NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Segera diresmikan ?

Hamka:

Cowok tadi siapa? Bukan pacar kamu kan?… pasti bukan.

Naura tersenyum kecil tanpa sadar. Senyum yang bahkan tak ia rencanakan.

Naura:

Kepo

Balasan Hamka langsung menyusul.

Hamka:

Asal dia bukan pacar kamu

Naura menatap layar cukup lama. Jarinya sempat berhenti di atas keyboard sebelum akhirnya mengetik.

Naura:

Kalo pacar aku emang kenapa? ..Kamu juga pasti udah punya banyak pacar kan?

Beberapa detik berlalu.

Naura hampir mengira Hamka tak akan membalas.

Lalu…

Hamka:

Yang suka aku sih banyak…kamu tau sendiri kan sepopuler apa aku ini 😎

Naura berdecak sebal karena tingkat kepedean laki -laki itu masih sama..tak berubah ...dasar kampret .

Hamka :

tapi…mereka bukan tipe aku..

Naura :

😏

Hamka :

Tanya dong ..tipe aku kaya gimana?

Hamka terkekeh pelan

Naura :

Nggak penting

Hamka :

Aku lebih suka cewek jutek dan berisik ...kaya cewek yang sekarang lagi baca chat aku

Napas Naura tertahan.

Bisa-bisanya laki-laki ini membuatku salah tingkah.

Meskii ia tahu Hamka mungkin hanya bercanda .

Naura sudah hampir menaruh ponselnya ketika layar tiba-tiba bergetar..panggilan masuk.

“Ngapain sih…” gerutunya pelan. Tapi jarinya tetap menekan tombol hijau.

“Kenapa nggak dibalas?” suara Hamka terdengar santai

“Ngantuk ." jawab Naura datar

" Oh.." Hamka terkekeh. "kirain salting."

Ia menelan ludah, lalu berkata cepat, berusaha terdengar biasa,

" Tidur, Hamka ."

“Hmm… iya,” sahut Hamka, nadanya turun lebih rendah

" Hooooaaam....."Naura pura-pura menguap.

" Wahhh...kalo nguap di tutup dong Naw. Aku hampir kesedot nih ."Hamka tertawa lagi .

Naura mendengus. “Lebay.”

"Ya udah..selamat malam,” ucap Hamka akhirnya, suaranya hangat.lembut .

“Naw.." panggilnya lagi seolah ia enggan menutup telponnya

" Hem.." jawab Naura pelan.

Hening menyelinap.

Hanya ada deru napas di antara mereka, tipis namun terasa dekat.

"Jangan pergi lagi, ya..."

Telepon terputus

Ponsel masih digenggam erat.

Di kamar sempit itu, rasa rindu yang lama ia kubur perlahan bernapas lagi.

***

Pagi di kosan Naura terasa lebih pelan dari biasanya.

Cahaya matahari menembus celah gorden tipis, jatuh tepat di lantai kamar yang sempit namun rapi. Udara masih menyisakan dingin malam, membuat Naura enggan beranjak dari kasurnya. Ia menggeliat malas, menarik selimut lebih tinggi, seolah ingin mencuri waktu sedikit lebih lama dari dunia luar.

Hari itu tak ada jadwal kuliah.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia juga sengaja mengambil jatah off dari kafe.

Bukan tanpa alasan.Hari ini ia akan mengunjungi ayahnya .

Ponsel di samping bantalnya menyala, menunjukkan waktu yang sudah lewat dari biasanya ia bangun. Namun Naura tak tergesa. Ia hanya menatap layar sebentar, lalu mematikannya kembali.

Ada perasaan yang selalu sama setiap kali hari itu tiba.Meskipun sudah tiga tahun ia melewatinya. Campuran rindu dan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Ia bangkit perlahan, duduk di tepi kasur, lalu menarik napas panjang seakan sedang menguatkan diri.

Di luar kamar, kosan masih lengang. Beberapa pintu tertutup rapat, suara sapu ibu kos terdengar samar dari kejauhan. Naura berjalan ke kamar mandi dengan langkah santai, membiarkan pagi berjalan sesuai ritmenya sendiri.

Hari ini, ia ingin pelan-pelan.

Karena ada pertemuan yang tak pernah benar-benar siap ia hadapi, meski sudah berkali-kali ia jalani.

Ponselnya kembali bergetar di atas kasur.

Nama Hamka muncul di layar.

Naura menatapnya beberapa detik, ragu.

Akhirnya ia membuka pesan itu.

Hamka:

Kerja jam berapa hari ini? Pulangnya sore apa malam?

Ngapain nih cowok nanya-nanya ? batin Naura.

Meski menggerutu perempuan ini tetap membalas pesan dari Hamka .

Ia berpikir sejenak ..

Naura:

Aku nggak kerja ,ada kegiatan di kampus .

Pesan terkirim

Ia memejamkan mata sesaat, ada rasa bersalah yang menyelip di dadanya.

Namun kebohongan kecil itu terasa perlu.

Hamka :

Ohh..sampe jam berapa ?

Naura berpikir lagi..bukannya terlalu percaya diri ,tapi Hamka pasti akan menjemputnya nanti.

Naura :

Aku nggak tau..

Hamka :

Hubungi aku jika sudah selesai .

Kalimat Hamka seperti perintah yang tak menerima penolakan .

Namun anehnya, ada kehangatan kecil yang diam-diam ia nikmati.

***

Naura sudah bersiap sejak pagi.

Ia mengenakan kemeja sederhana berwarna lembut, rambutnya diikat rapi ke belakang. Di tangannya, sebuah kotak kue tart kecil ia genggam erat kue yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Tak mewah, tapi selalu ia pilih dengan hati-hati. Karena hari ini… adalah ulang tahun ayahnya.

