Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Kebangkitan Sang Jangkar
Guncangan hebat di ruang bawah tanah itu mereda dengan sentakan yang memekakkan, menyisakan keheningan yang jauh lebih tajam dari suara ledakan mana pun. Di bawah sana, di kedalaman yang tak tersentuh cahaya matahari, darah Elian yang meresap ke dalam inti mesin tidak terbakar ataupun menguap; ia justru mengalir seperti sirkuit kehidupan organik yang menyatukan besi dingin dan roh yang membara. Cahaya indigo yang tadinya liar dan menyakitkan mata, perlahan-lahan melunak, bertransisi menjadi warna biru fajar yang menyejukkan.
Peti kristal di tengah ruangan itu terbuka dengan desis uap panjang yang beraroma tanah basah setelah hujan sebuah kontras dari bau belerang yang tadi memenuhi ruangan. Dari dalamnya, Alana muncul.
Ia tidak lagi tampak seperti hantu transparan yang siap tertiup angin. Tubuhnya kini memiliki berat, definisi, dan kehadiran fisik yang nyata. Namun, ia tidak lagi sepenuhnya Alana yang lama. Di sepanjang lengan, punggung, hingga lehernya, terdapat guratan-guratan halus berwarna emas yang berpendar redup jalur energi "Akar Bumi" yang kini telah menyatu secara permanen dengan sistem sarafnya. Alana melangkah keluar dari peti, kakinya menyentuh lantai tanah dengan mantap, menciptakan riak cahaya kecil di setiap pijakannya. Ia bukan lagi sekadar Navigator yang melayang di antara dimensi; ia adalah raga yang telah mengikatkan diri pada inti bumi Navasari.
"Alana..." Elian berbisik, suaranya pecah oleh rasa lega yang luar biasa. Ia mencoba meraih tangan Alana, namun keraguan sempat menahannya. Ia takut sentuhannya akan kembali melukai atau justru menghancurkan keajaiban itu.
Alana tidak menunggu. Ia melangkah maju dan menggenggam tangan Elian dengan erat. Tidak ada sengatan listrik statis. Tidak ada ledakan energi yang melemparkan Elian. Yang ada hanyalah kehangatan manusia yang nyata, yang kini dialiri oleh denyut energi bumi yang stabil dan tenang. "Aku di sini, Elian. Aku bisa merasakan tanah ini kembali. Aku bisa merasakannya melalui kau," bisiknya, matanya kini memiliki binar emas di dalam pupil indigonya.
Namun, momen reuni itu diputus secara kasar oleh getaran lain kali ini bukan dari mesin, melainkan dari permukaan. Suara deru mesin diesel berat, derit ban di atas tanah berbatu, dan perintah-perintah militer yang diteriakkan melalui pengeras suara menembus dinding tebal ruang bawah tanah.
Di Luar – Halaman Mercusuar
Navasari telah berubah menjadi lautan lampu sorot yang menyakitkan mata. Ratusan kendaraan taktis, truk pengangkut personel, dan panser militer telah mengepung seluruh area rumah kakek Surya hingga ke batas hutan. Di bawah komando seorang kolonel dengan wajah sedingin es dan bekas luka permanen di pipinya, mereka memasang barikade besi di sepanjang jalan desa. Penduduk desa, termasuk Pak Haji dan Bu Ratna yang tampak bingung dan pucat, digiring keluar dari rumah-rumah mereka seperti ternak, dikumpulkan di bawah todongan lampu sorot.
"NAVIGATOR!" suara pengeras suara itu menggelegar, memantul di dinding-dinding gunung, menghancurkan ketenangan malam. "Kami tahu Anda ada di bawah sana bersama teknologi yang tidak sah. Serahkan diri Anda dan seluruh arsip frekuensi yang Anda sembunyikan, atau kami akan meratakan seluruh desa ini atas nama Protokol Keamanan Global!"
Elian dan Alana keluar dari lubang rahasia di lantai mercusuar, berdiri di teras kayu rumah yang kini dikepung oleh moncong senjata otomatis. Elian segera berdiri di depan Alana, menjadikan tubuh manusianya sebagai perisai bagi gadis yang kini menjadi pusat gravitasi energi desa itu.
"Mereka membawa 'Penetral Frekuensi' versi terbaru, Alana," bisik Elian, menunjuk ke arah truk besar dengan antena piringan raksasa di tengah barisan musuh. "Jika mereka menyalakannya dalam radius sedekat ini, seluruh desa akan kehilangan pasokan listrik permanen, dan sistem sarafmu bisa mengalami rebound yang mematikan."
Alana menatap barisan tentara itu tanpa rasa takut. Melalui "Akar Bumi", ia bisa merasakan setiap kabel yang terbentang, setiap peluru yang dikokang, dan bahkan setiap tetes bahan bakar yang mengalir di mesin kendaraan mereka. Ia merasakan tanah Navasari sedang berdenyut marah karena diinjak oleh niat yang penuh kekerasan.
"Mereka berpikir mereka sedang mengepung sebuah menara kayu yang rapuh," kata Alana pelan, namun suaranya seolah merambat melalui tanah dan terdengar jelas di telinga Elian. "Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang berdiri di atas jantung bumi yang sedang berhenti bersabar."
"Apa yang akan kau lakukan? Alana, ingat... mereka juga manusia. Jangan memicu pertumpahan darah yang akan mengundang seluruh militer dunia ke sini," Elian memperingatkan, tangannya mencengkeram lengan Alana.
Alana melangkah maju, melewati posisi Elian. Ia tidak mengangkat tangan ke langit untuk memanggil petir seperti sebelumnya. Sebaliknya, ia berlutut dan meletakkan kedua telapak tangannya ke dinding batu fondasi mercusuar.
"Aku tidak akan menyakiti mereka secara fisik," ucap Alana. "Aku hanya akan menunjukkan pada mereka bahwa Navasari bukan lagi koordinat yang bisa mereka temukan di peta. Navasari... adalah rahasia yang telah dikunci oleh bumi sendiri."
Seketika, seluruh tanah di Navasari bergetar hebat. Bukan gempa tektonik yang menghancurkan bangunan, melainkan sebuah pergeseran frekuensi ruang yang nyata. Dari bawah kaki para tentara, muncul kabut hijau pekat yang keluar dari pori-pori tanah. Kabut itu tidak beracun, tapi ia memiliki sifat elektromagnetik yang unik yang membiaskan cahaya dan sinyal. Di layar radar mereka, seluruh desa Navasari tiba-tiba menghilang, menjadi blank spot yang luas. Di mata para tentara, bangunan-bangunan mulai tampak membias dan berbayang, seperti fatamorgana di tengah gurun.
"TEMBAK! Hancurkan menara itu sebelum kita kehilangan visual!" perintah sang kolonel yang mulai panik melihat anak buahnya mulai diselimuti kabut.
Namun, saat rentetan peluru dilepaskan, sebuah fenomena fisika yang mustahil terjadi. Peluru-peluru itu tidak menghantam kayu atau batu. Mereka melambat secara drastis saat memasuki radius sepuluh meter dari Alana, seolah-olah sedang melewati air yang sangat kental atau ruang hampa yang padat, lalu jatuh ke tanah tanpa daya satu per satu. Ruang di sekitar mercusuar telah terdistorsi secara fisik oleh energi "Akar Bumi".
"Elian, bawa penduduk desa masuk ke dalam batas kabut! Sekarang!" Alana berteriak, wajahnya bersimbah peluh karena menahan beban distorsi ruang tersebut.
Di tengah kekacauan kabut dan peluru yang melambat, sebuah helikopter tanpa tanda pengenal, berwarna hitam legam dengan mesin yang hampir tak bersuara, mendarat di zona netral di antara barisan militer dan rumah Alana. Pintu gesernya terbuka, dan seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu yang sangat rapi serta koper perak di tangannya keluar dengan langkah tenang.
Pria itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan foto Dr. Viktor Vance yang Alana lihat di arsip cahaya, namun ia mengenakan pin kecil di kerahnya yang melambangkan sebuah organisasi yang jauh lebih tua dan lebih rahasia dari militer mana pun: Konsorsium Cakrawala.
Pria itu mengangkat sebuah remote kecil berbentuk kristal dan berteriak dengan suara yang jernih menembus badai frekuensi, "Alana! Kau pikir kakekmu menciptakan Akar Bumi hanya untuk melindungimu? Dia menciptakannya sebagai suar panggil! Kau bukan sedang bersembunyi, kau sedang memanggil kami semua untuk menjemput apa yang seharusnya menjadi milik semesta!"
Alana terpaku. Jarum kompas di sakunya berputar gila. Ia menyadari bahwa musuh yang sesungguhnya bukan mereka yang membawa senjata, melainkan mereka yang membawa "kunci" yang sama dengan yang ia miliki.