Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak
Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.
"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.
Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.
"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.
"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "
Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 02
“Ivana,” Ivana terdiam mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Suara itu yterdengar sangat familiar baginya.
Dengan semangat iya pun menoleh dan tersenyum melihat Margaretha atau yang kerap di sapa Aretha adalah, ibu dari Saga. Wanita itu menghampiri Ivana dan memeluknya. Ivana membalas pelukan dari nyonya Margaretha dengan hati yang senang.
Putriku rupanya sudah sebesar ini sekarang, Emalia yang melihat kedekatan mereka pun langsung turun dari dari lantai dua dan menghampiri mereka di tangga.
“Aretha, hai, kapan kamu pulang dari London?” Tanya Emalia sebari menggeser posisi Ivana.
Margaretha yang melihat itu menunjukkan ekspresi cemberut, “Apa kamu masih belum bisa bersikap lunak pada putrimu sendiri?”
Emalia menatap sinis ke arah Ivana, dan itu benar-benar membuat Ivana tak langsung menunduk. Ia tak berani menatap wajah ibunya. Margaretha yang tahu Ivana sedang tak nyaman pun menarik wanita itu untuk berdiri di belakang tubuhnya.
“Ayolah Emalia, dia itu putrimu kenapa kau sangat kejam padanya.” Mendengar perkataan dari Margaretha, Emalia pun langsung mengubah cara bicaranya kepada Ivana.
Wanita itu seketika langsung tersenyum kepada putrinya, padahal tadi ia sempat menghakimi. “Ivana sayang, mengapa kamu jauh dari mama?, Aku tidak seperti dulu Aretha. Aku sudah berubah, kamu tahu sendirikan. Menjadi seorang single mom itu tidaklah mudah”
Aretha pun mengangguk, Emalia pun langsung menarik tangan putrinya. “Ayo Ivana, bukan kah tadi kamu bilang pada mama akan pergi ke dapur untuk membuat kue!”
“Iya ma, Ivana lupa,”
“Bibi Aretha, Ivanna pergi dulu ya. Maaf telah membuat khawatir.” Ivana membungkuk, ia pun pergi ke lantai dua.
“Aretha, mengapa tidak bilang jika kamu pulang hari ini, kami kan bisa menjemputmu di Bandara.”
“Tidak usah Ema, toh juga aku bisa minta supir menjemput ku,” Melihat Aretha yang mengobrol bersama dengan Emalia, para wanita yang lain pun tak ingin kehilangan kesempatan.
Margaretha Howard, istri dari Adam Howard. Mereka merupakan salah satu pengusaha sukses dengan salah satu Perusahaan terbesar di Amerika yang bergerak di bidang industri perfilman serta pabrik mainan. Tak tanggung-tanggung, cabang dari perusahaan ini tersebar di seluruh penjuru dunia. Tak hanya Industri film dan pabrik, aset seperti hotel bahkan juga vila serta tanah yang ratusan hektar serta jet pribadi membuat total kekayaan dari Adam Howard tak dapat dipungkiri. Hal itu membuatnya masuk dalam nominasi orang terkaya nomor 22 di dunia.
Putra mereka bernama Saga Howard, menjadi direktur muda saat usianya menginjak 25 tahun. Ia bahkan kini telah mendirikan perusahaan smartphone miliknya yang bernama SG.
Jika ingin mendapatkan investor besar, maka dekatilah Margaretha. Maka mereka akan bisa mendapatkan kesempatan untuk bisa bertemu dengan Adam.
“Aretha, ayo kita ke atas!. Duduk-duduk dulu, kamu pasti lelah kan setelah turun dari pesawat,” ucap Dania Marviz si tukang penjilat.
Margaretha pun mengikuti teman-temannya. Ia tak peduli ia di manfaatkan, ia sudah terbiasa dengan semua itu.
Di dapur, Ivana tengah membuat cake coklat. Saat ia tengah mengambil loyang dari oven, dadanya terasa amat sakit, ia menggeram kesakitan. Loyang yang ia bawa jatuh, cake yang ia buat bahkan terlepas dari loyang dan hancur. Napasnya tersengal-sengal, ia pun kemudian pingsan tak sadarkan diri.
Di sisi lain.......
