Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Denial
Keadaan di dalam bilik mendadak hening. Kedua insan manusia itu saling memandang satu sama lain sekarang dengan ekspresi berbeda.
Jayden bergeming, memandang Dea dengan tangan terkepal erat dan dada naik, turun. Ini kali pertama wanita di depannya ini membuat emosinya meledak-ledak. Dan Jayden tidak menyukai sikap Dea yang seperti ini! Menurutnya, terlalu kekanak-kanakan.
Sementara Dea, pupil matanya seketika melebar. Apa dia tidak salah mendengar barusan? Jayden mengatakan Casey adalah istrinya.
Ini pasti mimpi. Alam bawah sadar Dea mencoba menyangkal. Pasti Jayden marah karena sikapnya sekarang.
Masih dengan amarah meledak-ledak, Dea kembali mendekati Jayden sambil berseru,"Kau pasti bohong! Aku tahu kau lagi emosi. Sentuh lah aku Jayden. Mari kita bersentuhan, aku menginginkanmu sekarang."
Dea mulai kehilangan akal sehatnya. Dalam hitungan detik, dia tiba-tiba melucuti pakaian bagian atas, kini bra merahnya terlihat jelas dan, payud*ra besar itu menyembul keluar.
Jayden sangat panik sekaligus naik pitam. Sebelum melihat pemandangan indah di hadapannya, Jayden sudah terlebih dahulu memalingkan muka sambil mencoba menjauhi Dea dengan cepat.
"Aku nggak bohong Dea! Kau gila, keluar dari ruanganku sekarang!" teriak Jayden.
Dea tersentak. Dengan jarak satu meter dari Jayden, tangan dan kakinya reflek berhenti bergerak. Teriakan Jayden membuat jantung Dea hampir saja melompat keluar. Namun, bukan Dea namanya jika tidak keras kepala. Wanita berambut pendek itu justru menggerakan lidahnya kembali.
"Tapi Jayden, aku hanya ingin melakukan aktivitas seperti pasangan kekasih pada umumnya, aku ini kekasihmu, kau nggak pernah menyentuhku, lagipula kau dan–"
"Aku bilang keluar Dea! Apa perlu aku panggilkan satpam sekarang!" Tanpa menatap ke depan, Jayden kembali berteriak.
Dea tak kunjung menggerakkan kaki. Masih berdiri di hadapan Jayden dengan air mata masih mengalir pelan. "Tapi Jay-"
"Aku bilang keluar!!!" Kali ini teriakan Jayden menggema ke seluruh ruangan, sampai menembus keluar dinding.
Dan membuat tenaga medis lainnya yang kebetulan mulai mendatangi ruang tempat istirahat mereka di luar sana, terperanjat kaget.
Bukan hanya mereka, Dea pun ikut mematung saat menyadari Jayden sedikit pun menoleh ke arahnya sekarang.
Dea makin kesal. Apa semenjijikan itu kah dia? Cairan bening yang tadinya pelan kini mulai turun deras, membasahi pipinya.
"Apa kau tuli?! Keluar sekarang!" Jayden berteriak lagi.
"Iya, iya aku keluar," kata Dea, kemudian memakai kembali kemeja dan bergegas keluar dari ruangan.
Meninggalkan Jayden perlahan-lahan membuka mata. Dia mulai memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa pusing.
Di luar pintu, Dea tak langsung pergi, masih berdiri di depan dengan air mata tak berhenti mengalir sejak tadi.
"Sabar Dea, Jayden lagi marah, sekarang tenangkan dirimu," gumam Dea pelan sambil melayangkan tatapan sinis kepada para tenaga medis yang memperhatikan dia sekarang, dengan tatapan penasaran dan sedikit takut.
Setelah itu, Dea melengoskan muka lalu pergi dari situ dengan cepat.
"Eh, si Dea kenapa tuh? Seram amat dokter Jayden ya." Berjarak beberapa meter, Teresa melirik Carol sekilas. Dia baru sampai dan tak sengaja mendengar Jayden berteriak di dalam sana barusan.
"Bukannya sudah menjadi rahasia umum, dokter Jayden memang galak, dengan pacarnya saja nggak ada romantis-romantisnya, kayaknya ada hubungannya sama dokter Casey, soalnya tadi siang Bu Dea buat keributan di kantin," jelas Carol singkat. Sudah lebih dulu berada di ruangan.
Teresa mengerutkan dahi. "Casey? Apa aku ketinggalan informasi?"
