"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Jerawat Rindu yang Meresahkan
Sangat aneh secara medis bagi seorang Adrian yang sangat menjaga kebersihan kulitnya, saat ia berkaca dan menemukan sebuah benjolan merah kecil di pipi kirinya. Adrian menekan benjolan itu dengan ujung jari telunjuknya yang terbungkus sarung tangan medis sambil meringis pelan menahan rasa perih yang menjalar. Ia tidak pernah menyangka bahwa sistem pertahanan kulitnya yang biasanya sangat tangguh bisa ditembus oleh gangguan hormon yang sangat tidak masuk akal sehat ini.
"Bagaimana mungkin seorang dokter spesialis bedah memiliki jerawat tepat setelah digoda oleh bocah ingusan itu?" tanya Adrian pada pantulan dirinya sendiri di cermin wastafel.
Ia segera mengambil larutan pembersih kuman dan kapas steril untuk mengompres benjolan merah yang tampak sangat mengganggu estetika wajahnya tersebut. Adrian merasa konsentrasinya buyar setiap kali ia melihat titik merah itu yang seolah olah sedang menertawakan kedinginan hatinya yang mulai retak. Namun, kegiatannya terhenti saat sebuah pesan singkat masuk ke dalam telepon genggamnya dengan bunyi notifikasi yang sangat nyaring dan mengagetkan.
"Dokter Adrian, aku tahu di pipi Dokter ada jerawat baru, itu adalah bukti kalau Dokter sedang merindukanku setengah mati!" bunyi pesan singkat dari nomor tidak dikenal itu.
"Ini benar benar sudah di luar batas kewajaran, dia pasti sedang mengintai saya menggunakan kamera tersembunyi lagi!" bentak Adrian sambil membanting telepon genggamnya ke atas meja kerja.
Adrian segera memeriksa seluruh sudut ruangannya mulai dari sela sela buku kedokteran hingga di balik bingkai sertifikat yang tergantung di dinding dengan sangat teliti. Ia tidak menemukan kamera apa pun, namun perasaannya tetap tidak tenang karena merasa sedang diawasi oleh sepasang mata bulat yang sangat jahil. Tak lama kemudian, pintu ruangannya diketuk dengan sangat lembut namun berulang ulang hingga membuat saraf saraf di kepalanya terasa ingin pecah.
"Dokter, ini aku asisten paling setia, aku datang membawa ramuan ajaib untuk membasmi jerawat cinta milik Dokter!" seru Lala dari balik pintu kayu yang tegap.
"Pergi sekarang juga, atau saya akan meminta petugas keamanan untuk menyita seluruh peralatan rias wajah milikmu!" jawab Adrian tanpa membukakan pintu sedikit pun.
Lala tidak menyerah begitu saja dan justru menyelipkan selembar kertas kecil di bawah celah pintu ruangan Adrian dengan sangat lincah dan cepat. Adrian memungut kertas itu dan menemukan sebuah gambar sketsa wajahnya yang sedang cemberut lengkap dengan satu titik merah besar di pipinya. Di bawah gambar itu tertulis sebuah resep yang sama sekali tidak ada di dalam buku panduan medis mana pun yang pernah dipelajari oleh Adrian selama sepuluh tahun terakhir.
"Resep: Satu suap seblak dan satu menit tatap mata lagi, dijamin jerawat rindu akan hilang dalam sekejap mata," tulis Lala dalam kertas tersebut.
"Resep macam apa ini, kamu benar benar sudah kehilangan akal sehat karena terlalu banyak menonton tayangan drama!" teriak Adrian sambil membuka pintu dengan gerakan yang sangat mendadak.
Lala hampir terjatuh ke belakang jika saja tangan kekar Adrian tidak segera menangkap pergelangan tangannya dengan sangat sigap dan kuat. Mereka kembali berada dalam posisi yang sangat dekat hingga aroma bedak bayi dari wajah Lala bercampur dengan aroma cairan pembersih dari tangan Adrian. Gadis itu menatap Adrian dengan wajah yang sangat serius seolah sedang melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien yang sedang kritis di ruang gawat darurat.
"Dokter, jerawat itu tidak akan hilang kalau Dokter terus menyimpan kemarahan kepadaku di dalam hati yang sempit itu," bisik Lala sambil mencoba menyentuh pipi Adrian.
"Jangan berani berani menyentuh kulit saya dengan tanganmu yang penuh dengan bakteri jajanan pinggir jalan itu!" sanggah Adrian sambil membuang muka dengan cepat.
Adrian melepaskan tangan Lala lalu melangkah mundur untuk mengembalikan jarak aman yang selalu ia jaga dengan seluruh kekuatannya yang tersisa. Namun, ia menyadari bahwa Lala membawa sebuah kantong plastik kecil berisi masker wajah dari bahan alami yang aromanya sangat menenangkan jiwa. Gadis itu meletakkan kantong tersebut di atas meja kerja Adrian dengan sebuah gerakan yang sangat sopan dan penuh dengan rasa hormat yang tidak biasa.
"Ini masker buatan ibuku, pakailah sebelum tidur agar Dokter tidak terlihat seperti orang tua yang sedang terserang darah tinggi," kata Lala dengan nada suara yang lembut.
"Saya tidak butuh masker ini, saya hanya butuh ketenangan tanpa gangguan dari kamu selama dua puluh empat jam penuh," balas Adrian dengan sisa sisa kedinginannya.
Lala hanya tersenyum tipis lalu berbalik untuk meninggalkan ruangan tanpa melakukan aksi protes atau drama menangis seperti yang ia lakukan pada bab sebelumnya. Perubahan sikap Lala yang terkadang menjadi sangat dewasa secara tiba tiba justru membuat Adrian merasa jauh lebih terganggu daripada saat gadis itu sedang berisik. Ia menatap kantong plastik di atas mejanya dengan perasaan yang sangat bimbang antara ingin membuangnya atau mencoba menggunakannya sesuai saran Lala.
"Kenapa anak itu selalu bisa membuat saya merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia ini?" gumam Adrian sambil duduk kembali di kursi kerjanya.
Ia mengambil masker alami tersebut dan menghirup aromanya yang ternyata mengandung ekstrak bunga melati dan daun lidah buaya yang sangat segar. Tanpa sadar, sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibir Adrian saat ia membayangkan wajah Lala yang sedang sibuk meracik masker ini di rumahnya. Adrian segera menggelengkan kepalanya dengan kuat untuk mengusir pikiran pikiran tidak masuk akal yang mulai menjajah ruang otaknya yang seharusnya penuh dengan rumus medis.
"Fokus, Adrian, kamu adalah seorang dokter bedah, bukan seorang remaja yang sedang jatuh cinta secara ugal ugalan!" perintah Adrian pada dirinya sendiri dengan nada yang sangat tegas.
Malam harinya, Adrian benar benar mencoba memakai masker tersebut sambil berbaring di tempat tidurnya yang sangat luas dan terasa sangat sepi. Ia merasakan sensasi dingin yang meresap ke dalam pori pori kulitnya dan membuat jerawat rindu itu tidak lagi terasa perih atau gatal seperti tadi siang. Ia perlahan memejamkan matanya dan mulai terbawa ke dalam mimpi yang sangat aneh di mana ia sedang melakukan operasi besar terhadap sebuah jantung berbentuk hati.
Sangat aneh secara medis bagi seorang Adrian, saat ia terbangun di pagi hari dan menemukan jerawatnya sudah hilang namun seluruh dinding kamarnya kini dipenuhi oleh coretan lipstik berwarna merah muda.