siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.
Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Karang Hantu dan Rahasia Daster Permaisuri
Helikopter milik agensi mendarat darurat di sebuah lapangan bola yang becek, sekitar lima kilometer dari Desa Nelayan Karang Hantu. Hujan turun dengan intensitas yang seolah-olah langit sedang menumpahkan seluruh dendamnya ke bumi. Petir menyambar bergantian, menerangi siluet pepohonan kelapa yang meliuk-liuk seperti penari kesurupan.
"Karang Hantu... nama yang sangat estetik untuk tempat kematian kita," gumam Maya Adinda sambil berusaha melindungi rambutnya dengan plastik kresek bekas wadah martabak yang ia temukan di pojok helikopter.
Bella Damayanti turun lebih dulu, sepatu bot taktisnya tenggelam dalam lumpur. Ia memegang tablet militer yang menunjukkan titik koordinat yang berkedip merah. "Kita nggak punya waktu buat komplain soal estetika, May. Sinyal GPS di sini sangat tidak stabil. Sepertinya ada alat pengacak frekuensi yang ditanam di sekitar desa ini."
Siska Paramita keluar terakhir, membawa tas ransel besar yang isinya lebih berat daripada kelihatannya. Di dalam sana bukan hanya ada baju ganti, tapi juga stok bumbu dasar, pisau dapur keramik, dan tentu saja Sutil MK-II miliknya yang berkilau setiap kali ada petir menyambar.
"Aroma udang mati dan garam," Siska mengendus udara. "Tapi ada bau lain. Bau mesiu. Tipis, tapi ada. Kita nggak sendirian."
Mereka berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang licin. Desa Karang Hantu tampak seperti desa mati. Rumah-rumah panggung dari kayu jati tua berdiri berhimpitan, namun tidak ada satu pun lampu yang menyala. Hanya suara ombak yang menghantam karang di kejauhan yang memecah keheningan.
"Rumah tua itu seharusnya ada di ujung dermaga timur," Bella menunjuk ke arah sebuah bangunan raksasa yang tampak seperti benteng kolonial yang sudah keropos.
Saat mereka mendekati bangunan itu, tiba-tiba tiga buah lampu sorot raksasa menyala dari arah atas bukit, membutakan mata mereka sesaat.
"Selamat datang, Janda-Janda Kecil!" suara wanita yang sangat mereka kenal menggema lewat pengeras suara.
Itu adalah Fiona. Rupanya, pelariannya dari hotel Grand Imperial bukan hanya sekadar kabur, tapi memang sudah direncanakan untuk menarik mereka ke sini. Fiona berdiri di atas balkon rumah tua tersebut, mengenakan gaun sutra hitam dan memegang sebuah kipas bulu. Di sampingnya, berdiri puluhan pria berpakaian taktis lengkap dengan senapan otomatis.
"Kalian membawa daster kedua? Bagus sekali," ujar Fiona sambil tersenyum dingin. "Letakkan di bawah, dan mungkin saya akan membiarkan kalian pulang untuk melanjutkan hidup membosankan kalian di apartemen."
"Banyak gaya lo, Tante!" teriak Maya, yang tiba-tiba merasa berani karena kedinginan. "Ini daster punya sejarah! Nggak bakal kami kasih ke orang yang seleranya norak kayak kamu!"
Fiona tertawa. "Norak? Daster itu adalah kunci untuk mengakses satelit logistik yang menyimpan aset senilai triliunan rupiah. Tanpa daster ketiga yang kalian bawa dari penjara, saya tidak bisa melengkapi kodenya. Serahkan sekarang!"
"Ambil sendiri kalau berani!" Bella menarik payung titaniumnya dan membukanya.
KLIK.
Payung itu membentuk perisai antipeluru di depan mereka bertiga.
"Tembak!" perintah Fiona.
Rentetan peluru menghujani payung Bella. Suara dentingan logam yang beradu terdengar memekakkan telinga.
"Siska, Maya! Masuk ke bawah dermaga! Gue bakal alihkan perhatian mereka!" teriak Bella.
Bella melemparkan sebuah granat asap ke arah depan. Sambil berlari, ia menekan tombol di gagang payungnya. Gas tidur menyembur keluar, membuat beberapa pengawal di baris depan jatuh terkulai.
Siska dan Maya merayap di bawah lantai kayu dermaga yang basah. Bau amis semakin menyengat. Tiba-tiba, dari balik tiang-tiang dermaga, muncul dua orang ninja air yang membawa belati panjang.
