NovelToon NovelToon
Dahaga Sang Pebinor

Dahaga Sang Pebinor

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.

Semua orang tahu Kirana sudah menikah.

Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.

Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.

Aiden Pradana.

CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.

Awalnya Aiden hanya penasaran.

Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.

Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.

Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.

Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Alasan

"Kenapa berhenti?" tanya Aiden sambil menoleh ke arah Kirana yang mendadak diam di depan lift.

"Ada pesan." Kirana menatap layar ponselnya.

"Dari siapa?" Gavin mengintip dari belakang.

"Selina." Kirana menggenggam ponselnya sedikit lebih erat.

Aiden langsung mengernyit, nama itu sudah cukup untuk membuat suasana yang tadinya tenang berubah tegang. Sementara itu, Gavin yang biasanya banyak bicara memilih diam karena melihat perubahan ekspresi Kirana.

"Apa isinya?" tanya Aiden sambil memperhatikan wajah wanita itu.

"Dia bilang ada sesuatu yang belum saya ketahui." Kirana menghela napas.

"Sesuatu tentang Rendra?" Aiden memasukkan kedua tangannya ke saku.

"Iya." Kirana mengangguk pelan.

Pintu lift terbuka di depan mereka, tetapi tidak seorang pun langsung masuk. Ketiganya berdiri beberapa detik dalam keheningan sambil memikirkan kemungkinan yang sama. Jika Selina sampai mengirim pesan seperti itu, berarti masih ada bagian dari cerita yang belum terungkap.

"Jangan dibaca di sini." Aiden melangkah masuk ke dalam lift.

"Kenapa?" Gavin ikut masuk.

"Karena kalau isinya buruk, setidaknya kita sudah berada di dalam mobil." Aiden menekan tombol lantai dasar.

"Itu tidak menenangkan." Gavin menggeleng.

"Kamu memang tidak perlu tenang." Aiden meliriknya.

Kirana tidak ikut menyela percakapan mereka, pikirannya sudah dipenuhi berbagai kemungkinan yang terus bermunculan sejak membaca pesan tersebut. Beberapa hari terakhir telah memberinya cukup banyak kejutan dan hampir semuanya tidak menyenangkan.

"Kalau kamu belum siap membacanya, jangan dipaksa." Aiden menatap pantulan Kirana di dinding lift.

"Saya harus tahu." Kirana mengangkat pandangannya.

"Belum tentu sekarang."

"Kalau terus ditunda, hasilnya tetap sama." Kirana menyimpan ponselnya ke dalam tas.

Aiden tidak membantah, ia tahu wanita itu benar. Menunda kenyataan tidak akan mengubah kenyataan itu sendiri.

.

.

.

Malam semakin larut saat mereka meninggalkan rumah sakit, lampu-lampu kota mulai mendominasi pemandangan sepanjang jalan sementara kendaraan yang melintas tidak lagi sebanyak beberapa jam sebelumnya. Kirana duduk di kursi belakang bersama Gavin, sedangkan Aiden berada di samping sopir.

"Kalau nanti isinya ternyata Selina mengajak makan malam, saya marah." Gavin menyandarkan kepalanya ke kursi.

"Kamu marah karena apa?" tanya Aiden.

"Karena saya ikut tegang dari tadi." Gavin mengusap wajahnya.

"Itu salahmu sendiri."

"Saya korban keadaan."

Kirana hampir tersenyum mendengar perdebatan mereka, namun pikirannya kembali tertuju pada pesan yang belum dibuka sejak tadi.

"Aku akan membacanya sekarang." Kirana mengeluarkan ponselnya.

Gavin langsung duduk lebih tegak.

"Saya siap kecewa." Gavin menarik napas panjang.

"Kamu memang hobi ikut campur." Aiden menggeleng.

"Itu bakat alami." Gavin mengangguk bangga.

Kirana membuka aplikasi pesan lalu membaca pesan lanjutan yang baru masuk beberapa menit sebelumnya, semakin lama matanya bergerak dari satu kalimat ke kalimat berikutnya, semakin sulit ia mempertahankan ekspresi tenangnya.

"Isinya apa?" tanya Aiden setelah beberapa saat.

"Dia ingin bertemu." Kirana mematikan layar ponselnya.

"Hanya itu?" Gavin terlihat kecewa.

"Tidak." Kirana menggeleng pelan.

"Lalu?" Aiden menoleh.

"Katanya alasan Rendra pindah ke Pradana Group bukan hanya karena saya." Kirana menatap ke luar jendela.

Mobil mendadak terasa lebih sunyi.

"Itu maksudnya apa?" Gavin mengernyit.

"Saya tidak tahu." Kirana menghela napas.

"Apakah dia menjelaskan?" tanya Aiden.

"Tidak lewat pesan." Kirana menggeleng.

Aiden memperhatikan wajah wanita itu beberapa saat, selama ini setiap informasi baru selalu membawa masalah baru namun ia bisa melihat sesuatu yang berbeda kali ini. Kirana tidak terlihat marah, ia justru terlihat bingung.

"Kalau begitu temui dia." Aiden mengalihkan pandangannya ke depan.

Gavin langsung menoleh.

"Bos menyuruh?" Gavin mengangkat alis.

"Saya memberi saran." Aiden membetulkan.

"Jarang sekali."

"Kamu bisa diam?"

"Saya bisa." Gavin mengangguk cepat.

Dua detik kemudian ia kembali bicara.

