh ke kanan. Dan seperti yang sudah diduganya, di sana ada Kanaya.

"Aya..." gumam Arkana pelan. Lalu, dia menyerahkan kartu hukuman itu kepadanya.

Kanaya langsung menatap kedua anaknya. "Kalian yang bikin kartu ini?"

Anaya menggeleng begitu cepat sampai rambutnya ikut bergoyang. "Enggak."

"Kok senyumnya begitu?" Mata Kanaya menyipit.

"Aya enggak senyum." Padahal bibirnya hampir tidak bisa berhenti tersenyum.

Abinaya yang duduk di sebelahnya buru-buru menunduk. Namun, telinganya sudah memerah karena menahan tawa.

Kanaya menghela napas panjang. "Bunda enggak mau."

"Bunda harus mau."

Anaya langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Wajah mungilnya terlihat sangat serius.

"Kenapa harus?" tanya Kanaya.

"Karena itu aturan permainan."

"Iya." Kali ini Abinaya ikut membantu. "Kalau kalah harus menjalankan hukuman."

Kanaya memijat pelipisnya pelan. Ia menatap kedua anaknya satu per satu. Lalu, menatap Arkana yang tampak tidak kalah gugup. Pria itu bahkan terlihat lebih tegang.

"Aya, kalau memang enggak nyaman, enggak apa-apa," ucap Arkana hati-hati.

"Tidak boleh!" sela Anaya dan Abinaya cepat.

Kanaya langsung menatap putrinya. Anaya balas menatap tanpa berkedip. Tatapan ibu dan anak itu saling beradu selama beberapa detik. Sampai akhirnya Kanaya menyerah lebih dulu.

"Hanya tiga menit, kan."

"Yeaaay!" Anaya langsung melonjak dari tempat duduknya.

Abinaya diam-diam mengepalkan tangan kecilnya di bawah meja.

Misi berhasil.

Dengan canggung, Arkana mengulurkan tangannya. Kanaya menatap tangan itu beberapa saat.

Lima tahun lalu, tangan yang sama pernah menjadi tempat paling nyaman baginya untuk bersandar. Kini jarak beberapa sentimeter saja terasa begitu sulit dilewati. Namun, karena kedua anaknya sudah menunggu dengan wajah penuh harapan, akhirnya ia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Arkana.

Seketika jantung Arkana berdegup sangat kencang. Hampir dua bulan tinggal serumah, tetapi ini pertama kalinya mereka bersentuhan sedekat itu. Tangan Kanaya terasa hangat, sama seperti yang selalu diingatnya.

Kanaya buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain. Ia memilih menatap jam dinding daripada menatap pria di sampingnya.

Sementara Anaya dan Abinaya terlihat sangat puas. Bahkan Anaya diam-diam mengambil ponsel ibunya.

"Untuk kenang-kenangan," bisiknya. Foto pertama berhasil diambil.

Tiga menit terasa sangat lama bagi Kanaya. Sebaliknya, tiga menit terasa sangat cepat bagi Arkana. Saat hitungan waktu selesai, Kanaya langsung menarik tangannya.

"Nah, selesai."

Anaya langsung protes. "Yaaah ...."

Kanaya pura-pura tidak mendengar. Giliran berikutnya dimulai. Dan kali ini yang kalah adalah dirinya.

"Aduh ... malah kalah," gumam Kanaya pelan.

Anaya langsung meloncat kegirangan. "Bunda kalah!"

Kanaya mulai curiga. Jangan-jangan sejak awal permainan ini memang dibuat khusus untuk menjebaknya. Dengan pasrah ia mengambil satu kartu hukuman dari dalam kotak. Begitu membaca isinya, wajahnya langsung membeku.

1
ken darsihk
Seperti nya Laila ibu kandung nya Kanaya , orang dari masa lalu yng di kenal kakek Arjuna
RosMa🌹🌹🌹
siapa Laila...
ken darsihk
Sudah saat nya untuk bersama Nayyy
ken darsihk
Si Marlina pucat lah sebentar lagi kan dia masuk buiiii 😠😠😠
Sri Supriatin
Eeh dilihat blm up 🤭
ken darsihk
Arkana jangan hanya duduk menemani , yang di perlukan ya tindakan bantu cari tersangka nya
ken darsihk
Tetap aja yak ada musuh di mana mana 😠😠😠
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
majnun?? 😌😌
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
kyk anak laki2 2,dikit2 mak, apa2 mak
Rahma Inayah
ada apa ni knp kakek Arjuna panggil Kanaya laila apakah ada hub dgn Kel Arkana
Rahma Inayah
GK kenapanapa Nay krim baik mlh km nnt akan merasa byk yg sayg dan peduli SM km juga ank2 mu jg pasti senang
Sry C'cipit Tea
kita tunggu up ny ka
Bunda Idza
next bakal terkuak asal usul Kanaya pasti!!
Khadijah
segera lanjutan nya ya thor
Mawar
penasaran lnjut kak.
Ita rahmawati
kakek kenal sprtinya SM keluarganya Kanaya,, SM ibunya mungkin 🤔
Uba Maoludin
bagus 👍👍👍
Uba Maoludin
rahasia apa yang disembunyikan kakek Arjun 🤔🤔🤔
Khadijah
tetap berharap Kanaya dan Arkana bersatu kembali
SasSya
siapa???
mungkinkah ibu Kanaya?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!