NovelToon NovelToon
Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Merawat Anak Dari Calon Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Single Mom / Anak Genius / Duda / Cintapertama
Popularitas:845
Nilai: 5
Nama Author: Ega Sanjana

Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Berubah

Empat tahun berlalu seperti kilat. Lila sudah masuk kelas enam SMP, sedangkan Siti sudah di kelas dua SD. Hidup mereka masih bahagia, tapi tantangan baru mulai muncul seiring usia anak-anak tumbuh dan pekerjaan mereka semakin sibuk.

Rara telah menerbitkan tiga buku lagi yang semuanya laris, dan dia mulai mengelola lembaga menulis untuk anak-anak di Sorong. Pekerjaannya membuat dia keluar rumah sering, dan kadang dia pulang terlambat—sedangkan Lila yang mulai memasuki masa remaja membutuhkan perhatian lebih banyak.

Satu hari, Rara pulang rumah dan melihat Lila duduk di sudut ruang tamu, wajahnya murung. Buku catatan sekolahnya terbuka di mejanya, dan nilai matematikanya turun drastis.

"Lila, apa ada yang salah? Kenapa nilai kamu turun?" tanya Rara, mendekatnya.

Lila tidak menjawab, hanya menangis. Setelah beberapa saat, dia berkata dengan suara terisak-isak: "Bu selalu sibuk kerja, Ayah juga pulang terlambat. Aku merasa sendirian. Di sekolah, teman-temanku ada ibu bapaknya yang nemenin belajar, tapi aku cuma sendirian."

Rara merasa hatinya tertekan. Dia tidak menyadari bahwa kesibukannya membuat Lila merasa terlupakan. Dia memeluk Lila erat. "Maaf, sayang. Bu tidak sengaja. Bu akan mengatur waktu lebih baik, ya? Besok malam, kita belajar matematik bareng, ya?"

Pada malam itu, Rara membatalkan janji kerja untuk belajar bersama Lila. Mereka duduk di meja makan, Rara mengajarkan dia dengan sabar—bahkan membuat permainan dari soal matematika agar Lila tidak bosan. Lila pun mulai senyum lagi, dan dia memegang tangan Rara. "Terima kasih, Bu. Aku suka begini."

Tapi tantangan tidak berhenti disana. Rama yang menjadi direktur proyek di kantornya mendapatkan tugas untuk bekerja di Makassar selama enam bulan. Dia ragu untuk pergi, tapi ini penting untuk masa depan keluarga.

"Aku takut meninggalkan kamu berdua dengan Siti," ujar Rama kepada Rara malam sebelum dia pergi. "Siapa yang akan membantu kamu kalau ada masalah?"

"Aku kuat, Rama. Kita semua kuat. Kamu hanya perlu fokus kerja, nanti kita menelepon setiap hari," ujar Rara, memeluknya.

Selama Rama berada di Makassar, Rara harus mengurus semuanya sendirian: pekerjaan, Lila yang mulai cerewet, dan Siti yang sering sakit karena musim flu. Suatu malam, Siti demam tinggi sampai 40 derajat, dan Lila juga sakit perut. Rara harus membawa keduanya ke rumah sakit sendirian, dan dia menangis di kamar tunggu sambil menunggu hasil pemeriksaan.

"Bu jangan nangis," ujar Lila, memegang tangan Rara meskipun dia juga lemah. "Aku akan membantu Bu merawat Siti."

Setelah dua minggu, Rama pulang dengan cepat setelah mendengar kabar keduanya sakit. Dia memeluk Rara dan anak-anak dengan erat, dan dia bersumpah akan mencari cara agar tidak lagi pergi jauh dari keluarga. Dia bahkan mengusulkan untuk membuka kantor cabang di Bali , agar dia bisa bekerja dan tetap bersama keluarga.

Setelah Rama membuka kantor cabang di Sorong, hidup mereka sedikit lebih tenang. Dia pulang lebih cepat, dan mereka sering menghabiskan waktu bersama di akhir pekan—berjalan-jalan ke pantai Pasir Putih, membuat kue bersama, atau hanya duduk di rumah menonton film.

