Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Kendati Aira mengatakan ***InsyaAllah***, setidaknya Aku cukup lega. Dia akan mengusahakan untuk membawaku pergi secara diam-diam saat hari pernikahan nanti.
Aku pun sudah bisa tidur dengan nyenyak.
Sudah tiga hari berlalu Aku pulang dari rumah sakit. Selama itu pula Aku hanya di rumah saja, bosan sudah pasti. Aku juga tidak ke mana-mana tapi orang-orang yang mendatangiku untuk membesuk, kecuali Kim Taehyung kw. Dia tidak datang sama sekali.
Kulihat dari balkonnya pun lelaki itu tidak pernah menampakkan diri lagi di sana.
Aish, kenapa juga Aku harus ingat dia sih?
“Ra, kita jalan yuk?” ajakku.
Satu menit berlalu tidak ada jawaban dari sahabatku itu. Aku pun berbalik mencarinya yang tadi rebahan di kasurku, sedangkan Aku sedang berdiri di balik jendela.
Aku menghela ketika mendapati Aira sedang bertelepon dengan pacarnya. Pantas saja dia tidak mendengar saat Aku mengajaknya bicara, ternyata dia sedang berada di dunianya sendiri.
Aku menoleh sekali lagi ke arah balkon sebelum menyusul Aira ke kasur. Satu kata, sepi. Di sana sepi dan selalu sepi.
“Ra, jalan yuk!” Aku ulangi. Sengaja berbicara lebih tinggi biar yang di sana berhenti menelpon sahabatku. Biar dia juga tahu kalau Aku di sini hanya jadi obat nyamuk diantara mereka, karena dua sejoli itu hanya sibuk berteleponan.
“Bentar ya Yang.” kata Aira berbicara dengan orang di dalam telepon. “Mau ke mana, Din?” tanyanya padaku.
“Terserah.” jawabku singkat.
Aira memutar bola matanya. Dia mendengarkan lagi suara dari seberang sana.
“Din, kita nongkrong ke cafe aja mau nggak?” tanya Aira.
Aku langsung mengangguk. Terserah ke mana saja, yang penting menghirup udara luar.
“Dinda mau, Yang. Ya udah kita jalan sekarang ya?” ujar Aira masih berbicara dengan orang di telepon, “Dah ya, kita otw sekarang. Dadah Ayang, saranghae, muah!”
Aku bergidik ngeri memperhatikan sahabatku itu yang sedang dimabuk asmara.
“Yuk berangkat?” seru Aira semangat yang mau ketemu sama Ayangnya.
Aku hanya menjawab dengan menggariskan bibirku sekilas. Sepertinya Aku akan jadi obat nyamuk lagi setelah ini. Hmm...
Tapi tak apalah.
Kebetulan Aira main ke rumahku membawa mobil hari ini, jadi ibu Elyana tidak banyak bertanya lagi dan langsung mengizinkan Aku untuk jalan-jalan.
Aku menyandarkan punggungku di jok mobil ketika sahabatku itu memarkirkan mobilnya. Aira tidaklah salah mengajakku ke cafe, tapi masalahnya kenapa harus cafe yang dekat rumah sakit?
Jadi jatuhnya Aku tuh tetap nggak jalan-jalan, masih ke tempat yang itu-itu saja.
Dah lah.
“Din, kita duduknya di samping aja ya? View di sana lebih bagus, anginnya juga sepoi-sepoi.”
Terserah, Ra. Terserah!
Aku hanya mengekorinya yang berjalan lebih dulu seraya bertelepon lagi dengan pacarnya, Kak Jonie.
Kondisiku yang belum sepenuhnya stabil belum bisa menahan angin yang terlalu banyak, Aku kedinginan. Mana Aku hanya memakai cardigan tidak terlalu tebal.
“Ayang... ” Aira melambaikan tangannya ke arah pacarnya yang belum terlihat oleh ku.
“Sini, duduk sini aja. Dekat Aku, di sana biar Dinda sama—”
Aku yang hanya menunduk, perlahan mengangkat kepala. Sama? Sama siapa?
“Operasinya sudah selesai?” tanya kak Jonie. Aku? Dia terlihat seperti melihatku, tapi tidak melihatku!
Apa ada orang dibelakangku? Aku bertanya dalam hati.
“Baru saja selesai.” kata seseorang yang memang berdiri di belakangku.
Deg!
Glek!
Suara itu.
Kim Taehyung kw.
“Silahkan duduk Dinda, Aydan.” kata kak Jonie.
Aku pun duduk di tempat yang sudah kak Jonie siapkan, dan mas dokter duduk tepat di sebelahku. Aku tidak berani menoleh ke arahnya, Aku merasa sedikit canggung.
“Din, sakit lo nggak kumat lagi ‘kan?” tanya Aira khawatir.
Aku menggeleng, tapi masih menunduk.
“Dinda sudah semakin membaik ‘kan?” kak Jonie yang bertanya.
Aku mengangguk dan masih mempertahankan posisiku.
“Apa kabar, Dinda?” tanya orang di sampingku.
