NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Memikat Pangeran Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Bertani / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.

Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.

Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Validasi Sosial

Matahari bulan Oktober menggantung angkuh di langit Kulon Progo.

Tidak ada selembar awan pun yang berani menutupi wajah sang surya yang menyengat.

Suhu udara siang itu menyentuh angka tiga puluh empat derajat celcius, namun rasanya seperti empat puluh derajat di permukaan kulit.

Musim kemarau tahun ini datang dengan dendam.

El Nino. Fenomena anomali cuaca yang membuat curah hujan anjlok drastis.

Di sepanjang jalan desa, pemandangan menyedihkan terpampang nyata.

Sawah-sawah warga yang biasanya hijau bak permadani, kini berubah menjadi hamparan tanah retak.

Tanah lempung itu merekah, menciptakan celah-celah menganga selebar telapak tangan orang dewasa, seolah bumi sedang berteriak meminta minum.

Tanaman padi yang baru berumur sebulan tampak kerdil dan menguning.

Daun-daunnya melinting, hangus terbakar panas yang tak berkesudahan.

"Gusti... Puso maneh... Puso maneh..."

Ratapan itu terdengar dari gubuk-gubuk petani di pinggir pematang.

Para lelaki tua menghisap rokok linting klembak menyan dengan tatapan kosong, menatap modal jutaan rupiah yang hangus sia-sia dimakan kemarau.

Saluran irigasi sekunder dari Waduk Sermo sudah seminggu ini debitnya menyusut drastis.

Giliran air makin sulit didapat, memicu pertengkaran-pertengkaran kecil antar petani yang berebut menutup dan membuka pintu air di malam buta.

Desa itu sedang sakit.

Demam tinggi karena dahaga.

Namun, di ujung desa, di kaki bukit kapur yang selama ini dijuluki "Lahan Kematian", sebuah keajaiban sedang terjadi.

Sebuah anomali hijau yang mencolok mata.

Kontrasnya begitu tajam hingga menyakitkan bagi siapa saja yang melihatnya.

Di tengah lautan tanah cokelat dan debu abu-abu, bukit berbatu milik Sekar Wening justru tampak seperti zamrud yang berkilauan.

Tanaman kacang panjang melilit tiang-tiang bambu dengan gagah, daunnya hijau pekat dan segar.

Terong ungu bergelantungan gemuk, kulitnya mengkilap memantulkan cahaya matahari, seolah menantang panasnya udara.

Cabai rawit merah merona di balik rimbunnya daun, pedas dan menggoda.

Tidak ada tanda-tanda layu.

Tidak ada daun yang menguning karena heat stress.

Sekar Wening berdiri di salah satu undakan terasering, mengenakan topi caping lebar dan kemeja flanel kedodoran milik almarhum kakeknya.

Tangannya memegang sebuah alat pengukur kelembapan tanah digital murah yang dibelinya secara online.

Soil Moisture: 60%. Ideal, batin Profesor Sekar.

Dia menyeka keringat di pelipisnya.

Matanya menatap instalasi pipa bambu yang mengular di sepanjang bedengan tanamannya.

Sistem irigasi tetes gravitasi itu bekerja sempurna.

Air dari tandon oranye di puncak bukit mengalir pelan, menetes satu demi satu tepat di pangkal akar.

Efisien.

Tidak ada air yang terbuang percuma menguap ke udara karena panas matahari.

Namun, Sekar tahu, bukan hanya teknik irigasi yang membuat tanaman ini bertahan.

Faktor kuncinya adalah bio-stimulan yang dicampurkannya ke dalam tandon air itu.

Air spiritual dari Ruang Spasial.

Meski sudah diencerkan dengan rasio satu banding satu juta, efeknya terhadap turgiditas sel tanaman luar biasa.

Dinding sel tanaman menjadi lebih tebal dan elastis, mampu menahan penguapan berlebih.

Akar-akarnya tumbuh agresif menembus celah-celah batu kapur, mencari nutrisi dengan rakus.

"Non Sekar... ini... ini beneran panen lagi?"

Suara Pak Man membuyarkan analisis ilmiah di kepala Sekar.

Sopir tua itu berdiri di sampingnya sambil memegang keranjang bambu besar. Wajahnya dipenuhi keringat, tapi matanya berbinar takjub.

Dia baru saja memetik satu baris mentimun suri.

Buahnya besar-besar, padat, dan dingin saat disentuh.

