🖊SEQUEL MENIKAHI SUAMI TIDAK NORMAL.
Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.
Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.
8 tahun berlalu...
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
*******
Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.
Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTML013- Dinner
Sepulang sekolah, para siswa-siswi berhamburan keluar melewati gerbang sekolah, Ziya dan Axan menyisir sekitar dan melihat keberadaan orang tuanya dibalik kerumunan teman-temannya.
"Xan, Mama ku disana!" tunjuk Ziya.
Karena banyak kendaraan orang tua yang menjemput anaknya masing-masing, Ziya tidak bisa lewat begitu saja. Alena memberi isyarat agar Ziya menunggu terlebih dahulu.
"Om!!!" Ziya kegirangan saat melihat Pak Alex berjalan menerobos keramaian dan berjalan ke arah Axan dan Ziya.
"Eh," Alena menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat melihat Pak Alex yang tiba-tiba berjalan menghampiri kedua anak itu.
"Om," sapa Alena setelah Pak Alex tiba.
Pak Alex tersenyum, ia berjongkok agar sejajar dengan kedua anak itu. Ziya tersenyum saat Pak Alex tiba-tiba menggendong Axan dan dirinya.
"Wah, Om kuat banget." puji Ziya seraya menusuk-nusuk dada Pak Alex dengan jari kecilnya.
"Padahal Xan bisa jalan saja, Pa."
Pak Alex melewati keramaian dengan menggendong Axan dan Ziya di kedua sisinya, baginya menggendong dua anak ini beratnya tidak seberapa. Diseberang sana Alena tersenyum saat melihat ekspresi bahagia Ziya saat digendong Pak Alex.
"Mama," Ziya melambaikan tangan saat hampir mendekat ke mobil Alena.
Pak Alex menurunkan Ziya dan Axan, Ziya langsung menggandeng tangan Alena.
"Makasih lagi, kak." ucap Alena, Pak Alex hanya tersenyum kecil.
"Mama, Xan bilang Mama sama Om mau ketemu ya?"
Alena melirik Axan sekilas.
"Eee itu Xan tidak sengaja lihat HP Papa." ujar Xan.
"Sekarang??" tanya Ziya lagi.
"Om masih ada pekerjaan siang ini, nanti malam kita akan bertemu lagi." Pak Alex ikut menjawab.
"Okeee!" Ziya mengacungkan jempol.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Malam harinya, Ziya sudah selesai menghias diri dengan baju anggunnya. Awalnya ia ingin mengenakan baju santai saja, namun mengingat malam ini akan memberi kejutan untuk Ibunya, ia berencana akan mengambil potret, akhirnya ia mengenakan pakaiannya dengan pakaian yang lebih cantik dan anggun. Ziya juga meminta Alena untuk menata rambutnya sama seperti Alena.
Ziya memandangi pantulan dirinya di cermin, setelah atasan dan rok yang menempel di tubuhnya membuatnya menampilkan kesan lucu menggemaskan. Atasan tanpa lengan bermotif kotak-kotak berwarna hitam putih berpadu manis dengan rok lipit warna khaki yang bergoyang setiap kali ia berjalan. Sepasang sneakers putih membuat langkahnya ringan, seperti tak ada beban dunia yang mampu menghentikannya hari ini. Rambutnya disanggul dengan poni yang dibiarkan terurai, di sanggulnya terpasang hiasan rambut berbentuk bunga sakura dan mutiara kecil. Untaian manik-manik halus menjuntai lembut dari sanggulnya. Namun Ziya berpikir sepertinya hiasan rambutnya kurang cocok dengan pakaian yang dikenakan saat ini, ia pun melepas hiasan rambut yang mengelilingi sanggulnya, ia menggantinya dengan jepit bunga sakura berukuran kecil di belakang poninya.
Rambut Alena ditata serupa, hanya berbeda pada warna dan bentuk hiasan yang mengelilingi sanggulnya saja.
"Ziya, mau sampek kapan ngaca?" tanya Alena yang bersandar di pintu kamar Ziya.
"Hehe, ini udah selesai kok, Ma."
"Ya udah, ayo berangkat biar pulangnya nggak terlalu malem."
"Iya,"
Di sepanjang perjalanan Ziya terlihat sangat bersemangat, ia sudah tidak sabar untuk segera tiba di lokasi.
"Ziya nggak ngantuk?" tanya Alena.
"Aman, Mama. Tadi siang Ziya udah tidur puas."
"Oke, kalau tidur nanti sayang rambutnya."
Ziya mengangguk. 30 menit kemudian mereka tiba di sebuah restoran yang cukup ramai pengunjung bermobil. Ziya turun dari mobil dan disusul Alena. Mereka berdua bergandengan tangan saat memasuki restoran, mata Alena menyisir ruangan untuk mencari nomor meja yang telah dipesan.
