Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.
Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.
Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TO TALK
Hari ini Luz tidak menemukan tanda kedatangan Karel. Padahal ingin bicara penting soal perkataannya semalam. Dia lagi mabuk atau sadar ngomong begitu?
Itu ‘kan bukan hal sembarangan. Luz jadi kepikiran, dia sudah sangat berharap. Apa jangan-jangan Karel bercanda?
Dia juga sangat slow respon, ingin bertanya tapi takut di sangka apa. Tapi dia kan calon nyonya Karel, haha calon ya? Ya gapapa sih, buat status sosial lumayan.
Luz pun menutup layar komputer saat jam istirahat, ia berdiri dan menyapa sekretaris Karel. “Hallo selamat siang, boleh nanya?”
“Iya ada yang bisa saya bantu?”
Luz melirik sekitar. “Dari tadi pagi, saya gak liat pak Karel. Dia kemana ya? Soalnya ada yang ingin saya bicarakan.”
“Oh pak Karel sedang ada rapat penting ke luar kota.”
Luz mengangguk. “Oke deh makasih.”
Setelah mendapatkan informasi itu, Luz jadi takut apa jangan-jangan Karel bohong? Dia mengelabuinya. Dia jadi gelisah sendiri.
...--✿✿✿--...
Karel duduk di kursi belakang sendirian, melihat ke jendela luar. Pemandangan yang indah dan menenangkan. Tubuh yang letih dan kepala yang panas.
“Anter saya ke rumah mama ya, Pak. Gausah ke apart.”
Karel membuka ponselnya, mengirimkan pesan di grup keluarga. Ajakan makan malam secara mendadak. Elena langsung meneleponnya, mengomel karna ajakan itu sangat mendadak.
“Gimana kalo mama sama papa pergi? Lain kali jauh-jauh hari ngajak nya.”
“Ini penting, gak bisa di tunda.” Karel bicara santai. “Aku lagi di jalan, gak lama lagi bakalan sampe ke sana. Bebas masak apa aja, aku tutup dulu Ma, see you.”
Elena disana pasti marah-marah tapi curiga. Tidak seperti biasanya Karel mau memulai obrolan. Apalagi makan malam, tapi tak ia pikirkan langsung mesan makanan dan menyiapkan meja makan bersama asisten rumah tangga.
Hingga tak lama kemudian, tepat pukul delapan malam. Karel tiba di rumah, dia terlihat sangat lelah. Selalu begitu. Elena memeluknya erat, sebagai tanda kerinduan mendalam.
“Kamu ini tumben banget bikin acara mendadak. Kamu tau gak? Lusa Mama udah ke Eropa lagi sama papa. Untung kita belum berangkat.” Elena membelai pipi Karel dan tersenyum.
Karel meminta maaf lalu di tuntun ke meja makan. “Aku mau mandi dulu, rencananya malem ini mau nginep disini.”
“Oh iya bagus gih, kamu mau minum apa? Biar mama bikinin, spesial.”
“Papa juga mau, kopi susu kayak biasa.”
Elena langsung mendengkus. “Males.”
Sambil menunggu Karel, Thomas duduk memakan pisang dan berpikir. Dia harus pulang lebih awal karna janji mendadak ini.
Elena pun bicara sambil membuat minuman kesukaan Karel. “Kan tadi Mama abis ketemu besti. Papa liat deh berita sekarang ngeri-ngeri, ibu tega buang bayi karena bapaknya gamau tanggung jawab.
"Seorang pria tega bunuh wanita karena meminta bertanggung jawab.”
“Seorang pria tega tusuk korban karena cemburu. Di duga pasangan gay astaga ngerinya.”
“Kok mereka bisa ya semudah itu living together apalah itu ngapain sih? Pas Mama muda, ortu Mama ketat banget.”