"Iya, Pak. Lanjut petik yang sebelah sana ya," jawab Sekar tenang sambil menunjuk bedengan pare.

"Ajaib tenan..." gumam Pak Man sambil geleng-geleng kepala.

"Sawah Pak Dukuh di bawah sana padinya mati semua, Non.

Lha kok di atas batu malah ijo royo-royo begini?"

Sekar hanya tersenyum tipis.

"Rezeki anak sholeh, Pak," candanya ringan, menyembunyikan logika sains di balik jawaban klise orang desa.

Dia tidak bisa menjelaskan tentang manipulasi hormon pertumbuhan tanaman auksin dan sitokinin yang terkandung dalam air spiritual itu kepada Pak Man.

Sementara Sekar dan Pak Man sibuk memanen, jalanan di bawah bukit mulai ramai.

Bukan ramai pasar, tapi ramai orang-orang yang sengaja berhenti.

Para petani yang pulang dari sawah dengan wajah murung, kini memarkir sepeda motor butut mereka di pinggir jalan.

Mereka mendongak, menatap ke arah bukit kapur itu dengan mulut sedikit terbuka.

"Itu... itu tanahnya Sekar to?" tanya Pak Kromo, sesepuh tani desa, sambil memicingkan mata rabunnya.

"Iya, Mbah. Itu lahan tandus yang dulu kita ketawain pas dia beli," sahut seorang pemuda di sebelahnya.

Hening sejenak.

Mereka mencoba mencerna pemandangan di depan mata.

Logika pertanian turun-temurun yang mereka pegang seolah diputarbalikan.

Tanah subur di lembah justru kering kerontang.

Tanah cadas di bukit justru panen raya.

"Kok bisa ya? Padahal dia cuma nyiram pakai bambu bolong-bolong begitu," celetuk ibu-ibu yang lewat membawa rumput pakan ternak.

"Apa jangan-jangan dia pakai pesugihan?" bisik suara sumbang lainnya.

Biasanya, tuduhan seperti itu akan langsung diamini.

Apalagi dengan reputasi Sekar sebagai "Pembawa Sial" dan cucu yang dibuang.

Tapi kali ini, suasananya berbeda.

Bukti di depan mata terlalu nyata dan terlalu... indah.

Sayuran itu tampak sehat, bersih, dan menggiurkan.

Bukan seperti hasil sihir hitam yang biasanya menakutkan.

"Hush! Jangan asal ngomong!" potong Pak Kromo tiba-tiba.

Orang tua itu menunjuk ke arah tandon air oranye di puncak bukit.

"Itu bocah mikir. Dia bikin tandon. Dia bikin undakan. Dia tidak pasrah nunggu hujan kayak kita."

Pak Kromo menghela napas panjang, ada nada penyesalan dalam suaranya.

"Kita yang bodoh, Le.

Kita ngetawain dia, padahal dia lagi ngajarin kita cara bertani."

Kalimat Pak Kromo itu seperti mantra yang membalikkan angin.

Sebutan "Gadis Pembawa Sial" yang selama ini melekat pada Sekar, perlahan mulai retak.

Rasa jijik dan takut, perlahan berganti menjadi rasa penasaran. Dan bagi sebagian orang, rasa iri yang membakar.

Di gubuk bambu, Rahayu Ningsih sedang menata hasil panen di teras.

Wajahnya yang biasanya muram dan tertekuk takut, hari ini tampak berbeda.

Ada rona merah di pipinya.

Sejak insiden pengusiran Bibi Mirna kemarin sore, Rahayu seperti menemukan kembali tulang punggungnya yang hilang.

Dia menyeka terong-terong ungu itu dengan kain lap bersih, memperlakukannya seperti bayi.

"Bu, istirahat dulu. Minum tehnya," panggil Sekar yang baru turun dari bukit sambil membawa seikat kacang panjang.

Rahayu menoleh, tersenyum lebar.

"Nduk, lihat ini. Terongnya mulus-mulus sekali. Di pasar pasti laku mahal ini," ujar Rahayu antusias.

"Harga sayur lagi naik, Bu. Karena banyak petani gagal panen, stok di pasar sedikit," jelas Sekar sambil duduk di lincak.

Hukum supply and demand.

Kegagalan panen massal di wilayah ini adalah bencana bagi orang lain, tapi menjadi peluang emas bagi Sekar.

Dia bisa menjual hasil panennya dengan harga premium tanpa perlu tawar-menawar.

"Nduk..." Rahayu mendekat, suaranya melirih.

