NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rindu Yang Pulang

Sore itu, hujan mengguyur kota Surabaya dengan deras. Dari balik dinding kaca ruang kerjanya yang nyaman di Abraham Tower, Alina menatap butiran air yang meluncur turun, membiaskan cahaya lampu kota yang mulai menyala.

Di tangannya, ia memegang sebuah laporan terbaru dari tim lapangan.

Laporan itu berisi foto terbaru ruko Royal Spoon. Sebuah spanduk besar berwarna kuning mencolok kini terpampang di depan bangunan mewah yang gelap itu:

DISEWAKAN / DIJUAL CEPAT

HUBUNGI: 081xxxx (Budi Santoso)

Alina menyesap teh chamomile-nya perlahan. Hangat. Nikmat.

Rasanya jauh lebih nikmat daripada wine termahal sekalipun. Melihat kerajaan bisnis Sisca runtuh dalam waktu kurang dari empat bulan adalah hiburan terbaik yang pernah ia dapatkan. Ia membayangkan kepanikan di rumah mewah keluarga Santoso saat ini. Pasti penuh teriakan, saling menyalahkan, dan tangisan penyesalan karena tumpukan utang.

"Sakit, kan?" bisik Alina pada kaca jendela yang dingin. "Itu belum seberapa dibanding sakitnya dikuret tanpa bius kasih sayang."

Alina meletakkan laporan itu ke dalam laci, menguncinya rapat-rapat. Cukup untuk dosis dendam hari ini.

Tiba-tiba, ponsel pribadinya yang tergeletak di meja bergetar panjang.

Alina melirik layar. Sebuah nama kontak muncul, disertai foto seorang gadis remaja yang tersenyum lebar dengan seragam putih abu-abu.

My Little Sister: Anita

Wajah dingin Alina seketika luluh. Topeng "Wanita Besi"-nya retak, digantikan oleh senyum lembut yang tulus. Ia segera mengangkat panggilan video itu.

"Halo, Dek?" sapa Alina riang.

"Kak Aliiin! Kok baru diangkat sih? Aku teleponin dari tadi!" Suara cempreng dan manja dari seberang sana memenuhi ruangan sunyi itu.

Wajah Anita, adiknya yang berusia 16 tahun, memenuhi layar. Di latar belakang, Alina bisa melihat dinding kayu rumah mereka di kampung, di sebuah desa kecil di kaki Gunung Lawu, Magetan. Dinding itu sederhana, dihiasi kalender toko emas dan foto wisuda sarjana Alina dulu.

"Maaf ya, Nit. Kakak tadi lagi rapat. Kenapa? Uang saku kurang?" goda Alina.

"Ish, Kakak mah uang mulu! Enggak! Aku kangen tau!" Anita mengerucutkan bibirnya. "Kakak kapan pulang? Ibu sama Bapak nanyain terus. Katanya Kakak udah enam bulan nggak pulang kampung."

Alina terdiam sejenak. Enam bulan.

Selama enam bulan ini, ia sibuk berjuang di lumpur, terluka, kehilangan anak, bangkit, dan menyusun rencana balas dendam. Ia tidak berani pulang karena takut orang tuanya melihat kesedihan di matanya. Ia takut Bapak tahu putri kebanggaannya pernah hamil di luar nikah dan dicampakkan.

"Kakak... Kakak sibuk kerja, Dek. Kan Kakak baru naik jabatan," jawab Alina, menahan getar di suaranya. "Bapak sama Ibu sehat?"

"Sehat, Kak. Bapak tadi lagi di sawah, panen padi. Ibu lagi masak sayur lodeh kesukaan Kakak. Tuh, baunya sampai sini."

Anita mengarahkan kamera ke arah dapur. Terlihat sosok wanita paruh baya berdaster batik lusuh sedang mengaduk panci besar di atas tungku kayu bakar.

"Bu! Ada Kak Alina!" panggil Anita.

Ibunya menoleh, lalu tergopoh-gopoh mendekat sambil mengelap tangan di daster. Wajah keriput namun teduh itu muncul di layar.