"May, bedak!" bisik Siska.
Maya segera membuka bedak padat pengalih perhatiannya.
POOF!
Serbuk reflektif memenuhi kolong dermaga. Para ninja itu terbatuk dan kehilangan arah pandang. Siska tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia menghantam lutut salah satu ninja dengan sutilnya, lalu melakukan gerakan memutar dan memukul tengkuk ninja lainnya. "Ini buat serbet lavenderku yang hilang!" pungkasnya dengan nada dendam.
Mereka berhasil naik ke lantai rumah tua lewat lubang rahasia di dapur bawah. Kondisi dapur itu sangat menyeramkan penuh dengan kuali besar yang sudah berkarat. Namun, di tengah ruangan, ada sebuah meja marmer besar yang di atasnya terdapat sebuah kotak kaca.
Di dalam kotak itu, tersampir daster ketiga. Daster Permaisuri Hitam.
Warnanya hitam pekat dengan bordiran benang perak yang membentuk pola geometris yang sangat rumit. Jika daster Maya adalah emas (kemewahan) dan daster Mami Rosa adalah merah (kekuatan), daster ini adalah hitam (kerahasiaan).
"Itu dia," bisik Maya. "Cantik banget... kalau dipakai buat pesta kayaknya bagus."
"May, jangan mulai," tegur Siska.
Siska mendekati kotak kaca itu. Ia menggunakan sutilnya yang memiliki sensor suhu. "Kotak ini terhubung dengan alarm tekanan. Kalau kita angkat, seluruh gedung ini bakal meledak."
"Pintar juga kamu, Koki," Fiona muncul dari kegelapan di pintu dapur, menodongkan pistol ke arah mereka. Ia tidak sendirian, dua orang pria berbadan raksasa mengapitnya.
"Fiona, semuanya sudah berakhir," kata Bella yang tiba-tiba muncul dari jendela atas, menggantung di kabel baja layaknya agen rahasia profesional. "Pasukan Kapten Adrian sudah mengepung pantai ini. Nggak ada jalan keluar buat kamu."
Fiona tersenyum sinis. "Kapten Adrian? Maksudmu pria yang baru saja saya suap dengan dua juta dollar untuk mematikan radar di area ini? Kalian sendirian, Sayang."
Bella tertegun. Pengkhianatan dari dalam agensi? Itu hal yang tidak ia duga.
"Sekarang," Fiona melangkah maju. "Maya, berikan daster merah dari penjara itu. Dan Siska, menjauh dari kotak kaca."
Maya gemetar, tapi ia melihat sebuah pantulan cahaya dari sutil Siska. Siska sedang memberikan kode lewat gerakan jari di gagang sutil. Satu... dua... tiga...
"Terima ini, Tante Girang!" teriak Maya sambil menyemprotkan hairspray-nya yang sudah dimodifikasi menjadi pelontar api kecil.
WUUUSHHHH!
Api menyambar gaun sutra Fiona. Fiona menjerit dan mundur selangkah. Di saat yang sama, Siska menghantam kotak kaca dengan segenap kekuatannya menggunakan Sutil MK-II.
PRANG!
Alarm berbunyi nyaring, tapi alih-alih meledak, gedung itu justru mengeluarkan suara gemuruh mekanis. Lantai di bawah meja marmer bergeser, menyingkap sebuah ruang bawah tanah yang dipenuhi layar monitor raksasa yang masih menyala.
"Itu bukan harta karun berupa emas!" teriak Bella sambil melompat turun. "Itu adalah pusat kendali satelit ilegal!"
Pertempuran terakhir terjadi di ruang kendali bawah tanah. Bella berhadapan dengan dua pengawal raksasa Fiona. Dengan teknik judo dan memanfaatkan payung titaniumnya sebagai tongkat pemukul, Bella berhasil menjatuhkan mereka meskipun ia sendiri harus menderita luka memar di lengan.
Siska mengejar Fiona yang berusaha mengakses komputer utama. Fiona mengeluarkan pisau lipat dari balik kipasnya.
"Kamu cuma tukang masak!" teriak Fiona sambil menyerang Siska.
"Dan kamu cuma orang kaya yang nggak tahu caranya menghargai bumbu!" balas Siska.
Siska menangkis pisau Fiona dengan sutilnya. Suara benturan besi terdengar ritmis. Siska menggunakan teknik membalikkan gorengan untuk memuntir tangan Fiona, membuat pisau itu terlempar jauh. Dengan satu dorongan kuat, Siska menjatuhkan Fiona ke atas tumpukan karung bawang yang ada di sudut ruangan.
