NovelToon NovelToon
SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Duda
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.

Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.

Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.

Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. TANDA-TANDA KRISIS PERUSAHAAN

Suara mesin-mesin yang berdecit keras memenuhi setiap sudut lantai produksi PT. Indah Jaya Teknik, seperti biasa. Rian berdiri di depan mesin las yang sedang ia kelola, memeriksa sambungan besi yang baru saja dibuat dengan cermat untuk memastikan kualitasnya sesuai dengan standar perusahaan. Kacamata pelindungnya sedikit mengaburkan pandangannya akibat uap panas dari proses las, tapi dia tetap fokus pada pekerjaannya seperti yang dia lakukan selama lima tahun terakhir sebagai pekerja las kelas satu.

“Rian, bisa kamu datang sebentar ke ruang istirahat?” suara Anton terdengar dari belakangnya, membuat Rian sedikit terkejut. Dia melihat teman kerjanya berdiri di pintu area produksi dengan wajah yang sedikit serius, berbeda dari biasanya yang selalu ceria dan penuh candaan. Rian mengangguk, segera mematikan mesin las dan melepas sarung tangan pelindungnya sebelum berjalan mengikuti Anton ke arah ruang istirahat yang terletak di sudut lantai produksi.

Di ruang istirahat yang sederhana dengan beberapa kursi plastik dan meja kayu, sudah ada beberapa pekerja lain yang berkumpul, antara lain Budi dari bagian perakitan, Sugeng dari bagian kontrol kualitas, dan juga Pak Slamet yang bekerja sebagai supir gudang. Wajah mereka semuanya tampak sedikit gelisah, seperti sedang membahas sesuatu yang tidak menyenangkan. Ketika Rian masuk, semua mata langsung tertuju padanya.

“Kenapa nih? Ada apa yang kalian bicarakan?” tanya Rian dengan nada yang tenang, meskipun hati sudah mulai merasa tidak nyaman melihat ekspresi wajah teman-temannya.

Anton menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Kita baru saja dapat kabar dari salah satu supervisor yang dekat dengan atasan, Rian. Katanya perusahaan sedang menghadapi kesulitan keuangan yang cukup parah. Pesanan yang datang semakin berkurang, sementara biaya produksi dan gaji karyawan terus meningkat,” jelasnya dengan suara yang sedikit menurun, khawatir agar tidak terdengar oleh orang lain di luar ruangan.

Rian merasa dada sedikit tertekan mendengar kabar itu. Dia mengambil kursi dan duduk dengan pelan, menyilangkan tangan di dadanya sambil menatap ke arah teman-temannya yang sedang menunggu reaksinya. “Lalu apa yang akan dilakukan perusahaan? Apakah ada rencana untuk mengatasi masalah ini?” tanya Rian dengan suara yang masih tetap tenang, meskipun dalam hati dia sudah mulai merenungkan dampak yang mungkin terjadi pada keluarganya jika perusahaan benar-benar mengalami kesulitan.

Budi menghela nafas sebelum menjawab. “Yang paling khawatirkan adalah, mereka sedang mempertimbangkan untuk melakukan PHK – Pemutusan Hubungan Kerja – terhadap sebagian karyawan. Katanya jumlahnya tidak sedikit, mungkin sekitar 30% dari total karyawan yang bekerja di lantai produksi dan beberapa bagian administrasi,” jelasnya dengan nada yang penuh kesedihan. “Kita tidak tahu siapa saja yang akan terkena dampaknya, tapi semua orang merasa khawatir karena tidak ada jaminan apapun.”

Rian merasa seperti ada batu berat yang tertancap di perutnya. PHK – kata itu seperti momok yang selalu mengintai setiap karyawan di perusahaan manufaktur, terutama ketika ekonomi tidak stabil seperti sekarang. Dia memikirkan Novi, Hadian, dan Alea – bagaimana mereka akan bertahan jika dia kehilangan pekerjaan yang menjadi sumber penghasilan utama keluarga? Meskipun kerja sambilan Novi membantu, tapi jelas tidak akan cukup untuk menutupi semua kebutuhan keluarga mulai dari biaya rumah kontrakan, biaya sekolah anak-anak, hingga kebutuhan makan sehari-hari.