Tapi tantangan yang lebih besar datang tiba-tiba. Nenek Rama yang selalu membantu merawat anak-anak tiba-tiba sakit stroke dan harus dirawat di rumah sakit selama lebih dari sebulan. Semua keluarga harus bekerja sama merawatnya, dan Rara harus mengatur waktu antara pekerjaan, anak-anak, dan merawat nenek.

"Saya akan membantu Bu merawat Nenek," ujar Lila, yang sudah masuk kelas tujuh SMP. "Saya bisa bawa makan ke rumah sakit dan membantu membersihkan kamar Nenek."

Rara merasa bangga pada Lila. Anak yang dulu pemalu dan takut menerima dia sekarang sudah tumbuh menjadi anak yang penyayang dan bertanggung jawab. Siti juga ikut membantu—dia membuat kartu ucapan untuk nenek dan menyanyikan lagu kesukaan nenek setiap kali mengunjunginya.

Selama nenek dirawat di rumah sakit, Rara dan Rama sering berbicara tentang arti keluarga. "Kita memang banyak menghadapi tantangan, tapi kita selalu bersama," ujar Rama, memegang tangan Rara. "Itu yang paling penting."

Setelah nenek pulang dari rumah sakit, dia butuh perawatan rutin. Rara memutuskan untuk mengambil cuti sementara dari pekerjaannya agar bisa merawat nenek dan anak-anak. Lila yang melihat usaha Rara mulai lebih memahami betapa sulitnya menjadi ibu dan anak tiri yang baik.

"Saya tahu Bu bekerja sangat keras, Bu," ujar Lila satu malam, ketika mereka sedang merawat nenek bersama. "Saya bangga punya Bu sebagai ibu. Ibu Siti pasti juga bangga pada Bu."

Kata-kata itu membuat Rara menangis senyum. Semua kesulitan yang dia lewati—mulai dari kejutan tentang Lila, tantangan masa remaja, pekerjaan yang sibuk, sampai merawat nenek—semuanya berharga karena dia mendapatkan keluarga yang penuh cinta.

Beberapa bulan kemudian, nenek mulai pulih sedikit. Mereka mengadakan pesta kecil di rumah untuk merayakan pemulihan nenek dan ulang tahun Lila yang ke-13. Semua keluarga dan teman datang, dan Lila memberikan pidato singkat.

"Terima kasih kepada Ayah dan Bu yang selalu mencintaiku dan merawatku," ujar Lila, melihat Rara dengan mata yang penuh cinta. "Bu bukan hanya ibu tiri buatku—Bu adalah ibu yang sesungguhnya. Tanpa Bu, keluarga kita tidak akan sebahagia ini. Terima kasih, Bu."

Semua tamu menangis terharu, dan Rara memeluk Lila erat. Rama berdiri di samping mereka, memegang Siti di pangkuannya. Dia melihat keluarga yang dia miliki, dan dia tahu bahwa semua kesulitan yang dia lewati di masa lalu adalah jalan menuju kebahagiaan yang sesungguhnya.

Malam itu, mereka duduk di teras rumah, melihat bintang-bintang yang bersinar terang. Ombak memukul pantai dengan suara lembut, seolah menyanyi lagu untuk keluarga yang penuh cinta.

"Kita sudah melalui banyak tantangan, ya?" ujar Rara kepada Rama.

"Ya, tapi kita selalu bersama," ujar Rama, memeluknya. "Dan itu yang membuat kita kuat."

Lila dan Siti memeluk keduanya, dan mereka berdiri bersama di teras, menyaksikan matahari terbit yang memancarkan cahaya baru ke langit Bali . Hidup mereka tidak selalu mulus, tapi dengan cinta dan kerja sama, tidak ada tantangan yang tidak bisa mereka atasi.

Dan mungkin dengan tantang kecil ini mereka akan bisa melalui tantangan yang lebih besar nanti di masa depan.

Tapi mungkin tantanga besar itu akan menjadi ujian terbesar mereka dalam hidup .

Semoga di masa depan nanti ,kedua anak ku ini tidak mempunyai sifat yang iri ,dengki,satu sama lain .batin Rara sambil menatap keluarga kecil yang akan ia jaga sepenuh hatinya .

Yeah ,siti sayang sama ,ayah ,ibu dan kak Lila , semoga kita trus bersama di masa depan nanti ,ucap gadis kecil itu dengan girang .

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!