NovelToon NovelToon
Asal Mula Pedang Buta

Asal Mula Pedang Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.

Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.

Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gua Gema Angin

Semakin dalam Ren Zhaofeng melangkah ke dalam Lembah Angin Puyuh, semakin dunia terasa memusuhinya.

Di Zona Dalam ini, angin bukan lagi sekadar udara yang bergerak cepat. Tekanan atmosfer di sini begitu padat hingga udara terasa berat seperti air raksa.

Pakaian murid luar Zhaofeng sudah hancur, menyisakan kain compang-camping yang malang. Kulitnya yang baru saja diperkuat menjadi "Tulang Besi" kini penuh dengan baretan merah halus yang perih.

Tapi Zhaofeng tidak berhenti.

"Di sini..." gumamnya, suaranya hampir hilang ditelan deru badai. "Suaranya paling murni."

Dia duduk bersila di atas sebuah batu pipih yang menjorok keluar dari tebing. Di bawahnya adalah jurang gelap tanpa dasar. Di sekelilingnya, angin berputar membentuk siklon alami.

Zhaofeng menutup matanya (walaupun tertutup kain). Dia mengaktifkan teknik pernapasan Riak Air.

Tarik napas... (Menyerap Qi angin yang tajam). Tahan... (Membiarkan Qi itu mengiris-iris paru-parunya, memperkuat organ dalam). Hembuskan... (Mengeluarkan kotoran hitam dari pori-pori).

Rasa sakitnya luar biasa, seolah menelan pisau. Tapi Zhaofeng menikmatinya. Setiap goresan di dalam tubuhnya sembuh kembali menjadi jaringan yang lebih kuat dan elastis.

Tiga hari berlalu dalam meditasi yang menyakitkan.

Pada hari keempat, telinga Zhaofeng menangkap anomali.

Di antara WUUUSSSH angin yang konstan, ada satu nada yang sumbang.

Duummm... Duummm...

Suara itu sangat rendah, seperti detak jantung bumi. Suara itu berasal dari balik dinding tebing di sebelah kirinya, tempat di mana angin bertiup paling kencang.

"Ada ruang kosong di sana," simpul Zhaofeng.

Dia berdiri, meregangkan otot-ototnya yang kaku. Krak. Tulangnya berbunyi nyaring dan padat.

Dia menatap dinding tebing itu. Permukaannya mulus, dipoles oleh angin selama ribuan tahun. Tidak ada gua, tidak ada celah.

Tapi telinganya tidak pernah bohong.

Zhaofeng mencabut Pedang Karat-nya. Dia menempelkan ujung pedang ke dinding batu, lalu memetik bilahnya dengan jari.

Ting.

Getaran merambat masuk ke dalam batu, lalu memantul kembali.

Pantulan gema: Tebal dinding 1 meter. Di belakangnya... rongga luas.

"Seseorang menyegelnya," batin Zhaofeng. "Atau alam yang menyembunyikannya."

Zhaofeng mundur tiga langkah. Dia memusatkan seluruh Qi dan tenaga fisiknya ke lengan kanan. Ototnya menegang, urat-urat biru menonjol.

"Pukulan Satu Inci: Gema Penghancur!"

Dia tidak memukul dengan tinju, tapi menusuk dengan ujung pedang karatnya tepat ke titik resonansi batu tersebut.

TING!

Suara denting yang tajam memecahkan kebisingan angin.

Sesaat tidak terjadi apa-apa.

Lalu... KRAK!

Retakan jaring laba-laba muncul dari titik tusukan. Retakan itu melebar dengan cepat, diikuti suara gemuruh.

BOOM!

Bagian dinding tebing itu runtuh ke dalam, memperlihatkan lubang gelap seukuran manusia.

Angin dari luar langsung menyedot masuk ke dalam lubang itu, menciptakan efek vakum yang nyaris menyeret Zhaofeng. Tapi dia menancapkan kakinya dan berjalan masuk melawan arus.

Di dalam, suasana berubah drastis.

Tidak ada angin. Hening. Senyap.

Udara di dalam gua ini lembap dan hangat, berbau mineral manis yang menyegarkan.

Zhaofeng berjalan menyusuri lorong alami itu. Langkah kakinya bergema lembut. Dia meraba dinding gua. Basah.

Setelah berjalan lima puluh langkah, dia sampai di sebuah ruangan gua yang luas.

Di tengah ruangan, terdapat sebuah kolam kecil alami berdiameter dua meter. Airnya tidak bening, melainkan berwarna hijau susu yang memancarkan cahaya redup.

Di tengah kolam itu, duduk sebuah kerangka manusia yang mengenakan jubah compang-camping. Kerangka itu memeluk sebuah kotak batu.

"Makam pendahulu?" Zhaofeng membungkuk hormat ke arah kerangka itu.

Dia mendekati kolam. Aroma manis semakin kuat.

Zhaofeng mencelupkan jarinya ke dalam air kolam.

Nyesss.

Sensasi dingin dan panas menusuk jarinya bersamaan. Energi murni yang sangat padat langsung merambat naik ke lengannya.

"Ini bukan air biasa," mata Zhaofeng terbelalak di balik kainnya. "Ini... Sumsum Angin Bumi!"

Cairan langka yang terbentuk dari kondensasi Qi angin dan tanah selama ratusan tahun. Satu tetes saja harganya ratusan Batu Roh di pelelangan. Dan di sini ada satu kolam penuh!

"Keberuntungan," Zhaofeng menelan ludah.