Sugeng mengangguk mendukung kata-kata Budi. “Selain itu, ada kabar juga kalau perusahaan sedang bernegosiasi dengan beberapa investor untuk menyelamatkan kondisi keuangan. Tapi kalau tidak ada kesepakatan yang tercapai dalam waktu dekat, PHK kemungkinan besar akan dilakukan dalam waktu dua sampai tiga minggu lagi,” tambahnya, mengambil botol air mineral yang terletak di atas meja dan meneguknya dengan cepat seolah sedang menghilangkan rasa gelisah.

Pak Slamet yang selama ini hanya diam akhirnya membuka suara. “Saya sudah bekerja di perusahaan ini selama sepuluh tahun, anak-anak saya sudah mulai kuliah. Kalau saya terkena PHK, bagaimana nasib mereka? Saya tidak tahu lagi harus mencari pekerjaan apa di usia yang sudah tidak muda ini,” ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar, menunjukkan betapa beratnya beban yang dia rasakan.

Rian menyadari bahwa dia bukan satu-satunya yang menghadapi masalah potensial ini. Semua teman kerjanya memiliki keluarga yang harus mereka tanggung jawab, dan kehilangan pekerjaan akan menjadi bencana besar bagi mereka semua. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk tetap tenang dan tidak menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan agar tidak membuat teman-temannya semakin khawatir.

“Kita tidak boleh terlalu panik dulu ya teman-teman,” ujar Rian dengan suara yang jelas dan tegas, membuat semua orang menoleh padanya. “Kabar ini belum tentu benar-benar akan terjadi. Mungkin perusahaan memiliki cara lain untuk mengatasi masalah keuangan tanpa harus melakukan PHK. Selain itu, bahkan jika memang terjadi, kita harus tetap kuat dan saling membantu satu sama lain. Kita sudah bekerja bersama selama bertahun-tahun, jadi kita harus menjadi keluarga yang saling mendukung.”

Anton mengangguk dengan rasa kagum melihat sikap Rian yang tetap bisa tenang dalam situasi sulit. “Kamu benar sekali Rian. Kita memang tidak boleh terlalu cepat putus asa. Kita masih punya waktu beberapa minggu lagi, mungkin dalam waktu itu perusahaan bisa menemukan solusi yang lebih baik,” ujarnya dengan semangat yang sedikit kembali muncul.

Setelah itu, mereka semua berbicara tentang berbagai kemungkinan yang bisa terjadi, mulai dari cara menghemat biaya produksi hingga mencari pekerjaan cadangan jika memang harus kehilangan pekerjaan di perusahaan ini. Rian mendengarkan dengan saksama setiap usulan yang diajukan teman-temannya, sekaligus mulai merenungkan langkah apa yang akan dia lakukan jika memang nasib tidak berpihak padanya.

Jam kerja siang telah dimulai, dan mereka semua harus kembali ke posisi kerja masing-masing. Sebelum berpisah, Rian memberikan tap tangan pada bahu masing-masing teman kerjanya. “Semoga semuanya baik-baik saja ya teman-teman. Kita tetap fokus pada pekerjaan kita dan berdoa agar perusahaan bisa keluar dari kesulitan ini,” ujarnya dengan senyum yang meskipun sedikit terpaksa, tapi tetap memberikan semangat bagi teman-temannya.

Selama sisa jam kerja hari itu, Rian merasa sulit untuk fokus sepenuhnya pada pekerjaannya. Pikirannya terus terganggu oleh kabar tentang PHK yang mungkin akan terjadi. Dia sering berhenti sejenak dari pekerjaannya, melihat sekeliling lantai produksi yang sudah seperti rumah kedua baginya selama lima tahun terakhir, memikirkan semua kenangan yang dia miliki bersama teman-teman kerja.