"Ibu dengar orang-orang di jalan tadi..."

Sekar menatap ibunya waspada.

"Mereka ngomong jahat lagi?"

Rahayu menggeleng cepat. Matanya berkaca-kaca.

"Bukan. Mereka bilang... 'Anaknya Rahayu itu tangannya dingin. Tanam apa saja jadi'."

Tangan dingin.

Istilah orang Jawa untuk seseorang yang berbakat dalam bercocok tanam.

Itu adalah pujian tertinggi bagi orang desa.

Sekar terdiam.

Dia mengambil gelas teh hangatnya, meniup uapnya perlahan.

Rasa hangat menjalar di dadanya.

Bukan karena teh, tapi karena melihat binar bangga di mata ibunya.

Validasi sosial. Hal yang sepele bagi Profesor Sekar, tapi segalanya bagi Rahayu Ningsih.

"Baguslah kalau begitu, Bu. Biar mereka tahu, kita makan dari keringat sendiri, bukan minta-minta," jawab Sekar tenang.

Tiba-tiba, suara deru mesin truk tua terdengar mendekat.

Truk engkel kuning milik pengepul sayur langganan Pak Man berhenti di depan pekarangan gubuk.

Biasanya, truk itu hanya lewat begitu saja, menuju ke desa sebelah yang lebih subur.

Tapi hari ini, truk itu berhenti khusus untuk mereka.

Sopir truk turun, matanya langsung membelalak melihat tumpukan karung goni berisi sayuran segar di teras gubuk.

"Walah dalah... Pak Man! Ini beneran panen segini banyak?" seru sopir itu takjub.

"Asli, Bos! Masih seger, baru petik sejam lalu!" sahut Pak Man bangga sambil menepuk dada.

Transaksi terjadi dengan cepat.

Sekar mengawasi penimbangan dengan teliti.

Otaknya menghitung kalkulasi kilogram dikali harga pasar saat ini.

Lima ratus ribu. Tujuh ratus ribu. Satu juta dua ratus ribu...

Angka di nota terus bertambah.

Dalam satu hari panen di tengah kemarau ini, Sekar menghasilkan uang setara gaji sebulan buruh pabrik di kota.

Warga yang menonton dari kejauhan menelan ludah.

Mereka melihat gepokan uang berwarna merah dan biru berpindah tangan dari sopir truk ke tangan gadis muda itu.

Di balik jendela rumah besar di seberang jalan, sepasang mata menatap kejadian itu dengan nyalang.

Bibi Ratna mengintip dari balik tirai tipis kamarnya.

Tangannya meremas kain gorden hingga kusut.

Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan emosi yang meledak-ledak.

Iri. Dengki. Dan ketakutan.

Dia melihat Rahayu tertawa lepas bersama sopir truk.

Dia melihat Sekar menghitung uang dengan tenang.

Gadis yang seharusnya hancur, gadis yang seharusnya mengemis di kaki keluarga suaminya, kini justru berdiri tegak sebagai satu-satunya orang yang 'kaya' di tengah bencana kekeringan ini.

"Dasar setan alas..." desis Ratna, giginya bergemeretak.

"Pasti pakai tuyul. Tidak mungkin tanah batu bisa begitu."

Ratna berbalik, menatap suaminya, Paman Rudi, yang sedang asyik bermain slot di hp di sudut kamar.

"Pak! Kamu lihat itu tidak?" bentak Ratna.

Rudi hanya bergumam malas, matanya tak lepas dari layar hp. "Lihat apa to, Bu? Berisik amat."

"Itu! Si Sekar panen lagi! Uangnya banyak!"

Mendengar kata 'uang', Rudi langsung menegakkan punggung.

Mata judinya yang merah dan sayu langsung berbinar licik.

"Uang? Berapa banyak?"

"Jutaan! Truknya penuh!" kompor Ratna.

Rudi meletakkan hp-nya.

Otaknya yang sudah rusak karena kecanduan judi mulai berputar cepat.

Dia teringat tagihan utangnya pada Pak Karsa, lintah darat paling kejam di kabupaten, yang jatuh tempo dua hari lagi.

Dia sudah kehabisan akal untuk membayar bunga utangnya yang mencekik.

Tapi melihat kemakmuran mendadak di gubuk sebelah, sebuah ide jahat terlintas di benak Rudi.

Dia ingat sertifikat tanah bukit itu.

Sertifikat yang secara teknis, menurut logika serakahnya, masih bisa diakali.

Rudi menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang kuning karena nikotin.