Deg! Aku mematung.
“Dinda, apa kabar?” dia mengulangi pertanyaannya.
“Dinda, b-baik Kakanda.” Aku tertegun dengan ucapanku sendiri, dan membekap mulutku. Kenapa susah sekali sih mengubah kebiasaan?
Ku dengar dia tertawa pelan, sedangkan Aira dan kak Jonie sudah tenggelam dengan dunia mereka.
Kalau tahu bakal begini, lebih baik Aku di rumah aja nonton drakor. Mana di sini semakin sore semakin dingin lagi!
Aku mengusap berulang kali lenganku untuk mengurangi rasa dingin.
“Mau pesan makan apa, Dan?” tanya kak Jonie, tapi dia juga memberikan buku menu dan kertas untuk memesan makanan ke mas dokter. “Lo tulis sendiri, sekalian punya Dinda.” katanya.
Aku tersentak ketika namaku disebut. Aku melihat dari ujung mataku dia menuliskan menu tanpa bertanya denganku. Ish, awas aja yang nggak enak!
“Aku pesan makanan dulu ya, Sayang.” kata kak Jonie pada Aira setelah mas dokter memberikan buku menu padanya.
“Ayang... ikut!” seru Aira manja.
Sepasang sejoli itu pun meninggalkan Aku dan mas dokter berduaan.
Hei!
Aku menggosokkan kedua tanganku yang semakin dingin seraya memperhatikan pemandangan di luar cafe, mengusir rasa canggung yang semakin menguasai.
“Cantik!” kata Kim Taehyung kw dan memakaikan Aku jas putih miliknya.
Aku membatu.
“Pemandangannya yang cantik.” katanya lagi.
Ish!
“Selamat ya.” ucap mas dokter.
Aku menoleh.
“Selamat untuk pernikahannya.” ucapnya lagi.
Aku mengangguk, “Terima kasih.”
Sunyi. Kami sama-sama kembali diam.
“Sudah dapat undangannya ‘kan?” tanyaku.
Dia bergeming.
“Jangan lupa datang.”
“Aku pasti datang, tidak mungkin Aku tidak datang.” jawabnya cepat.
Aku mendengus pelan, “Baguslah.” Aku pun menjawab singkat.
“Oh iya, Dinda Dahayu. Kamu punya hutang denganku,” katanya membuatku kembali menolehnya. “Jangan lupa Aku sudah memberikan gaji dibayar dimuka untuk pekerjaanmu. Sedangkan kamu baru bekerja satu hari.”
Hah? Aku lupa!
“Mulai kapan Aku harus masuk kerja?”
“Besok.” jawabnya tanpa pikir panjang.
Apa? Dia serius?
“Aku yakin kamu sudah bisa kembali bekerja, karena kamu sudah mampu untuk pergi nongkrong di cafe.” dia menyindirku?
Aku mencebik. Dasar!
“Baiklah. Tapi kalau terjadi sesuatu denganku, anda harus bertanggung jawab.”
Dia mengangguk tegas, “Tentu saja. Aku akan bertanggung jawab penuh atasmu.”
Iyakah?
“Y-ya sudah. Besok Aku akan masuk kerja.” putusku.
“Bagus.” katanya.
Hening.
Sampai Aira dan kak Jonie datang, tidak ada lagi yang kami bicarakan.
“Selamat makan.” ucap Aira.
Aku menatap menu yang ada dihadapanku. Kentang panggang atau bahasa palembangnya *baked potato*. Kentang utuh yang dipanggang lalu diisi keju, mentega, kacang panggang dan tuna.
Lumayan.
Lalu Aku melihat minuman yang di atas meja. Satu persatu Aku lihat, hanya gelasku yang berisi air putih. Sedangkan yang lain minum cappucino dan latte. Aku menghela, nongkrong di cafe tapi nggak ngopi?
Gini amat jadi pasien yang nongkrong bareng dokter.
Sabarkan Kim Dinda, ya Allah.
“Din, suami kamu bertugas di mana?” tanya kak Jonie.
Bertugas? Memangnya lelaki itu profesinya apa? Aku juga nggak tahu.
“Bertugas di pulau Nusakambangan kali, kak.” jawabku asal.
Aira dan kak Jonie tertawa, bahkan lelaki itu hampir tersedak. Sedangkan manusia kulkas dia diam saja.
“Jauh banget, ya?” tanya lelaki itu lagi.
Aku mengangguk sembari menyuap kentang panggang dalam mulutku.
“Dia bertugas apa di sana memangnya?”
“Ya menjaga lapas lah, sipir mungkin.” jawabku acuh.
Tertawa kak Jonie semakin menjadi. Sepertinya dia harus segera kontrol ke dokter lantai tiga. Setelah Aira mencubit pahanya, kak Jonie baru diam.
“Dinda, lo nggak baca undangan pernikahan lo sendiri?” Aira bertanya.
Aku menggeleng, “Buat apa?”
\*\*\*
lanjut thor pen tau reaksi mas dokter apa masih murka atau malah berbunga-bunga 🤭
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo