Tangisan bayi merah itu membuat Kiara menyerah dan menerima keinginan kedua orang tuanya. Menikah dengan ayah kandung dari bayi merah yang baru saja di tinggal kan ibu nya. Kiara mengorbankan cinta dan masa depan nya bersama kekasih hati untuk hidup dengan Bryan dan bayi yang baru saja hadir. Bagaimana kah kisah mereka???? Akankah Kiara kembali lagi ke kekasih nya, atau malah menjalankan rumah tangga bersama Bryan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yora Yul Martika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Kiara kembali lagi ke kamar karena takut Alana terbangun dari tidur nya. Lagi pula sudah waktunya Alana meminum susu. Bryan masih di posisi yang sama seperti Kiara keluar dari kamar tadi.
Bryan masih duduk di sofa depan ranjang tersebut dengan mata menatap photo Kinan. Kiara yang enggan untuk menyapa dengan cepat berjalan menuju ranjang dan membawa Alana ke luar .
" Nyonya kiara " Kiara menoleh ke sumber suara yang memanggil nya
" Bik, jangan panggil nyonya dong, itu membuat aku merasa terlalu tua dan tinggi di rumah ini " Kiara yang tidak nyaman dengan sebutan nyonya tersebut
" Hmmm gimana kalau bibik manggil ibuk saja?" Perempuan paro baya tersebut berujar sambil tersenyum kepada Kiara
" Baiklah bik" Kiara yang sebenarnya masih risih dengan panggilan tersebut namun dari pada di panggil Nyonya lebih baik ibuk bukan?
" Ohh iya sampai lupa buk, di sebelah kamar bapak dan ibuk, ini kamar non Alana buk. Almarhumah yang menyiapkan semua nya " bik Sumi membuka pintu kamar tersebut , dengan Langkah pasti Kiara masuk dengan menggendong Alana di pelukan nya
" Ibuk bisa meletakkan Alana di ranjang nya , tenang saja setiap hari saya tidak pernah lupa untuk membersihkan kamar ini, karena sebelum nyonya Kinan ke bandung beliau berpesan untuk setiap hari membersihkan kamar calon bayi mereka, tapi berita yang saya dapat kan malah....ah ya sudah buk , bibik tinggal dulu ya , bibik mau ke belakang lagi " bik Sumi cepat cepat pergi dari sana, karena dia seperti kecoplosan dan membuat Kiara bersedih lagi
" Mbak , bahkan mbak telah menyiapkan semua ini untuk Alana , tapi kenapa mbak pergi meninggalkan nya mbak?" Kiara bergumam sendiri sambil memangku Alana yang sedang menyusu
" Apa aku kuat mbak? Bagaimana aku hidup dengan orang yang cinta nya mbak bawa pergi? Lihatlah mbak, sudah berapa jam mas Bryan masih terpaku seperti itu melihat photo mbak " air mata kiara berlinang namun ia sangga enggan untuk tumpah, ia tidak mau menangis jika berada di samping Alana putri nya, anak kandung Kaka nya sendiri
***
Kiara meletakkan Alana di atas stroller yang berada di samping kursi yang ia duduki
" Wahhh Alana bangun ya? Mau tengok mama makan malam ?" Kiara seperti berbicara dengan anak yang sudah pandai berbicara, Bryan hanya melirik sekilas ke arah mereka berdua lalu melihat ke samping kursi yang kosong .
" Jika kamu kewalahan, datang kan saja baby sitter" Bryan membuka obrolan sambil mengambil air putih yang baru saja di tuangkan oleh pelayan
" Tidak , tidak perlu saya bisa sendiri menjaga dan merawat anak Alana. Lagi pula disini juga sudah ada bik Sumi dan yang lain nya untuk membantu pekerjaan rumah" mendengar jawaban Kiara, Bryan hanya diam dan mencabik kan bibir ke bawah
" Apa dia rewel?" Bryan melirik Alana yang hampir tertidur sendiri di atas stroller tersebut
" Tentu tidak, Alana anak yang baik dan pengertian" Kiara tersenyum melihat Alana yang sudah tertidur
" Tentu dia akan sebaik Kinan, se anggun kinan dan selembut ibu nya " ucapan Bryan barusan membuat sedikit hati Kiara menciut. Entahlah , entah apa yang terjadi di dalam hati Kiara , bukan kah apa yang di ucapkan Bryan adalah benar? Jika Alana adalah anak kandung dari Kinan, tentu saja dia akan se anggun dan sebaik Kinan tapi Masalahnya Kinan sudah meninggal, dia sudah tidak ada lagi. Dan sekarang hanya ada Kiara yang akan merawat dan membesarkan Alana seperti anak sendiri.