Carol berdecak sambil mendelik tajam. "Kau kan memang selalu kudet, dari yang aku dengar sih katanya dokter Jayden ada main sama dokter Casey, kemarin pas pulang kerja ada orang lihat mereka ciuman di dalam mobil, bahkan making love, bu Dea pasti cemburu lah."
"Apa? Gila banget, benar-benar deh, berani amat tuh dokter baru, kasihan Bu Dea sampai nangis gitu gara-gara dibentak-bentak sama pacarnya," kata Teresa dengan ekspresi terkejut.
"Ngapain kasihan, biarin saja, lagian bu Dea memang pantas dibentak selama ini kan selalu sombong dan merasa anak emas di antara kita, padahal belum jadi istri dokter Jayden," Carol berkata dengan wajah menahan kesal.
Carol juga tidak suka dengan dokter baru bernama Casey. Namun, tak dapat menampik juga dia tidak menyukai sikap Dea selama ini. Carol mempunyai dendam pribadi terhadap wanita berambut pendek tersebut.
Sontak perkataan Carol, membuat Teresa melebarkan mata. "Astaga dokter Carol, apa kau mendukung perselingkuhan?"
Carol mengerling tajam lagi. "Nggak dong, cuma aku malas saja sama bu Dea–"
"Hmmm, Carol ada dokter Indra." Kalimat Carol seketika terpotong kala Teresa menyenggol lengannya sambil melirik ke samping, di mana Indra sekaligus teman dekat Dea, melangkah pelan ke arah mereka.
Carol tampak kikuk, dengan cepat mengubah ekspresi wajah jadi biasa saja.
"Hai semuanya, kok ngumpul di sini? Udah selesai kerjanya?" tanya Indra, wajah lelah terlihat kentara di wajahnya sekarang.
"Hai Ndra, sudah dong, kami ada gosip baru ada hubungan sama temanmu loh." Teresa langsung menanggapi sambil melirik Carol sekilas.
Indra yang selalu suka bergosip, matanya langsung berbinar-binar.
"Gosip apa? Siapa? Teman dekatku yang mana? Perasaan kalian juga teman dekatku kan."
"Bu Dea, kau kan lebih dekat dengan bu Dea," jawab Carol.
Indra makin penasaran. "Lah ada apa dengan Dea?"
Lalu Carol dan Teresa mulai menceritakan apa yang mereka dengar dari ruang Jayden tadi secara bergiliran. Hanya mendengar teriakan Jayden saja, mereka sudah menyimpulkan sendiri.
Setelah menjelaskan dengan singkat, Carol kembali berkomentar.
"Kayaknya dokter Casey minta dokter Jayden bentak bu Dea sampai nangis-nangis deh. Mana tadi dokter Jayden ngusir bu Dea kencang banget, hampir saja jantungku copot." Carol memberi pendapat.
"Ya benar, ular banget dokter Casey, casing-nya saja yang polos, itu tuh sama kayak selebgram si Inara sama Julele penampilannya saja yang tertutup, tapi nyatanya kayak ular." Teresa ikut menimpali.
Indra terperangah dengan mulut mengangga lebar. "Astaga, kasihan banget Dea."
"Eh itu dia ...." Teresa tiba-tiba menyenggol lengan Indra sambil memandang ke depan, melihat Casey muncul di lift.
Indra dan Carol spontan mengikuti arah mata Teresa. Dalam sekejap sorot mata mereka berubah jadi tajam.
Sementara yang diperhatikan dari kejauhan, tak menyadari, malah bersungut-sungut di dalam hati sambil melangkah menuju ruangan Jayden.
Casey menahan kesal sebab Jayden memintanya pergi ke ruangan dalam keadaan dia sedang sibuk-sibuknya memberikan penanganan pada pasien tadi. Hari ini, ruang IGD begitu ramai dengan para pengunjung. Beruntung sekali sore harinya, tugasnya akhirnya rampung.
'Kenapa sih dia panggil-panggil aku? Mana malas banget lihat mukanya,' umpat Casey sebelum memegang gagang pintu ruangan.
Namun, entah mengapa ada rasa senang menjalar di hati Casey sedikit karena bertemu suami yang tak menganggapnya itu sekarang.
'Tenanglah Casey, palingan dia mau marah lagi seperti sebelum-belumnya.' Lagi Casey berbicara pada diri sendiri. Kemudian perlahan memutar gagang dan melangkah masuk.
"Selamat sore dok, maaf baru–hmf!"
Namun, baru saja membuka pintu, tangannya ditarik dan bibirnya tiba-tiba dikecup.