Ketika jam kerja berakhir pada pukul 16.30, Rian dengan cepat membersihkan mesin las dan alat kerjanya sebelum pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaian kerja. Dia merasa sangat ingin segera pulang ke rumah untuk melihat istri dan anak-anaknya, meskipun dia sudah memutuskan untuk tidak memberitahu kabar ini kepada mereka dulu agar tidak membuat mereka khawatir tanpa alasan yang pasti.

Perjalanan pulang menggunakan angkutan kota terasa lebih panjang dari biasanya. Rian duduk di pojok belakang angkutan kota, melihat pemandangan jalanan yang sudah mulai ramai dengan kendaraan dan orang-orang yang sedang pulang kerja. Pikirannya terus berpikir tentang berbagai skenario yang mungkin terjadi jika dia benar-benar kehilangan pekerjaan – mulai dari mencari pekerjaan baru, menghemat pengeluaran keluarga, hingga mungkin harus mempertimbangkan untuk pindah ke kampung halaman jika tidak menemukan pekerjaan di kota Cirebon.

Namun di tengah kekhawatiran itu, Rian tetap mencoba untuk melihat sisi positif dari segala kemungkinan. Jika memang harus kehilangan pekerjaan, mungkin itu adalah kesempatan bagi dia untuk mencari pekerjaan yang lebih baik atau bahkan memulai usaha kecil sendiri dengan modal yang mungkin bisa dia kumpulkan dari uang tabungan keluarga. Dia juga merasa yakin bahwa Novi akan selalu mendukungnya dalam setiap keputusan yang dia ambil, seperti yang selalu dia lakukan selama ini.

Ketika sampai di depan komplek rumah kontrakan, Rian melihat anak-anaknya sudah bermain di teras depan rumah bersama beberapa anak tetangga. Hadian sedang mengajari Alea dan teman-temannya cara bermain kelereng dengan aturan yang sudah dia ciptakan sendiri, sementara mereka semua tertawa riang dengan suara yang ceria dan penuh kebahagiaan. Melihat wajah bahagia anak-anaknya membuat rasa cemas yang ada di hati Rian sedikit mereda.

“Papa sudah pulang!” teriak Hadian dengan senyum lebar ketika melihat ayahnya datang. Alea juga segera berlari ke arah Rian dengan membawa boneka Kiki-nya, melompat-lompat dengan senang.

“Iya nak, Papa sudah pulang. Gimana sekolahnya hari ini? Kamu belajar apa saja?” tanya Rian dengan suara yang penuh cinta, mengangkat Alea ke dalam pelukan dan mencium pipinya yang masih hangat akibat bermain di bawah sinar matahari sore.

“Hari ini kita belajar matematika dan IPA Papa! Saya bisa menghitung sampai seratus lho!” ujar Hadian dengan bangga, menunjukkan kemampuannya dengan mengangkat jari-jarinya. “Bu guru juga memuji saya karena bisa menjawab pertanyaan dengan benar.”

Rian merasa sangat bangga mendengar itu. Putranya yang selalu rajin belajar memang selalu membuatnya dan Novi merasa bangga. “Bagus sekali Nak! Kamu harus terus belajar dengan giat ya, nanti kalau sudah besar kamu bisa menjadi orang yang berguna bagi orang tua dan negara,” ujarnya dengan senyum, menurunkan Alea dari pelukannya dan mengusap kepala putranya.

Pada saat itu, Novi keluar dari rumah dengan membawa ember plastik berisi cucian yang sudah dicuci bersih. Dia langsung memberikan senyum hangat ketika melihat suaminya pulang kerja. “Sudah pulang ya Sayang? Kamu langsung masuk saja ya, aku sudah memasak makanan malamnya. Nanti setelah mandi kita bisa makan bersama,” ujarnya dengan suara yang lembut, sementara tangan kanannya masih terus menggantungkan cucian ke tali yang sudah dipasang di teras belakang rumah.