Sementara itu, Maya sibuk di depan komputer. "Bel! Siska! Kodenya minta input dari ketiga daster! Aku harus ngapain?!"
Bella berteriak sambil menahan pintu dari serbuan anak buah Fiona yang lain. "Cari pola jahitannya! Bambang Hacker bilang polanya adalah kunci akses!"
Maya membentangkan ketiga daster itu di atas meja pemindai. Daster macan pink (emas), daster Mami Rosa (merah), dan daster Permaisuri Hitam (perak). Ketika ketiga daster itu diletakkan bersisian, bordiran di bagian leher mereka bersatu membentuk sebuah kode QR kuno yang terbuat dari jalinan benang.
Maya memindai kode tersebut dengan ponsel lipstiknya.
ACCESS GRANTED.
Layar monitor besar menunjukkan sebuah peta dunia dengan ribuan titik merah. "Titik-titik itu apa, Bel?" tanya Maya.
"Itu adalah lokasi gudang logistik ilegal mereka di seluruh dunia," jawab Bella dengan napas tersengal. "Maya, tekan tombol Self-Destruct pada satelitnya! Sekarang!"
"Tapi nanti harta karunnya hilang!" seru Maya.
"Nggak ada harta karun, May! Harta karunnya adalah data ini, dan kalau ini jatuh ke tangan orang salah, dunia bakal kacau!"
Maya ragu sejenak, tapi ia melihat Siska dan Bella yang sudah babak belur demi misi ini. Dengan satu tekanan jari yang dihiasi kuteks merah muda, Maya menekan tombol Enter.
Di luar, di angkasa luar yang jauh, sebuah satelit meledak menjadi debu bintang. Dan di ruang bawah tanah itu, seluruh data di layar mulai terhapus secara permanen.
Ketika matahari mulai terbit di cakrawala, Desa Karang Hantu tidak lagi tampak menyeramkan. Pasukan bantuan yang asli yang dikirim oleh Kolonel Lastri setelah menyadari pengkhianatan Kapten Adrian akhirnya tiba untuk meringkus Fiona dan sisa-sisa sindikatnya.
Kapten Adrian ditemukan terikat di dalam bagasi mobilnya sendiri (ternyata dia tidak berkhianat, tapi disekap oleh agen ganda).
Ketiga janda itu duduk di tepi dermaga, kaki mereka menggantung di atas air laut yang tenang. Mereka tampak sangat lelah. Baju mereka robek, wajah penuh jelaga, tapi hati mereka terasa ringan.
"Daster macan aku... hancur total," kata Maya sambil menatap sisa-sisa kain merah muda di tangannya.
"Daster itu menyelamatkan dunia, May," hibur Bella sambil menepuk bahu sahabatnya. "Gue rasa agensi bakal ganti dengan yang lebih mahal."
"Aku cuma pengen rendang," celetuk Siska. "Rendang asli yang dimasak pelan-pelan selama delapan jam. Tanpa ada ninja yang ganggu."
Tiba-tiba, Kolonel Lastri berjalan mendekati mereka. Ia membawa sebuah kotak hitam besar. "Kalian melakukan pekerjaan luar biasa. Meskipun sangat... berisik dan tidak ortodoks."
Lastri membuka kotak itu. Di dalamnya ada tiga buah jaket kulit hitam elegan dengan logo bordir kecil berbentuk sutil, lipstik, dan payung yang menyatu membentuk perisai.
"Mulai hari ini, kalian bukan lagi agen percobaan. Kalian adalah divisi resmi: The Widow Squad," ujar Lastri dengan senyum tipis yang sangat langka. "Dan Maya, ini untukmu."
Lastri mengeluarkan sebuah daster baru. Bahannya dari sutra paling halus yang pernah ada, dengan teknologi body armor antipeluru di dalamnya. Motifnya? Tentu saja, macan pink yang sangat berkilau.
Mata Maya berbinar-binar. "Oh My God! Ini lebih bagus dari yang lama!"
Bella dan Siska tertawa terbahak-bahak. Di tengah kehancuran sebuah sindikat internasional, persahabatan mereka justru semakin kuat. Mereka tahu, ke depannya akan ada misi yang lebih berbahaya, musuh yang lebih kuat, dan jemuran yang mungkin hilang lagi.
Tapi selama mereka bertiga bersama, tidak ada rahasia yang tidak bisa diungkap, dan tidak ada sutil yang tidak bisa menghantam keadilan.
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