Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Frekuensi yang Terlarang
Getaran di dalam kapsul Navigasi Langit tidak lagi terasa seperti ayunan yang menenangkan. Guncangan itu kini kasar, mirip dengan pesawat yang sedang menerjang turbulensi hebat di tengah badai petir. Di luar jendela, bayangan raksasa dari "Penjaga yang Lebih Tua" semakin mendekat, menciptakan aura kegelapan yang mulai mengaburkan cahaya bintang-bintang di sekitar mereka.
"Arlo, sistem kendalinya tidak merespons!" teriak Alana sambil berpegangan pada tepian meja kristalnya.
Arlo sibuk di depan panel utama, jemarinya bergerak secepat kilat. "Mereka mencoba mengunci frekuensi kita, Alana! Mereka ingin mendiamkan suara kita karena pesan yang kau kirim ke ibumu menciptakan riak yang terlalu besar di kolam keabadian. Tapi kita tidak bisa membiarkan Elian menjadi korban di bawah sana!"
Alana menatap ke arah layar bawah, di mana Navasari tampak terjepit di antara dua kekuatan. Di satu sisi, para agen "Penjemput Fajar" sedang menyiksa Elian dengan alat sensor frekuensi, dan di sisi lain, pusaran hitam kosmik mulai menarik energi dari bumi.
"Jika aku tidak bisa turun, maka suratku yang harus turun!" Alana mengambil membran bening yang lebih tebal dan pena kristalnya. "Arlo, kau bilang darahku adalah kunci otoritas. Apakah aku bisa mengirimkan pesan yang hanya bisa didengar oleh Elian? Pesan yang bisa mengacaukan frekuensi alat-alat mereka?"
Arlo menoleh, wajahnya pucat namun matanya berkilat penuh tekad. "Itu disebut sebagai Pesan Interferensi. Itu berbahaya, Alana. Kau harus menuangkan amarahmu ke dalam tulisan itu, tapi kau harus menjaganya agar tetap murni. Jika kau kehilangan kendali, pesan itu bisa menghancurkan mercusuar itu sendiri."
"Aku tidak punya pilihan!"
Alana mulai menulis. Kali ini, ia tidak menggunakan tinta perak yang lembut. Ia menusuk ujung jarinya dengan pena kristal, membiarkan setetes darahnya bercampur dengan tinta, menciptakan warna merah tembaga yang berpendar tajam.
Ia menulis dengan kecepatan yang luar biasa, setiap goresannya menciptakan percikan cahaya di atas membran:
Elian, dengarkan suaraku di dalam nadimu. Jangan melawan rasa sakitnya, gunakan itu sebagai jangkar.
Aku akan melepaskan sebuah 'Gema' dari sini. Saat kau merasakan udara di sekitarmu mendidih dan telingamu berdenging seperti ribuan lebah, itulah saatnya kau menarik kabel utama pada tiang pancang mereka. Fokus pada koordinat rasi bintang Cygnus di kepalamu.
Langit tidak meninggalkanmu, Elian. Aku di sini. Kami di sini.
"Sudah! Luncurkan sekarang!" teriak Alana.
Arlo membuka katup darurat. "Hati-hati, Alana! Ini akan menguras energimu!"
Begitu membran itu melesat keluar, Alana jatuh terduduk. Ia merasa seolah-olah sebagian dari nyawanya ikut ditarik keluar dari tubuhnya. Di layar, ia melihat pesan itu tidak meluncur seperti meteor, melainkan pecah menjadi gelombang sonik transparan yang menghantam puncak bukit Navasari dengan kekuatan ledakan yang tak bersuara.
Di Bumi – Halaman Mercusuar
Elian mengerang saat alat sensor di dahinya mulai mengeluarkan percikan api. Agen bermata satu itu terkejut dan mundur beberapa langkah. Tiba-tiba, udara di sekitar mereka bergetar hebat. Burung-burung di hutan pinus serentak terbang dalam kegelapan, mengeluarkan suara teriakan yang memekakkan telinga.
"Apa yang terjadi?! Periksa sensornya!" teriak pemimpin agen itu.
"Tuan, frekuensinya meluap! Ini bukan dari alat kita, ini datang dari atas!"
Elian merasakan suara Alana menggema di dalam tulang tengkoraknya. Suara itu begitu jernih, seolah Alana sedang berbisik tepat di samping telinganya. Tarik kabelnya, Elian. Sekarang!
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Elian menendang agen yang menjaganya dan melompat ke arah mesin generator tiang pancang yang sedang mencoba mengisolasi energi mercusuar. Tangannya melepuh saat menyentuh logam panas, namun ia tidak peduli. Ia menarik tuas utama dan memutuskan sambungan kabel tembaga raksasa tersebut.
Seketika, terjadi feedback energi yang luar biasa. Alat-alat taktis para agen meledak serentak. Lampu-lampu halogen mereka pecah berkeping-keping. Kegelapan total kembali menyelimuti puncak bukit, kecuali satu hal: pilar cahaya emas dari mercusuar kembali menyala, jauh lebih terang dari sebelumnya, menciptakan perisai yang melemparkan para agen itu menjauh dari area suci tersebut.