Rian mengangguk dan masuk ke rumah, segera menuju kamar untuk mengganti pakaiannya yang sudah penuh debu pabrik. Setelah mandi dan mengenakan baju santai yang bersih, dia keluar ke ruang tamu dan melihat Novi sudah mulai menyajikan makanan di meja makan. Hidangan malam hari itu adalah ikan bakar dengan sambal matah dan lalapan segar, serta nasi putih hangat yang sangat menggugah selera.

Selama makan malam, keluarga mereka penuh dengan candaan dan cerita dari anak-anak tentang aktivitas mereka di sekolah dan bermain dengan teman-teman. Hadian cerita tentang bagaimana dia berhasil membantu teman sekelasnya yang kesulitan mengerjakan soal matematika, sementara Alea cerita tentang bagaimana dia berhasil membuat kerajinan tangan dari daun dan kertas warna bersama teman-temannya di TK.

Rian melihat wajah bahagia istri dan anak-anaknya, dan dia semakin yakin bahwa dia tidak akan pernah membiarkan mereka mengalami kesusahan yang berlebihan. Meskipun dia tahu bahwa kabar tentang PHK bisa menjadi masalah besar bagi keluarga mereka, tapi dia memutuskan untuk tidak memberitahukan hal itu kepada mereka dulu. Dia ingin menikmati kebahagiaan momen bersama keluarga ini terlebih dahulu, dan akan memberitahu mereka jika memang ada kepastian tentang apa yang akan terjadi dengan pekerjaannya di perusahaan.

Setelah makan malam selesai, Rian membantu Novi membersihkan meja makan dan mencuci piring-piring. Sementara itu, Hadian sudah masuk kamar untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya, dan Alea sedang bermain dengan boneka Kiki-nya di lantai ruang tamu sambil menyanyi lagu anak-anak yang dia pelajari di TK.

Ketika sudah selesai membersihkan dapur, Rian dan Novi duduk bersama di teras depan rumah menikmati udara malam yang segar. Anak-anak sudah masuk kamar untuk tidur setelah dibacakan cerita oleh Novi, dan sekarang mereka bisa memiliki waktu bersama sebagai pasangan suami istri.

“Kamu terlihat sedikit lelah hari ini Sayang. Apakah ada masalah di perusahaan?” tanya Novi dengan suara yang penuh perhatian, melihat wajah suaminya yang memang terlihat lebih lelah dari biasanya.

Rian sedikit terkejut dengan perhatian istri yang selalu bisa merasakan ketika ada sesuatu yang tidak beres dengannya. Dia memberikan senyum lembut dan mengambil tangan istri untuk memeluknya dengan lembut. “Tidak ada apa-apa Sayang, hanya saja hari ini kerjaannya sedikit lebih banyak dari biasanya. Tapi semuanya sudah selesai dengan baik,” jawabnya dengan nada yang tenang, memutuskan untuk tidak memberitahu kabar tentang PHK yang belum pasti itu kepada istri. Dia tidak ingin membuat Novi khawatir tanpa alasan yang jelas, dan ingin memberikan waktu untuk memikirkan cara terbaik untuk menghadapi situasi jika memang terjadi.

Novi mengangguk dan menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. “Kalau begitu kamu harus lebih memperhatikan kesehatanmu ya Sayang. Jangan terlalu memaksakan diri bekerja karena aku dan anak-anak sangat membutuhkan kamu yang sehat dan kuat,” ujarnya dengan suara yang penuh cinta, membuat Rian merasa sangat bersyukur memiliki istri yang begitu perhatian dan mencintainya.

“Iya Sayang, aku akan selalu merawat diriku dengan baik. Kamu juga ya, jangan terlalu banyak bekerja membantu Kakak Wati kalau tubuhmu sudah merasa capek. Kesehatanmu juga sama pentingnya dengan kesehatan aku untuk kebahagiaan keluarga kita,” jawab Rian dengan penuh kasih, mencium dahi istri dan memeluknya lebih erat.