Elena meletakkan minuman Karel dan balik lagi bikinin buat suaminya. “Karel gak boleh sampe kena rumor jelek lagi, dia harus dapet pasangan secepatnya. Cuman mama khawatir jangan-jangan dia itu punya simpenan? Buat muasin nafsu doang, soalnya dia pernah bilang nginep di rumah temennya cewek. Curiga deh.”
Thomas langsung meminum kopinya. “Itu hal biasa bagi sebagian orang, Ma. Kayak gak tau aja. Dari dulu kan sama aja, bedanya gak viral.”
Sejak tadi Karel menyimak obrolan mereka, ia tidak jadi mandi dulu karena keburu lapar. Ia menelan ludah dan berjalan, lalu menarik kursi.
Elena menyusul, duduk di sebelah suaminya.
“I want to get married.”
Elena sesak napas. Thomas langsung melepaskan sendok.
“Ya bagus dong artinya kamu laku,” kata Thomas sambil tersenyum.
Karel benar-benar gugup. “Secepatnya, it can’t be delayed, I don’t want my child to not get a birth certificate because we got married late.”
“Wait, who’s the woman you’ve gotten pregnant!” teriak Elena histeris karna kaget, sekaligus seneng dan heran.
“Kapan kalian free? Biar aku kenalin,” kata Karel.
Ada yang aneh. Thomas mengerutkan kening. “Is she a bad woman? If so, Papa doesn’t approve.”
“No, she’s not like that. She’s spesial to me, I’ve had someone close to me, but not as a girlfriend.”
Elena tersenyum sumringah. “So dugaan Mama salah? Oh my good. Oke mungkin besok kita bisa segera bertemu, Mama akan undur acara buat besok, karna ini lebih penting.”
...--✿✿✿--...
Sepanjang hari Luz kepikiran sampai larut malam dan hari telah berganti. Pagi itu dia terlelap tidur nyenyak karna baru bisa tidur dini hari. Pintu kost nya di ketuk perlahan. Siapa yang datang sepagi ini coba?
Bukannya sekarang akhir pekan? Luz ingin tidur sepanjang hari. Hanya ingin bermalas-malasan saja.
Ketukan itu tidak kunjung hilang, Luz terganggu, di tutup bantal pun telinga masih bisa mendengarnya. “Iya bentar.”
Luz memutar kunci, lalu mengucek matanya. Saat bisa melihat dengan jelas walau masih perih ia kaget. “Karel?"
“Buruan siap-siap, nyokap bokap gue mau ketemu sama lo.” Karel memberikan pakaian yang cocok untuk Luz pakai.
Luz bingung, kok bisa dia tiba-tiba datang sepagi ini? Setelah kemarin ngilang.
“Mereka sibuk dan cuman pagi ini yang free. Ayo cepetan.”
Luz menggeleng. “Apaan sih maksudnya?”
“Gue udah ngomong sama ortu, cepetan sama ntar gue jelasin. Udah gak ada waktu lagi, mepet.”
Luz langsung mandi, dia masih mikir, terus menerus. Bahkan pas sikat gigi, cuci muka. Terus pas make up juga.
“Udah?” Karel balik lagi setelah pergi entah dari mana.
Luz mengangguk. Ia memakai sepatu hak rendah, gaun mini pink pastel tanpa lengan dengan pita di pinggang. “Gue degdegan banget, kenapa mendadak semua? Ini gak ada persiapan sama sekali.”
Tanpa banyak bicara, Karel membawa Luz datang ke rumahnya. Luz takjub, rumahnya mewah dan luas tiga lantai. Halamannya seperti lapangan golf. Rumput dan pepohonan disana terawat rapih dan asri.
Kendaraan terparkir rapih di garasi, tentunya sangat bersih. Para pekerja sudah bekerja dengan giat. Tukang kebun, tukang bersih-bersih mungkin masih ada lagi di dalam.
Elena mendengar suara mobil Karel jadi ia segera keluar dan tersenyum. Dugaannya salah, ia harus senang akan pilihan Karel, dari pada harus menerima kenyataan kalau anaknya gay, mending menerima ini. Walau ada rasa tidak rela. Dari dulu sudah ia suruh menikah, malah milih nunggu sampai ceweknya hamil baru di nikahin.
Elena memperhatikan postur tubuh Luz. Dia terlihat jauh lebih pendek dari Karel padahal sudah memakai sepatu hak. Kulitnya begitu cantik, wajahnya juga. Matanya fokus ke perut Luz, masih rata.
Mereka di persilahkan masuk, Luz kaget banyak sekali pekerja disini. Mungkin satu orang satu jurusan. Menyetrika, mencuci dan masak beda orang kalo ya. Luz tetap tampil elegan.
Sarapan pagi ini terasa lebih hangat, yang Elena inginkan dapat terwujud. Walau tidak sesuai naskahnya. Tetap ia bicara dengan baik, dari pada dia kabur dan Karel balik kena rumor.
“Hubungan kalian ini bagaimana sebenarnya, kata Karel tidak pacaran, itu benar?” tanya Elena.
“Iya Tante, aku sama Karel tidak pacaran. Masih deket, cuman... haha Tante mungkin udah tau.”
Elena hanya tertawa. “Apa yang kalian harapkan kalo udah melakukan itu? Ya ini yang akan terjadi. Tapi sudah kejadian, saya tidak bisa menolak.”
“Tante gak marah?” tanya Luz hati-hati.
Elena hanya tersenyum. “Lalu bagaimana kedepannya? Karel bilang dia mau menikah sama kamu, kalau kamu?”
“Tentu, Tante.”
“Udah kenal lama?” tanya Thomas.
“Tidak terlalu lama,” kata Karel.
Elena pun penasaran. “Sudah berapa bulan?”
Luz menoleh ke arah Karel. “Mmm gatau jelasnya Tante, aku belum periksa.”
“Masih ada waktu, bagaimana kalau sekarang kita ke RS? Biar Mama temani. Mama ada janji jam 9,” kata Elena menyambutnya baik. Mau marah pun kasihan.
Karel menolak. “Tapi aku ada rapat jadi gak bisa nemenin, gapapa ‘kan?”
“Iya Papa juga, sudah ada janji.”
“Oh gapapa, biar Mama bisa kenalan sama Luz iyakan?” balas Elena di balas anggukan.
Luz sangat gugup, Elena auranya ibu sosialita tapi bedanya dia tetap ramah. Kata Karel kelamaan mendambakannya punya pacar jadi dia baik ke Luz, biar gak kabur.
Luz takut salah ngomong. Mana Elena cerewet banget. Tapi kesan pertamanya, Elena baik, cantik. Tinggi dan kurus, sangat profesional dan begitu elegan.
Sekarang juga mereka ke rumah sakit milik keluarga Elena. Bertemu dokter tanpa harus membuat janji, karna kebetulan jam itu kosong.
Di perjalanan Elena banyak nanya, dimana pertemuan pertama mereka, dan sempat menyeletuk, gak ada hubungan udah mau punya anak. Luz cuman ketawa dan takut gimana kalau Elena tahu kebenarannya? Apa masih mau menerimanya.
Elena menemani Luz ke ruang USG bertemu dokter obgyn wanita. Ia antusias melihat informasi soal cucunya. “Udah 13 minggu itu artinya sebentar lagi perut kamu bakalan membesar, kita gak bisa lama-lama lagi,” seru Elena membuat Luz menyengir lebar.
Elena diam. Diam-diam mikir kapan waktu yang pas untuk melakukan pernikahan yang megah. Pesta besar-besaran untuk merayakan ini. Tapi Luz juga tidak boleh kecapean. Kalau semakin di tunda makin ketauan. Kapan hari yang pas untuk mengelar pesta?
...--To Be Continued--
...