Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daily Kampus
Ninda sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Untunglah hari ini dia tak perlu mengayuh sepedanya seperti biasanya, karena beberapa hari ini terakhir Jessica selalu memberinya tumpangan.
“Mau berangkat ke kampus?” tanya Noah sambil melangkah mendekat, mereka bertemu tanpa sengaja di jalan di sekitar Apartemen.
“Iya, Uncle,” jawab Ninda dengan nada sedikit gugup. Pipinya merona merah, tak bisa menyembunyikan rasa canggungnya.
Noah mengamati wajah Ninda dengan seksama. “Kamu lagi sakit, ya? Kok mukamu merah begitu?”
Ninda menggeleng cepat. “Enggak, aku baik-baik saja kok, Uncle,” jawabnya sambil tersenyum tipis, berusaha menutupi rasa malu.
Namun Noah tak langsung percaya. Dengan lembut, dia mengulurkan tangan dan menempelkan telapak tangannya ke dahi Ninda.
Ninda terkejut dan mundur sedikit, merasa canggung dengan perhatian Noah. Tapi Noah hanya tersenyum, menikmati momen itu, merasa terhibur dengan reaksi polos Ninda.
“Wah, kamu makin cantik kalau lagi bingung, ya,” goda Noah sambil mencubit pipi Ninda dengan lembut.
Ninda hanya bisa tersenyum malu, sementara Noah melanjutkan, “Biar aku antar, tunggu sebentar.”
Namun sebelum Noah menyelesaikan kalimatnya, mobil putih milik Jessica sudah tampak melaju di depan.
Ninda segera melambaikan tangan ke arah Jessica.
“Tidak perlu, aku sudah dijemput teman,” jawab Ninda sambil beranjak cepat. Dia buru-buru menghindar dari Noah.
“Nanti malam aku ke apartemenmu,” ucap Noah sambil melambaikan tangan ke arah Ninda. Ninda membalas dengan senyum tipis dan lambaian tangan kecil sebelum berlari kecil menuju mobil Jessica.
Setelah masuk ke dalam mobil, Noah masih terus tersenyum ke arahnya.
Jessica yang melihat itu pun melambaikan tangan ke Noah dan bertanya dengan nada menggoda,
“Siapa pria tampan itu?”
Ninda hanya tersenyum canggung, tak tahu harus menjawab apa.
Jessica menggoda, “Dia sangat hot, ya?”
Mobil melaju kencang meninggalkan Noah, sementara Ninda masih terdiam, hatinya campur aduk antara malu dan bingung.
“Hey, kau belum jawab aku,” Jessica menegur dengan nada setengah bercanda.
“Oh, itu Uncle Noah,” jawab Ninda pelan, wajahnya kembali memerah.
Dia merasa aneh kenapa Noah bisa begitu santai dan akrab di hadapan temannya.
“Dia yang meminjamkan apartemennya untukmu, kan?” tanya Jessica sambil tersenyum nakal.
“Iya,” jawab Ninda singkat.
“Kalian tinggal bersama?” tanya Jessica lagi, suara dan tatapannya penuh godaan.
Ninda terkejut dan buru-buru membantah, “Tidak, dia hanya tetanggaku.”
Jessica terkekeh, “Kelihatannya kalian cukup intim, lho. Kayak uncle dan keponakan yang punya rahasia.”
Ninda hanya tersenyum tipis, mengingat beberapa hari lalu dia pernah bercerita bahwa Noah adalah pamannya.
Semua perlakuan Noah padanya memang karena hubungan keluarga itu.
“Gestur kalian seperti dua orang yang jatuh cinta,” goda Jessica tanpa basa-basi.
Mata Ninda membelalak kaget mendengar ucapan blak-blakan temannya.
“Tidak seperti yang kau bayangkan,” sahut Ninda cepat, berusaha menghilangkan kesan itu.
“Sayang sekali,” Jessica tertawa kecil sambil melirik Ninda.
Tak terasa, mereka sudah tiba di kampus. Jessica memarkir mobilnya di dekat gedung fakultas, dan mereka turun bersama-sama.
Setelah berjalan ke dalam, mereka naik lift menuju kafetaria di lantai dua, tempat mereka sudah sepakat akan berkumpul.
Di sana sudah menunggu Sunak, yang tersenyum ramah saat melihat kedatangan mereka.
Jessica dan Ninda segera menghampirinya, dan Sunak melambaikan tangan.
“Sudah lama?” tanya Jessica sambil duduk di samping Sunak, diikuti Ninda yang duduk di depan mereka.
“Baru sampai,” jawab Sunak sambil tersenyum.