Olivia kini tengah bersama dengan Saga, mereka mencoba baju pengantin. Saga kini tengah duduk bermain ponsel. Ia tengah menunggu Olivia keluar dari ruang ganti, tirai yang mengalangi pun terbuka. Memperlihatkan wajah cantik Olivia membuat Saga yang duduk di sofa panjang itu pun membulatkan matanya takjub akan kuasa Tuhan.
Wanita yang cantik ia adalah calon istrinya, ia bahkan terpana dan tak bisa mengalihkan padangan-nya dari Olivia. Hal itu pun membuat Olivia tersipu malu.
Saga mendekatinya, ia menatap Olivia dari atas hingga bawah. Gaun butuh dengan renda cantik sebahu yang panjang serta bunga mawar putih di tangannya membuat pria 30 tahun itu benar-benar tak bisa mengalihkan pandangannya dari wanita itu.
“Kamu sangat cantik sayang, kamu adalah peran utamanya sekarang,” ujar Saga dan di jawab senyuman manis oleh Olivia.
Saga menggengam pinggang Olivia, ia mendekat ke arah Olivia. “Kamu mau apa?.”
“Entah lah, namun kamu benar-benar seperti putri dalam dunia dongeng sayang” Saga memeluk Olivia, dan gadis itu bahkan membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.
“drttttttt drttttttttt” Suara ponsel terdengar dari balik tas navy kecil yang mahal.
Olivia pun menghampiri tasnya dan membuka ponselnya. “Bibi Agnes? Ada apa dia menelepon?”
“Astaga, aku kehilangan momen itu lagi,” ucap Saga sambil menggerutu.
“Apa, Ivana masuk rumah sakit?”
“Ya baiklah, tunggulah di sana bibi. Aku akan segera ke sana” Olivia benar-benar tergesa-gesa. Ia berganti baju dan langsung berpamitan kepada Saga.
“Saga, aku duluan ya. Ivana membutuhkanku, aku mau baju yang tadi saja. Aku rasa sudah sesuai,” ucapnya yang langsung pergi.
“Ya, aku rasa aku juga suka. Hati-hati di jalan sayang” ucap Saga sambil melambaikan tangan kepada Ivana.
Ivana yang baru keluar dari butik pun di kejutkan dengan hujan yang begitu deras, “Apakah ramalan cuacanya salah, mengapa mereka bilang hari ini cerah jika pada akhirnya hujan lebat. Ouh, aku bahkan tidak mendengar suara hujan ini saat di butik tadi.” Ujar Olivia sebari berlari ke arah mobilnya.
Ia kemudian masuk, menekan tombol dan pintu mobil pun langsung terbuka. “Ivana, tunggulah kakak sebentar!, kakak janji akan segera datang,” Olivia menarik sabuk pengaman, setelah itu ia pun pergi dari butik itu.
Di rumah sakit, Bibi Agnes benar-benar menemani Ivana. Hanya ada dirinya, tak ada orang lain di sana selain wanita itu.
“Nona, tolonglah bangun, Apakah anda tidak ingin melihat Nona Olivia menikah. Anda sebentar lagi akan menjadi bridesmaid. Maka anda harus sadar jika ingin melihat Nona Olivia menikah nanti.” Agnes benar-benar tulus, ia bahkan menggenggam tangan kiri Ivana dan mengelusnya.
“Non, bibi benar-benar tidak kuat jika harus melihat Nona seperti ini. Nona itu sudah seperti anak bagi bibi. Jadi tolong Nona, bangun” Setelahnya dokter pun kembali datang.
“Bagaimana, apakah keluarganya akan datang?”
“Ya, dia sebentar lagi akan datang.”
“Tolong jangan lama-lama, keluarganya harus segera tahu soal kondisi pasien.”
“Dokter, apakah tidak ada cara lain dokter?”
“Tidak ada Bibi, pasien hanya dapat bertahan paling lama 1 bulan jika tidak mendapatkan donor jantung. Kondisinya sudah separah ini, dia hanya bisa hidup dengan alat-alat ini. Bahkan jika bangun, mungkin dia juga tak akan sanggup untuk berbicara.”
Mendengar ucapan dari dokter itu membuat Bibi Agnes semakin cemas. Ia terus mencoba menelepon nyonya Emalia namun tak ada respons apa pun dari wanita itu. Bahkan kini wanita itu tengah asyik bercengkerama dengan para temannya, sibuk memamerkan hartanya yang semakin banyak. Bahkan ia tak peduli akan Ivana.