"Nduk? Ya Allah, anakku cantik banget," sapa Ibunya dengan logat Jawa halus yang kental. "Kamu sehat, Nduk? Kok pipimu tirus? Jangan telat makan lho. Kerja ya kerja, tapi jangan sakit."

Air mata Alina nyaris tumpah.

Di kota ini, ia adalah predator yang ditakuti. Di hadapan Sisca dan Rendy, ia adalah monster. Tapi di mata ibunya, ia tetaplah gadis kecil yang perlu diingatkan makan.

"Alina sehat, Bu. Makmur di sini. Ibu jangan khawatir," ucap Alina, suaranya sedikit serak. "Alina makan enak terus kok."

"Syukurlah kalau gitu. Kapan pulang, Nduk? Bapakmu itu lho, tiap malam dengerin radio di teras sambil ngomong sendiri, 'Kapan ya si Nduk pulang?'"

Pertahanan Alina runtuh. Kerinduan itu menghantam dadanya dengan keras. Ia rindu aroma tanah basah di kampungnya. Ia rindu suara jangkrik di malam hari. Ia rindu masakan ibunya yang sederhana namun penuh cinta—sangat berbeda dengan makanan restoran mewah yang belakangan ini ia nikmati.

"Minggu depan, Bu," janji Alina tiba-tiba. "Alina usahakan pulang minggu depan ya. Alina ambil cuti."

"Beneran?!" seru Anita girang. "Asyik! Kak, laptopku lemot banget nih buat ngerjain tugas sekolah. Boleh minta ganti nggak?"

"Hush! Anita! Kakakmu kerja keras di sana, jangan dipalakin terus!" tegur Ibunya.

Alina tertawa. Tawa yang paling lepas dalam beberapa bulan terakhir.

"Nggak apa-apa, Bu. Nanti Kakak belikan laptop baru yang paling canggih buat Anita. Sekalian Kakak mau renovasi rumah kita ya, Bu. Biar kalau hujan atapnya nggak bocor lagi."

"Nduk, uangnya ditabung saja buat kamu nikah nanti..."

Kata 'nikah' membuat hati Alina nyeri sedikit, teringat pengkhianatan Rendy. Tapi ia cepat-cepat menepisnya.

"Uang Alina banyak, Bu. Cukup buat semuanya. Yang penting Bapak sama Ibu sehat. Tunggu Alina ya."

Sambungan telepon berakhir dengan lambaian tangan Anita dan doa tulus dari Ibunya.

Alina meletakkan ponselnya, lalu bersandar di kursi kerjanya yang empuk. Ia menatap langit-langit ruangan.

Selama ini, ia berpikir kebahagiaan terbesarnya adalah melihat Rendy dan Sisca menderita. Tapi ternyata ia salah. Melihat kehancuran musuh memang memuaskan, tapi itu kepuasan yang kosong dan dingin.

Kebahagiaan sejatinya ada di sana. Di rumah kayu sederhana itu.

"Demi Bapak, demi Ibu, demi Anita..." gumam Alina, matanya berkilat penuh tekad baru.

Ia tidak akan membiarkan kemiskinan menyentuh keluarganya lagi. Ia akan menggunakan posisinya, gajinya, dan kekuasaannya untuk mengangkat derajat keluarganya.

Dan jika untuk melindungi kebahagiaan kecil itu ia harus menghancurkan seribu Sisca lagi, Alina akan melakukannya tanpa ragu.

Ia bangkit, meraih tas kerjanya. Hari ini ia ingin pulang cepat. Ia ingin mampir ke toko elektronik, membelikan laptop terbaik untuk adiknya, lalu tidur nyenyak memimpikan perjalanan pulang ke kampung halaman.

Di seberang sana, Sisca mungkin sedang menangis karena kehilangan hartanya. Tapi di sini, Alina tersenyum karena menyadari harta sejatinya masih utuh dan menunggunya pulang.

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!