Tiba-tiba Jessica nyeletuk, “Tadi aku ketemu pacarnya Ninda.”
Sunak tersenyum antusias, “Apa dia setampan aku?”
Ninda hanya tersenyum malu, sementara Jessica menggoda, “Tentu saja tidak Noah itu tampan dan seksi.”
Sunak mengingat-ingat, “Bukannya dia dulu pemain sepak bola? Sepupu ayah tirimu, kan?”
Ninda mengangguk pelan.
“Pacaran sama uncle sendiri?” Sunak bertanya lagi, membuat wajah Ninda semakin merona.
“Tidak, tentu saja tidak,” jawab Ninda malu-malu. Sunak dan Jessica hanya tertawa melihatnya.
“Ngambil kopi sana. Gratis, lho,” Ungkap Sunak sambil mengangkat cangkir kopi di tangannya.
Awalnya Ninda dan Jessica tidak terlalu perduli, tapi begitu mendengar kata “gratis,” semangat mereka langsung bangkit.
Mereka segera menuju mesin kopi dan kembali dengan cangkir di tangan mereka masing-masing, lalu duduk menikmati kopi hangat.
Jessica menatap Ninda dan bertanya, “Gimana nggak baper dan jatuh cinta kalau ketemu tiap hari!”
Ninda menghela napas, “Aku nggak tahu... tapi sekarang aku anggap dia cuma Uncle-ku.”
Jessica terus mengamati, “Kamu suka dia, kan?”
Ninda menggeleng membantah.
“Apa kalian pernah berciuman?” tanya Jessica tiba-tiba.
Ninda dan Sunak hampir tersedak mendengar pertanyaan itu.
“Aku bingung, apa itu bisa di sebut ciuman,” jawab Ninda malu-malu, wajahnya merah merona.
Jessica menggoda, “Kau nggak pernah mikirin hal selain ciuman? Noah itu sangat hot dan seksi.”
Sunak ikut nimbrung, "Jangan, lakukan itu"
Jessica balik bertanya ke Sunak, “Bagaimana dengan mu?”
Sunak panik dan buru-buru minum kopinya, “Tentu saja pernah.”
Jessica dan Ninda tertawa mendengar jawaban itu.
Jessica menggoda lagi, “Jangan bohong, pasti belum pernah, kan?”
Sunak cuma bisa mengangguk malu.
Jessica menatap Ninda serius, “Kamu naksir Uncle-mu itu, ya?”
Ninda diam sejenak, lalu mengiyakan dengan suara pelan, “Iya, aku suka dia.”
Sunak meledek, “Dia terlalu tua dan berpengalaman buat kamu.”
Jessica menggoda, “Buat dia jadi milikmu, dong.”
Sunak menggeleng, “Ninda, kamu harus fokus belajar, jangan pacaran sama om-om.”
Ninda dan Jessica serentak berseru, “Diam!”
Jessica membayangkan, “Bayangin deh, Kalau kamu bisa menyentuh badan Uncle mu yang hot dan seksi itu,.”
Sunak memberi wejangan, “Jangan dengarkan pikiran kotor Jessica.”
Sunak penasaran, “Sejauh apa kontak fisik kalian?”
Ninda menjawab, “Euh... kecupan, tapi setelah itu dia menghilang,"
Jessica terkejut, “Maksudnya dia ghosting?”
Ninda mengangguk sedih.
Sunak mulai serius, “Kalau aku boleh kasih pendapat, dia mungkin belum yakin sama kamu.”
“Mungkin, dia bukan tipe laki-laki yang suka berkomitmen, berapa usianya?” Tanya Sunak penasaran
“33 tahun,” jawab Ninda pelan.
Jessica tersenyum, “Cukup dewasa, kaya, tampan, dan seksi.”
Sunak menambahkan, “Atlet itu biasanya playboy. Kalau mau bersamanya, siap-siap lihat perempuan lain nempel ke dia.”
"Kaya dia nih" Sunak melirik ke arah Jessica
Jessica agak sewot, “Maksudmu? Aku bakal nempel sama pacar teman ku,”
Sunak melirik Jessica, “Aku bukan ngomongin kamu, Jess.”
Sekarang Jessica mulai memberi solusi, “Mungkin kamu perlu uji keseriusannya. Jangan biarkan dia cuma datang buat menggoda dan iseng doang,”
Sunak mencoba sudut pandang lain,“Kita lihat saja bagaimana perkembangan selanjutnya. Mungkin dia merasa umur kalian terlalu jauh.”
Jessica menegaskan, “Kalau dia cuma main-main, tinggalkan saja.”
Ninda mengangguk pelan, “Iya, aku paham.”