Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KANGEN IBU
Singkat cerita, setelah suasana yang agak segan itu dengan Bu Fatimah, aku segera meminta izin untuk pulang ke rumah, melihat jam di ruang tamu sudah menunjukkan hampir setengah enam sore.
"Bu, saya izin pamit dulu ya, sudah hampir maghrib, saya juga belom masak buat Bapak di rumah." Ucapku.
"Ya sudah Nis, hati-hati di jalan nanti, jangan ngelamun. Baca do'a, tapi jangan terlalu buru-buru juga naik sepedanya ya." Pesan Bu Fatimah sembari menemaniku berjalan menuju pintu depan.
"Iya Bu, terima kasih ya Bu. Izin pamit. Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh." Aku mencium tangan Bu Fatimah, lalu segera berlalu dari teras rumah menuju sepeda yang kutaruh di sebelah pendopo.
Ketika aku hendak naik, aku sejenak melihat ke arah pendopo. Di mana aku tadi melihat sosok itu. Entah mengapa perasaanku menjadi tidak enak. Namun segera aku beristighfar, aku palingkan wajah, dan menaiki sepeda, lalu berjalan pulang.
Kali ini, aku tidak berani melewati jalan yang mengarah ke area pemakaman. Aku memilih jalan lain yang agak memutar. Meskipun sedikit lebih jauh dari pada jalan area pemakaman, tidak apa-apa. Ada rasa takut untuk lewat jalan itu.
Dan Alhamdulillah, singkat cerita aku segera sampai di halaman depan rumahku. Bapak sudah menunggu di teras rumah, bersamaan dengan suara adzan Maghrib yang saling bersahutan dari berbagai arah di desa.
"Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh..." Ucapku sambil mencium tangan Bapak.
"Wa'alaikumsalam... Kamu kemana dulu Nis? Tumben banget sampe adzan Maghrib begini?" Tanya Bapak yang nampak sedikit khawatir dari raut wajahnya.
"Em... Nisa gak kemana-mana dulu kok Pak, cuma tadi habis diajak ngobrol sama Bu Fatimah sebelum pulang." Jawabku.
"Oh gitu, ya sudah, buruan masuk." Sahut Bapak. Dan aku pun segera masuk ke dalam rumah. Ku taruh tas di atas meja ruang tamu. Segera aku menuju dapur, niat hati ingin segera masak untuk makan malam bersama Bapak.
Ketika aku melihat ke atas meja makan, ternyata Bapak sudah masak. Nasi yang masih mengepul hangat di dalam bakul bambu, juga sepiring telur dadar. Dan ternyata Bapak sudah membuat dua gelas teh hangat juga.
"Bapak barusan udah masak Nis, ayok makan dulu. Kamu dari siang tadi kan belum makan." Ucap Bapak sambil berjalan di belakangku.
"Iya Pak. Maafin Nisa ya Pak, gara-gara lama pulang, Nisa jadi belum masak buat Bapak." Sahutku sambil duduk di kursi depan meja makan, Bapak juga segera duduk di sebelahku.
Segera aku ambilkan nasi dan telur dadar di atas piring, aku suguhkan untuk Bapak. Bapak mulai meminum sedikit tehnya, lalu mulai makan dengan lahap. Disusul aku pun begitu. Meski menu makan yang amat sederhana begini, namun terasa nikmat jika makan bersama Bapak.
Ditengah lahapnya kami makan, aku teringat dengan almarhumah Ibu. Seketika aku pelan-pelan mengunyah, dan sambil menatap sepiring nasi dengan lauk telur dadar itu. Teringat kenangan di mana Ibu masih hidup bersama kami. Biasanya Ibu yang masak, menyiapkan minum, dan sebagainya.
Aku pun melihat satu kursi di sisi lain meja makan, tepat di sebelah Bapak. Teringat kembali sosok Ibu yang biasa duduk di situ. Teringat pula canda tawa, obrolan-obrolan ringan, sampai obrolan-obrolan serius antara Bapak dan Ibu.
Tak terasa air mataku menetes perlahan, dan Bapak sadar bahwa aku sedih karena ingat almarhumah Ibu.
"Nis... Sudah, makan dulu, dihabisin. Nanti Ibu marah loh kalo kamu makan sambil ngelamun gitu." Ucapan Bapak seketika menyadarkanku, dan aku sambil mengusap air mata yang menetes, sambil tersenyum ke Bapak.
"Hehe... Iya Pak..." Jawabku.