Mata Alena berhenti saat melihat Pak Alex dan Xan sudah duduk di meja, mereka berdua segera menyusul.
"Om!" sapa Ziya.
"Sudah datang ya?" Pak Alex menjawil hidung Ziya.
"Iya, tadi dandannya lama."
Ziya langsung duduk disebelah Pak Alex, Alena menepuk jidatnya pelan.
"Ziya, ngapain disitu? Sini, duduk sama Mama." Alena menepuk kursi kosong disebelahnya.
Ziya tersenyum canggung, saat melihat kursi Pak Alex masih ada ruang yang cukup untuk dirinya, tanpa berpikir panjang ia langsung duduk.
Ziya pun pindah duduk disebelah Alena, Axan hanya menatap datar ke arah Ziya.
"Papa, Xan mau duduk dengan Ziya. Kami ada urusan."
Pak Alex langsung mengerutkan kening, pikirannya sudah kesana-sini, khawatir anaknya memiliki rasa pada Ziya, kalau mereka sampai seperti dugaannya maka sirna sudah harapan untuk menggaet Alena.
"Iya Om, Ziya mau duduk sama Xan. Kami ada tugas rahasia."
"Ziya, jangan gitu." tegur Alena.
Ziya membuat ekspresi sedih, ia menatap Pak Alex dengan wajah memelas.
"Baiklah," Pak Alex luluh, ia berdiri dan bertukar tempat dengan Ziya.
Pak Alex dan Alena hanya bisa duduk dengan perasaan canggung. Waiters datang dan memberikan buku menu, Alena dan Pak Alex sudah selesai memilih, lain hal dengan Axan dan Ziya yang masih sibuk dengan buku menu, mereka terus berbisik dengan buku menu yang menutupi Ziya agar Alena dan Pak Alex tidak tahu apa yang mereka pilih.
"Yang ini bagus," bisik Ziya sambil menunjuk menu nasi kuning yang dihias mewah dan unik.
"Masa nasi kuning?" bisik Axan.
"Yang ini permukaannya bisa minta dibuat datar."
Usai berdebat akhirnya Axan mengalah. Mereka berdua memilih menu masing-masing, setelah itu waiters pergi ke belakang untuk mengurus orderan.
"Ma, Ziya mau ke toilet."
"Mama anter ya,"
Ziya menggeleng.
"Aku dianter Axan aja," tolak Ziya.
Sontak penolakan itu membuat Alena, Pak Alex dan Axan sendiri terkejut bukan main. Pikiran Pak Alex dan Alena sudah jauh dari kata positif.
"O-Oh iya, Xan juga mau ke toilet. Tante sama Papa disini saja, jaga-jaga pesanan kita datang." ujar Axan yang mengerti maksud Ziya.
Belum sempat Alena dan Pak Alex mengeluarkan suara, Ziya dan Axan sudah melangkah pergi dengan langkah setengah berlari.
"Astaga Ziyaaaaa." Alena menghela napas.
Kini benar-benar hanya ada mereka berdua, rasa canggung semakin menjadi-jadi, Pak Alex tiba-tiba mati kutu dan kehilangan seribu topik yang sudah dirancang di otaknya.
Alih-alih pergi ke toilet, Ziya dan Axan justru berjalan ke arah meja kasir.
"Permisi kak." ucap Axan dengan sopan,
"Iya adik-adik, ada yang bisa kakak bantu?"
"Kami dari meja nomer 10 kak, kami mau merubah pesanan." kini giliran Ziya yang berbicara.
"Ohhh, oke sebentar. Kakak lihat pesanannya dulu ya."
Mereka berdua menunggu dengan patuh hingga akhirnya rincian pesanan mereka dibacakan.
"Nah yang nasih kuning itu yang mau di ubah kak." kata Ziya.
"Mau diganti dengan menu yang mana, Dik?"
Ziya menggeleng pelan.
"Nggak diganti, Kak. Ziya mau nasinya ditambahin tulisan."
"Bisa, Kak?" tanya Axan.
"Eee- ini.. Apakah orang tua kalian sudah tahu? Soalnya request Adik ini akan dikenakan biaya."
Axan mengeluarkan uang dari sakunya, uang ini milik Ziya dan dirinya di sekolah tadi dan dititipkan pada Axan.
"Kami ada uangnya. Ini kejutan untuk-" Axan menghentikan kalimatnya.
"Ini kejutan untuk Mama kami." sambung Ziya.
"Ohhh baiklah kalau begitu. Mau request bagaimana?"
Ziya menjelaskan detail hiasan yang diinginkan, sedangkan Axan masih terdiam, ia mencoba mencerna kebohongan yang baru saja Ziya lontarkan.
aku baca dulu
lex kak
jadi pinisirin