Sedangkan di sisi lain ada Olivia, dia benar-benar adalah kakak terbaik untuk adiknya. Namun itu semua tak berjalan mulus sesuai harapan. Olivia mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang tinggi meski ia tahu jika hari itu adalah hari hujan, wanita itu mengendari mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
“Ivana, kakak akan segera datang. Tunggulah kakak sebentar lagi,” Olivia kini sudah tak jauh dari rumah sakit, ia hanya tinggal beberapa ratus meter dari sana.
“AWAS, SEMUANYA MENGHINDAR DARI JALANAN” Teriakan itu terdengar dari arah belakang.
Bahkan para pejalan kaki pun berteriak sekencang mungkin, mereka syok bahkan ada yang sampai terjatuh.
Olivia yang melihat keanehan pun langsung menoleh melihat kaca spion mobil. Tampak dari sana, mobil dan motor yang telah saling bertabrakan di belakangnya. Wanita itu pun terkejut, ia mencoba membanting setir ke samping. Namun hal itu terlambat, mobil dari arah belakang menghantamnya dengan begitu keras. Tak hanya sekali beberapa kali hingga mobil yang Olivia kendarai terhimpit di tengah. Dan dari arah belakang, sebuah truk yang menjadi akar masalah pun datang dengan kecepatan tinggi. Truk itu menghantam mobil-mobil yang ada di depannya terus seperti itu hingga akhirnya dapat berhenti lantaran sebuah rem truk yang blong. Olivia sudah tak mampu untuk lari, badannya bersimbah darah penuh dengan luka. Korban berjatuhan pada hari itu, menyebabkan kecelakaan beruntun yang besar dan panjang.
Tangisan terdengar di sepanjang jalan, banyak yang kehilangan nyawa. Bahkan seorang anak kecil yang selamat pun terus menangis tanpa henti saat melihat ayah dan ibunya yang tak selamat di dalam mobil.
Para warga berdatangan, aktivitas lalu lintas terhenti. Hanya ada suara mobil pemadam kebakaran, polisi dan ambulans yang terus berdatangan. Kecelakaan fatal itu benar-benar meninggalkan isakan tangis. Dan salah satu korban dari tragedi kecelakaan beruntun itu adalah........ Olivia Wingston.
“Ivana, maafkan kakak. Karena sepertinya kakak....... tidak bisa sampai tepat waktu,” ucapan terakhir dari Olivia sebelum akhirnya ia pingsan, mobil moliknya terbalik, badan serta kakinya terjepit di sela-sela jok mobil. Darah yang keluar tak bisa di pungkiri.
Namun, hingga detik terakhir. Ia bahkan hanya terus mengingat adiknya. Ia meneteskan air mata dalam pingsannya. Ia tak bisa menepati janjinya pada Ivana untuk selalu menjaganya.
Para korban di bawa ke rumah sakit terdekat, Bahkan Saga yang di telepon oleh Emalia pun langsung menghampiri rumah sakit. Dengan kepanikannya ia berlari di sepanjang koridor. Ia tak peduli akan siapa pun. Ia hanya peduli akan Olivia.
Pria itu berdiri di depan ruang operasi, tubuhnya yang tak kuat berdiri pun akhirnya tumbang setelah melihat Olivia yang harus berada di ruang UGD. Emalia pun tadinya enggan datang ke rumah sakit kini hadir, ia menangis sejadi-jadinya melihat putrinya. Mereka semua menangis, tangisan itu untuk Olivia. Bahkan Aretha pun turut menenangkan Emalia bersama para temannya yang lain. Semua tentang Olivia, tak ada satu pun dari mereka yang ingat akan Ivana.
“Bagaimana putriku bisa berakhir seperti ini,” Emalia mendekat ke arah Saga, ia mencengkeram jas pria itu kuat-kuat.
“Kau, kau yang mengajaknya pergi tadi. Mengapa sekarang dia berakhir di rumah sakit, kenapa?”
“Maaf bibi, aku gagal menjaga Olivia. Aku gagal, seharusnya aku pergi bersamanya,”
“Harus, seharusnya memang seperti itu,”
Grace, sekretaris Emalia membisikkan semua padanya. “Jadi ini semua karena Ivana, jadi lagi-lagi Olivia seperti ini karena anak itu?”
Thor