Tapi dia tidak serakah. Dia tahu tubuhnya ada batasnya. Jika dia meminumnya, dia akan meledak. Cairan ini untuk berendam, bukan diminum.

Zhaofeng melepaskan sisa pakaiannya dan melangkah masuk ke dalam kolam.

"AAARGH!"

Zhaofeng menjerit tertahan. Rasanya seperti masuk ke dalam panci asam mendidih. Sumsum Angin Bumi itu langsung menyerang pori-porinya, merobek kulit, menghancurkan otot, dan menggerus tulangnya.

Ini adalah proses Penempaan Ulang.

Zhaofeng menggigit lidahnya agar tidak pingsan. Dia segera bermeditasi, menjalankan teknik pernapasan untuk memandu energi gila itu.

Sakit. Sakit. Sakit.

Tapi di balik rasa sakit itu, dia bisa mendengar suara tulang-tulangnya yang retak sedang menyatu kembali menjadi material yang lebih padat. Warna tulangnya berubah dari putih tulang menjadi keperakan.

Satu jam. Dua jam. Satu hari.

Zhaofeng tenggelam dalam meditasi. Cairan di kolam perlahan menyusut dan memudar warnanya, energinya diserap habis oleh tubuh rakus Zhaofeng.

Ketika dia akhirnya membuka mata, kolam itu sudah bening seperti air biasa.

Zhaofeng berdiri. Tubuhnya terasa ringan seperti kapas, tapi bertenaga seperti baja. Kulitnya memancarkan kilau sehat.

Dia mengepalkan tangannya. Udara di dalam genggamannya meletup pelan.

Penempaan Tubuh Tahap 4: Tulang Besi Puncak!

Sekarang, kekuatan fisiknya setara dengan Li Dong saat kondisi prima, tapi dengan kepadatan otot yang jauh lebih efisien.

Zhaofeng melangkah keluar dari kolam dan berpakaian kembali.

Matanya tertuju pada kerangka di tengah kolam yang kini kering. Kerangka itu memeluk kotak batu.

"Terima kasih, Senior," kata Zhaofeng. "Saya tidak akan menyia-nyiakan pemberian ini."

Dia mengambil kotak batu itu. Kotaknya tidak terkunci.

Di dalamnya, hanya ada dua benda:

Sebuah cincin polos berwarna abu-abu (Cincin Penyimpanan).

Sebuah gulungan kulit binatang yang sudah tua.

Zhaofeng membuka gulungan itu dan meraba tekstur tintanya.

"Seni Pedang Tanpa Wujud: Bab Angin."

Jantung Zhaofeng berdegup kencang. Nama teknik ini... mirip dengan konsep yang selama ini dia kejar.

Dia menyentuh cincin itu. Dia memasukkan sedikit Qi barunya.

Wush.

Pikirannya terhubung dengan ruang dimensi di dalam cincin. Ruangnya tidak besar, hanya seukuran lemari pakaian. Isinya kosong, kecuali tumpukan Batu Roh (sekitar 500 butir) dan beberapa pakaian ganti.

"Cincin Penyimpanan..." Zhaofeng tersenyum lebar. Benda ini harganya ribuan Batu Roh. Hanya Murid Dalam kaya atau Tetua yang memilikinya.

Zhaofeng menyimpan Pedang Karat dan barang-barangnya ke dalam cincin. Sekarang dia bisa bergerak bebas tanpa beban di punggung.

"Waktunya kembali," gumam Zhaofeng.

Dia sudah mendapatkan apa yang dia cari. Kekuatan, harta, dan teknik baru.

Tapi saat dia berjalan keluar gua, kembali ke badai angin, dia menyadari sesuatu yang aneh.

Suara angin di lembah... terdengar berbeda.

Dia tidak lagi merasa "ditekan" oleh angin. Dia merasa angin itu menyapanya.

Zhaofeng mengangkat tangannya. Angin bertiup melewati jari-jarinya tanpa hambatan.

"Aku bisa mendengarnya," bisik Zhaofeng. "Aku bisa mendengar... celah di antara angin."

Dengan senyum percaya diri, Zhaofeng melangkah keluar.

Wang Gang, organisasi Ular Hitam, dan siapa pun yang menunggunya di sekte... mereka akan menghadapi badai yang sesungguhnya.

1
Apliti warman
alumrnya bagus, cara penulisannya dah expert nih, lanjut thor, ada yg hilang thor, tentang penguasaan jurus 2 mc, menarik cara othor menjelaskan, juga ranah mc, naikkan dikit...😁
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Panen Zhaofeng.... dan bersihkan harta karun Duanmu
Nanik S
Krek., hancur sudah tulangnya
yos helmi
lanjut
Nanik S
Nyonya Merah mengerikan juga, banjir Darah dibilang ramai
Nanik S
Jual barang rampasan
Nanik S
Xiao Yu... ikut saja Zhaifeng
Nanik S
Lanjutkan dan tetap semangat Tor
Nanik S
Mantap Pooool
Nanik S
Lanjutkan Zhaofeng dan bantai semua Taring naga
Nanik S
Demi melindungi Sekte Zhaofeng rela meninggalkan Sekte
Nanik S
Lanjut mengembsra
A 170 RI
cerita pendekar buta cukup menarik
A 170 RI
trus berkarya jangan hiatus ya thor..
💪
Nanik S
Zhaofeng perusak rencana
Nanik S
Racun disapu Petir.... k\kwkwkw
Nanik S
mana ada Penghianat mengaku
Nanik S
Qingyu.... ya karena juga Jenius
Nanik S
Tantangan yang Elegan pada Tuanya Li Ding
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!