Di malam hari yang tenang itu, Rian merenungkan segala sesuatu yang terjadi selama hari itu. Dia tahu bahwa masa depan pekerjaannya di perusahaan masih tidak jelas, dan kemungkinan besar dia akan menghadapi tantangan yang besar dalam waktu dekat. Tapi dia juga merasa yakin bahwa dengan dukungan penuh dari istri dan anak-anaknya, serta semangat untuk terus bekerja keras dan tidak pernah menyerah, dia pasti akan bisa mengatasi segala rintangan yang ada di depannya.

Dia berdoa dengan tulus di dalam hati, meminta agar perusahaan bisa menemukan solusi untuk masalah keuangannya dan tidak perlu melakukan PHK terhadap karyawannya. Namun jika memang takdir berkata lain, dia juga berdoa agar diberikan kekuatan dan kebijaksanaan untuk menghadapinya dengan baik, serta diberikan jalan keluar yang terbaik bagi dirinya dan keluarganya.

Pada saat yang sama, Rian juga mulai merencanakan langkah-langkah yang mungkin dia perlukan jika memang harus kehilangan pekerjaan. Dia akan mulai mencari informasi tentang lowongan pekerjaan di perusahaan lain di kawasan industri Cirebon, serta mempertimbangkan untuk mengikuti pelatihan keterampilan tambahan agar bisa meningkatkan peluangnya untuk mendapatkan pekerjaan baru. Dia juga akan mulai menghemat pengeluaran keluarga dan memeriksa uang tabungan yang mereka miliki untuk memastikan bahwa mereka memiliki cadangan keuangan yang cukup untuk menghadapi masa-masa sulit jika memang terjadi.

Namun meskipun sudah merencanakan segala kemungkinan yang bisa terjadi, Rian tetap memilih untuk tetap bersikap optimis dan tidak menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan di depan keluarga. Dia ingin mereka tetap merasa bahagia dan aman, tahu bahwa ayah dan suami mereka akan selalu ada untuk melindungi dan menjaga mereka dengan sekuat tenaga.

Ketika mereka masuk kamar untuk beristirahat, Rian melihat anak-anaknya yang sudah terlelap pulas di ranjang masing-masing. Wajah mereka yang damai dan bahagia membuatnya semakin bertekad untuk melakukan segala yang bisa dia lakukan untuk memberikan kehidupan yang terbaik bagi mereka. Meskipun jalan yang akan ditempuh mungkin tidak mudah, tapi dia siap menghadapinya dengan kepala tegak dan hati yang penuh harapan, karena dia tahu bahwa dia tidak sendirian – dia memiliki keluarga yang penuh cinta dan teman-teman kerja yang selalu siap membantu satu sama lain.

Di pagi hari berikutnya, Rian bangun dengan semangat yang baru, siap menghadapi hari kerja yang baru. Dia tahu bahwa kabar tentang PHK masih mengintai di balik sana, tapi dia memilih untuk fokus pada pekerjaannya dan melakukan yang terbaik untuk perusahaan. Dia juga berharap bahwa dengan kerja keras dan doa yang tulus, segala sesuatu akan berjalan dengan baik dan keluarga kecilnya akan selalu berada dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Saat dia bersiap untuk pergi kerja, Rian melihat Novi yang sedang memasak sarapan pagi dan anak-anaknya yang sudah mulai bangun dengan wajah yang ceria. Dia memberikan senyum hangat kepada mereka semua, merasa bahwa meskipun dunia luar mungkin penuh dengan ketidakpastian, tapi rumahnya akan selalu menjadi tempat yang hangat dan penuh cinta yang bisa memberikan kekuatan dan semangat baginya untuk terus melangkah maju menghadapi segala tantangan hidup.

1
Dewiendahsetiowati
ada typo Thor Budi yang harusnya kakak jadi ayah
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!