Di Dalam Navigasi Langit
Guncangan di kapsul berhenti secara mendadak. Bayangan raksasa dari "Penjaga yang Lebih Tua" tampak sedikit menjauh, seolah-olah mereka terkejut dengan kekuatan interferensi yang baru saja dilepaskan Alana.
Alana terengah-engah, wajahnya sangat pucat. Arlo segera memeluknya, menahan tubuh Alana agar tidak jatuh ke lantai kapsul.
"Kau berhasil, Alana. Elian aman... untuk saat ini," bisik Arlo.
Alana menatap tangannya yang sedikit bergetar. "Dia mendengarku, Arlo. Kita bertukar pesan di tengah badai itu. Ini bukan lagi sekadar surat cinta... ini adalah sumpah."
Arlo menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan yang masih mengintai di kejauhan. "Pihak 'Penjaga' tidak akan diam. Kau baru saja membuktikan bahwa cinta manusia bisa mengacaukan hukum mereka. Sekarang, kita harus membuat perjanjian."
"Perjanjian apa?"
"Kita akan terus mengirimkan surat, tapi kita harus melakukannya melalui jalur yang tidak terdeteksi. Kita akan menggunakan rasi bintang yang mati sebagai kode. Kau dan aku, kita akan menjadi pengantar pesan rahasia di antara keabadian ini. Dan untuk Elian... dia akan menjadi perantara kita di bumi."
Alana mengangguk. Ia mengambil selembar membran baru. Rasa sakitnya perlahan menghilang, digantikan oleh ketenangan yang dingin dan tajam. Ia menyadari bahwa Bab 12 ini adalah titik balik. Ia bukan lagi Alana yang melarikan diri dari Jakarta karena malu; ia adalah Alana sang Navigator, yang kini memulai perang gerilya melawan keheningan semesta demi orang-orang yang ia cintai.
"Tuliskan surat berikutnya, Alana," kata Arlo sambil kembali ke kursi pilot. "Bumi sedang menunggu suaramu."
Alana mulai menulis kembali, namun kali ini tulisannya lebih teratur, lebih kuat, dan lebih penuh rahasia. Perjanjian tak tertulis telah dibuat: Langit tidak akan diam selama masih ada tinta yang terbuat dari harapan.
Dinding kapsul Navigasi Langit yang biasanya bening seperti kristal, kini tampak seperti cermin yang retak. Setiap kali "Penjaga yang Lebih Tua" mendekat, muncul pola-pola geometris hitam yang mencoba menghisap cahaya dari dalam kapsul. Alana bisa merasakan oksigen di dalam ruangan itu mendingin, seolah-olah ruang hampa di luar sana mencoba menembus masuk dan membekukan jiwanya.
"Arlo, layar sensornya memerah!" Alana berteriak di atas deru frekuensi yang menyakitkan telinga. "Elian... dia tidak bergerak. Alat di dahinya, itu sedang menghisap sesuatu darinya, kan?"
Arlo mengangguk tegang, tangannya bekerja cepat di atas konsol kristal yang mulai mengeluarkan percikan api biru. "Itu adalah Neuropath-Scanner. Mereka tidak hanya ingin tahu lokasi kita, Alana. Mereka mencoba menyalin frekuensi unik dari memori Elian tentang kakekmu. Jika mereka berhasil, mereka bisa menciptakan 'kunci buatan' untuk menyerbu masuk ke dimensi ini. Kita harus memutus koneksi itu sekarang!"
"Beritahu aku caranya!" Alana mendekati meja tulisnya, tangannya gemetar namun matanya menyala dengan warna indigo yang tajam.
"Kau harus menulis sebuah pesan yang tidak mengandung cinta," suara Arlo mendadak berat. "Kau harus menggunakan kemarahanmu. Kau harus membayangkan rasa sakit yang kau rasakan di Jakarta, rasa dikhianati, rasa ingin melindungi satu-satunya orang yang tulus padamu di bumi. Tuangkan semua itu ke dalam tinta darahmu. Itu adalah satu-satunya frekuensi yang cukup kasar untuk mengacaukan mesin mereka."
Alana tertegun. Selama ini, surat-suratnya adalah tentang harapan. Sekarang, ia diminta untuk menggunakan kegelapan sebagai senjata. Ia menatap layar yang menampilkan Elian yang bersimbah peluh, wajahnya pucat pasi di bawah tekanan alat sensor musuh. Rasa amarah yang selama ini ia tekan di dasar hatinya mulai mendidih. Ia ingat wajah orang-orang yang menghancurkan kariernya, dan kini ia melihat orang-orang serupa mencoba menghancurkan satu-satunya tempat yang ia sebut rumah.
Ia menusuk ujung jarinya lebih dalam dengan pena kristal. Darahnya mengalir, kental dan bersinar dengan warna tembaga. Begitu ujung pena menyentuh membran bening, membran itu bergetar hebat.