"Tenang, Bu," ujar Rudi sambil berdiri dan merapikan sarungnya.

"Uang itu tidak akan lama di tangan mereka.

Justru bagus kalau tanah itu subur."

"Maksud Bapak?" Ratna bingung.

"Tanah tandus tidak ada harganya.

Tapi tanah subur yang bisa panen saat kemarau..." Rudi terkekeh pelan, tawa yang terdengar seperti gesekan amplas kasar.

"...harganya bisa buat bayar utang Bapak lunas, plus beli gelang emas buat Ibu."

Di luar, angin kering berhembus kencang, menerbangkan debu jalanan.

Sekar yang baru saja selesai menghitung uang, tiba-tiba merasakan firasat buruk.

Bulu kuduk di tengkuknya meremang.

Insting survival-nya sebagai seseorang yang pernah hidup di dunia akademis yang penuh intrik menyala.

Dia menoleh ke arah rumah besar Eyang Marsinah.

Jendelanya tertutup rapat. Tenang.

Terlalu tenang.

"Kenapa, Non?" tanya Pak Man yang melihat perubahan ekspresi majikan mudanya.

Sekar menggeleng pelan. Dia memasukkan uang hasil panen ke dalam saku celananya dalam-dalam.

"Tidak apa-apa, Pak.

Ayo kita bereskan sisa keranjang ini.

Besok kita harus menyemai bibit sawi."

1
Fauziah Daud
hahaha rasakan
Fauziah Daud
luar biasa
Lala Kusumah
intrik terus berlanjut, kuat dan semangat ya Sekar 👍👍👍
lin sya
begitulah klo sekar hdup dgn warga yg gk pinter ilmu percaya takhayul gmpang diadu domba, klo trbukti bikin kapok dan gak ganggu lgi
Luvqaseh😘😘
mak nye pun..bodo amat...
Musdalifa Ifa
bagus Sekar pertahankan sikap tegas mu dan beri pengertian pada ibu mu walaupun itu menyakitkan nya tapi itu lebih baik daripada hidup dalam dunia halu
Leni Ani
lanjut thor,bagus sekar.kalau bapak durjanem mu iku banyak tingkah mintak tolong aja sm mas arya😅😅👍👍
Leni Ani
ndas mu prasitiyo,mana mau sekar sm kamu yg mentelantar kan nya sm ibu nua di gubuk reyo,malah nanti karir mu yg amblas😅😅😅😅👍
gina altira
jgn kasih celah Sekar,, babat habis klo bisa
Leni Ani
mantap sekar jangan mau jd alat uji coba orang lain.lebih baik kamu tambah beli tabah supaya orang tahu kerja keras mu💪💪👍👍
nur
aq kok ksel banget rsane ro ibumu sekar
Leni Ani
😅😅😅😅💪👍
sahabat pena
dia adalah pangeran.
Lala Kusumah
good job Sekar 👍👍👍💪💪💪😍😍😍
lin sya
good sekar bpk durhaka itu anak yang dibuang dan dianggep sial mau dijdiin sapi perah gk tau malu, klo mengusik viralin aj dimajalah koran biar jabatan terancam jd gembel, greget bacanya 🤭
Markuyappang
suka dengan karakter sekar tapi nggak suka dengan karakter ibunya. ibunya terlalu bodoh dan gampang banget ditipu, alasannya selalu ingin jadi keluarga yg utuh tapi nggak pernah ngelihay gimana anaknya berjuang. udah selalu diingetin tapi selalu diulangin trs menerus gak pernah berubah. kirain yg habis nyuri barang anaknya bakalan berubah eh ternyata masih sama aja masih sama sama bodoh, terlalu nurut keluarga laknat itu, terlalu takut, dan terlalu berharap. kenapa gak bisa lihat susahnya anaknya berjuang dan menderitanya anaknyaaa gegara keinginan dia coba. lama lama anak mu sendiri yg pergi gegara sikap bodohmu itu bu rahayuu
Darti abdullah
luar biasa
Leni Ani
cerita nya bagus tapi kebanyaan analisis ngak bagus jg thor,jadi analidis yg banyak cerita pemeran nya sedikit,itu jadi nya cerita pemeran dlm cerita ini kayak kasat mata🙏🏻
INeeTha: Terimakasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Alif
alurnya lambat readher harus sabar membacanya
Musdalifa Ifa
wow Sekar selamat ya🤝, dan untuk author juga wow ceritanya bagus 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!