Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Melanjutkan
Setelah hari peluncuran yang penuh kebahagiaan dan kejutan, kehidupan di klub baca tetap sibuk tapi lebih penuh semangat. Penerbitan buku ke seluruh Indonesia membuat anak-anak semakin percaya diri—mereka mulai menerima undangan untuk berbicara di acara literasi di kota-kota terdekat, dan Adi yang dulu pendiam kini bahkan mau memimpin sesi tanya jawab dengan penonton.
Siti, yang senang menulis tentang kue ibunya, mulai mengembangkan cerita baru tentang "Kiki yang Mencoba Membuat Kue Pelangi"—di mana Kiki, Pelangi, dan Mimi belajar memasak bersama, dengan banyak kesalahan lucu yang membuat pembaca tertawa.
Lila dan Rama, yang kini merencanakan pernikahan, tetap membimbing anak-anak, dengan Rama menambahkan sesi fotografi untuk mendokumentasikan proses kreatif, dan Lila mengajarkan teknik menulis cerita yang lebih mendalam.
Suatu hari, Ms. Ani datang lagi dengan kabar baru. "Ada penerbit dari Malaysia yang tertarik untuk menerjemahkan buku你们 ke bahasa Melayu!" katanya dengan senyum. Anak-anak berteriak kegembiraan—mereka tak menyangka cerita mereka akan sampai ke negeri tetangga.
Pada hari pernikahan Lila dan Rama, yang diadakan di halaman perpustakaan dengan dekorasi warna-warni seperti pelangi, semua anak-anak berperan sebagai pengiring pengantin. Siti memakai gaun putih dengan pita biru, dan membawa bunga yang dia gambar sendiri di kertas.
Saat Lila berjalan menuju Rama, anak-anak menyanyi lagu yang mereka ciptakan sendiri—"Lagu Pelangi dan Cinta"—yang menceritakan tentang impian dan keluarga yang dibangun bersama.
Setelah pernikahan, klub baca mulai menerima anak-anak baru dari daerah sekitar, bahkan ada yang datang dari luar kota. Mereka membuka cabang kecil di perpustakaan lain, dengan anak-anak lama yang sudah berpengalaman menjadi pembimbing muda.
Rian terus membuat video, dan kini saluran sosial perpustakaan memiliki ribuan pengikut yang menunggu cerita terbaru dari Kiki, Pelangi, dan Mimi.
Suatu malam, ketika semua orang berkumpul di perpustakaan untuk membahas buku ketiga—yang berjudul "Kiki, Pelangi, dan Mimi: Mengunjungi Negeri Melayu"—Siti mengangkat tangan.
"Kak Lila, bisakah kita mengajak anak-anak dari Malaysia untuk bergabung dalam membuat buku ini?" tanyanya. Lila dan Rama saling melihat, tersenyum. "Tentu saja, sayang. Cerita kita adalah cerita untuk semua orang," jawab Lila.
Di balik jendela perpustakaan, sinar bulan bersinar cerah, dan mereka semua tahu bahwa ada lebih banyak petualangan yang akan datang—petualangan yang penuh cinta, persahabatan, dan impian yang tak akan pernah berhenti berkembang.
Setelah persetujuan Lila, Ms. Ani segera menghubungi penerbit Malaysia untuk menyusun kolaborasi. Tak lama, sekelompok anak dari Kuala Lumpur menghubungi mereka melalui video panggilan—di antaranya ada Aisha, yang suka menggambar, dan Amir, yang senang menulis tentang alam.
Mereka sepakat untuk membuat cerita di mana Kiki, Pelangi, dan Mimi berkunjung ke Malaysia, bertemu teman baru, dan belajar tentang makanan khas seperti nasi lemak dan kuih lapis.
Setiap hari, anak-anak dari Indonesia dan Malaysia berkumpul secara daring untuk berbagi ide. Siti menceritakan tentang kue coklat keju ibunya, sedangkan Aisha menjelaskan tentang kuih lapis yang berwarna-warni seperti pelangi—ide ini langsung dimasukkan ke dalam cerita, di mana mereka membuat kue bersama di dapur nenek Amir.
Adi menggambar Mimi yang mencoba memakan nasi lemak dengan jari-jari, sedangkan Aisha menambahkan gambaran rumah kayu tradisional di latar belakang. Rama mendokumentasikan setiap sesi kolaborasi, membuat video yang menampilkan tawa dan pertukaran budaya antara anak-anak.
Beberapa bulan kemudian, mereka mendapatkan izin untuk melakukan kunjungan ke Malaysia. Di bandara, anak-anak Indonesia disambut dengan senyum hangat dan bunga melati.
Selama seminggu, mereka mengunjungi taman negara, pasar tradisional, dan perpustakaan kota, mengumpulkan inspirasi untuk ilustrasi dan cerita. Saat mengunjungi pantai, Siti dan Aisha berbaring di pasir, mengamati langit sore yang berwarna-oranye dan ungu—ini menjadi gambaran di halaman terakhir buku, di mana semua teman berjanji akan bertemu lagi.
Setelah kembali ke Semarang, mereka menyelesaikan naskah dan ilustrasi. Penerbit Indonesia dan Malaysia bersepakat untuk mencetak buku secara bersamaan, dalam bahasa Indonesia dan Melayu.
Hari peluncuran buku ketiga diadakan di kedua negara secara daring. Di halaman perpustakaan Semarang, anak-anak membaca bagian cerita mereka, sedangkan di Kuala Lumpur, teman-teman Malaysia melakukannya juga. Saat Lila membacakan pesan sambutan, sinar matahari menyinari kedua tempat, seolah-olah menyatukan mereka.
Setelah acara selesai, Siti memegang buku baru yang berisi gambar dan tulisan dari dirinya dan Aisha. "Kak Lila, cerita kita benar-benar untuk semua orang ya?" tanyanya.
Lila mengangguk, memeluknya. "Ya, sayang. Cinta dan persahabatan tak mengenal batas negara." Di balik jendela, bulan bersinar lagi, menandakan awal petualangan baru yang akan datang.