Tak lama kemudian, suara klakson motor terdengar dari depan kosan.

Hanif.

Meski sebelumnya Naura sempat menolak,namun Hanif tetap menjemputnya .

Hanif tahu. Hari ini bukan hari biasa bagi Naura. Sejak tahun lalu..bahkan sejak tahun-tahun sebelumnya,Naura tak pernah absen datang ke tempat itu di tanggal yang sama, membawa kue, membawa rindu, membawa harapan yang tak pernah benar-benar padam.

“Udah siap?” tanya Hanif lembut saat Naura keluar gerbang kosan.

Naura mengangguk. “Iya.”

Hanif melirik kotak kue di tangan Naura, lalu tersenyum tipis.

Tak ada lagi percakapan setelah itu.

Perjalanan mereka diisi oleh diam yang penuh pengertian.

Begitu sampai di depan bangunan abu-abu itu, langkah Naura melambat. Seperti biasa, dadanya mengeras. Bangunan penjara itu masih sama..dingin, sunyi, dan selalu berhasil mengaduk perasaannya.

Hanif berhenti tak jauh dari pintu masuk.

“Aku tunggu di sini,” katanya. “Santai aja.”

Naura mengangguk lagi, lalu melangkah masuk seorang diri.

Di ruang kunjungan, ayahnya sudah duduk menunggu. Rambutnya kini lebih banyak putih, wajahnya tampak lebih tirus dari terakhir kali mereka bertemu. Namun saat mata mereka bertaut, senyum itu… masih sama.

“Selamat ulang tahun, Yah,” ucap Naura lirih sambil menyodorkan kotak kue.

Ayahnya tersenyum, matanya berkaca-kaca.

" Terimaksih ,nak.” Katanya pelan.

Naura hanya tersenyum kecil.

Ia tak berani berkata banyak. Tak ingin air matanya jatuh terlalu cepat.

Mereka berbincang sederhana.

tentang kuliah, tentang kerja di kafe, tentang hal-hal kecil yang aman untuk dibicarakan. Tak ada keluhan. Tak ada tangisan. Hanya rindu yang disimpan rapat-rapat di sela kalimat.

Saat waktu kunjungan hampir habis, ayahnya menggenggam tangan Naura erat.

“Jaga diri kamu baik-baik,” ucapnya. “Ayah selalu doain kamu.”

Naura mengangguk, tenggorokannya tercekat.

“Iya, Yah.”

Saat kunjungan selesai , langkahnya terasa lebih berat dari saat masuk.

Ada perasaan yang selalu sama setiap kali ia meninggalkan tempat itu..kosong, sesak, sekaligus rindu yang tak pernah benar-benar punya tempat.

Meski perlahan ia sudah menerima ,namun memikirkan Jika ayahnya akan masih lama di dalam tahanan itu membuat hatinya sakit.

Hanif memperhatikan wajah Naura lewat spion motornya.

“Ra..mau nggak mampir bentar ke rumah? "ucapnya memecah lamunan Naura .

Motor mereka melaju pelan, membelah jalan yang mulai sepi. Hingga akhirnya Hanif kembali membuka suara, sedikit ragu namun penuh niat baik.

“Ibu dari kemarin nanya terus… kapan kamu main ke rumah. Katanya, udah lama nggak lihat kamu.”

Naura terdiam sesaat. Ia tahu betul maksud ajakan itu. Orang tua Hanif memang selalu bersikap hangat padanya, mungkin karena ayah Hanif adalah sahabT dari ayahnya Naura .

“Itu juga Kalo kamu nggak capek…" lanjut Hanif.

Naura akhirnya mengangguk pelan. “Ya…boleh ."

Tak lama mereka pun tiba di rumah orangtua Hanif.

Rumah Hanif tak banyak berubah. Halamannya masih bersih dengan pot-pot bunga yang tertata rapi. Begitu motor berhenti, pintu rumah sudah terbuka lebih dulu.

“Naura?” suara lembut itu terdengar. “MasyaAllah… kamu datang.”

Bu Mariam menghampiri dengan senyum tulus, menarik tangan Naura masuk seolah ia adalah anaknya sendiri. Tak ada pertanyaan berlebihan. Hanya kehangatan yang membuat dada Naura kembali menghangat..dengan cara yang berbeda.

“Kamu kelihatan kurusan,” ujar beliau sambil mengelus punggung tangan Naura. “Pasti capek ya.”

Naura tersenyum kecil. “Sedikit, Bu.”

Ia duduk di ruang tamu, disuguhi teh hangat dan camilan sederhana. Obrolan mereka ringan..tentang kuliah, tentang kerja, tentang hal-hal kecil yang tak menuntut Naura untuk menjelaskan luka-lukanya.

Dan di sana, di rumah yang bukan miliknya, Naura merasa aman.

Sejenak saja.

“Naura… ibu mau bertanya sesuatu,” ujar Bu Mariam pelan, dengan raut sedikit ragu.

Naura menoleh, masih tersenyum tipis.

“Bagaimana hubungan kamu dengan Hanif?” lanjutnya hati-hati. “Maksud ibu… kalian sudah saling kenal lama, dan terlihat sangat cocok. Bagaimana kalau hubungan kalian segera diresmikan?”

Sontak, kata-kata itu membuat Naura tertegun.

Segera diresmikan?

Padahal, meski ia dan Hanif terlihat dekat, hubungan mereka tak pernah lebih dari sekadar teman.

Lidah Naura terasa kelu. Dadanya mengencang.

Ia bingung harus menjelaskan dari mana..dan dengan cara seperti apa.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!