"Demi langit yang kau incar... demi bumi yang kau injak dengan noda," bisik Alana sambil menulis. Setiap goresan pena di atas membran itu diikuti oleh suara guntur yang merambat dari luar kapsul.
Di Bumi – Puncak Mercusuar Navasari
Elian merasa jiwanya seperti sedang ditarik keluar melalui pori-pori kulitnya. Pemandangan di depannya kabur; ia tidak lagi melihat agen-agen berbaju hitam, melainkan hanya kilatan memori masa kecilnya bersama Pak Surya yang berputar-putar seperti pusaran air yang menghisapnya ke dasar kegelapan.
"Hampir selesai," gumam pemimpin agen bermata satu itu. Ia menatap layar tabletnya yang menampilkan grafik sinkronisasi memori. "Tinggal lima persen lagi, dan kita akan memiliki akses penuh ke koordinat 'Rumah Cahaya'."
Namun, tiba-tiba, langit di atas Navasari tidak lagi hanya sekadar mendung. Awan-awan kumulonimbus yang bergulung-gulung mendadak berubah warna menjadi merah tembaga yang tidak alami. Angin berhenti bertiup selama satu detik sebuah keheningan yang mematikan sebelum akhirnya sebuah dentuman hebat menghantam atmosfer tepat di atas mercusuar.
BOOM!
Bukan suara ledakan mesiu, melainkan ledakan frekuensi yang membuat seluruh kaca di mercusuar itu bergetar hingga retak. Elian mendengar suara Alana. Bukan bisikan, melainkan sebuah teriakan komando yang bergema di dalam tengkoraknya.
Tarik kabelnya, Elian! Hancurkan jangkar mereka!
Seketika, energi merah dari langit menyambar tiang-tiang pancang musuh. Alat sensor di dahi Elian meledak, melemparkannya ke lantai kayu yang keras. Rasa sakitnya luar biasa, namun instruksi Alana bertindak seperti adrenalin yang membakar sarafnya. Elian merangkak, jemarinya yang berdarah mencengkeram kabel tembaga raksasa yang terhubung dengan generator musuh.
"Hentikan dia!" teriak si agen mata satu.
Dua agen mencoba menerjang Elian, namun gravitasi di dalam mercusuar mendadak menjadi kacau akibat pesan interferensi Alana. Mereka terangkat beberapa senti dari lantai, kaki mereka menendang-nendang udara yang padat oleh listrik statis.
Elian menggunakan kesempatan itu. Dengan teriakan yang memecah kesunyian malam, ia menarik tuas utama dan memutuskan sambungan kabel itu dengan tangan kosong. Percikan api besar menyambar tubuhnya, namun perisai indigo yang dikirimkan Alana secara tidak sadar melindunginya dari kematian instan.
Di Dalam Navigasi Langit
"Sistem mereka mati!" Arlo berseru, wajahnya diterangi oleh pendaran keberhasilan di layar navigasi. "Koneksinya terputus, Alana! Kau melakukannya!"
Alana jatuh terduduk di lantai kapsul, tubuhnya lemas seolah seluruh tulang belulangnya telah berubah menjadi jeli. Tinta darah di mejanya kini telah menghilang, terserap ke dalam membran yang meluncur ke bumi. Ia terengah-engah, matanya perlahan kembali dari warna merah tembaga menjadi indigo yang lembut.
"Apakah... apakah dia selamat?" tanya Alana parau.
Arlo memeriksa sensor di bumi. "Dia hidup. Tapi perisai di mercusuar sekarang terbuka lebar. 'Penjaga yang Lebih Tua' di luar sana sedang memperhatikan kita dengan sangat dekat sekarang. Kau baru saja melanggar hukum alam semesta untuk menyelamatkan seorang manusia, Alana."
Alana menatap ke luar jendela. Bayangan raksasa "Penjaga" itu tidak menyerang, mereka hanya diam, seolah-olah sedang berdiskusi secara telepati tentang fenomena yang baru saja mereka saksikan. Seorang Navigator yang menggunakan amarah untuk melindungi jangkarnya adalah sesuatu yang tidak ada dalam catatan mereka.
"Aku tidak peduli pada hukum mereka," kata Alana sambil menatap tangannya yang masih ternoda darah. "Jika langit menuntutku untuk menjadi dingin, maka aku lebih baik jatuh kembali ke bumi sebagai debu."
Arlo mendekat dan membantu Alana berdiri. "Kita telah membuat janji yang berbahaya malam ini, Alana. Mulai sekarang, kita tidak bisa lagi hanya bertukar surat cinta. Kita adalah buronan di langit, dan pelindung rahasia di bumi. Kita harus mulai belajar cara menulis sandi yang tidak bisa dibaca oleh siapa pun kecuali hati yan senantiasa pemandangan mercusuar Navasari yang perlahan-lahan kembali tenang, namun di atas sana, di antara ribuan bintang, sebuah jalur komunikasi baru telah terbuka sebuah jalur yang dibangun dari pengorbanan, darah, dan interferensi yang terlarang.