Kiara merasa Bryan tidak menganggap pengorbanan nya . Kiara memejamkan mata nya dan melepas kan nafas panjang
" Tentu Alana akan mirip dengan mbak Kinan, karena mbak Kinan adalah ibu kandung Alana, mbak Kinan yang mengandung dan melahirkan alana, sedang kan aku hanya Tante yang membesarkan nya, Tante yang merawat nya dengan penuh kasih sayang dan cinta " Kiara mengusap lembut Alana .
Kiara menekan kan kata Tante disini, bukan ibu ataupun istri dari Bryan . Karena ia tidak mau Bryan salah menduga , dan Kiara tahu di diri dengan posisi nya saat ini
" Maksud saya juga begitu " Bryan yang tidak melirik Kiara
Setelah makan malam usai, Kiara tidak ke kamar utama melainkan menuju kamar Alana sedangkan Bryan sekarang berada di ruangan kerjanya di lantai pertama
" Kita akan tidur disini ya sayang, kamu dan mama hehehe kalau papa kamu biarkan saja dia tidur di kamar nya" ujar Kiara menidurkan Alana
" Maaf buk, ini semua yang ibuk pinta " bik Sumi membawa kan semua yang di pinta Kiara. Semua yang di butuhkan Oleh Alana
" Makasih bik, Tarok di sana aja ya bik" Kiara menunjuk meja yang ada di samping nya. Bik Sumi meletakkan semua peralatan yang di butuhkan Kiara untuk membuat susu formula Alana .
" Sama sama buk, kalau begitu saya permisi dulu ya buk, kalau ada apa apa panggil saya atau mina saja ya buk " ujar perempuan paro baya tersebut
" Bik Sumi kenapa buru Buru? Ngak mau nemenin aku ngobrol dulu bik?" Kiara yang biasanya cerewet dan aktif seperti cacing kepanasan sekarang dia merasa tidak memiliki teman bercerita di sini .
" Hmm ya mau lah buk, cuma nanti kalau bibik kelamaan disini, takutnya ganggu waktu istirahat ibuk , nanti bapak marah " ujar bik Sumi dengan logat Jawa nya
" Hahaha mas Bryan ngak akan marah bik, ayok duduk dulu bik" Kiara malah membimbing bik Sumi Untuk duduk di sofa ibu menyusui
" Bik, Kiara boleh nanya ngak?" Ujar Kiara kepada bik Sumi , langsung di anggukan perempuannya yang telah berumur tersebut
" Tentu buk, gratis hehhehe"
" Bibik bisa aja, selama bibik ikut dengan mas Bryan dan mbak Kinan. Apa pernah mereka berantam bik?" Bik Sumi malah tersenyum kepada Kiara
Dengan cepat Bik sumi menggeleng kan kepala nya " semenjak bibik ikut dengan pak Bryan dan nyonya Kinan, tidak pernah sekali pun bibik mendengar cekcok mulut di Antara mereka . Mereka adalah pasangan suami istri yang harmonis dan bahagia. Mas Bryan tidak akan pernah membiarkan nyonya bersedih sebentar saja . Mas Bryan akan tergesa-gesa pulang dari kantor jika mendengar nyonya tidak enak badan " ujar bik Sumi mengalihkan pandangan nya ke tempat yang lain
" Tapi suratan sang illahi siapa yang tahu? Mbak Kinan pergi meninggalkan pak Bryan dan Alana. Tapi sekarang sudah ada buk Kiara disini, ibu nya nona Alana sekaligus istri dari pak Bryan " ujar bik Sumi tersenyum bahagia
" Hmmm kami menikah dengan terpaksa bik, kedua orang tua kami tidak memberi pilihan. Aku memiliki cinta yang lain sedang kan mas Bryan cinta nya telah pergi bersama mbak Kinan " Kiara menatap sendu wajah perempuan yang baru saja di ajak nya berbicara
" Aku bisa saja pergi menjauh dan melupakan cinta yang lain bik, tapi bagaimana mas Bryan bisa melakukan hal yang sama dengan ku Sedangkan cinta nya telah di bawah mbak Kinan " sambung Kiara menunduk ke bawah
Bik Sumi mengangkangi dagu kiara dan berkata " kalau begitu tumbuh kan cinta yang baru buk "
" Maksud nya bik Sumi?" Tanya Kiara bingung
" Cinta nya pak Bryan kepada nyonya Kinan, memang sudah pergi bersama perginya nyonya Kinan. Tapi sekarang yang ada Disini adalah Kiara bukan Kinan, buat pak Bryan jatuh cinta kepada ibuk , sehingga ibuk tidak mengambil cinta milik nyonya Kinan, karena cinta mereka telah di kubur bersama nyonya Kinan. Sekarang hanya tentang kalian berdua pak Bryan dan ibuk Kiara " ucapan bik Sumi membuat Kiara melotot kan matanya tidak percaya dengan apa yang di dengarkan nya dari bik Sumi