"Tapi saya tetap terkejut."

Mereka tiba di depan rumah Kirana sekitar empat puluh menit kemudian, kawasan perumahan itu sudah sangat sepi dan hanya beberapa rumah yang masih menyalakan lampu teras. Kirana mengambil tasnya lalu membuka pintu mobil.

"Terima kasih." Kirana menoleh ke arah Aiden.

"Sama-sama." Aiden mengangguk pelan.

"Terima kasih juga." Kirana melirik Gavin.

"Saya menerima dalam bentuk makanan." Gavin tersenyum lebar.

Kirana akhirnya benar-benar tersenyum tipis sebelum keluar dari mobil, senyum yang sangat singkat itu cukup membuat Gavin menatap Aiden dengan wajah penuh kemenangan.

"Jangan mulai." Aiden langsung tahu arti tatapan tersebut.

"Saya tidak mengatakan apa-apa." Gavin mengangkat kedua tangannya.

"Kamu berpikir terlalu keras."

"Saya hanya senang." Gavin menyandarkan tubuh ke kursi.

"Karena?"

"Kirana akhirnya tersenyum."

Aiden tidak menjawab, namun untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibirnya ikut terangkat tipis.

.

.

.

Di dalam rumah, Kirana langsung meletakkan tasnya di atas meja ruang tamu. Rumah itu terasa lebih sunyi dibanding biasanya, dulu ia sering menunggu Rendra pulang meskipun sudah larut malam. Kini ia justru berharap pria itu tidak muncul di depan pintu.

Ponselnya kembali bergetar, Kirana menatap nama itu beberapa saat sebelum akhirnya menerima panggilan.

"Terima kasih sudah mengangkat." Suara Selina terdengar lebih tenang dibanding sebelumnya.

"Ada apa?" Kirana duduk di sofa.

"Aku tidak akan lama." Selina menarik napas pelan.

"Katakan saja."

"Aku ingin bertemu besok."

"Kita bisa bicara lewat telepon."

"Tidak untuk yang ini." Selina terdengar ragu.

Kirana memejamkan mata beberapa detik, cara wanita itu berbicara membuat firasat buruk kembali muncul.

"Apakah ini tentang mutasi?" tanya Kirana.

"Iya." Selina menjawab cepat.

"Kamu bilang ada alasan lain."

"Ada."

"Alasan apa?" Kirana menggenggam ponselnya.

Keheningan muncul beberapa detik dari seberang sana, Selina tampak sedang mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.

"Rendra pernah bertengkar dengan seseorang di Pradana Group." Selina berbicara lebih pelan.

Kirana langsung mengernyit.

"Dengan siapa?" tanya Kirana.

"Aku tidak tahu namanya." Selina terdengar frustrasi.

"Lalu?"

"Tapi aku pernah mendengarnya." Selina melanjutkan. "Rendra bilang suatu hari dia akan membuktikan bahwa dia lebih baik daripada pria itu."

Kirana terdiam, semakin didengar cerita itu semakin tidak masuk akal.

"Kenapa kamu baru mengatakan ini sekarang?" tanya Kirana.

"Karena aku baru mengingatnya." Selina menjawab jujur. "Awalnya aku pikir itu tidak penting."

"Kamu yakin itu berhubungan dengan mutasi?"

"Aku tidak tahu." Selina menghela napas. "Tapi aku merasa kamu harus mengetahuinya."

Percakapan itu berakhir beberapa menit kemudian tanpa jawaban yang benar-benar jelas, namun satu hal berhasil dicapai. Kini Kirana memiliki lebih banyak pertanyaan daripada sebelumnya.

.

.

.

Keesokan paginya, suasana kantor Pradana Group kembali sibuk seperti biasa. Para karyawan mulai berdatangan sejak pagi, sementara beberapa orang sudah terlihat membawa dokumen ke berbagai ruangan rapat.

"Kamu datang lebih awal." Dita menghampiri meja Kirana.

"Aku tidak bisa tidur." Kirana membuka laptopnya.

"Itu terlihat." Dita meletakkan secangkir kopi di mejanya.

"Terima kasih."

"Sama-sama." Dita menarik kursi kosong. "Sekarang ceritakan."

Kirana menatap sahabatnya.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Itulah masalahnya." Dita mengangguk yakin.

Sebelum Kirana sempat menjawab, suasana di lantai kerja mendadak berubah. Beberapa karyawan yang baru datang terlihat saling berbisik sambil menoleh ke arah lift.

"Ada apa?" tanya Dita.

"Tidak tahu." Kirana ikut mengangkat kepala.

Pintu lift terbuka perlahan dan detik berikutnya, seseorang melangkah keluar dengan setelan kerja yang sangat rapi.

Pria itu berhenti sejenak begitu melihat seluruh perhatian tertuju kepadanya, namun bukannya terlihat canggung ia justru menarik napas panjang seolah sedang mempersiapkan diri menghadapi sesuatu.

"Selamat pagi." Rendra mengangguk kepada beberapa karyawan.

Tidak ada yang langsung menjawab karena semua orang tahu satu hal, hari ini adalah hari pertamanya sebagai karyawan Pradana Group dan tepat saat tatapan Rendra bertemu dengan tatapan Kirana di seberang ruangan pintu lift kembali terbuka.

Seseorang yang tidak diduga muncul dari dalam lift kedua, wajah Rendra langsung kehilangan warna.

1
Dew666
🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!